Nicola Nasser: Bertahan Hidup, Pilihan Terakhir Arab Saudi (II)

0
658 views
Islam Times- “Pihak kerajaan telah menghambur-hamburkan miliar demi miliar petrodolar dalam pertempuran yang gagal untuk membiayai kontra-revolusi di kawasan,” kata Nasser. Sekitar 20 miliar dolar, lanjutnya, dijanjikan akan dikucurkan pada Bahrain dan Kesultanan Oman untuk mengelak dari Musim Semi Arab.
Raja Abdullah bin Abdulaziz el-Saud

Raja Abdullah bin Abdulaziz el-Saud

Penggunaan petrodolar sebagai soft-power untuk mendapatkan pengaruh di luar negeri dan mengamankan kesetiaan internal, membuat penguasa kerajaan Arab Saudi punya rasa percaya diri yang cukup, atau malah terlalu percaya diri, merasa aman sendiri.

Berbicara di College of William and Mary di Williamsburg, Virginia, pada 11 Maret 2014, Pangeran Turki al-Faisal, kepala Pusat Penelitian & Studi Islam Raja Faisal di Riyadh dan mantan Duta Besar Saudi untuk AS, mengatakan, “Arab Saudi mewakili lebih dari 20 persen PDB gabungan wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) (dan lebih dari seperempat PDB Dunia Arab) yang membuatnya… sebagai mitra yang efektif dan anggota G20… Pasar saham Saudi mewakili lebih dari 50 persen dari kapitalisasi pasar saham seluruh kawasan MENA.”

“Badan Keuangan Arab Saudi (SAMA), bank sentral Kerajaan,” lanjutnya, “merupaan pemegang aktiva bersih luar negeri bersih terbesar ketiga di dunia… Terakhir, Saudi Aramco, perusahaan minyak nasional milik kerajaan, menjadi produsen dan eksportir minyak bumi terbesar di dunia serta sejauh ini memiliki infrastruktur kapasitas produksi berkelanjutan terbesar di dunia.”

Namun, jurnalis veteran Karen Elliot House, telah menyajikan gambar sebenarnya yang menarik, “Enam puluh persen warga Saudi berusia 20 tahun atau lebih muda, yang sebagian besarnya tidak memiliki harapan untuk bekerja,” tulis House dalam bukunya padayang terbit pada 2012. “Tujuh puluh persen warga Saudi tidak mampu membeli rumah. Empat puluh persen hidup di bawah garis kemiskinan. Para bangsawan yang terdiri dari 25 ribu pangeran dan putri, menguasai sebagian besar tanah yang berharga dan mendapat manfaat dari sistem yang memberikan masing-masingnya uang saku dan sejumah keberuntungan. Pekerja asing membuat kerajaan itu bekerja; 19 juta warga Saudi berbagi kerajaan dengan 8,5 juta pekerja asing.”

Menurut House, perbedaan regional merupakan “fakta kehidupan sehari-hari Arab Saudi”. Warga Hijazi di Barat dan Syiah di Timur membenci gaya hidup Wahhabi yang kaku. Diskriminasi gender menjadi masalah yang terus berkembang. Enam puluh persen lulusan perguruan tinggi Saudi adalah perempuan, tetapi jatah mereka hanya 12 persen dari angkatan kerja.

Selain itu, menurut Anthony H. Cordesman dalam artikelnya yang diterbitkan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 21 April 2011, “Terdapat kesenjangan serius antara ‘kaya’ dan ‘miskin’, perbedaan regional dalam hal kemakmuran dan keistimewaan, serta ketegangan Arab Syiah dan Arab Sunni (baca: Wahhabi).”

“Pihak kerajaan telah menghambur-hamburkan miliar demi miliar petrodolar dalam pertempuran yang gagal untuk membiayai kontra-revolusi di kawasan,” kata Nasser. Sekitar 20 miliar dolar, lanjutnya, dijanjikan akan dikucurkan pada Bahrain dan Kesultanan Oman untuk mengelak dari Musim Semi Arab.

“Arab Saudi juga merogoh koceknya sebesar tiga miliar dolar lebih baru-baru ini untuk membeli senjata Perancis guna menyokong tentara Lebanon untuk melawan koalisi pro-Suriah pimpinan Hizbullah,” terang Nasser. Beberapa miliar telah dijanjikan kepada Mesir untuk memperkuat penerus mantan presiden terguling Mohamed Morsi.

“Tambahan lagi, menurut laporan, miliaran dolar juga telah digelontorkan Arab Saudi untuk membiayai ‘perubahan rezim’ di Suriah,” ujar Nasser. Kabarnya, Obama mencoba meyakinkan Raja Abdullah selama kunjungan terakhirnya untuk menyelamatkan transisi di Ukraina.

Untuk menghilangkan pengaruh dari pemberontakan internal, lanjut Nasser, para penguasa kerajaan itu telah menghabiskan dana lebih besar untuk membeli kesetiaan rakyatnya sendiri; untuk tujuan yang sama, 20 Aturan Kerajaan, yang didominasi ekonomi, diterbitkan pada bulan Maret 2011.

Pada bulan Februari 2011, lanjutnya, Raja Abdullah menjanjikan lebih dari 35 miliar dolar AS untuk perumahan, kenaikan gaji pegawai negeri, belajar di luar negeri, dan keamanan sosial. “Bulan berikutnya, raja mengumumkan paket keuangan lain bernilai lebih dari 70 miliar dolar AS untuk [membangun] unit perumahan lain, kemapanan agama, dan kenaikan gaji bagi pasukan militer dan keamanan,” papar Nasser.

Menjauhkan warga dari protes ekonomi tampaknya tidak cukup untuk mengamankan stabilitas internal karena pihak kerajaan, bukannya menenangkan situasi internal, malah baru-baru ini memperketat tekanannya dengan memberlakukan UU Pidana bagi Kejahatan Terorisme dan Pendanaannya pada 31 Januari lalu, serta Dekrit Kerajaan No. 44 , yang mengkriminalisasi “[siapapun yang] berpartisipasi dalam permusuhan di luar kerajaan”, tiga hari kemudian. “Pada 7 Maret, Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan daftar ‘awal’ kelompok yang dianggap penguasa sebagai organisasi teroris, baik di dalam dan di sekitar negeri, serta baik Sunni maupun Syiah,” ujar Nasser.

“Hukum dan regulasi yang baru diberlakukan itu mengubah hampir setiap ekspresi kritis atau asosiasi independen menjadi kejahatan terorisme,” kata Joe Stork, wakil direktur Human Rights Watch untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Peraturan ini, lanjutnya, memupus harapan bahwa Raja Abdullah bermaksud membuka ruang bagi perbedaan pendapat secara damai atau kelompok-kelompok independen.

Secara Internal dan eksternal, lanjut Nasser, kerajaan yang terlalu percaya diri itu tampaknya berniat menciptakan lebih banyak musuh, tanpa menetralisasi satupun, mengasingkan dunia dan kekuatan regional [seperti] kekuatan arus utama Sunni, Syiah , liberal, pan-Arab, dan kiri, mengandaskan bencana regional; [pokoknya] semua dalam apa yang tampak sebagai reaksi tidak seimbang terhadap ancaman yang nyata dan dirasakan, bagi kelangsungan hidup dinasti yang berkuasa. (IT/GR/rj)

sumber : http://www.islamtimes.org/

NO COMMENTS