Modus AS dan Arab Saudi Perkuat Takfiri al-Qaeda

0
494 views
Islam Times- “Akhirnya, mereka menjebloskan saya ke Abu Ghraib, dan saya kembali bertemu dengan beberapa pemimpin dan pejuang yang saya kenal, termasuk pangeran dari al-Qaeda-warga Irak, Arab, dan negara lain,” katanya. “Sebagian besar mereka juga pernah mendekam di Bucca.”
Takfiri al-Qaeda

Takfiri al-Qaeda

Ratusan penjahat yang melarikan diri dari penjara dengan penjagaan ketat di Irak baru-baru ini bergabung dengan kawanan pemberontak teroris-takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan Jabhah Nusra (Front al-Nusra) yang berafiliasi dengan al-Qaeda.

Menurut harian the New York Times (NYT), “Kabur dari penjara juga mencerminkan lonjakan permintaan terhadap pejuang berpengalaman yang menyebabkan upaya terpadu kelompok-kelompok militan, khususnya Negara Islam Irak dan Suriah, atau ISIS, untuk mencari mereka di satu tempat di mana mereka ditahan secara massal–sel penjara Irak” (Tim Arango dan Eric Schmitt, “Kabur dari Penjara Irak Mendongkrak Pemberontakan Suriah, NYT, 12 Februari 2014).

Para pejabat AS, lanjut laporan itu, memperkirakan sekitar ratusan residivis telah bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah, bahkan beberapa di antaranya duduk dalam kepemimpinan senior.

Sebagaimana diakui NYT, kabur dari penjara merupakan bagian dari proses rekrutmen jihadis untuk terlibat dalam pemberontakan Suriah. Apa yang tidak disebutkan, bagaimanapun, adalah bahwa rekrutmen tentara bayaran itu dikoordinasikan NATO, Turki, Arab Saudi, dan Qatar dengan dukungan pemerintahan Obama. Selain itu, sebagaimana maklum dan telah didokumentasikan, sebagian besar pasukan yang berafiliasi dengan al-Qaeda diam-diam didukung intelijen Barat termasuk CIA, Mossad, dan MI6 Inggris.

Kabur dari penjara di Irak merupakan bagian dari upaya terkoordinasi bertajuk “Operasi Jebol Dinding”, yang dimulai ISIS sejak Juli 2012. Ini diakui seorang pejabat kontraterorisme AS yang dikutip NYT, “Aliran para teroris ini, yang secara kolektif berpengalaman di medan perang selama puluhan tahun, kemungkinan telah memperkuat kelompok itu dan memperkuat posisi kepemimpinannya.” Pasukan pendudukan AS dan personil militer di penjara tutup mata atas tren kabur dari penjara itu.

Abu Aisha pada awalnya ditangkap pasukan AS dan kemudian dibebaskan dari Camp Bucca, penjara Amerika terkenal di Irak selatan, pada 2008. Ia kembali ditangkap warga Irak pada 2010.

“Akhirnya, mereka menjebloskan saya ke Abu Ghraib, dan saya kembali bertemu dengan beberapa pemimpin dan pejuang yang saya kenal, termasuk pangeran dari al-Qaeda-warga Irak, Arab, dan negara lain,” katanya. “Sebagian besar mereka juga pernah mendekam di Bucca.”

Suatu malam di musim panas lalu, saat Abu Aisha menanti dalam selnya, seperti yang dilakukannya setiap hari, detik-detik dirinya dieksekusi, tiba-tiba terdengar serangkaian ledakan dan tembakan. Sipir penjara yang dikenalnya bergegas membuka pintu selnya dan menyuruhnya segera pergi. Bersama ratusan narapidana lainnya, Abu Aisha berlari melewati koridor penjara kemudian kabur melalui sebuah lubang bekas ledakan di dinding. Ia melompat ke dalam truk KIA yang sudah menunggu, yang membawanya menuju kebebasan–dan kembali ke medan perang.

Abu Aisha mengatakan bahwa para pemimpin ISIS memberinya pilihan: pergi berperang bersama mereka di Suriah, atau memberontak di Irak. (NYT, op. cit., penekanan ditambahkan) Fakta ini pernah diungkap reporter Reuters, Mohammed Ameen, “Sipir penjara mengamankan gerbang utama penjara yang dulunya bernama Abu Ghraib dan baru-baru ini diubah menjadi Penjara Pusat Baghdad, pada 21 Februari 2009 tersebut.”

Baru-baru ini, modus kabur dari penjara merupakan operasi rahasia dengan perencanaan penuh hati-hati yang memerlukan keterlibatan militer AS dan sipir penjara Irak. Namun fenomena ini tidak hanya terbatas di Irak. Rencana meloloskan narapidana dari penjara untuk digabungkan bersama kawanan pemberontak jihadis juga terjadi secara serempak di sjeumlah negara. Ini menunjukkan program perekrutan itu benar-benar terkoordinasi.

Arab Saudi yang telah memainkan peran sentral dalam menyalurkan senjata (termasuk rudal anti-pesawat) kepada kawanan jihadis atas nama Washington, aktif terlibat dalam rekrutmen tentara bayaran dari penjara kerajaan. Memang, di Arab Saudi, tak ada kasus narapidana kabur dari penjara. Namun para kriminal yang sedang meringkuk di penjara itu sengaja dibebaskan pihak kerajaan dengan syarat, mereka harus bergabung dengan kawanan troris jihadis Suriah.

Sepucuk memo rahasia yang dikirim Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi “mengungkapkan bahwa Kerajaan Arab Saudi telah mengirim terpidana mati dengan hukuman pemenggalan kepala, ke Suriah untuk berperang bersama kawanan jihadis melawan pemerintah Suriah sebagai imbalan atas pembebasan hukuman mereka.”

Dalam memo pada 17 April 2012, Arab Saudi merekrut 1200 narapidana, “menawarkan mereka ampunan penuh dan gaji bulanan bagi keluarga mereka, yang tinggal di Arab Saudi, sebagai imbalan untuk” pelatihan untuk dikirim ke kawanan jihadis di Suriah.” Narapidana yang dibebaskan dari penjara dan direkrut Arab Saudi berasal dari Yaman, Palestina, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Yordania, Somalia, Afghanistan, Mesir, Pakistan, Irak, dan Kuwait. [IT/Rj]

sumber :http://www.islamtimes.org/

NO COMMENTS