Perang melawan pemikiran dan aktivitas kelompok Takfiri tampak semakin terorganisir bersamaan dengan meningkatnya kegiatan dan kejahatan mereka di beberapa negaraIslam. Di Mesir, Front Melawan Pemikiran Takfiri mengirim para juru dakwah ke sejumlah provinsi di negara itu untuk mengenalkan masyarakat dengan ajaran Islam murni serta melawan pemikiran dan akidah Takfiri. Mereka menyiapkan 10 ribu brosur untuk memperkenalkan Islam murni kepada masyarakat dengan melibatkan para ulama dan cendekiawan dari Universitas al-Azhar.

Koordinator juru dakwah front tersebut, Sabrah Qasemi mengatakan, “Para ulama al-Azhar juga bekerjasama dengan Front Melawan Pemikiran Takfiri untuk menyebarluaskan pemikiran moderat dan menolak ideologi Takfiri.” Mesir sama seperti negara-negara Islam lainnya, menghadapi gelombang keganasan kelompok Takfiri. Mereka melakukan banyak kejahatan terhadap muslim Mesir, khususnya kelompok Syiah.

 

Puncak kejahatan itu terjadi pada Juni lalu di Provinsi al-Jizah (sekitar 30 kilometer selatan Kairo). Ulama Syiah Mesir, Allamah Sheikh Hassan Shehata dan tiga pengikutnya meninggal dunia dalam serangan brutal yang dilakukan oleh ekstrimis Takfiri. Peristiwa itu telah mencoreng citra Mesir sebagai bumi peradaban dan kiblat pemikiran dan persatuan muslim.

 

Kelompok Takfiri sekarang menebarkan teror mematikan di Suriah, Irak, Afghanistan, Pakistan,Tunisia, dan Libya. Satu-satunya cara untuk melawan gerakan Takfiri dan ekstrimis adalah memperkenalkan pemikiran Islam yang luhur dan adil serta menyadarkan masyarakat dari bahaya ajaran-ajaran Takfiri. Semua tokoh dan cendekiawan Islam harus bersatu untuk memberi pencerahan kepada muslim dunia seputar kesalahan-kesalahan interpretasi terhadap Islam.

 

Gerakan pemikiran Takfiri adalah bukan sebuah fenomena baru dalam sejarah Islam, tapi telah ada sejak dulu sejalan dengan perkembangan sosial dan pemikiran di tengah masyarakat Islam. Namun, ada empat kriteria yang menjadi pembeda antara Takfiri tradisional dan Takfiri modern. Pertama, Takfiri modern memiliki dimensi global, kedua, mereka adalah sebuah gerakan terorganisir, ketiga, Takfiri modern melegalkan semua aksi keji dan buas, dan keempat, menampilkan wajah Islam sebagai agama yang kejam di tengah opini publik dunia.

 

Kejahatan Takfiri atas nama Islam telah banyak membantu kemajuan program Islamophobia dan perang melawan terorisme yang didengungkan oleh Barat. Sebenarnya, ada beberapa mukaddimah untuk melawan gerakan tersebut. Pertama, kita harus mengenal kriteria danparameter pemikiran dan tindakan-tindakan Takfiri. Pada tahap kedua, mengenal komposisi dan unsur-unsur penting yang membentuk kelompok Takfiri. Setelah kita mengetahui esensi gerakan ini, maka tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi faktor-faktor pertumbuhan pemikiran Takfiri dan kemudian memaparkan solusi untuk melawan kelompok ekstrimis tersebut.

 

Kriteria pertama Takfiri adalah mengedepankan dan menonjolkan perilaku ekstrim. Kekerasan merupakan identitas utama yang disandang oleh setiap Takfiri dan cerminan mereka. Imam Ali as ketika menggambarkan Takfiri pada zamannya, mengatakan, “Pedang-pedang mereka dipanggul di leher-leher mereka.” Tempat untuk meletakkan pedang ada di pinggang, tapi ketika ia dipanggul di leher, berarti mereka bermaksud untuk membunuh seseorang.

 

Kriteria kedua Takfiri adalah membunuh dan meneror orang-orang tak berdosa. Mereka menganggap sama semua individu di sebuah komunitas dan membantai mereka secara serentak, padahal ajaran Islam mengatakan bahwa setiap kesalahan akan menjadi tanggung jawab pelakunya dan tidak bisa dibebankan kepada orang lain. Islam sangat teliti dalam masalah ini dan bahkan jika sebuah kesalahan dilakukan oleh seorang ayah, maka dosa orang tua tidak akan dicatat atas nama anaknya. Ribuan manusia tak berdosa tewas dalam operasi teror dan peledakan bom yang dilakukan oleh Takfiri di sejumlah negara dunia.

 

Di Irak, setiap hari kita mendengar berita tentang ledakan bom dan operasi teror yang menyasar warga sipil tak berdosa. Perilaku seperti ini merupakan ciri khas kelompok Takfiri. Sementara kriteria ketiga mereka adalah agresif dan gampang dalam mengkafirkan orang lain. Takfiri pada awalnya akan memberi lebel sesat kepada orang lain, kemudian mengkafirkan mereka dan setelah itu, membantai mereka semua tanpa memilah-milah. Dalam aksinya itu, Takfiri akan memulai dari satu individu atau sebuah komunitas kecil dan kemudian memperluas penyematan lebel kafir dan sesat kepada semua orang di luar mereka.

 

Imam Ali as dalam sebuah ungkapan kepada Takfiri pada masanya, mengatakan, “Jika kalian menentangku atas dasar prasangka bahwa aku telah berbuat kesalahan dan menyimpang, lalu kenapa kalian membunuh semua orang dengan pedang yang kalian panggul dan menyamaratakan pelaku dosa dengan orang yang tidak bersalah.”

 

Pada dasarnya, ada beberapa unsur penting yang membentuk kelompok Takfiri seperti, kebodohan dan faktor psikologi dan kejiwaan. Pemikiran Takfiri akan mudah berkembang di tengah masyarakat yang minim pengetahuan tentang ajaran-ajaran Islam. Dunia modern membutuhkan para ulama dan cendekiawan untuk mewujudkan sebuah perubahan mendasar dan mengarahkan umat ke jalan yang benar. Manusia di era modern haus akan keindahan, kasih sayang, dan ketenangan batin.

 

Tuhan di tengah masyarakat Takfiri hanya menjadi alat untuk mempersempit ruang gerak individu. Takfiri menganggap mereka paling taat beragama, padahal apa yang mereka miliki adalah bukan agama. Orang ekstrim sebenarnya tidak mengenal Tuhan, tidak memahami hukum-hukum Islam, dan juga tidak takut terhadap neraka. Orang-orang Takfiri terjangkit sebuah fanatisme pemikiran dan kejiwaan serta sebuah ideologi yang kacau.

 

Akidah menyimpang itu kadang tampak dalam bentuk individual dan juga dalam bentuk sosial. Individu Takfiri terjebak dalam sebuah kondisi kejiwaan di mana ia melihat semua masalah dengan pandangan yang sempit dan akhirnya terisolasi dalam kesulitan. Padahal, agama tidak memberatkan umatnya. Mereka menyikapi semua masalah tanpa dilandasi dengan pengetahuan yang memadai dan landasan logika. Individu Takfiri selalu berpikir untuk membunuh orang-orang tak berdosa, sementara spirit Islam mengajak umatnya untuk mengabdi kepada masyarakat dan mengatasi kesulitan-kesulitan mereka.

 

Saat ini, masalah Takfiri hanya bisa disembuhkan dengan tekad para ulama dan umat Islam. Para ulama harus menemukan solusi untuk mengobati kelompok Takfiri dan menyusun sebuah dokumen bersama untuk memusnahkan fenomena tersebut dari dunia Islam. Lembaga-lembaga pendekatan antar-mazhab perlu meningkatkan kegiatan budaya untuk meluruskan pemikiran dan akidah Takfiri. Satu hal yang perlu dicatat bahwa negara-negara Barat memanfaatkan Takfiri untuk kepentingan ganda mereka. Di satu sisi, mereka mendukung kelompok Takfiri untuk menciptakan kekacauan dan pembantaian di negara-negara muslim seperti, Suriah dan Irak. Di sisi lain, Barat memanfaatkan brutalitas Takfiri sebagai amunisi untuk memojokkan Islam dan menyerang agama ini.

 

Para ulama perlu memberi pencerahan kepada masyarakat dan menyikapi secara bijak terhadap pemikiran-pemikiran sesat di dunia Islam. Cara yang diadopsi oleh Front Melawan Pemikiran Takfiri di Mesir merupakan sebuah inisiatif yang sangat baik untuk menghadapi kegiatan kelompok Takfiri yang meresahkan umat. (IRIB Indonesia/RM)

 

sumber : http://indonesian.irib.ir/

NO COMMENTS