Mengenal Abu Jibril

0
590 views

5162402Orang ini dikenal sebagai kelompok garis keras yang menentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Dia adalah bapak dari Muhammad Jibriel Abdul Rahman yang sempat ditahan tahun 2009 lebih dari tiga tahun karena tuduhan teroris. Terang-terangan dia menyamakan Pancasila dengan komunisme. Dia dengan berani mengatakan “Jika kalian mengikuti jalan Pancasila, nasionalisme, liberalisme, komunisme, kalian pasti bercerai-berai dan akan binasa. Satu-satunya jalan yang menyelamatkan umat Islam adalah Al Qur’an, tiada yang lain”, seperti dikutip dari rimanews.com [lppimakassar.net]


Tapi siapakah Abu Jibril sebenarnya? Apakah dia tokoh yang memiliki pengetahuan keIslaman yang bisa dijadikan rujukan? Apakah dia pernah belajar ilmu agama secara khusus sehingga pantas dipanggil Ustadz atau disebut kiai atau ulama?

Kami menemukan catatan penting tentang Abu Jibril. Catatan ringkas orang yang menghabiskan waktunya untuk mengkafirkan kaum muslimin yang tidak mengikuti kelompoknya ini ditulis oleh seorang yang mengenalnya dengan baik. Di bawah ini riwayat singkat Abu Jibril yang ditulis oleh Quito Riantori di wall Facebook-nya tanggal 26 Oktober 2013 yang lalu.  Perubahan yang dibuat hanya penggantian kata yang menggunakan singkatan, misalnya sgt menjadi sangat. Juga penyusunannya dibuat dalam bentuk paragraf untuk penataan saja.

“Saya kenal betul orang ini. Nama samarannya saat dia jadi buronan pada masa rezim Soeharto adalah Akang. Pasca peristiwa berdarah Tanjung Priok (Amir Biki) dia sempat bersembunyi di rumah ayah saya di Utan Kayu selama 6-7 bulan. Saat itu istrinya, Lina, sedang hamil, yaitu si calon bayi, Muhammad Jibril.

Sejak anaknya lahir si Akang mengganti nama samarannya jadi Abu Jibril. Adapun nama aslinya adalah Fihiruddin Muqthi. Dia asli dari Lombok. Pengetahuan agamanya hanya diperoleh lewat buku-buku terjemahan terutama buku Ikhwanul Muslimin. Dia tak pernah mengenyam pendidikkan pesantren dan sama sekali buta bahasa Arab. Pengetahuan agamanya hanya diperoleh dari Abdullah Sungkar, salah seorang pengelolah Pesantren Ngruki, Solo.

Bersama Abdullah Sungkar, Abu Bakar Baasyir dan adiknya yang bernama Irfan Awwas, mereka bergerak di bawah tanah dengan mengusung gerakan DI/TII. Pada tahun 1985, mereka semua kabur ke Malaysia. Beberapa teman-teman mereka tertangkap dan dijebloskan ke penjara dengan hukuman 5-10 tahun.

Di Malaysia, mereka mengubah nama gerakan mereka jadi Jamaah Islamiyyah, karena merasa DI/TII tidak Islami, yang Islami menurut mereka yang internasional. Adiknya si Irfan mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia. Sejak tahun 1985 mereka mengirim pengikut-pengikut mereka ke Afghanistan untuk belajar perang. Anak si Abu Jibril sendiri dikirim ke Pakistan dan bergabung dengan kelompok Osama bin Laden.

Pulang dari Pakistan, Muhammad Jibril mendirikan Arrahmah.com. Mereka memang bagian dari gerakan Islam Radikal Internasional seperti Ikhwanul Muslimin, tapi mereka seperti Al-Qaeda yang menolak Demokrasi. Para pengikut Abu Jibril, Irfan Awwas lewat Majelis Mujahidin Indonesia dan Muhammad Jibril lewat Arrahmah.com mencuci otak masyarakat Indonesia untuk menolak Pancasila & UUD 1945.”

Sekarang, tergantung kepada Anda. Apakah negara Indonesia yang berbasis Pancasila bisa menerima orang yang menolaknya?

sumber : http://www.lppimakassar.net/

NO COMMENTS