Mengapa Salafiyyûn Wahhâbiyyûn Membela Yazid?!

0
1,038 views

Mengapa Salafiyyûn Wahhâbiyyûn Membela Yazid?!

Para Salafiyyûn Wahhâbiyyûn Mujassimûn Musyabbihûn ketika hendak menjajakan akidah tajsîm yang mengatakan misalnya bahwa Allah itu” bersemayam” di atas Arsy-Nya dan dipikul oleh malaikat atau kambing hutan berbentuk malaikat mereka mengandalkan nama-nama tokoh tetentu yang mereka yakini sebagai aimmah Salaf,seperti Imam Ahmad bin Hanbal, al Qâdhi al Farrâ’ al Mujassim, al Khallâl dkkAkan tetapi ketika terbukti para aimmah Salaf bersikap tegas terhadap kefasikan dan kemunafikan bani Umayyah, yang dalam banyak hadis shahih, Nabi saw. menyebutkan bahwa mereka adalah oknum perusak agama yang paling berbahaya[1] Ketika para aimmah Salaf kebanggaan Salafiyyûn Wahhâbiyyûn Mujassimûn Musyabbihûn itu bersikap tegas, maka mereka berpura-pura tuli dan buta… maka mereka segera menyumbat telinga-telinga mereka dengan ujung-ujung jari-jari mereka pesis yang difirmankan Allah dalam Al Qur’an suc-Nya:

وَ إِذا تُتْلى‏ عَلَيْهِ آياتُنا وَلَّى مُسْتَكْبِراً كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْها كَأَنَّ في‏ أُذُنَيْهِ وَقْراً فَبَشِّرْهُ بِعَذابٍ أَليمٍ

“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” ( QS. Luqman;7)

وَ إِنِّي كُلَّما دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصابِعَهُمْ في‏ آذانِهِمْ وَ اسْتَغْشَوْا ثِيابَهُمْ وَ أَصَرُّوا وَ اسْتَكْبَرُوا اسْتِكْباراً

Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. (QS. Nuh;7(

.

Dan karena keengganan mendengar suara kebenaran dan memerhatikan bukti-bukti haq, seorang hamba akan diganjar Allah dengan kebutaan dan ketulian serta kebisuan. Dan akibatnya mereka akan tersesat jalan hidayah dan tiba dapat kembali.Na’udzu billah minal idhlâh wal khidzlân.

Allah SWT berfirman:

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُوْنَ

Mereka adalah tuli, bisu dan buta. Dengan demikian, mereka tidak akan kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al Baqarah;18)

.

وَ الَّذينَ كَذَّبُوا بِآياتِنا صُمٌّ وَ بُكْمٌ فِي الظُّلُماتِ مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَ مَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلى‏ صِراطٍ مُسْتَقيمٍ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah) untuk diberi-Nya petunjuk (niscaya) Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al An’âm;39)

Maka jika seorang telah bersungguh-sungguh berpaling dari kebenaran, para anbiyâ’ pun tidak akan mampu menyadarkannya. Allah SWT berfirman:

أَ فَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَ مَنْ كانَ في‏ ضَلالٍ مُبينٍ

“Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak (tuli) bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az Zukhruf;40  (

.

Sebab mereka sudah dihukumi mati. Allah SWT berfirman:

إِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتى‏ وَ لا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعاءَ إِذا وَلَّوْا مُدْبِرينَ * وَ ما أَنْتَ بِهادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلالَتِهِمْ إِنْ تُسْمِعُ إِلاَّ مَنْ يُؤْمِنُ بِآياتِنا فَهُمْ مُسْلِمُونَ.

Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang- orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.Dan kamu sekali- kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorang pun) mendengar, kecuali orang- orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.(QS. An Naml;81-82(

.

Allah SWT juga berfiaman:

فَإِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتى‏ وَ لا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعاءَ إِذا وَلَّوْا مُدْبِرينَ

Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang.” (QS. Ar Rûm;52 (

.

Abu Salafy berkata:

Coba Anda renungkan betapa bahaya sikap angkuh kepada kebenaran… dia benar-benar akan menghalangi sampainya suara hidayah Allah ke dalam hati dan menjadikan jiwa menolak dan mengkufuri kebenaran.

Para Tokoh Andalan Wahhâbi Salafy Mengutuk Yazid, Tetapi kaum Salafu Malah Bermesraan!

Aneh bukan sikap mereka… ketika terbukti tokoh-tokoh dan aimmah Salaf mereka bersikap tegas dalam menyikapi kefasikan dan pengkhiatan bani Umayyah, utamanyaYazid dan Mu’awiyah ayahnya (yang dalam hadis Imam Bukhari disebut sebagai PENGANJUR KEPADA API NERAKA)… mereka pura-pura tuli dan buta… dan apabila ada yang mengungkap kejahatan bani Umayyah, khususnya Mu’awiyah dan Yazid putranya, segera mulut busk mereka menuduhnya sebagai Rafidhi, Zindiq dan lain sebagainya, sebagai upaya membungkam mulut pembela kebenaran agar diam tidak membongkar kejahatan dan kemunafikan itu!

Dalam kesempatan ini saya tidak akan berpanjang-panjang dalam menyajikan bukti-bukti dualisme sikap para Salafiyyûn Wahhâbiyyûn Mujassimûn Musyabbihûn. Saya hanya akan mengajukan sebuah bukti yang ditegaskan oleh banyak ulama, di antaranya adalah Ibnu Katsir (yang sengaja keterangannya saya pilih di sini mengingat mereka begitu menyanjungnya sampai-sampai seakan tidak ada tokoh mufassir dan ahli sejarah sehebat dia).

Ketika menerangkan hadis yang mengatakan barang siapa membuat takut penduduk kota suci Madinah secara zalim, maka Allah akan membuatnya takut dan Allah akan melaknatnya, Ibnu Katsir[2] mengatakan:

“Dan berdasarkan hadis ini dan yang semisalnya telah berdalil ulama yang membolehkan melaknat Yazid bin Mu’awiyah. Ini adalah pendapat Ahmad yang diriwayatkan darinya dalam satu riwayat dan dipilih oleh al Khallâl, Abu Bakar Abdul Aziz, Qadhi Abu Ya’la dan putranya; Qadhi Abul Husain. Dan Abul Fajar membela pendapat ini dalam sebuah kitab karya khususnya dan ia membolehkan melaknat Yazid.”[3]

Abu Salafy berkata:

Dan tentunya yang lebih berhak mendapatnya adalah Mu’awiyah ayah Yazid yang telah memberikan jalan dan menganjurkan kekejaman yang dilakukan terhadap penduduk kota suci Madinah al Munawwarah. Kekejaman Yazid terhadap penduduk Madinah itu berupa perintahnya untuk menyerang kota tersebut… membantai penduduknya… membebaskan pasukannya yang dikomandani oleh Muslim bin ‘Uqbah… dan itu semua atas perintah Mu’awiyah kepada Yazid anaknya!

Al Imam al Hafidz Ibnu Hajar al Asqallani (rh) berkata,

“Abu Bakar ibn Abi Khaitsamah meriwayatkan dengan sanad shahih bersambung kepada Juwairiyah Asmâ’, ia berkata, ‘Aku mendengar para tokoh penduduk kota Madinah berkisah bahwa Mu’awiyah menjelang matinya, ia memanggil Yazid dan berkata, ‘Sesungguhnya engkau akan mengalami hari berat dari penduduk Madinah, jika mereka melakukannya maka lemparlah mereka dengan Muslim bin ‘Uqbah. Karena sesungguhnya aku benar-benar mengetahui ketulusannya.’…. (lalu setelah para tokoh kota Madinah menyaksikan kefasikan dan kemungkaran yang mengerikan pada diri Yazid, meerka memutuskan untuk melepas ikatan baiat setia terhadap Yazid. Yazid pun segera mengirim pasukan di bawah pimpinan Muslim bin ‘Uqbah. Setelah perlawanan penduduk Madinah dipatahkan dan mereka dibantai habis, Muslim mengizinkan para prajuritnya untuk berbuat apa saja terhadap penduduk kota suci Madinah… mereka membantai warga sipil dan anak-anak kecil tidak berdosa … mereka memperkosa gadis-gadis Madinah, putri-putri para sahabat, tidak kurang dari seribu gadis-gadis sahabat Nabi saw. mereka perkosa)… setelah itu, Muslim membaiat penduduk Madinah (dan menjadikan) sebagai budak sahaya Yazid, terserah mau diapakan oleh Yazid terhadap harta maupun jiwa mereka.”

Ibnu Hajar juga menyebtukan riwayat serupa dari ath Thabarani:

“Menjelang matinya, Mu’awiyah berkata kepada Yazid, ‘Aku telah tundukkan negeri ini untukmu dan aku telah persiapkan manusia mendudukungmu, aku tidak takut melainkan dari penduduk Hijâz. Jika ragu terhadap sikap mereka, maka kirimlah Muslim ibn ‘Uqbah (untuk menghadapi mereka), karena aku telah mengujinya dan aku jamin ketulusannya. Lalu ketika penduduk Madinah memberontak kepada Yazid, Yazid memanggil Muslim ibn ‘Uqbah dan mengirimnya serta menghalalkan (berbuiat apa saja di madinah) selama tiga hari. Setelahnya dia meminta penduduk Madinah untu membaiat Yazid dan mereka adalah budak sahayanya baik dalam ketaatan maupun kemaksiatan kepada Allah.[4]

Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa: “Pada peperangan Hurrah, telah terbunuh jumlah yang tak terhitung dari kalangan Anshar. Harta-harta yang ada di kota suci madinah dijarah. Pedang-pedang dijalankan selama tiga hari.”[5]

Abu Salafy berkata:

Dan upaya menuduh dengan tuduhan rafidhi atau zindiq yang biasa dilakukan kaum Wahhâbi-Salafi dengan mengatas-namakan Ahlusunnah untuk menteror siapa saja yang tulus mencintai keluarga Nabi dan dzurriyahnya adalah upaya sia-sia, sebab hanya kaum Nawashib/musuh-musuh Ahlul Bait Nabi saw. lah demikian!

Adapaun Ahlusunnah adalah akan tulus mencintai Nabi dan kelurganya dan membenci bani Umayyah dan siapa saja yang memerangi Nabi dan keluarganya! Ini adalah pandangan para pembesar ulama dan para aimmah Ahlusunnah, sepertiImam Nasa’i penulis kitab as Sunan (w.303 H), Imam al Hakim penulis kitab al Mustadrak (w 450 H), Imam Abdur Razzâq ash Shan’âni penulis kitab al Mushannaf(211 H), Imam al Hafidz Abu Ghassân al Nahdi al Kufi, Abu Nu’aim dan Ubaidullah bin Musa, Imam al Hafidz Jarîr adh Dhabbi (W.177 H) dan puluhan lainnnya.

I’tiqâd Tokoh-tokoh Besar Ahlusunnah Tentang Mu’awiyah bin Abu Sufyân

Adz Dzahabi (ulama yang selalu dibanggakan kaum Salafi-Wahhâbi) dalam kitabSiyar A’lâm-nya,14/133 berkata tentang Imam Nasa’i (rh),

“Padanya terdapat sedikit kesyi’ahan dan juga menyimpang dari musuh-musuh Ali seperti Mu’awiyah dan ‘Amr (bin al ‘Âsh).” Dan karenanya, beliau syahid dianiaya pendukung Mu’awiyah si penganjur kepada api neraka. Mereka memaksa Imam Nasa’i (rh) untuk menyanjung Mu’awiyah dan beliau pun menolaknya!

Adz Dzahabi melaporkan dalam kitab Siyar A’lâm-nya,9/570:

“Abdur Razzâq berkata kepada seseorang, ‘Jangan kotori majlis kami dengan menyebut nama anaknya Abu Sufyân.

Adz Dzahabi juga berkata,

“Abu Nu’aim dan Ubaidullah adalah pengagung Abu Bakar dan Umar,hanya saja mereka berdua mencaci maki Mu’awiyah dan keluarganya.Siyar A’lâm-nya,10/432. Ubaidullah bin Muas tidak sudi mengizinkan seorang yang bernama Mu’awiyah memasuki rumahnya dan juga  tidak sudi meriwayatkan hadis di hadapan orang-orang jika di antara mereka ada yang bernama Mu’awiyah. Baca keterangannya dari laporan adz Dzahabi dalamSiyar A’lâm,9/556-557.

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Tahdzîb at Tahdzîb,2/66: “Khalili dalam kitab alIrsyâd berkata tentangnya, “Tsiqah disepakati kejujurannya. Qutaibah berkata, “Aku mendengar Jarîr al Hafidz mencaci Mu’awiyah secara terang-terangan.”

.

Akidah Hasan al Bashri Imam Salaf Shaleh Tentang Mu’awiyah!

Hasan al Bashri berkata mengecam Mu’awiyah, “Ada empat perkara pada Mu’awiyah andai satu saja ada padanya niscaya sudah cukup menyebarbkan kebinasaan baginya:

(1) Ia merampas kekuasaan tanpa musyawarah sementara masih banyak sahabat mulia.

(2) Mengangkat Yazid si pemabok, si pemakai baju sutra dan pemain musik sebagai Khalifah.

(3) Mengakui Ziyâd sebagai anak ayahnya, padahal Nabi saw. bersabda, ‘Anak itu milik si pemilik ranjang dan bagi si pezina adalah dicegah (dari mengakui anak hasil zinanya dalam nasab).’

(4) Ia mebunuh Hujr dan rekan-rekannya. Celakalah dia dia dari Hujr dan rekan-rekannya! Celakalah dia dia dari Hujr dan rekan-rekannya![6]

Penutup

Semoga beberapa ketarangan di atas dapat menyadarkan dan memperkenalkan kepada kita akidah sebenarnya Ahlusunnah yang diwariskan oleh para para aimmah dan Salaf Shaleh kita…. Dan semoga kita dapat berhati-hati dan waspada terhadap tipu daya yang menggiring kita untuk membenci keluarga Nabi saw. dan mencintai bani Umayyah yang fasik, khususnya Mu’awiyah, Yazid, Marwan dan lainnya yang telah disabdakan Nabi saw. bahwa mereka adalah manusia-manusia terkutuk.

Diriwayatkan dari Imam Hasan ra.. beliau berkata kepada Marwan ibn Al Hakam:

لَقَدْ لَعَنَكَ اللهُ على لِسانِ رَسُولِِ اللهِ (ص) وَ أَنْتَ فِيْ صُلْبِ أَبِيْكَ.

“Allah Benar-benar telah melaknat kamu melalui lisan Nabi-Nya sementara kamu masih berada di sulbi ayahmu.”[7]

Al Muttaqi Al Hindi meriwayatkan dari Sayyidatuna Aisyah ra., ia berkata kepada Marwan, “Sesungguhnya Rasulullah telah melaknat ayahmu sementara kamu masih dalam sulbinya. Jadi kamu adalah sebagian dari laknat Allah.[8]

Ibnu Umar ra. sebagaimana diriwayatkan Al Bazzar, berkata, “Allah telah melaknat Al Hakam dan keturunannya atas lisan Nabi-Nya.[9]


[1] Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:

لِكُلِّ أُمَّةٍ آفَةٌ و آفةُ هذهِ الأُمَّةِ بَنُوا أميةَ.

“Pada setiap umat terdapat oknum perusak, dan oknum perusak umat ini adalah bani Umayyah.”

(HR riwayat Abu Nu’aim dari sahabat Imam Ali ra. dan ada riwayat serupa dengan redaksi setiap agama sebagai ganti kalimat setiat umat dari riwayat Nu’aim bin Hammad dalam kitab al Fitan dari sahabat Ibnu Mas’ud))

Ibnu Hajar Al Asqallani dalam Syarah Bukhari-nya,8/339 menukil Imam Ali (karramallahu wajhahu) berpidato dan berkata:

ألآ إنَّ أخْوَفَ الْفِتَنِ عِنْدِي عَلَيْكُمْ فتْنَةُ بَنِي أُمَيَّةَ, ألآ إِنَّهَا ِفتْنَةٌ عَمْيَاءُ مُظْلِمَةٌ.

“Ketahuilah! Sesungguhnya fitnah yang paling saya khawatirkan atas kalian adalah fitnah bani Umayyah. Ketahuilah ia adalah fitnah yang buta dan gelap gulita.”

[2] Ibnu Katsir adalah seorang ulama yang sering dibanggakan kaum Salafi-Wahhâbi. Ia adalah murid Ibnu Taimiyah dan juga pernah berguru kepada adz Dzahabi.

[3] Tarikh Ibnu Katsir,8/223.

[4] Fathul Bari,13/70.

[5] Ibid.3/177.

[6] Al Khilafah wa al Mulk; Abul A’la al Maududi:106.

[7] Hadis riwayat Abu Ya’la seperti dalam Majma’ Az Zawâid, 5/240, Ibnu Sa’ad dan Ibnu ‘Asakir seperti dalam Kanz Al Ummâl,11/357 dan juga di sebut Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wa An Nihayah, 8/280.

[8]Mustadrak, 4/418, Tafsir Al Qurthubi, 10/286 dan 16/197, Tafsir Al Kasysyaf; Zamakhsyari, 3/99, Tafsir Ibnu Katsir,4/159, Tafsir Ar Razi,7/419, Usdul Ghâbah; Ibnu  Al Atsir,2/34, Al Bidayah wa an Nihayah,3/23, Tafsir An Nisyaburi (di pinggir Ath Thabari), 26/13, Tafsir An Nasafi (di pinggir tafsir Al Khazin), 4/132, Ash Shawâiq Al Muhriqah:108, Tafsir Fath Al Qadîr,5/20, tafsir Rûh Al Ma’âni; Al Alusi,6/2, Irsyâd As Sâri– syarah Shahih Bukhari-,7/320. dll.

[9] Al Haitsami dalam Zawâid-nya berkata, “Hadis ini diriwayatkan Ahmad, Al Bazzâr dan Ath Thabarani.”

 

sumber : http://abusalafy.wordpress.com/

NO COMMENTS