Membaca Ulang Akidah Kaum Salafi

0
506 views

INFOSALAFI.COM – Al-Islam adalah agama paripurna yang diperuntukkan bagi hamba-hamba Tuhan dari golongan manusia.Pada prinsipnya seluruh makhluk-makhluk Tuhan tanpa terkecuali,selalu dalam keadaan butuh dengan ‘kucuran’ rahmat serta kasih sayang-Nya,karena sesungguhnya eksistensi mereka bergantung kepada-Nya,se-‘saat’ saja Tuhan ‘berpaling’ dari makhluk-Nya maka ‘saat’ itu pula makhluk kehilangan wujud dan eksistensinya.Sedemikian dekat Tuhan dengan makhluk-Nya sehingga Allah swt. menyatakan dalam firmannya “…Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (Q.S.Al Qaf : 16).Namun perlu diketahui bahwa kedekatan Allah swt. bukanlah dalam pengertian jarak “ruang dan waktu” atau “jarak materi” sebagaimana ketika kita menyifati kedekatan sesuatu yang materil dengan sesuatu lainnya yang juga terbatas secara materi.

Akan tetapi,perlu diketahui pula bahwa “hari ini” masih saja terdapat orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai aqil,muslim,mukmin serta bertauhid namun secara lalai menyematkan serentetan sifat-sifat yang mengesankan Tuhan seperti makhluk(yakni;terbatasi dengan ruang dan waktu).Sekte ini pada umumnya mengenalkan diri dengan nama salafy atau salafiyah(sebagian orang menyamakannya dengan wahabisme),nama ini tentunya merupakan pilihan yang tepat untuk mengesankan diri mereka sebagai kaum yang senantiasa terhubung atau tersambung kepada generasi ulama-ulama salaf sampai kepada sahabat-sahabat Nabi saw..Di sisi lain mereka juga mengklaim diri sebagai bagian dari golongan ahlussunnah wal jama`ah,namun sangat disayangkan bahwa sekte ini tidak mampu melakukan kontrol atas kebiasaan-kebiasaan buruk yang mereka warisi secara turun-temurun,yaitu dengan sangat gampang dan mudah menyalahkan,menyesatkan hingga mengkafirkan kelompok lainnya dari kalangan ahlussunnah wal jamaah sendiri;sebut saja misalnya kaum nahdiyin(NU) dinusantara yang sangat kental dengan warisan tradisi-tradisi keilmuan dan spiritualitas Ahlul bayt Nabi saw.,dan secara historis merupakan pengusung utama tradisi keagamaan ahlussunnah wal jamaah melebihi salafisme atau wahabisme.

 

PENAFIAN RASIONALITAS

Kejumudan berpikir nampak begitu ‘vulgar’ dalam pandangan-pandangan mereka  terkait dengan agama,khususnya dalam masalah-masalah teologis.Namun disisi lain sangat eksklusif dalam merespon kenyataan bahwa diluar mereka terdapat golongan muslim lainnya dari kalangan Ahlussunnah wal jama`ah ataupun Syi`ah imamiyah yang mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda dengan mereka dan boleh jadi jauh lebih orisinil sehingga nampak lebih rasional(masuk akal).

Di antara pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat mereka(yakni;sekte salafy,mengingat tidak semua golongan ahlussunah berpandangan seperti mereka) yang sulit dicerna akal sehat manusia,berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan atau lebih tepatnya sifat “Tinggi” Allah swt. dimana mereka meyakini bahwa Allah swt. berada “diatas” makhluk dalam pengertian posisi yang lebih tinggi.Namun yang menarik disini adalah posisi tinggi yang mereka maksudkan ialah sama ketika sifat tinggi ini dinisbahkan kepada sesuatu yang materil,yakni;bagi sekte ini penakwilan rasional atau apapun namanya penakwilan itu adalah sesuatu yang haram..!,sehingga ketika mereka berhadapan dengan dalil-dalil naqli(ayat-ayat atau riwayat-riwayat) mereka mengartikannya secara mutlak bedasarkan makna lahiriah kata yang nampak.Olehnya itu,jangan heran….! Ketika membaca buku/tulisan-tulisan mereka atau bahkan berdiskusi secara langsung dengan mereka,kita akan banyak mendapati pandangan-pandangan yang kontradiktif serta tidak masuk akal(tentunya bagi orang-orang yang memiliki kejujuran rasionalitas,karena terkadang akal seseorang telah menerima kebenaran suatu proposisi atau suatu pendapat,namun sengaja mengingkarinya karena tidak kuasa melihat batalnya “lahiriah ayat-ayat atau hadist-hadist” yang secara dogmatis telah mereka terima,atau dengan kata lain,mengorbankan rasionalitas mereka demi riwayat-riwayat yang telah didoktrinkan kepadanya,padahal ia secara tidak sadar telah melakukan kelalaian besar,mengingat riwayat-riwayat pada prinsipnya bukanlah satu-satunya jaminan kebenaran(kecuali telah terbukti orisinalitas dan validitasnya);apatah lagi hanya pendapat seorang ulama).

 

DALIL-DALIL KAUM SALAFI DALAM MEYAKINI SEBAGIAN SIFAT-SIFAT TUHAN

Berikut ini adalah diantara alasan-alasan atau dalil-dalil yang mereka rujuk dalam meyakini atau mengimani sifat “Tinggi” Allah swt. “diatas makhluk-Nya” yang mereka kutip dari berbagai sumber termasuk kitab shahih bukhari dan shahih muslim dimana keduanya merupakan kitab hadist yang paling terpercaya dan diterima secara umum oleh kalangan ahlusunnah wal jama`ah :

1.Adanya penyebutan “alFauqiyyah(ketinggian)” Allah dengan kata penghubung “min”.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT, Dan milik Allah sajalah segala yang ada dilangit dan dibumi berupa makhluk melata dan para malaikat, dalam keadaan mereka tidaklah sombong. Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S AnNahl:49-50). Ibnu Khuzaimah dalam kaitannya dengan hal ini mengatakan: “Maka Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi memberitahukan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada diatas para malaikat-Nya, dan berada diatas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengabarkan kepada kita bahwa para malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada diatas mereka” (Lihat Kitabut Tauhid;Karya Ibnu Khuzaimah,Hal. 111).

 

2.Adanya penjelasan tentang sesuatu yang naik (Malaikat,Amal sholeh) menuju Allah.

Kata(lafaz) “naik” yang disebutkan dalam Al Qur’an dan al Hadits bisa berupa al-‘uruuj atau as-Shu’uud. Seperti dalam firman Allah swt.: “Dari Allah yang memiliki al-Ma’aarij. malaikat dan Ar-Ruuh naik menuju Ia “(Q.S al-Ma’aarij:3-4). Mujahid (murid dari sahabat Nabi,Ibnu Abbas) menafsirkan: (yang dimaksud) dzil ma’aarij adalah para malaikat naik menuju Allah (Lihat dalam Shahih al-Bukhari).Dan dalam suatu hadits disebutkan: “Bergantian menjaga kalian malaikat malam dan malaikat siang.Mereka berkumpul pada shalat ‘Ashr dan shalat fajr.Kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian,sehingga Allah bertanya kepada mereka – dalam keadaan Dia Maha Mengetahui – Allah berfirman: Bagaimana kalian tinggalkan hamba-Ku? Malaikat tersebut berkata: “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat”(H.R Al-Bukhari dan Muslim).Ibnu Khuzaimah mengatakan : “Didalam khabar(hadits) telah jelas dan shahih bahwasanya Allah ‘azza wa jalla diatas langit dan bahwasanya para malaikat naik menuju-Nya dari bumi.Tidak seperti persangkaan orang-orang Jahmiyyah dan Mu’aththilah(penolak sifat Allah swt.) (Lihat Kitabut Tauhid;Karya Ibnu Khuzaimah,Hal.381)

Dan juga firman Allah swt.: “Kepada-Nyalah naik ucapan yang baik dan amal shaleh dinaikkannya” (Q.S Fathir:10).

 

3.Adanya suatu penjelasan bahwa AlQur’an ‘diturunkan’ dari Allah swt.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa Allah swt. berada diatas, sehingga Ia menyebutkan bahwa Al Qur’an diturunkan dari-Nya.Tidaklah diucapkan kata “diturunkan” kecuali berasal dari yang “diatas”.Sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran :

  • Kitab (Al Qur`an ini) diturunkan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S Az-Zumar:1).
  • (Al Qur’an) diturunkan dari yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Q.S Fusshilaat:2)
  • (Al Qur’an) diturunkan dari yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Q.S Fusshilat:42).

 

4.Riwayat tentang persaksian Nabi saw. dimana seorang budak perempuan ditanya,di manakah Allah?, kemudian menjawab Allah di atas langit  dan dengan itu ia disebut sebagai wanita beriman.

Sebagaimana yang diceritakan dalam hadits Mu’awiyah bin al-Hakam : “Rasulullah saw. bertanya kepadanya: Dimana Allah? Dia menjawab: diatas langit. Rasul bertanya: Siapakah saya? Wanita itu menjawab: Engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim). Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i didalam kitab al-‘Umm juz 5,Hal. 298.

 

5.Adanya penjelasan bahwa penduduk surga(Jannah) akan melihat Wajah Rabb-Nya

 Para ulama menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah swt. adalah bahwa kelak  penduduk surga dapat melihat Allah swt.Rasulullah saw. bersabda: Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –semoga Allah meridhainya – beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam bersama Nabi saw. kemudian beliau melihat pada bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim).

 

6.Adanya penjelasan tentang turunnya Allah swt. kelangit dunia setiap sepertiga malam yang terakhir.

Dari Abu Hurairah – semoga Allah meridhainya – beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tuhan kita Tabaaroka wa Ta’ala turun ke langit dunia tiap malam ketika telah tersisa sepertiga malam, kemudian Dia berkata: Siapakah yang akan berdoa kepadaku, Aku akan kabulkan. Siapa yang meminta kepadaku Aku akan beri, siapa yang memohon ampunan kepadaku, Aku akan ampuni”(H.R al-Bukhari dan Muslim, hadits yang mutawatir).

 

7.Aqidah-aqidah para nabi sebelumnya secara tegas menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada diatas. Hal ini terjadi dalam dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun yang kemudian ditentang olehnya.

Al Qur`an mengisahkan : “Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai kepintu-pintu, yaitu;pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta (Q.S Ghafir/Mu’min: 36-37).”

Ibnu Jarir at Thobary mengatakan: maksud ucapan (Fir’aun): Sesungguhnya aku memandangnya sebagai pendusta, artinya: Sesungguhnya aku mengira Musa berdusta terhadap ucapannya yang mengaku bahwasanya diatas langit ada Tuhan yang mengutusnya(Lihat tafsir At Thobary, 21/387). Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan: “Maka Fir’aun mendustakan Musa dalam pengabarannya bahwa Rabbnya berada di atas langit…” (I’laamul Muwaqqi’in, Juz 2,Hal. 317).

 

8.Perkataan dari salah seorang sahabat Nabi saw. yaitu ; Ibnu Mas’ud ra.

Dia berkata : “Antara langit dunia dengan (langit) berikutnya sejauh perjalanan 500 tahun, dan antara 2 langit sejauh perjalanan 500 tahun, antara langit ke-7 dengan al-Kursiy 500 tahun, antara al-Kursiy dengan air 500 tahun, dan ‘Arsy di atas air, dan Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dalam keadaan Dia Maha Mengetahui apa yang terjadi pada kalian” (diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dalam kitab Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah bab Maa Bainas Samaa-id Dunya wallatii taliiha,Juz 1,Hal. 38 ,riwayat nomor 34). Riwayat perkataan Ibnu Mas’ud ini adalah shahih. Ad-Daarimi meriwayatkan dari jalur Musa bin Isma’il dari Hammad bin Salamah dari ‘Ashim dari Zir (bin Hubaisy) dari Ibnu Mas’ud.Semua perawinya adalah rijaal al-Bukhari.

Kedelapan poin diatas adalah dalil-dalil yang mereka kumpulkan untuk menguatkan atau menjastifikasi keyakinan mereka bahwa Allah swt. lebih tinggi dari makhluk atau berada diatas mereka.Tentu tidak sulit untuk menyimpulkan apa yang mereka maksudkan dengan sifat “tinggi” atau “diatas” dalam hal ini,karena dari riwayat-riwayat atau tafsiran-tafsiran yang mereka kutipkan sendiri secara gamblang menyatakan bahwa Allah swt. berada dalam suatu posisi(tempat yang lebih tinggi) diatas langit atau al-Kursiy,air dan `Arsy. Jika kita teliti dalam pernyataan-pernyataan hadist/riwayat yang mereka jadikan dalil,tak ada satupun penjelasan atau petunjuk untuk kita melakukan takwil(interpretasi) sehingga dapat dipastikan bahwa yang mereka maksudkan dengan “langit” adalah langit alam semesta ini(yang masih tergolong materi).Dan sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya,mereka tidak akan pernah melakukan upaya panakwilan sehingga makna yang mereka pahami dan yakini benar adalah makna lahiriah kata pada ayat atau riwayat tersebut.

Aqidah dan keyakinan sekte salafy ini tentu sangat sulit dicerna oleh akal  yang sehat,apatah lagi mamahami dan menerimanya.Mungkin saja sebagian orang guna menenankan hati dan pikirannya berkata;sebaiknya dalam hal ini kita tidak perlu bertanya lagi,akal manusiakan terbatas..!

 

 TELAAH DAN KRITIK

Keterbatasan akal tentunya bukan hal yang diragukan,tetapi dari ayat-ayat  Al Quran sendiri secara gamblang diserukan agar manusia senantiasa berpikir dan berenung(tafakkur),bahkan pada dasarnya agama dan syariat ini hanya ditujukan bagi manusia karena kemampuan rasionalitas yang dimilikinya,sebab jika bukan karena akal-nya lalu mengapa syariat yang sama tidak dibebankan kepada hewan,tetumbuhan,atau bahkan anak kecil(bayi) yang nota bene anak manusia? Tentu karena bayi,hewan dan tumbuhan tidak memiliki akal(rasionalitas) sebagaimana yang dimiliki manusia balig(meskipun bayi secara potensial memilikinya).Begitupula manusia yang secara fisik telah dewasa namun mengalami kelainan jiwa atau gila atau lupa ingatan dimana semua itu menghikayatkan akal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.Sekarang,jika kita dibekali dengan akal dan dengan akal ini pula kita memilih Islam sebagai agama benar,lalu mengapa dengan begitu mudahnya kita menyifati Allah swt. dengan sifat-sifat yang mengesankan sifat-materi dan pada akhirnya menggambarkan Tuhan sebagai wujud terbatas.Apakah dengan meyakini Allah swt. berada “diatas langit” bukan berarti pembatasan bagi Tuhan? Sebab,adanya Tuhan diatas berarti tiadanya Tuhan dibawah atau selain atas,adanya Tuhan diatas Arsy berarti tiadanya Tuhan dibawah Arsy atau dikolong langit lainnya.Turunnya Allah swt. kelagit bumi yang notabene materi mutlak,apakah tidak berarti bahwa Allah swt. lebih kecil dari ciptaannya?  Kira-kira dengan penyifatan semisal “turun dari atas”, “berada diatas langit” dll…,apakah Allah swt. masih layak disebut dengan wujud yang Maha besar,Maha tinggi dan Maha tak terbatas..?? karena,kata “turun” dan “diatas sesuatu” itu mengindikasikan keterbatasan ruang bagi Tuhan demikian pula dengan keterbatasan waktu,sebab antara posisi atas dengan bawah(apatah lagi yang dimaksud disini ialah atas langit alam materil ini) tentu terdapat jarak dan untuk menjangkau “bawah” dari “atas” memerlukan waktu,karena atas dan bawah sendiri berada dalam ruang,sementara mustahil adanya ruang tanpa adanya waktu(sedangkan dalam pandangan sekte salafy ini,Allah swt. diposisikan diatas langit dan para malaikat naik menuju Allah swt. dari bumi,yakni dari arah bumi ke-arah langit).

Kemudian pada hadist Bukhari diriwayatkan terlihatnya Tuhan kelak oleh hamba-hambanya dihari kiamat(dan sekali lagi tidak ada penjelasan dari mereka tentang bagaimana penyaksian Allah swt. terjadi,apakah kita melihat dengan mata ini atau mata lain/atau perlu takwil) sehingga dapat disimpulkan bahwa yang mereka maksud adalah mata manusiawi.Dan “mata” manusia,dimanapun itu(entah didunia atau diakhirat) tetap saja mata manusiawi,sebab diakhirat pun manusia tidak berubah menjadi “bukan manusia” yakni;esensi kemanusiaannya tetap terjaga dan manusialah yang menerima siksaan atau menikmati kelezatan surgawi.Walhasil,ketika diakhirat Tuhan dapat dilihat itu pun dalam bentuk menyerupai purnama,berarti Wujud Allah swt. berjarak dengan wujud manusia,karena penyaksian tanpa jarak sulit digambarkan,yakni; Nabi dalam penukilan hadist tersebut mengatakan bahwa : “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya”.Artinya penyaksian itu terjadi dalam rentangan ruang dan waktu,sementara ruang dan waktu adalah batasan yang bersifat materi.Seluas,sebesar,sepanjang apapun itu pasti ujung-ujungnya akan terbatas;setidaknya begitulah akal sehat memahaminya.Dan tentu saja Allah swt. maha suci dari segala penyifatan seperti itu.Disinilah kita perlu berenung lagi….! Apakah agama Islam yang begitu diangungkan dan dimuliakan ini harus nampak tidak rasional atau bahkan bertentangan dengan kesimpulan-kesimpulan logis akal manusia demi menegaskan hadist yang diyakini – apa lagi dengan cara dan pemahaman yang keliru – oleh kaum salafy ini..?? Mungkinkah agama yang sangat menekankan pentingnya berpikir,merenung dan menjadi ulil al-bab,ajaran dan doktrin-doktrinya bertolak belakang dengan apa yang dapat dipahami akal sehat..??? Mari kita berpikir dan berenung lagi sembari berdo`a,semoga Allah swt. memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua agar menemukan jalan yang lurus dalam ber-Islam, InsyaAllah Ta`ala. []

 

 

Ditulis oleh: Ali Imami

Redaktur: Ibnu Salafi

 

sumber : http://www.infosalafi.com/

NO COMMENTS