Mazhab Salaf Shaleh Tentang Islamnya Mu’awiyah (Bagian:9)

0
353 views

Persembahan Untuk Ustadz Firanda Dan Para Pemuja Kaum Munafikin!

.

ilustrasi-_110421060538-736Sahabat Abu Ayyûb al Anshâri Juga Menegaskan Bahwa Mu’awiyah bin Abu Sufyân Adalah Benteng Dan Pelindung Kaum Munafikin!

Abu Ayyub Al Anshâri adalah sahabat setia Nabi Muhammad saw. dan kesetiannya kepada baginda Nabi saw. ia terjemahkan dengan kesetiannya kepada Sayyidina Ali as.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Mu’awiyah menulis sepucuk surat kepadaAbu Ayyub al Anshari ra. mengancamnya dan menuduhnya bertanggung-jawab atas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affân dengan tujuan agar Abu Ayyûb meninggalkan pembelaannya kepada Khalifah Ali as. dan berbagung dengannya atau paling tidak bersikap netral.

Sebab bergabungnya banyak pembesar sahabat, khususnya para sahabat Badriyyûn, yang berkehormatan berperang membela Nabi saw dalam peperangan Badar dan dipuji Allah dalam Al Qur’an-Nya adalah sangat memojokkan kubu Mu’awiyah yang sedang memberontak kepada Khalifah Syar’i yang sah; Ali bin Abi Thalib as. Apalagi ternyata tidak bergabung dengan Mu’awiyah melainkan mantan-mantan kaum kafir yang bertahun-tahun memerangi Nabi saw. dan mengganngu kaum Muslimin, seperti Marwan bin al Hakam, Amr binn al Âsh dan banyak kalangan Arab Baduwi yang kental kemunafikannya.

Karenanya Mu’awiyah melakukan segala cara agar para sahabat mulia itu meninggalkan Khalifah Ali bin Ab Thalib! Sesekali dengan rayuan harta melimpah yang ia janjikan… sesekali dengan ancaman dan sesekali dengan menebar tuduhan palsu terlibat dalam pembunuhan terhadap Utsman bin Affan.

Namun sahabat Abu Ayyûb –yang kita kenal kesetiannya kepada Islam dan Nabi Islam saw.- tidak tergoyah keimanannya dengan rayuan partai setan dan gembong kaum munafik. Ia justeru berbalik menegaskan kesetiannya kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib as. dan berbalik mengancam Mu’awiyah dengan pedang tajamnya.

Sesampai surat itu di tangan Abu Ayyub ra. ia segera melaporkan kebiadaban sikap Mu’awiyah itu kepada Imam Ali as.

Ia berkata:

يا أمير المؤمنين ! إن معاوية ابن آكلة الأكباد و كهف المنافقين كتب إلي بكتاب

“Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya Mu’awiyah putra wanita pengunyah jantung dan pelindung kaum Munafik itu menulis sepucuk surat kepadaku… “

.(Baca Waq’atu Shiffin oleh Nashr bin Muzahim:368)

Sebagaimana para ulama melaporkan bahwa di akhir surat balasan Abu Ayyûb ra. kepada Mu’awiyah, ia menyebut Mu’awiyah dan kelompoknya sebagai: bani al Ahzâb/anak-anak kaum yang dahulu memerangi Nabi saw. di perang Khandak yang juga dikenal dengan nama perang al Ahzâb, karena kaum kafir di bawah kepemimpinan Abu Sufyan; ayah Mu’awiyah telah berhasil menggalang kekuatan dengan berkoalisi dengan kaum kafir di berbagai daerah untuk menyerang kota suci Madinah… dan dalam peperangan itu mereka dikejutkan dengan setrategi baru Nabi saw. dengan mengggali parit di sekeliling arah masuk kota Madinah… kemudian mereka mengepung kaum Muslimin berhari-hari sebelum kemudian ada beberapa pendekar kaum kafir yang berhasil melompat masuk ke dalam kota Madinah dan kemudian menantang duel.. akhirnya Ali maju menyambut tantangan seorang pendekar kaum kafir yang bernama Amr bin Abdi Wudd. Imam Ali berhasil menebas kepala sang pendenkar kafir angkuh dan teriakan tabkir pun memecah keheningan sauna penantian hasil akhir duel menentukan itu… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar demikian teriakan kaum Muslimin saat itu menyambut kemenangan Islam di tangan Ali bin Abi Thalib as.

Dan untuk mengabadikan jasa besar Ali bin Abi Thalib as. Allah menurukan ayat suci Al Qur’an:

.

وَ رَدَّ اللَّهُ الَّذينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنالُوا خَيْراً وَ كَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنينَ الْقِتالَ وَ كانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزيزاً

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Ahzâb[33];25)

.

Jalaluddîn as Suyûthi Dalam tafsir Ad Durr al Mantsûr-nya,5/368 merangkum riwayat Imam Ibnu Abi Hâtim, Ibnu Mardawaih dan Ibnu ‘Asâkir dari sahabat Ibnu Mas’ud ra. Bahwa ia membaca ayat tersebut di atas dengan menafsirkannya demikian:

.

وَ كَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنينَ الْقِتالَ{بعلي بن أبي طالب

“Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan (dengan Ali bin Abi Thalib).”

.

Ya! Jika dahulu Mu’awiyah bersama ayahnya memimpin kaum Musyrik memerangi Nabi Muhammad saw. dan mengancam kaum Musliminin, khususnya kaum Anshar, maka kini Mu’awiyah putra teladan kaum Musyrikin Quraisy hasil pasangan seorang aimmah/pemimpin kaum kafir; Abu Sufyan dan Hindun memimpin pasukan yang terdiri dari kaum munafikin dan kaum tertipu untuk memerangi Khalifah Nabi Muhammad; Ali bin Abi Thalib!

Ketika menulis catatan ini saya dapat membayangkan betapa sedih dan dongkolnya hati kaum Salafi karena ternyata kejahatan para idolanya diabadikan Allah dalam kitab suci-Nya yang dibaca umat Islam siang-malam dan pada waktu yang sama Allah menurunkan ayat yang mengabadikan jasa besar Ali bin Abi Thalib as.! Pasti mereka sakit hati kepada Allah Dzat Yang telah menurukan ayat suci-Nya untuk memuji Ali bin Abi Thalib dan mengecam Abu Sufyan, Mu’awiyah dan kaum kafir lainnya!

Setelah ini semua mari kita kembali kepada tema utama kita yaitu kecaman Abu Ayyûb al Anshari ra. terhadap Mu’awiyah yang menyebutnya sebagai berikut:

(1) Anak si wanita pengunyah jantung Hamzah paman Nabi saw. yang gugur di dalam peperangan Uhud membela Islam yang kemudian diperlakukan keji oleh Hindun; ibu Mu’awiyah.. ia sobek dada Hamzah, lalu ia keluarkan jantungnya dan kemudian ia kunyah-kunyah. Sebagaimana ia telah dengan keji mencincang jasad suci paman Nabi Muhammad saw. yang beliau gelari dengan penghulu para syahid, sayyidu asy syuhadâ’. Ya. Tindakan keji seperti itu sekarang menjadi model kebanggaan kaum Salafi Wahhâbi di berbagai tempat ketika mereka berhasil membunuh kaum Muslimin.

(2) Mu’awiyah adalah Kahful Munâfiqîn/gua/pelindung kaum munafik!Sementara Allah SWT menegaskan bahwa kaum munafikin itu kelak akan disiksa fi ad darkil asfali minan nâr/tempat terhina dalam api neraka!

.

Demikianlah sahabat Nabi Abu Ayyub menyebut Mu’awiyah sebagai gua, pelindung kaum Munafikin! Adakah kecaman dan pernyataan sikap akan kemunafaikan Mu’awiyah yang lebih tegas darinya?!

Tentu kalangan Salafi Wahhâbi akan sangat keberatan dengan penyematan status tersebut atas Mu’awiyah, bagaimana tidak?! Bukankah Mu’awiyah idola mereka?! Panutan mereka?! Salaf kebanggan mereka?! Bahkan bisa jadi mereka berbalik menyerang Abu Ayyub al Anshari, sebagaimana Marwan; Salaf kebanggaan Salafi Wahhâbi dahulu mengecam Abu Ayyub karena bertabarruk dengan menempelkan pipinya di tanah kuburan Baginda Nabi Muhammad saw.! Bukan sikap aneh jika kaum Salafi Wahhabi berbalik menyerang Abu Ayyub dengan tuduhan-tuduhan palsu… sebab ternyata tidak sedikit sahabat Nabi saw. yang bahkan ikut serta dalam peperangan Badar bersama Nabi saw. mereka kecam dan mereka vonis munafik! Sementara Abu Sufyân, Mu’awiyah yang justeru memerangi Nabi saw. mereka banggakan sebagai panutan kaum beriman! Itulah logika kaum Salafi Wahhâbi, khususnya kaum Ekstrim di kalangan mereka… dan alangkah banyaknya mereka!!

.

Mari Kita Mengenal Lebih Dekat Abu Ayyûb al Anshari ra.

Dalam kesempatan ini saya ajak Anda mengenal lebih dekat sahabat Nabi mulai ini. Nama lengkap beliau adalah: Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa’labah al Khazraji. Gelar panggilannya adalah Abu Ayyûb. Beliau adalah keturunan orang-orang agung. Salah satu kakek tertuanya yang bernama Tubba’ bin Hassân al Himyari pernah berpesan kepada para pendeta Yahudi kota Madinah agar menyampaikan salam rindu kepada sang Nabi yang kelak akan Allah utus di kota Mekkah, dan kota Yatsrib (nama lama kota Madinah) adalah tempat hijrahnya. Kakek tertua Abu Ayyub juga adalah orang pertama yang memberi kiswah/tabir Ka’bah.

Ketika Nabi saw. berhijrah ke kota Madinah, beliau berhenti di Quba’ beberapa hari menanti kedatangan Sayyidina Ali bersama rombongan keluarga beliau, di antaranya adalah Fatimah putri Nabi saw. dan Fatimah ibunda Ali. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanannya masuk kota Madinah. Semua penduduk desa yang kampungnya dilewati Nabi saw. mengharap beliau sudi turun dan tinggal di rumahnya… namun Nabi saw. melanjutkan perjalanannya setelah menyampaikan ucapan terima kasih atas kehangatan sambutan mereka… Nabi saw. mengatakan kepada mereka, biarkan unta ini berjalan sendiri, ia ada yang menggiring… nanti Allah yang menentukan di mana ia berhenti… dan jika ia berhenti di depan rumah seorang dari kalian maka aku akan tingggal di rumah itu untuk sementara waktu.

Allah berkehendak menganugerahkan kemulian itu kepada Abu Ayyûb ra. Unta tunggangan Nabi itu berhenti tepat di depan rumah Abu Ayyub. Nabi saw. pun turun dan menjadikan rumah Abu Ayyub rumah piliha Allah untuk beliau.

Untuk beberapa waktu Nabi saw. bersama keluarga beliau tinggal di rumah Abu Ayyub yang sangat sederhana itu… sambil menunggu Nabi saw. membangun masjid dan rumah untuk beliau, rumah Abu Ayyub adalah tempat tinggal beliau. Di sana beliau menerima tamu yang hendak berkehormatan berjabatan tangan dan berkenalan dengan Nabi saw.

Abu Ayyub sangat menghormati Nabi saw. dan memperhatikan kenyamanan beliau bersama keluarga di rumahnya… rumah yang terdiri dari dua lantai sederhana itu menjadi piliiha Allah untuk Nabi-Nya… Tentu Abu Ayyub memliki bagian bawah rumah, sedangkan Nabi saw. beliau tempatkan di bagian atas. Namun kemudian, demi kenyamanan Nabi saw. agar tidak dibuat repot dengan naik turun setiap kali tamu datang menemui beliau, Abu Ayyub menawarkan ruang tinggkat bawah untuk tempat tinggal Nabi saw. Maka dengan berat hati Abu Ayyub menempati ruang atas, walau jiwanya seakan tak menerima harus berada di ruang atas semantara Nabi di ruang bawah.

Pada suatu malam, air kendi Ammu Ayyub; istri Abu Ayyub tumpah dan air pun mulai merembes ke lantai bawah, maka Ummu Ayyub segera mengambil kain selimut yang biasa mereka pakai untuk mengepel agar air tidak menetes ke lantai bawah khawatir mengganggu kenyamanan tidur Nabi saw. demikian diriwayatkan oleh Imam al Hakim dalam kitab al Mustadrak-nya dari sahabat Abu Umamah al Bahili dari Abu Ayyub.

Rumah abu Ayyub terpilih sebagai tempat tinggal sementara Nabi Muhammad saw walaupun dia adalah penduduk kota Madinah yang paling miskin. Allah SWT memilihkan untuk Nabi-Nya rumah Muslim yang paling miskin untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia agar bersikap zuhud, dan tidak memandang materi sebagai segalanya dan agar tertutup angan-angan bagi kaum kaya bahwa melimpahnya harta kekayaan dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah dan rasul-Nya. Selain ia sebagai pelajaran agar kita menghormati dan merendah hati kepada kaum miskin dan agar tidak menghormati kaum kaya karena kekayaan mereka.

.

Nabi Muhammad saw. mendoakan Abu Ayyub ra.

Pada suatu malam, sepulang dari penaklukan benteng Khaibar (yang kali ini juga berkat jasa kepahlawanan Sayyidina Ali bin Abi Thalib as). Nabi saw. singgah di sebuah daerah padang pasir bersama para sahabat. Mereka mendirikan kemah-kemah untuk bermalam. Nabi saw. bermalam di sebuah tenda khusus bersama Shafiyyah binta Huyay bin Akhthab; seorang wanita Yahudi tawanan yang kemudian dinikahi oleh beliau. Dan semua pernikahan beliau didasarkan pada kemaslahatan umum, seperti mempererat jalinan persaudaraan melalui pernikahan… meredam kemurkaan sebagian kabilah dengan beliau menjadi salah satu dari menantu mereka dll.

Al hasil, pada malam itu, ketika Nabi saw. terbangun, beliau menyaksikan Abu Ayyub berdiri tepat di dekat tenda beliau sambil menghunuskan pedang tajamnya. Ketika Nabi saw. bertanya, gerangan apa yang menyebabkannya melakukan tindakan berjaga-jaga itu… tidak seperti para sahabat lainnya yang tidur di tenda-tenda mereka masing-masing, maka Abu Ayyub menjawab, “Aku khawatir akan keselamatan Anda wahai Rasulullah. Sebab Anda sendirian di tenda ini bersama seorang wanita, yang suaminya baru saja mati di tangan Ali dan ayahnya juga mati di tangan kaum Muslimin serta kaumnya telah engkau kalahkan. Dan dia baru saja meninggalkan kekafiran. Aku khawatir ia berbuat jahat terhadap Anda. Mendengar jawaban itu, Rasulullah saw. mengangkat kedua tangan beliau seraya berdoa: “Ya Allah! Jagalah Abu Ayyub sebagaimana ia semalam suntuk menjagaku.” Demikian dilaporkan oleh Ibnu Hisyam dalam kitab as Sirah An Nabaiwiyyah-nya,4/311.

.

Sekilas Tentang Perjuangan Abu Ayyub Al Anshari ra.

Abu Ayyub al Anshari ra ikut serta berjuang bersama Nabi saw. dalam peperangan pertama antara umat Islam dan kaum kafir musyrik di pertempuran Badar, Abu Ayyub ikut berjuang bersama kaum Muslimin lainnya. Selain peperangan Badar, Abu ayyub juga selalu hadir dan ikut serta berjuang membela Nabi saw. dalam seluruh peperangan beliau. Di Uhud, Khandak/Ahzâb dan selainnya.

.

Kesetiaan Abu Ayyub al Anshari ra.

Kesetian Abu Ayyub al Anshari ra. kepada Nabi Muhammad saw. telah beliau buktikan dengan pembelaannya dan perjuangannya yang tanpa mengenal lelah bersama Rasulullah saw. dan sepeninggal Nabi Muhammad saw., Abu Ayyub tetap dalam kesetiannya kepada Rasulullah saw. dengan membela Ali bin Abi Thalib… beliau membela Ali dalam menumpas para pemberontak, utamanya kaum pembangkang yang dipimpim oleh Mu’awiyah dan didukung oleh sisa-sisa kaum Ahzâb dan kaum munafikin. Beliau tegak berdiri membela Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam peperangan Shiffîn melawan pemberontakan durhaka yang dipimpin oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Selain itu, Abu Ayyub juga setia dalam membela Ali bin Abi Thalib dengan menyebarkan hadis-hadis sabda Nabi saw. tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait beliau.

.

Penutup

Abu Salafy berkata:

Setelah Anda ketahui sekilas tentang kemuliaan dan keagungan Abu Ayyub al Anshari ra. dan bagaimana beliau sebagai sahabat yang penuh semangat membela kebenaran… maka saya ajak Anda mengingat kembali bagaimana Abu Ayyub menilai Mu’awiyah putra Hindun si pengunyah jantung Sayyidiana Hamzah ra… apakah Anda tetap akan membela Mu’awiyah si pelindung kaum Munafik?! Atau Anda akan bergabung bersama kelompok Abu Ayyub yang sudah jelas ketulusan dan kesetiaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya?! Sebagai seorang Mukmin pasti akan bersama kaum Mukminin yang setia dengan janjinya kepada Allah SWT… adapun kaum munafik maka sebagian mereka adalah pembela sebagian yang lain. Demikian ditegaskan Allah dalam Al Qur’an-Nya:

.

الْمُنافِقُونَ وَ الْمُنافِقاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَ يَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنافِقينَ هُمُ الْفاسِقُونَ * وَعَدَ اللَّهُ الْمُنافِقينَ وَ الْمُنافِقاتِ وَ الْكُفَّارَ نارَ جَهَنَّمَ خالِدينَ فيها هِيَ حَسْبُهُمْ وَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَ لَهُمْ عَذابٌ مُقيمٌ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang- orang yang fasik.* Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS. At Taubah [9];67-68)

.

Ibnu Katsir berkata:

Allah –Ta’âla- berfirman mengecam kaum munafik yaitu mereka yang menyalahi sifat-sifat kaum Mukminin. Dan kerena kaum Mukimin memerintah dengan kemakrufan dan mencegah kemungkaran, maka kaum munafikin: mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (dari berinfak di jalan Allah.) Mereka telah lupa kepada Allah, (lupa kepada mengingat Allah) maka Allah melupakan mereka. (maka Allah menyikapi mereka seperti sikap orang yang melupakan mereka)…

Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang- orang yang fasik. (yaitu orang-orang yang keluar dari jalan kebenaran, masuk ke dalam jalan kesesatan) …

“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam (atas perbuatan mereka itu yang telah Allah sebutkan). Mereka kekal di dalamnya. (akan kelak bersama kaum kafir). Cukuplah neraka itu bagi mereka; (sebagai siksa) dan Allah melaknati mereka; (mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya) dan bagi mereka azab yang kekal.”

Demikianlah Ibnu katsir menerangkan ayat di atas. Keterangan beliau dapat Anda rujuk dalam Tafsir Ibnu Katsir,2/863. Terb. Dâr al Fikir.

.

Semua sifat dan ciri kaum Munafik dapat Anda temukan dengan sempurna pada diri Mu’awiyah bin Abu Sufyan:

• Memerintah kepada kemungkaran!

Adakah kemungkaran setelah syirik kepada Allah melebihi memerangi Khalifah yang sah?!

Adakah kemungkaran setelah mencaci maki Allah dan Rasul-Nya melebihi perintah Mu’awiyah untuk mencaci maki dan melaknati Sayyidina Ali bin Abi Thalib as.?!

Adakah kemungkaran dan kerusakan di muka bumi melebihi membunuh para kekasih Allah dan pembela agama-Nya?!

• Mencegah yang makruf

Semua makruf yang diajarkan agama telah dijungkir balikkan oleh Mu’awiyah. Cukuplah sejarah sebagai sakis kejahatan Mu’awiyah.

Allah telah mengancam kaum munafikin dengan: (1) Api neraka, (2) kutukan dan (3) siksa abadi.
Dan setelah ancaman Allah di atas saya meminta dengan sangat agar kaum Salafi Wahhabi; para pecinta dan pembela Mu’awiyah berdoa memohon kepada Allah dengan hati tulus agar dibangkitkan di akhirat kelak bersama Mu’awiyah, pelindung kaum munafikin, barangkali ia dapat memberi perlindungan… karena saya yakin untuk kali ini saja Allah akan memperkenankan doa mereka. Dan kami di sini akan membantu dengan meneriakkan kata; Amîn, ya Allah kabulkan doa musuh-musuh Nabi-Mu agar dibangkitkan bersama musuh-Mu!

(Bersambung insya Allah)

 

sumber : http://abusalafy.wordpress.com/

NO COMMENTS