Mazhab Salaf Shaleh Tentang Islamnya Mu’awiyah! (Bagian:1)

0
504 views

perang1112

Persembahan Untuk Ustadz Firanda Dan Para Pemuja Kaum Munafikin!

Akhir-akhir ini kaum Salafi Wahhâbi gencar mempromosikan Mu’awiyah  putra pasangan Abu Sufyan dan Hindun –si penyunyah jantung Hamzah paman Nabi saw.- sebagai salah satu sahabat agung Nabi Muhammad saw. Bahkan mereka tak henti-hentinya menyanjung Mu’awiyah sebagai Khalifah yang adil, penulis wahyu suci Nabi saw. dan khâl/paman kaum Mukminin!

Dalam mempromosikan Mu’awiyah, kaum Salafi Wahhâbi tak segan-segan menebar-hadis-hadis palsu dan/atau atsar murahan yang mereka pungut dari sana sini atas nama Salaf dan tokoh umat Islam …. semua bukti kejahatan, kebejatan, kefasikan dan kemunafikan Mu’awiyah yang nyata mereka abaikan! Keterangan para Salaf Shaleh; para sahabat mulia Nabi saw. mereka campakkan… mazhab Salaf yang baisanya mereka jadikan senjata utama kini mereka buang ke tong sampah! Itulah kenyataan yang terjadi.

Karenanya dalam kesempatan ini saya hanya akan mengajak Anda menyimak sikap dan pernyataan para sahabat besar tentang kemunafikan Mu’awiyah…

Kajian kita kali ini adalah tentang islam atau tidaknya Mu’awiyah! Yang saya maksudkan dengan islam di sini bukan pengertiannya secara umum yang dilambangkan dengan menbgucapkan dua kalimat syahadah malaupun ia tidak disertai dengan pembenaran dan mengimani keesaan Allah dan/atau kerasulan Nabi Muhammad saw. alias bermunafik! Yang dengannya pula si pengucap mendapatkan berbagai keistimewaan perlakuan Islam atasnya, seperti darahnya akan dihormati untuk tidak dibunuh, boleh dimakamkan di pemakaman Islam, boleh mewarisi keluarganya yang Muslim dll. Akan tetapi islam yang kami maksud adalah islam yang disempurnakan dengan mengimani kenabian Nabi Muhammad saw…. dan keimanan kepada kanabian dan karasulan Nabi Muhammad saw. adalah kunci islam. Karena barang siapa beriman kepada Nabi Muhammad saw. pasti ia beriman kepada Allah dan hari akhir, para malaikat serta larangan dan kewajiban dll. Sementara beriman kepada Allah saja atau kepada hari akhir saja belum meniscayakan beriman kepada Nabi saw. seperti misalnya yang terjadi para Ahli Kitab (Yahudi dan Nashara). Keimnan mereka itu tidak berguna sedikit pun.

Tetapi sebelumnya saya ajak Anda memperhatikan dan merenungkan sebuah rangkaian ayat dalam Al Qur’an yang berbicara tentang mentalitas kaum kafir Quraisy. Ayat tersebut adalah ayat 6-7 surah al Baqarah:

إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوْبِهمْ وَ عَلَى سَمْعِهِمْ وَ عَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَ لَهُمْ عَذَابٌ عظِيْمٌ *

Sesungguhnya orang-orang kafir tidak berbeda bagi mereka, baik engkau memberikan peringatan kepada mereka atau tidak; mereka tidak akan beriman. *Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka (dihalangi oleh) sebuah penutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Kita berhak berhenti sejenak untuk mencari tau siapakah mereka yang Allah vonis dengan ayat di atas, bahwa mereka tidak akan pernah mau beriman! Perhatikan, bukan menyerah dengan menyatakan secara lisan dua kalimat syahadah sebagai formalitas menerima Islam sebagai agamanya walaupun tidak disertia dengan keimnanan!

Ayat di atas harus selalu kita kedepankan dalam menilai kaum kafir itu (yang walaupun di kemudian hari mereka menampakkan keislamannya) atas ucapan si alim A atau B atau harus kita jadikan hakim dalam menyikapi riwayat yang konon diriwayat atas nama Nabi saw. atau sahabat! Atau pujian Si Salaf A atau B atas Mu’awiyah! Sebab ayat di atas menjelaskan masalah yang sangat serius seputar keimanan mereka kepada al ghaib dan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang ghaib!

Selain ayat di atas masih banyak ayat lain yang menyebutkan “pridiksi Allah” (tentu jika istilah itu boleh dipinjam di sini) bahwa kaum gembong kaum kafir Quraisy yang sangat getol memerangi Nabi saw. itu tidak akan pernah mau beriman seperti ayat-ayat di bawah ini:

  • Surah Yâsîn ayat 1-11:

يس

Yaa Siin.

وَ الْقُرْآنِ الْحَكيمِ

Demi Al Qur’an yang penuh hikmah,

إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلينَ

Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul- rasul,

عَلى‏ صِراطٍ مُسْتَقيمٍ

( yang berada) di atas jalan yang lurus,

تَنْزيلَ الْعَزيزِ الرَّحيمِ

( sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

لِتُنْذِرَ قَوْماً ما أُنْذِرَ آباؤُهُمْ فَهُمْ غافِلُونَ

agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak- bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.(6 (

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلى‏ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan ( ketentuan Allah ) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.

إِنَّا جَعَلْنا في‏ أَعْناقِهِمْ أَغْلالاً فَهِيَ إِلَى الْأَذْقانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka ( diangkat ) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.

وَ جَعَلْنا مِنْ بَيْنِ أَيْديهِمْ سَدًّا وَ مِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْناهُمْ فَهُمْ لا يُبْصِرُونَ

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding(pula), dan Kami tutup ( mata ) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

وَ سَواءٌ عَلَيْهِمْ أَ أَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

إِنَّما تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَ خَشِيَ الرَّحْمنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَ أَجْرٍ كَريمٍ

Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

Abu Salafy:

Ayat-ayat di atas tidak butruh banyak usaha membongkarnya untuk memahami maknanya lebih dari butuh kepada mmengimani bahwa Allah adalah Dzat Yang maha Mengetahui segala yang ghaib. Ayat-ayat di atas sangat jelas sekali menegaskan bahwa kebanyakan kaum kafir Quraisy itu tidak akan beriman kepada Nabi saw. dan ayat-ayat senada telah banyak tersebar dalam Al Qur’an seperti juga telah Anda baca dalam surah Al Baqarah yang telah lalu. Dan keimanan kepada kesucian firman Allah SWT dalam kitab suci-Nya yang mendorong kita untuk selalu meragukan keimanan mereka yang baru mengikrarkan keislamannya di saat benteng kemusyrikan teratkhir mereka telah diruntuhkan dan mereka pun bertekuk lutut di dahapan kekuatan Islam, seperti kaum thulaqâ’ (penduduk kota Mekkah yang ditawan di saat fathu Mekkah lalu dibebaskan oleh Nabi saw., di antara mereka adalah Abu Sufyan, Hindun dan Mu’awiyah serta keluarga besar bani Umayyah) dan juga kaum A’râb (Arab Baduwi) yang jumlah mereka mencapai puluhan ribu!

Catatan Penting!

Satu hal yang tidak boleh dilupakan dan diabaikan bahwa ketika ayat di atas turun Abu Sufyan dan Mu’awiyah masih sedang aktikf-aktifnya memerangi Islam dan dakwah Nabi saw…. Jadi pastilah mereka masuk dalam apa yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut…. Sementara yang lainnya dari rakyat jelata masuk dalam yang dimaksud di dalamnya pada urutan berikutnya… Dan untuk mengatakan tidak, butuh kepada bukti yang mampu mengalahkan ketegasan dan kesecuain  firman Allah di atas!

Dan jika ada yang berusaha membebaskan para pimpinan itu dari vonis Allah SWT di atas pastilah para pengikut mereka juga akan terbebas darinya dan itu artinya bahwa ayat suci di atas keliru atau dengan kata lain sia-sia dan hanya sekedar senda gurau belaka. Wal iyâdzul billah dari keyakinan seperti itu!

Antara Logika Al Qur’an dan Logika Salafi Wahhâbi

Dalam ayat-ayat di atas kecaman Allah dialamatkan kepada para pemimpin sebelum kepada para jelata yang mengikuti mereka. Jadi sebelum menjatuhkan vonis tegas di atas kepada para pengikut, Allah mengesakannya bahwa yang paling layak menerima vonis di atas adalah para pemimpin kekafiran! Sebab bisa jadi para pengikut itu hanya sekedar ikut-ikutan tanpa kesadaran penuh ketika memerangi Nabi saw. Atau boleh jadi mereka berada di bawah tekanan dominasi para pemimpin mereka, atau yang disebutkan dalam Al Qur’an dengan sebutan aimatul kufri/pemimpin kekafrian! Demikianlah logika Al Qur’an. Adapun logika para Salafi Wahhâbi, mereka siap menerima kesimpulan bahwa silahkan Allah menjatuhkan vonis keras-Nya atas kaum lemah dan para jelata itu selama kaum ningrat dan para pemimpin kekafiran Quraisy; Abu Sufyan, Mu’awiyah dan yang semisalnya tidak termasuk yang dikenai vonis itu… mereka akan membela dengan segala upaya untuk menyelamatkan tuan-tuan mereka dari vonis Allah SWT di atas! Karenanya, mereka tidak akan keberatan jika kaum lemah itu dikorbankan selama tuan-tuan mereka selamat!

Allah SWT Mengecam Bani Umayyah Dalam Al Qur’an Suci-Nya

Seperti telah saya katakan, sangat banyak ayat Al Qur’an yang menegaskan kenyataan seperti di atas. Karenanya saya hanya akan memilih beberapa dari saja agar tidak menjadi panjang lembaran kajian ini.

  • Surah Ibrahim ayat 28-30

أَ لَمْ تَرَ إِلَى الَّذينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْراً وَ أَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دارَ الْبَوارِ

Tidakkah kamu perhatikan orang- orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,

جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَها وَ بِئْسَ الْقَرارُ

yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.

وَ جَعَلُوا لِلَّهِ أَنْداداً لِيُضِلُّوا عَنْ سَبيلِهِ قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصيرَكُمْ إِلَى النَّارِ

Orang- orang kafir itu telah menjadikan sekutu- sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ”Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.”

Abu Salafy:

Dalam keterangannya, para ahli tafsir telah membongkar data-data yang sangat bermanfaat untuk kejian kita, di mana para ulama kita dengan tegas mengabadikan ketarangan tafsir ayat-ayat di atas yang menyebut secara spesifik siapa yang dimaksud dengan para pemimpin yang telah merubah nikmat Allah dan menjerumuskan kaumnya ke dalam kehancuran dunia aklhirat itu? Mereak itu tiada lain adalah Bani Umayyah dan bani Makhzûm. Dan mereka itulah para pemimpin kekafiran yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an-Nya.

Dalam kesempatan ini saya hanya mengajak Anda menyimak keterangan para ulama kita tentang ayat-ayat di atas. Setelahnya kepyutusan apapun saya serahkan kepada Anda dan kepekaan analisis Anda.

  • Ketarangan Imam Ibnu Jarir ath Thabari

Dalam kesempatan ini saya ajak Anda menyimak langsung ketarangan imam ahli tafsir tertua yang keetarang-ketarangannya selalu dijadikan acuan banyak ulama … sebagaimana juga sering dirujuk Ustadz Firanda dalam mendukung pemahaman yang ia usung!

Ibnu Jarir berkata tentang ayat-ayat di atas:

القول في تأويل قوله تعالى : { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ (28) جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ (29) } يقول تعالى ذكره: ألم تنظر يا محمد( إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) يقول: غيروا ما أنعم الله به عليهم من نعمه ، فجعلوها كُفرا به، وكان تبديلهم نعمة الله كفرا في نبيّ الله محمد صلى الله عليه وسلم ، أنعم الله به على قريش ، فأخرجه منهم ، وابتعثه فيهم رسولا رحمة لهم ، ونعمة منه عليهم ، فكفروا به ، وكذّبوه ، فبدّلوا نعمة الله عليهم به كفرا. وقوله:( وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) يقول: وأنزلوا قومهم من مُشركي قريش دار البوار ، وهي دار الهلاك ، يقال منه: بار الشيء يبور بورا: إذا هلك وبطل .. وقيل: إن الذين بدّلوا نعمة الله كفرا: بنو أمية ، وبنو مخزوم.

“Pendapat tentang firman Allah –Ta’ala-: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” Allah –Ta’ala- berfirman, “Tidakkah engkau –hai Muhammad melihat/meperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran maksudnya: merubah-rubah nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada mereka lalu mereka mengkufurinya. Dan penukaran nikmat Allah yang mereka lakukan adalah dengan mengufuri Nabi Muhammad saw.. Allah menganugerahkan nikmat itu kepada suku Quraisy dan mengeluarkan beliau dari mereka dan mengutusnya sebagai rasul di antara mereka karena belas kasih Allah dan nikmta-Nya atas mereka, tetapi mereka mengingkarinya, membohongkannya dan menukar nikmat Allah itu dengan kekafiran. Dan firman Allah: “dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, yaitu neraka Jahanam” Allah berfirman, “Mereka mencelakakan kaum mereka dari kalangan Musyrik Quraisy ke dalam lembah kebinasaan…. ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan: perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran adalah Bani Umayyah dan Bani Makhzûm.”

Setelahnya beliau melanjutkan:

Keterangan tentang para ahli tahfir yang mengatakan pendapat ini. Beliau berkata:

ذكر من قال ذلك:

حدثنا ابن بشار وأحمد بن إسحاق ، قالا ثنا أبو أحمد ، قال : ثنا سفيان ، عن عليّ بن زيد ، عن يوسف بن سعد ، عن عمر بن الخطاب ، في قوله:( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ جَهَنَّمَ ) قال: هما الأفجران من قريش: بنو المغيرة ، وبنو أمية ، فأما بنو المغيرة فكفيتموهم يوم بدر ؛ وأما بنو أمية فمتِّعوا إلى حين.

 حدثني المثنى ، قال : ثنا أبو نعيم الفضل بن دكين ، قال : أخبرنا حمزة الزيات ، عن عمرو بن مرّة ، قال : قال ابن عباس لعمر رضي الله عنهما: يا أمير المؤمنين ، هذه الآية ( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) ؟ قال: هم الأفجران من قريش أخوالي وأعمامك ، فأما أخوالي فاستأصلهم الله يوم بدر ، وأما أعمامك فأملى اللَّه لهم إلى حين.

 حدثنا محمد بن بشار ، قال : ثنا عبد الرحمن ، قال : ثنا سفيان ، عن أبي إسحاق عن عمرو ذي مرّ ، عن عليّ ( وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: الأفجران من قريش.

حدثنا ابن بشار ، قال : ثنا عبد الرحمن ، قال : ثنا شعبة ، عن أبي إسحاق ، عن عمرو ذي مرّ ، عن عليّ ، مثله/ حدثنا أحمد بن إسحاق ، قال : ثنا أبو أحمد ، قال : ثنا سفيان وشريك ، عن أبي إسحاق ، عن عمرو ذي مرّ ، عن عليّ ، قوله ( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: بنو المغيرة وبنو أمية ، فأما بنو المغيرة ، فقطع الله دابرهم يوم بدر ، وأما بنو أمية فمُتِّعوا إلى حين.

 حدثنا محمد بن المثنى ، قال : ثنا محمد بن جعفر ، قال : ثنا شعبة ، عن أبي إسحاق ، قال : سمعت عمرا ذا مرّ ، قال : سمعت عليا يقول في هذه الآية( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: الأفجران من بني أسد وبني مخزوم.

 حدثنا ابن المثنى ، قال : ثنا عبد الرحمن ، قال : ثنا شعبة ، عن القاسم بن أبي بزّة ، عن أبي الطفيل ، عن عليّ ، قال : هم كفار قريش. يعني في قوله ( وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ جَهَنَّمَ )، حدثنا ابن المثنى ، قال : ثنا محمد بن جعفر ، قال : ثنا شعبة ، عن القاسم بن أبي بزّة ، عن أبي الطفيل أنه سمع عليّ بن أبي طالب ، وسأله ابن الكوّاء عن هذه الآية( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: هم كفار قريش يوم بدر.

 حدثنا ابن وكيع ، قال : ثنا أبو النضر هاشم بن القاسم ، عن شعبة ،  عن القاسم بن أبي بزّة ، قال : سمعت أبا الطفيل ، قال : سمعت عليا ، فذكر نحوه.

 حدثنا أبو السائب ، قال : ثنا أبو معاوية ، عن إسماعيل بن سميع ، عن مسلم البطين ، عن أبي أرطأة ، عن عليّ في قوله( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: هم كفَّار قريش .

 هكذا قال أبو السائب مسلم البطين ، عن أبي أرطأة.حدثنا الحسن بن محمد الزعفراني ، قال : ثنا أبو معاوية الضرير ، قال : ثنا إسماعيل بن سميع ، عن مسلم بن أرطأة ، عن عليّ ، في قوله تعالى( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: كفار قريش.

 حدثنا الحسن بن محمد ، قال : ثنا يعقوب بن إسحاق ، قال : ثنا شعبة ، عن القاسم بن أبي بزّة ، عن أبي الطفيل ، عن عليّ ، قال في قول الله( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: هم كفار قريش.

 حدثنا الحسن بن محمد ، قال : ثنا شبابة ، قال : ثنا شعبة ، عن القاسم بن أبي بزّة ، قال : سمعت أبا الطفيل يحدّث ، قال : سمعت عليا يقول في هذه الآية( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: كفار قريش يوم بدر.

 حدثنا الحسن ، قال : ثنا الفضل بن دكين ، قال : ثنا بسام الصَّيرفيّ ، قال : ثنا أبو الطفيل عامر بن واثلة ، ذكر أن عليا قام على المنبر فقال: سلوني قبل أن لا تسألوني ، ولن تسألوا بعدي مثلي ، فقام ابن الكوّاء فقال ، من( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ )؟ قال: منافقو قريش .

 حدثنا الحسن ، قال : ثنا محمد بن عبيد ، قال : ثنا بسام ، عن رجل قد سماه الطنافسيّ ، قال : جاء رجل إلى عليّ ، فقال: يا أمير المؤمنين: من ( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) ؟ قال: في قريش.

 حدثنا أحمد بن إسحاق ، قال : ثنا أبو أحمد ، قال : ثنا بسام الصيرفيّ ، عن أبي الطفيل ، عن عليّ أنه سئل عن هذه الآية( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: منافقو قريش.

حدثنا الحسن بن محمد ، قال : ثنا عفان ، قال : ثنا حماد ، قال : ثنا عمرو بن دينار ، أن ابن عباس قال في قوله ( وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: هم المشركون من أهل بدر.

حدثنا الحسن بن محمد ، قال : ثنا عبد الجبار ، قال : ثنا سفيان ، عن عمرو ، قال : سمعت عطاء يقول: سمعت ابن عباس يقول: هم والله أهل مكة ( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ).

 حدثنا القاسم ، قال : ثنا الحسين ، قال : ثنا صالح بن عمر ، عن مطرف بن طريف ، عن أبى إسحاق قال: سمعت عمرا ذا مرّ يقول: سمعت عليا يقول على المنبر ، وتلا هذه الآية ( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ )  قال: هما الأفجران من قريش ، فأما أحدهما فقطع الله دابرهم يوم بدر ، وأما الآخر فمُتِّعوا إلى حين.

 حدثني محمد بن عمرو ، قال : ثنا أبو عاصم ، قال : ثنا عيسى = وحدثني الحارث ، قال : ثنا الحسن ، قال: حدثنا ورقاء ، وحدثنا الحسن ، قال : ثنا شبابة ، قال : ثنا ورقاء جميعا ، عن ابن أبي نجيح ، عن مجاهد قوله( بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: كفار قريش.

 حدثنا أحمد بن إسحاق ، قال : ثنا أبو أحمد ، قال : ثنا عبد الوهاب ، عن مجاهد ، قال : كفار قريش/ حدثنا المثنى ، قال : ثنا أبو حذيفة ، قال : ثنا شبل ، عن ابن أبي نجيح ، عن مجاهد( بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) كفار قريش.

 حدثنا القاسم ، قال : ثنا الحسين ، قال : حدثني حجاج ، عن ابن جريج ، عن مجاهد ، مثله

حدثنا الحسن بن يحيى ، قال : أخبرنا عبد الرزاق ، قال : أخبرنا ابن عيينة ، عن عمرو بن دينار ، عن عطاء ، قال : سمعت ابن عباس يقول: هم والله ( الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قريش. أو قال: أهل مكة.

 ….

  حدثني المثنى ، قال : ثنا عمرو بن عون ، قال : أخبرنا هشيم ، عن إسماعيل بن أبي خالد ، عن أبي إسحاق ، عن بعض أصحاب عليّ ، عن عليّ ، في قوله( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا ) قال: هم الأفجران من قريش من بني مخزوم وبني أمية ، أما بنو مخزوم فإن الله قطع دابرهم يوم بدر ، وأما بنو أمية فمُتِّعوا إلى حين.

….

حُدثت عن الحسين ، قال : سمعت أبا معاذ يقول: أخبرنا عبيد بن سليمان ، قال : سمعت الضحاك ، يقول في قوله ( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ  اللَّهِ كُفْرًا ) … الآية ، قال : هم مشركو أهل مكة.

Abu Salafy:

Demi meringkas saya hanya akan menerjemahkan inti teks riwayat dalam keterangan Ibnu Jarir di atas.

  • Umar bin al Khaththab ra. tentang ayat di atas:

قال: هما الأفجران من قريش: بنو المغيرة ، وبنو أمية ، فأما بنو المغيرة فكفيتموهم يوم بدر ؛ وأما بنو أمية فمتِّعوا إلى حين.

“Mereka adalah dua keluarga jahat/fajir dari suku Quraisy yaitu bani Mughirah dan bani Umayyah. Adapun bani Mughirah mereka telah dihabisi dalam parang Badar.Sedangkan bani Umayyah mereka diberi tangguh sampai saat yang ditentukan.”

  • Ibnu Abbas dari Umar ra. dengan keterangan serupa.
  • Ali ra. berkata:

عن عليّ ( وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: الأفجران من قريش.

Tentang ayat “dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, yaitu neraka Jahanam” mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy.

عن عليّ ، قوله ( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ) قال: بنو المغيرة وبنو أمية ، فأما بنو المغيرة ، فقطع الله دابرهم يوم بدر ، وأما بنو أمية فمُتِّعوا إلى حين.

Dari Ali tentang firman Allah: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, ia berkata, “Mereka adalah bani Mughirah dan Bani Umayyah. Adapun bani Mughirah maka Allah telah memutus kejahatan mereka. Sedangkan bani Umayyah  mereka diberi tangguh hingga waktu tertentu.

  • Juga dari Ali ra.

سلوني قبل أن لا تسألوني ، ولن تسألوا بعدي مثلي ، فقام ابن الكوّاء فقال: من(الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ) ؟ قال: منافقو قريش

“Tanyalah kepadaku sebelum nanti kalian (tidak bisa) bertanya kepadaku. Dan kalian tidak akan pernah akan bertanya kepada seorang pun sepertiku sepeninggalku nanti. Maka Ibnu Kawwâ’ berdiri dan berkata, ‘Siapakah yang dimaksud dengan, “orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,” Ali berkata, “Mereka adalah kaum munafik dari kalangan suku Quraisy!”

Abu salafy:

Jelas sudah dari ketarangan para sahabat tentang siapa yang dimaksaud dengan mereka yang merubah nikmat Allah dengan kekafiran dan menjerumuskan kaumnya ke dalam kebinasaan dunia dan akhirat… mereka adalah bani Makhzum, Bani Mughirah dan utamanya adalah bani Umayyah, keluarganya Mu’awiyah![1]

  • Keterangan Ibnu Katsir

Dalam tafsirnya yang terkenal Ibnu Katsir[2] merangkum keterangan para sahabat dan generasi Salaf tentang ayat di atas. Di antaranya ia berkata:

قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبي، حدثنا ابن نفيل قال: قرأت على مَعْقِل، عن ابن أبي حسين قال: قام علي بن أبي طالب، رضي الله عنه، فقال: ألا أحد يسألني عن القرآن، فوالله لو أعلم اليوم أحدا أعلم مني به  وإن كان من وراء البحار لأتيته. فقام عبد الله بن الكواء فقال: من الذين بدلوا نعمة الله كفرًا وأحلوا قومهم دار البوار؟ فقال: مشركو قريش، أتتهم نعمة  الله: الإيمان، فبدلوا نعمة الله كفرا وأحلوا قومهم دار البوار

… dari Ibnu Abi Husain ia berkata, “Ali bin Abi Thalib ra. berdiri lalu berkata. ‘Tidakkah ada seorang yang mau bertanya kepadaku tentang Al Qur’an. Demi Allah, andai aku sekarang ini tau ada seseorang yang lebih mengerti tentang Al Qur’an dariku, walaupu ia berada di balik lautan sana pastilah aku datangi ia.’ Maka bangkitlah Ibnu Kawâ’ lalu berkata, ‘Siapakah yang dimaksud dengan: orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,” ia berkata, “Mereka adalah kaum Musyrik Quraisy. Datang kepada mereka nikmat Allah lalu mereka menukarnya dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,”

Al Adawi berkata tentang ayat di atas:

وقال العدوي في قوله: { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا } الآية، ذكر مسلم المستوفي عن علي أنه قال: هم الأفجران من قريش: بنو أمية، وبنو المغيرة، فأما بنو المغيرة فأحلوا قومهم دار البوار يوم بدر، وأما بنو أمية فأحلوا قومهم دار البوار يوم أحد. وكان أبو جهل يوم بدر، وأبو سفيان يوم أحد. وأما دار البوار فهي جهنم.

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,” Muslim al Mustawfi menyebutkan dari Ali bahwa ia berkata, “Mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy yaitu bani Umayyah dan bani Mughirah. Adapun bani Mughirah mereka telah menjatuhkan kaumnya ke dalam kebinasaan di hari perang Badar. Adapun bani Umayyah mereka menjatuhkan kaumnya ke dalam kehancuran di parang Uhud.Abu Jahal di hari parang Badar sedangkan Abu Sufyan di hari parang Uhud. Adapun maksud Dârul Bawâr adalah neraka Jahannam.

 وقال ابن أبي حاتم، رحمه الله: حدثنا محمد بن يحيى، حدثنا الحارث بن منصور، عن إسرائيل، عن أبي إسحاق، عن عمرو بن مرة قال: سمعت عليا قرأ هذه الآية: { وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ } قال: هم الأفجران من قريش: بنو أمية وبنو المغيرة، فأما بنو المغيرة فأهلكوا يوم بدر، وأما بنو أمية فمتِّعوا إلى حين.

 ورواه أبو إسحاق، عن عمرو بن مرة، عن علي، نحوه.

 وروي من غير وجه عنه.

Ibnu Abi Hâtim meriwayatkan…… dari ‘Amr bin Murrah ia berkata, “Aku mendengar Ali membaca ayat ini: “وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ dan berkata, “Mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy; bani Umayyyah dan bani  Mughirah. Adapun bani Mughirah mereka telah dibinasakan dalan parang Badar. Sedangkan bani Umayyah mereka diberi tangguh hingga waktu tertentu.”

Dan atsar serupa juga diriwayatkan Abu Ishaq dari ‘Amr bin Murrah dari Ali.

Dan selain jalur di atas, banyak jalur lain yang meriwayatkan tafsir Ali.

 وقال سفيان الثوري، عن علي بن زيد، عن يوسف بن سعد، عن عمر بن الخطاب، في قوله: { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا } قال: هم الأفجران من قريش: بنو المغيرة وبنو أمية، فأما بنو المغيرة فكُفيتمُوهُم يوم بدر، وأما بنو أمية فمتعوا إلى حين.

Sufyan ats Tsawri meriwayatkan … dari Umar bin al Khaththab tentang firman Allah:“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran.” Umar berkata, “Mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy; bani Umayyyah dan bani  Mughirah. Adapun bani Mughirah mereka telah dibinasakan dalan parang Badar. Sedangkan bani Umayyah mereka diberi tangguh hingga waktu tertentu.”

وكذا رواه حمزة الزيات، عن عمرو بن مرة قال: قال ابن عباس لعمر بن الخطاب: يا أمير المؤمنين، هذه الآية: { الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ } قال: هم الأفجران من قريش: أخوالي وأعمامك فأما أخوالي فاستأصلهم الله يوم بدر، وأما أعمامك فأملى الله لهم إلى حين.

Demikian juga diriwayatkan oleh Hamzah az Zayyât dari ‘Amr bin Murrah, ia berkata, “Ibnu Abbas berkata kepada Umar, ‘Wahai Amirul Mukminin, ayat ini: “orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,”, siapa yang dimaksud? Umar berkata, ““Mereka adalah dua keluarga jahat dari suku Quraisy; paman-paman dari sisi ibuku dan paman-paman dari sisi ayahmu (bani Umayyahmaksudnya_pen). Adapun paman-paman dari sisi ibuku, Allah telah binasakan mereka. adapun paman-paman dari sisi ayahmu maka Allah memberi tangguh hingga waktu tertentu.”

Abu Salafy:

Demikianlah telah Anda saksikan langsung bagaimana para sahabat besar, seperti Sayyidina Umar ra, Sayyidina Ali ra, Ibnu Abbas ra. dan para tokoh Salaf lainnya memaknai ayat di atas. Dan tentaunya tafsir mereka itu bersumber dari Nabi saw., sebab tidak mungkin dalam masalah seperti ini mereka akan memaknai ayat tanpa dasar nash dari Nabi saw. Dan dalam istilah para ulama, atsar/hadis para sahabat yang berbicara tentang makna ayat apalagi yang terkait asbab nuzulnya walaupun ia bersifat mauqûf tetapi ia dihukumi sebagai marfû’!

Dan tentunya ini adalah juga mewakili pandangan Salaf Shaleh yang biasanya sangat diandalkan kaum Salafi Wahhâbi dalam memahami nash-nash suci; Al Qur’an dan Sunnah, seperti slogan yang selalu mereka propagandakan: Kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salaf Shaleh! Karenanya adalah sangat aneh apabika dalam memaknai ayat ini mereka membuang dan mencampakkan pemahaman Salaf! Dan itu sekaligus sebagai bukti bahwa apa yang mereka propagandakan itu hanya sekedar tipu muslihat belaka… Salaf Shaleh hanya sekedar dekor dan dibuat tambal butuh semata!

Keterangan Ibnu Hayyân

Dalam tafsirnya yang berjudul al bahru al Muhîth,7/159 Abu Hayyân menyebutkan riwayat tafsir Sayyidina Ali ra.:

هم منافقو قريش أنعم عليهم بإظهار علم الإسلام بأن صان دماءهم وأموالهم وذراريهم ، ثم عادوا إلى الكفر

“Mereka adalah kaum munafik dari suku Quraisy. Allah telah memberi nikmta atas mereka dengan ditampakkannya/dimenangkannya panji Islam dengan dipeliharanya darah-darah dan harta-harta serta anak-anak mereka kemudian mereka kembali kepada kekafiran.”

Abu Salafy:

Ini adalah pemaknaan yang tepat sekali!

Hadis-hadis Riwayat Imam al Hakim dan Para Ulama Ahli Hadis Lainnya!

Selain itu, Anda dapat membaca berbagai riwayat yang menegaskan ucapan dan sikap Sayyidina Ali ra. di antaranya sebagai berikut:

أخبرنا أبو الحسن علي بن محمد بن عقبة ، ثنا الحسن بن علي بن عفان ، ثنا محمد بن عبيد الطنافسي ، ثنا بسام بن عبد الرحمن الصيرفي ، ثنا أبو الطفيل ، قال : رأيت أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضي الله عنه قام على المنبر ، فقال : « سلوني قبل أن لا تسألوني ولن تسألوا بعدي مثلي » قال : فقام ابن الكواء فقال : … قال : فمن ( الذين بدلوا نعمة الله كفرا وأحلوا قومهم دار البوار جهنم  ) قال : « منافقو قريش » « هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه »

“Al Hakim meriwayatkan ….. Abu Thufail berkata, ‘Aku mendengar Amirul Mukimin Ali bin Abi Thalib ra. berkata dari atas mimbar, ‘Tanyalah kepadaku sebelum kalian nanti tidak bisa bertanya kepadaku. Dan kalian tidak akan pernah bisa bertanya kepada seorang sepertiku sepeninggalku nanti! Maka Ibnu Kawâ’ berdiri seraya berkata, ‘…. Siapakah yang dimaksud dengan“orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan,” Ali ra. berkata, “Mereka adalah kaum munafik dari suku Quraisy.”[3]

Al Hakim berkata, “Ini adalah hadis shahih sanadnya tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.”

Beliau juga mengulangi kembali ketika menafsirekan surah al Hijr (3/107) dan setelahnya berkata, “Ini adalah hadis shahih tinggi sanadnya. Bassâm bin Abdurrahman al Shairafi termasuk perawi dari kota Kufah tsiqah termasuk yang disepakati keshahihan hadisnya. Tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.”

Dalam kesempatan lain ketika menafsirkan surah Ibrahim, al Hakim juga kembali meriwayatkannya dan juga menegaskan keshahihannya.

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh asy Syâsi dalam Musnadnya,2/148.

*****

Mengapa Para Salafi Wahhâbi Meninggalkan Pendapat Imam Ali, Sahabat Ammar, Abu Dzar, Ubadah bin Shamit ra. dkk.

Selain itu, kita menyaksikan bagaimana para Salafi Wsahhâbi (yang biasanya sangat mendewakan Para Salaf) kini mendadak berbalik arah. Mereka tidak lagi menggubris sikap dan pandangan para sahabat mulia itu ra. tentang Mu’awiyah dan lebih mengedepankan pendapat Ahmad bin Hanbal, Rabî’ al Halabi atau Ibnu Taimiyah misalnya! Ada apa dengan sikap mereka ini! Mengapa mereka mendadak membuang pendapat Para Salaf Shaleh yang biasanya mereka jadikan slogan untuk menjaring kaum awam?!

Akan tetapi bagi Anda yang telah mengenal kecintaan kaum Salafi Wahhâbi kepada mantan-mantan kaum kafir yang belum jelas keimanan mereka pasti tidak akan heran! Mereka telah memasang badan untuk membela kaum munafik di manapu mereka berada? Dan apapun kejahatan dan kezaliman mereka?

Selama mereka adalah bani Umayyah dan koleganya maka kaum Salafi Wahhâbi siap membelanya!

(Bersambung Insya Allah)


[1] Lebih lanjut dipersilahkan merujuk langsung ke dalam tafsir ath Thabari, 16/5 hingga selesai.

[2] 4/509.

[3] Al Mustadrak, 8/416 ketika menafisrkan surah adz Dzâriyât.

NO COMMENTS