Mazhab Salaf Shaleh Tentang Islamnya Mu’awiyah! (Bagian 2)

0
486 views

Persembahan Untuk Ustadz Firanda Dan Para Pemuja Kaum Munafikin!

Sikap dan Pernyataan Sayyidina Ali dan Sayyidina Ammar bin Yasir ra.

ilustrasi-_110421060538-736Dalam kesempatan ini sengaja saya tidak menampilkan hadis-hadis Nabi saw. yang berbicara tentang keburukan akidah dan prilaku serta kesudahan sû’/jelek Mu’awiyah. Saya hanya sedikit akan berpanjang-panjang dalam menyebutkan sikap Sayyidina Ali, Sayyidina Ammar bin Yasir ra. dan Sayyidina Muhammad ibnul Hanafiyah (putra Sayyidina Ali ra dari ibu selain Siti Fatimah as.) serta beberapa kutipan dari generasi Salaf Shaleh lainnya….

Memerinci sejarah kejahatan Mu’awiyah memerlukan buku khusus untuknya…. untuk sementara ini saya belum memiliki waktu yang cukup untuk itu… karenanya sekali lagi saya katakan habwa saya hanya akan mengajak Anda menyimak sikap para sahabat dan generasi Salaf Shaleh tantang Mu’awiyah. Tetapi ada baiknya jika Anda kenali sedikit tentang latar belakang kehidupna Mu’awiyah.

Mu’awiyah lahir tujuh tahun sebelum kenabian. Ada yang mengatakan lima tahun sebelum kenabian. Dan ada pula yang mengatakan tiga belas tahun sebelum kenabian. Demikian juga diperselisihkan tentang usianya, ada yang mengatakan 82 tahun. Ada yang mengatakan 78 tahun dan ada pula yang mengatakan 86 tahun.

Jika kita ambil data pertengahan dari data-data  di atas maka usia Mu’awiyah ketika mati adalah 80 tahun. Usianya di masa kebanian adalah (7 tahun+23 tahun=30 tahun). Kemudian 30 tahun masa kekhalifahan empat Khalifah Rasyidin dan ditambah 20 tahun maka kerajaannya. Maka total usianya adalah delapan puluh tahun.

Mu’awiyah hidup dalam lingkungan keluarga yang sangat memusuhi Nabi Muhammad saw. dan Dakwah kenabian. Baik dari sisi keluarga ayahnya maupun dari sisi keluarga ibunya! Abu Sufyan adalah Pemimpin Ahzâb (apasukan kualisi bentukannya yang menggabungkan berbagai kekuatan suku-suku Arab untuk memerangi Nabi Muhammad saw.)… ibuny adalah Hindun si pengunyah jantung Hamzah –paman Nabi saw.-, di mana setelah kesyahidan Hamzah, Hindun merobek-robek perut Sayyidina Hamzah ra. yang mengeluarkan isi perutnya dan mengunyah jantungnya, serta memutilasi jasad suci paman Nabi Muhammad saw.) Hindun adalah putri ‘Utbah. Bibinya adalah Ummu Jamil istri Abu Lahab yang digelari Allah dengan Hammâlatal hathob/si pembawa kayu bakar/fitnah! Kedua abangnya yang bernama Handhalah dan ‘Amr yang juga mati dalam keadaan syirik dan menentang agama Allah. Atau pamanya dari sisi ibu seperti al Walid yang mati terbunuh dalam perang Badar ketika memerangi Nabi saw. dan kaum Muslimin. Atau kakeknya dari sisi ibu ‘Utbah bin Rabi’ah yang juga mati di parang Badar. Atau saudara kakeknya yang bernama Syaibah bin Rabi’ah yang juga mati di perang Badar…

Dari sini Anda dapat saksikan bahwa kemanapun Anda mengarahkan pandangan Anda terhadap keluarga besar Mu’awiyah Anda pasti akan menemukan para gembong kekafiran dan kemusyrikan yag sangat getol permusuhannya kepada Nabi Muhammad saw. dan lingkungan ini pastilah telah memberikan engaruh buruknya kepada bocah/remaja yang tumbuh besar di dalamnya. Dan tidaklah mudah untuk melepas diri dari belenggu pengaruhnya kecuali jika ia memiliki keimanan yang yang super kuat! Dan hal inilah yang tidak kita temukan dalam sejarah hidup Mu’awiyah setelah ia terpaksa melafadzkan kalimat syahadat setelah ditaklukkannya kota suci Mekkah yang saat itu menjadi benteng terakhir kemusyrikan.

Sejarah mencatat bahwa kaum kafir Quraisy mempekerjakan anak-anak kecil/bocah-bocah mereka untuk mengganggu Nabi saw…. dan tentunya dengan demikian mudah bagi mereka untuk meminta uzur kepada Nabi saw. bahwa tindakan itu hanya dilakukan anak-anak kecil belaka! Dan tentunya, karena lingkungan keluarga yang sangat memusuhi Nabi saw. maka Mu’awiyah tidka mungkin ketinggalan untuk dikirim kedua orang tuanya untuk mengganggu Nabi saw. dengan ejekan, hinaan, sampai lembaran batu dan gangguan lainnya!

Pada periode dakwah di Mekkah, Nabi saw. Muhammad saw. dan kaum Muslimin benar-benar mendapatkan tekanan dan gangguan yang luar biasa dari kaum Musryik… para sahabat pun mengalami penyiksaan yang kengerikan dan sangat kejam… Pastilah Mu’awiyah menyaksikan semua  kejahatan dan kekejaman yang dilakukan anggota keluarganya itu dan memorinya pasti dipenuhi dengan kejahatan dan kekejaman itu!

Bisa dibuktikan bahwa dari total 70 jenis dosa besar, empat puluh (40)nya telah dilakukan oleh Mu’awiyah… dan data-data kejahatan itu telah diabadikan dalam kitab-kitab sejarah Ahlusunnah dengan sanad-sanad yang shahihah. Andai kejahatan-kejahatan itu dilakukan oleh selain Mu’awiyah pastilah tak akan ada seorang pun yang berselisih untuk mengecam dan mengutuknya! Tetapi karena palaku kajahatan itu adalah Mu’awiyah maka kaum Salafi Wahhâbi tetap membelanya… walaupun a bertentangan dengan nurani sekali pun! Semua itu karena Mu’awiyah pernah menjadi penguasa dan mendapat dukungan atas nama agama dari kaum fasik yang menjilat kepadanya! Oleh sebab itu pengaruhnya hingga kini dirasakan… sehingga sebagin umat Islamm menganggapnya sebagai manusia suci yang sangat berjasa terhadap Islam dan kejayaannya!

Inilah sekilas tentang Mu’awiyah dan kehidupan keluarganya serta lingkungan yang membentuk karakternya. Dan ini adalah bagian pertama dari pemhasan saya tentang islamnya Mu’awiyah….

Apa Kata Sayyidina Ali ra. Tentang Islamnya Mu’awiyah?

Tidak ada yang lebih pantas berbicara tentang islam atau kekafiran Mu’awiyah dari orang-orang yang hidup sezaman dengannya, mengetahui seluk beluk kehidupan dan tindak-tanduknya…. mereka yang hidup sezaman dengan Mu’awiyah apalagi yang tulus dalam keimanan, sempurna dalam kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya dan ikhlas perjuangannya dalam membela agama Allah… siapa lagi kalau huan para sahabat Nabi mulia ra., seperti Ali, Ammâr bin Yâsir dan para sahabat mulia lainnya.

Hal penting yang perlu dcatat di sini adalah bahwa masalah islamnya Mu’awiyah memang telah diperselisihkan sejak waktu yang sangat dini, apakah ia telah mengikrarkannya dengan tulus atau hanya sekedar untuk menyelamatkan diri semata alias bermunafik!

Dan inilah yang menjadi fokus kajian kita kali ini… bukan masalah kekafiran Mu’awiyah… walaupun semua menyadari bahwa kemunafikan itu jauh lebih keji dari sekedar kekafiran!

Mungkin bagi sebagian pembahasan seperti ini tidak layak diangkat masa kini mengingat telah “disepakati” bahwa Mu’awiyah adalah seorang sahabat agung yang baik islamnya… walaupun entah apa dasarnya “disepakati” itu?!

Al hasil, sering kali apa yang dianggap telah rampung dewasa ini ternyata hal itu di masa-masa awal Islam adalah sebaliknya… seperti kasus kita ini… di mana ada anggapan bahwa urusan islamnya Mu’awiyah sudah dianggap rampung, sementara kenyataannya tidak demikian… para pembesar sahabat tidak sedikit yang meragukannya… bahkan lebih dari itu mereka mebegaskan bahwa Mu’awiyah (dan juga Abu Sufyan, bapaknya) hanya bermunafik belaka!

Karenanya, kita akan cari tau apa kata para pembesar Salaf Shaleh yang biasanya menjadi andalan kaum Salafi Wahhâbi dalam membenagun agama mereka! Dan ijma’ atau pendapat mayoritas sahabat pasti harus lebih kita kedepankan ketimbang ijma’ (tentunya jika ada ijma’ itu) lainnya, Itu pasti!! Dan seandainya terjadi perbedaan di antara para sahabat sendiri, kita harus mengedepankan pendapar para pembesar sahabat yang sangat dekat dan kental persahabatannya kepada Nabi saw. itupun setelah kita sodorkan pendapat mereka kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. yang shahihah! Lalu bagaimana jika kita temukan pendapat sebagian ulama yang datang belakang, seperti misalnya. Ahmad bin Hanbal, al Barbahâri (rujukan andalan kaum Salafi Wahhâbi dalam melawan musuh-musuh akidah Tajsîm dan Tasybîh), Ibnu Buththah, Ibnu Taimiyah dkk. itu tertentangan dengan pendapat para sahabat agung ra.? Tentu kita lebih berkewajiban menolak pendapar mereka dan mengedepankan pendapat para sahabat mulia!

Salafi adalah sebuah metode dana beragama dan meneriman ajaran-ajarannya.. ia bukan mazhab! Sehingga siapa yang lebih mengikuti Salaf ia berhak menyebut dirinya Salafi… dan yang membuang Salaf tidak berhak menyebut dirinya sebagai Salafi, apalagi memonopolinya!

Oleh karena itu, siapa yang berminat mengetahui sejatinya islamnya Mu’awiyah maka hendaknya ia meneliti apa kata Salaf umat ini tentangnya… bukan menutup diri dan fanatik buta kepada pendapat Ibnu Taimiyah atau ibnu-ibnu lainnya!

Perlu saya ingatkan kembali bahwa para sahabat besar telah menyangsikan islamnya Mu’awiyah putra Abu Sufyan! Demikian pula dengan sebagian pembesar tabi’în dan tokoh ulama Ahlusunnah!

Dan demi ringkasnya, saya akan langsung menyebutkan pendapat Sayyidina Ali ra. dan Sayyidina Ammâr ra.

Pendapat Sayyidina Ammâr ra.

Saya akan menyebutkan sikap dan pendapat Sayyidina Ammâr ra. terlebih dahulu karena penukilan dari beliau sangat banyak dan masyhur serta beliau dalam sikap dan pendapatnya ini diikuti oleh pasa sahabat Ahli Badr… disamping beliau kurang mendapat perhatian selayaknya dari kalangan Salafi Wahhâbi… entah mengapa? Mungkin karena Sayyidina Ammâr ra. sangat membenci tuan mereka dan membongkar kemunafikannya?!

Sayyidina Ammâr ra. menegaskan bahwa para tokoh pembangkang kota Syâm (Mu’awiyah Cs) tidak berislam dengan arti sebenarnya dan tulus. Akan tetapi mereka hanya menyerah dan berpura-pura memeluk Islam,istaslama, sementara mereka merasiakan kekafiran dan permusuhan mereka kepada Allah dan rasul-Nya!

Telah diriwayatkan dari beliau dengan periwayatan yang memberi ketentraman akan keshahihannya bahwa beliau menegaskan bahwa Mu’awiyah tidak beriman… ia hanya berpura-pura islam untuk menipu dan menyemalatkan diri belaka! Pernyataan sikap beliau itu telah diriwayatkan oleh lima belas tokoh tabi’în, di antara mereka: Saad bin Hudzaifah bin Yamân, Abu al Bukhturi, al Qâsim maulâ Yazîd bin Mu’awiyah, Rabi’ah bin Nâjid, Abu Abdirrahman al Sulami, Abdullah bin Salamah, Asmâ’ bin al Hakam al Fizâri, ash Shaq’u bin Zuhair, Zaid bin Wahb, Habbah bin Juwain, al ‘Arani, Abdul Malik bin Abi Hurrah al Nahafi dan Abdurrahman bin Abzâ dan ada beberapa tokoh lainnya yang meriwayatkannya dengan perantara, seperti Salamah bin Kuhail, Habîb bin Abi Tsâbit dan Mundzir ats Tsauri.

Dan karena riwayat dari Sayyidina Ammâr ra sangat banyak jalurnya maka saya cukupkan dengan hanya menyebut satu riwayat saja.. dan di kemudian hari jika dirasa perlu akan saya lengkapi!

Riwayat Sa’ad bin Hudzaifah dari Ammâr bin Yâsir ra.

Ibnu Abi Khaitsamah telah meriwayatkan dalam kitab tarikhnya yang terkenal dengan judul Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah,2/991:

حَدَّثَنَا أبي (زهير بن حرب ثقة) ، قال : حَدَّثَنا جَرِير ( هو ابن عبد الحميد ثقة)، عَنِ الأَعْمَش ( ثقة) ، عن مُنْذِرٍ الثَّوْرِيّ ( ثقة) ، عن سَعْد بن حُذَيْفَة ( ثقة) ، قال : قال عَمَّار (بن ياسر) – أي يوم صفين- : ( والله ما أَسْلَموا ولَكِنَّهُم اسْتَسْلَمُوا وأسرُّوا الْكُفْر حَتَّى وجدوا عليه أَعْوَانًا فأَظْهَروه )

“…. dari Sa’ad bin Hudzaifah, ia berkata, “Ammâr berkata (pada hari parang Shiffîn_pen): “Demi Allah mereka tidak masuk Islam akan tetapi mereka menyerah, istaslamu. Mereka marahasiakan kekafiran sehingga ketika mereka menemukan para pendukung, mereka tampakkan kembali (kekafiran itu_pen).”[1]

Abu Salafy:

Sanad riwayat di atas adalah shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, kecuali Sa’ad bin Hudzaifah, dia seorang tabi’in yang tsiqah/terpercaya. maka dengan demikian sanad riwayat ini adalah shahih! Dan ‘an’anah (meriwayatkan dengan menggunakan kata ‘an/dari) yang dilakukan A’masy banyak ditemukan dalam dua kitab Shahih (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dan ia sama sekali tidak merusak keshahihan.

Sikap Ammâr di atas sangat jelas! Ammâr bin Yâsir ra telah bersumpah atas nama Allah bahwa Mu’awiyah dan tokoh penduduk Syam sejenisnya sama sekali tidak berislam… mereka hanya menyerah dan bertekuk lutut di hadapan kekuatan Islam ketika kota Mekkah ditaklukkan, dan setelah mereka mendapatkan para pendukung dalam memerangi Islam, mereka segera memerangi Islam dengan memerangi Khalifah yang sah dan pejuang sejati Islam!

Abdullah bin Umar ra. mendukung sikap Ammâr bin Yâsir ra. Ia berkata tentang klaim paslu Mu’awiyah bahwa dia merasa lebih berhak atas jabatan Khalifah:

أولى بهذا الأمر من ضربك وأباك على الإسلام حتى دخلتم فيه كرهاً

“Yang lebih berhak atas perkara ini adalah orang yang memerangimu dan memerangi ayahmu atas dasar Islam sehingga kalian masuk Islam secara terpaksa!”

Dan yang menguatkan kanyataan di atas adalah firman Allah:

إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ * خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوْبِهمْ وَ عَلَى سَمْعِهِمْ وَ عَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَ لَهُمْ عَذَابٌ عظِيْمٌ

“Sesungguhnya orang-orang kafir tidak berbeda bagi mereka, baik engkau memberikan peringatan kepada mereka atau tidak; mereka tidak akan beriman. * Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka (dihalangi oleh) sebuah penutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al baqarah [2];6-7)

Dan ayat-ayat semisalnya yang menyebut-nyebut aksi dan kajahatan para tokoh kekafiran!

Semoga kajian ini bermanfaat bagi Anda…. Amîn.

(Bersambung Insya Allah)


[1] Ath Thabarani juga meriwayatkan hadis serupa. Dalam Majma’ az Zawâid-nya,1/118  Al Haitsami berkata, “Hadis ini telah diriwayatkan ath Thabarani dalamMu’jam al Kabîr-nya.

 

sumber :

NO COMMENTS