Mantan Sekjen Liga Arab: Walau Ditumpas, ISIS akan ‘Lahir’ Dengan Nama Lain

0
784 views

amr-moussaManama, LiputanIslam.com — Mantan Sekjen Liga Arab, Amr Moussa, menyatakan bahwa dunia Arab tidak akan menerima setiap upaya yang berusaha memaksakan hukum/ batasan baru di Arab sebagaimana perjanjian Sykes-Picot.

Dalam pernyataannya sebelum dilangsungkan Konferensi yang digelar oleh International Peace Institute di Manama, ia menyebut bahwa Timur Tengah saat ini tidak butuh Sykes Picot, ataupun perjanjian Balfur. Ia mengajak agak semua pihak agar serius memikirkan tatanan/ batasan-batasan kawasan regional.

Perjanjian Sykes Picot, secara resmi dikenal sebagai Perjanjian Minor Asia, adalah perjanjian rahasia antara pemerintah Inggris dan Perancis dengan persetujuan Rusia pada tahun 1916.  Perjanjian ini secara efektif membelah daerah-daerah Arab dibawah Kerajaan Otoman di luar Jazirah Arab sehingga dimasa depan dapat ditentukan dimana kendali atau pengaruh Inggris atau Perancis akan berlaku. Perjanjian ini ditandatangani pada tanggal 16 Mei 1916 dan diberi nama sesuai dengan diplomat Perancis François Georges-Picot dan diplomat Inggris Sir Mark Sykes.

“Menetapkan batasan-batasan kawasan regional bukanlah  sebuah hal yang luar biasa, namun hal itu adalah sebuah kebutuhan,” ujarnya. (baca juga: Harian al-Ghad: Negara-Negara Arab Ikut Membidani Kelahiran ISIS)

Moussa menuduh kekuatan asing mengeksploitasi sentimen sektarian guna memecah belah Timur Tengah. Baginya, kelompok teroris transnasional Irak dan Suriah atau ISIS lahir atas dasar sentimen tersebut. Ia yakin, ISIS bisa dilenyapkan, namun tidak berarti bahwa ISIS tidak akan ‘lahir kembali’ atas nama yang berbeda.

“Jika kita mampu menumpas ISIS hari ini, tapi mendiamkan saja berbagai penyebab penciptaan dan terbentuknya ISIS, maka ISIS akan kembali. Kelompok teroris ini akan kembali lagi 2-3 tahun setelahnya, dengan nama yang berbeda,” jelasnya,seperti dilansir Middle East Monitor, 13 September 2014. (Baca juga: Ini Dia, Deretan Petinggi ISIS di Mosul)

Moussa mengkritik taktik perlawanan terhadap ISIS, yang dinilai tidak efektif. Seperti diketahui, kini AS menggalang koalisi di Timur Tengah untuk bersama-sama memerangi ISIS dengan melakukan invansi kepada Irak dan Suriah. Namun berbagai laporan menunjukkan, ISIS justru diciptakan oleh badan intelejen AS, Israel dan Inggris. (ba)

 


Mari share berita terpercaya, bukan hoax
sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS