Lima Teori Tentang Munculnya Terorisme (5-selesai)

0
503 views

terorisme-41Teori Kelima : Terorisme Lahir Karena Penafsiran Keliru atas Teks Keagamaan

Majma’ al-Buhuts al-Fiqh al-Islami yang diselenggarakan di Mekah pada tahun 2002 menyatakan bahwa radikalisme dan terorisme tidak mencerminkan jihad dalam Islam. Terorisme merupakan tindakan keji yang tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Terorisme ini dapat dilakukan oleh individu, kelompok, maupun negara. Penjajahan militer negara-negara Barat ke dunia Islam dan serangan Yahudi yang membabi buta ke Palestina termasuk bagian dari bentuk terorisme negara.

Prof. Richard Bulliet dari Universitas Columbia meyakini gagasan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan sebagian  Muslim menunjukkan budaya fanatik dan teroristik yang tidak bisa ditoleransi atau dipahami. Tidak lama lagi kita akan mencapai suatu kondisi yang di dalamnya orang tak lagi perlu bukti untuk meyakini bahwa ancaman teroris selalu datang dari kaum fanatic Muslim yang religious.

Teroris fanatik-ekstremis, kata Assaf Mughaddam, sering melihat permasalahan secara hitam putih dan menyikapi setiap hal yang tak ia setujui secara single-minded. Pandangan hitam-putih itulah yang membuat teroris mempertentangkan “kami versus mereka” atau “muslim versus kafir”. Jika “mereka” (the other) adalah sumber problem kami, kami harus membasmi mereka. Begitulah pola pikir fanatik.

Abd al-Salam Faragh, salah seorang ideolog radikal asal Mesir yang pemikirannya terpengaruh oleh Sayid Qutb, menulis buku berjudul Jihad : al-Faridhah al-Ghaibah (Jihad : Kewajiban yang Terabaikan). Buku yang ditulis pada 1981 ini dianggap sebagai salah satu pemicu pembunuhan Presiden Anwar Sadat. Faragh adalah ketua organisasi Jihad Islam di Mesir yang sangat tertarik Hasan al-Banna, al-Mawdudi, Sayid Qutb dan Ibnu Taymiyah. Dia mengambil gagasan Ibnu Taymiyah mengenai jihad melawan pemerintah Mongol, kemudian gagasan itu diterapkan untuk menyikapi kondisi politik Mesir dan dunia Islam pada masanya.

Faragh menilai kemorosotan masyarakat Islam disebabkan oleh ulah orang-orang yang telah meninabobokan umat agar percaya jihad dalam Islam hanyalah bersifat defensif sehingga butuh upaya mengembalikan Islam pada orientasi jihad ofensif yang merupakan rukun Islam keenam yang telah terabaikan. Jihad baginya adalah kewajiban bagi semua Muslim untuk memerangi pemerintah yang mengaku Islam, tetapi tidak menerapkan syariat Islam secara total sebagai undang-undang. Jihad dengan pedang dan kekerasan adalah satu-satunya jalan untuk mengembalikan hegemoni Islam. Faragh dengan lantang menyatakan bahwa para penguasa pada zaman ini adalah berhala-berhala (thawaghit) yang tidak bisa dihancurkan kecuali dengan kekuatan pedang. Gagasan Faragh ini telah mereduksi konsep jihad hanya semata-mata sebagai perjuangan melalui kekerasan. John L. Esposito dalam bukunya Unholy War menyatakan bahwa Faragh dan penafsirannya atas konsep jihad adalah tahap penyebaran radikalisme di seantero dunia Islam. Esposito mengesankan bahwa pandangan radikal Faragh menunjukkan betapa kitab suci dan tradisi religius dapat ditafsirkan, ditafsirkan ulang, dan disalahtafsirkan untuk menebar teror.

Muhammad Syahrour menyatakan bahwa teror yang dilakukan oleh Muslim radikal saat ini berakar dari doktrin kolot yang berkembang dalam tradisi pemikiran Islam klasik. Budaya Islam telah dicemari oleh pemahaman radikal bahwa ayat-ayat pedang telah menghapus ayat-ayat yang mengajarkan toleransi dan inklusivisme. Akibatnya, Islam yang semula mengajarkan kedamaian berubah menjadi ideologi kekerasan. Jihad yang mula-mula hanya dilegalkan dalam rangka mempertahankan diri berubah menjadi perang ofensif demi tujuan ekspansi dan islamisasi. Tanpa bisa dihindari, Islam yang pada dasarnya mengusung prinsip kasih sayang universal direduksi sedemikian rupa oleh kelompok garis keras sehingga tampak seperti agama yang menebarkan ancaman global. Ini berarti. Deviasi penafsiran konsep jihad dari defensip ke ofensip muncul untuk melayani kepentingan penguasa yang berambisi melakukan ekspansi. Ambisi ekspansi atas nama dakwah Islam diperkokoh dengan teori nasikh-mansukh yang mana ayat-ayat pedang telah menghapus ayat-ayat toleransi dan perdamaian telah memengaruhi terbentuknya fikih teroris (fiqh al-irhab). selesai (hd/liputanislam.com)

*Diolah dari berbagai sumber.


Mari share berita terpercaya, bukan hoax
sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS