Lima Teori Tentang Munculnya Terorisme (2)

0
627 views

terorisme-412). Teori Kedua : Terorisme Lahir dari Keterbelakangan, Ketertindasan dan Kemiskinan

Robert K. Merton, seorang sosiolog penganut pradigma fungsionalisme-struktural menjelaskan bahwa objek analisa sosiologi adalah fakta sosial seperti : peranan sosial, pola-pola institusional, proses sosial, organisasi kelompok, pengendalian sosial dan sebagainya. Hampir semua penganut teori ini berkecenderungan untuk memusatkan perhatiannya kepada fungsi dari suatu fakta sosial terhadap fakta sosial lainnya. Hanya saja menurut Merton pula, sering terjadi percampuradukan antara motif-motif subjektif dengan pengertian fungsi. Padahal perhatian fungsionalisme struktural harus lebih banyak ditujukan kepada fungsi-fungsi dibandingkan dengan motif-motif. Fungsi adalah akibat-akibat yang dapat diamati yang menuju adaptasi atau penyesuaian dalam suatu sistem. Oleh karena fungsi itu bersifat netral secara ideologis maka Merton mengajukan pula satu konsep yang disebutnya : dis-fungsi. Sebagaimana struktur sosial atau pranata sosial dapat menyumbang terhadap pemeliharaan fakta-fakta sosial lainnya, sebaliknya ia juga dapat menimbulkan akibat-akibat yang bersifat negatif.

Kita amil cotoh kasus yang sedang kita bincangkan yakni kemiskinan. Kemiskinan itu bisa terjadi secara atural da bisa secara struktural. Secara natural, jika kita miskin dikarenakan alam yang kita tempati memang tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk diekplorasi untuk menghasilkan kekayaan. Masyarakat pinggiran yang tinggal di tanah yang gersang, misalnya, cenderung miskin dikarenakan alamnya. Namun, jika tanahnya subur, lautnya penuh ikan, hutannya penuh kayu, alamnya memiliki sumber daya yang luar biasa, tetapi masyarakatnya miskin, maka bisa dipastikan kemiskinan da ketertidasan itu “direncanakan” oleh segelintir orang yang menikmati kekayaan. Kemiskinan ini disebut kemiskinan struktural.

Kemiskinan dan ketertindasan ini ditinjau dari sisi tertentu memiliki fugsi bagi struktur tertentu. Misalnya, menyediakan tenaga buruh yang murah. Tetapi di sisi lain, hal itu mempunyai disfungsi, yang mana kemiskinan da ketertidasan akan membuat orang berperilaku menyimpang seperti mencuri, merampok, dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika kondisi kemiskinannya kontras degan sebagaian kecil kelompok tertentu yag sangat kaya, maka akan memunculkan kebencian, terlebih jika elit kaya tadi tidak peduli bahkan cenderung menzalimi. Maka lahirlah perlawanan dalam bentuk kekerasan. Orang-orang yang terjebak dalam kemiskinan dengan mudah direkrut karena sudah mengakumulasinya kebencian.

Ketertindasan dan kemiskinan yang struktural atau yang diciptakan merupakan wujud pelanggaran keadilan. Bagaimanapun pada dasarnya tidak ada manusia yg ingin ditindas. Hanya saja, saat ditindas beragam ekspresi muncul dalam bentuk perlawanannya. Ada yang dengan mogok makan, ada yang dengan demonstrasi, hingg ada yang membuat bom bunuh diri. Solusi Islam biasanya lebih condong ke arah resistensi terhadap penindasan. Islam melarang orang menerima penindasan. Perdamaian dalam Islam itu tidak mutlak applicable. Yang mutlak adalah keadilan. Tidak ada kedamaian tanpa keadilan. Bukan tidak mungkin terjadi, tetapi tidak boleh terjadi. Jika orang yang ditindas memilih perdamaian itu artinya dia menerima kezaliman karena tidak mengadakan perlawanan. Namun, perlawanan apakah harus menggunakan senjata atau yang lain itu masih terbuka untuk wacana, karena berbeda dari kasus ke kasus.

Graham E. Fuller dalam A World Without Islam menyebutkan bahwa terorisme dapat dipicu juga oleh faktor keterbelakangan. Tidak diragukan lagi bahwa dunia Islam mengalami kemunduran di bidang pendidikan, standar hidup, minimnya kesempatan kerja, dan aneka persoalan lainnya yang menyebabkan masyarakatnya frustasi dan cenderung menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan. Namun. Assaf Mughaddam dalam The Root of Terorism menggarisbawahi bahwa hubungan antara keterbelakangan pendidikan dan ekonomi dengan terorisme tidaklah bersifat langsung. Di Libanon, misalnya, anggota milisi Hizbullah memang secara umum memiliki tingkat kehidupan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan populasi pada umumnya. Namun, sebagian besar mereka tergolong memiliki level pendidikan yang tinggi. Begitu pula, kaum ekstremis Yahudi yang dikenal dengan nama Makheret beranggotakan orang-orang yang sangat terdidik. Di sisi lain, Osama bin Laden dan para aktivis Al-Qaeda adalah orang-orang yang memiliki latar belakang ekonomi yang sangat mapan. Semua fakta ini membuktikan bahwa hubungan antara terorisme, kemiskinan, keterbelakangan pendidikan bersifat tidak langsung. Meskipun demikian, pengentasan kemiskinan, peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan kesejahteraan sosial tetap merupakan langkah-langkah yang sangat diperlukan untuk meminimalkan terorisme dan segala bentuk kekerasan atas nama agama. (hd/liputanislam.com)


Mari share berita terpercaya, bukan hoax
sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS