Lima Teori Tentang Munculnya Terorisme (1)

0
546 views

terorisme-41Memaknai  Terorisme

Dalam studi Islam, terorisme disebut dengan istilah irhabiyyahatau takhwif yang artinya menakut-nakuti. Pelakunya disebutirhabiyyun yang oleh kamus modern mu’jam al-wasithdidefenisikan sebagai “alladzina yaslukuna sabil al-‘unf wa al-irhabi li tahqiq ahdafihim al-siyasiyah”, orang-orang yang bertindak dengan jalan kekerasan dan teror sebagai cara untuk mencapai tujuan politiknya.

Adapun secara terminologis, para ahli berbeda pendapat dalam mendefenisikan terorisme. Begitu pula dengan negara-negara di dunia. Setiap negara memiliki defenisinya sendiri sesuai dengan sikap politik negaranya masing-masing. Ali Tasykhiri setelah menganalisis berbagai pemahaman dan kemungkinan tentang terorisme, kemudian menyimpulkan defenisi terorisme sebagai berikut : “Terrorism is an act carried out to achieve an inhuman and corrupt (mufsid) objective, and involving threat to security of any kind, and violation of rights acknowledged by religion and mankind.” (Jurnal at-Tauhid, No. 1, vol. V, 1987); “Terorisme adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk meraih tujuan yang tidak manusiawi dan merusak (mufsid) yang memberikan ancaman terhadap segala jenis keamanan, dan pelanggaran atas hak asasi yang diakui oleh agama dan manusia”.

Menurut William Outhwaite (ed), dalam Ensiklopedi Pemikiran Sosial Modern (2008: 874-875),  ada dua jenis utama pelaku teroris. Pertama,  terorisme mungkin merupakan metode tindakan yang dipakai pelaku untuk mencapai satu tujuan tertentu. Dalam kasus ini, kekerasan bersifat pragmatis, berada dalam kontrol pelaku yang mungkin akan mengubah metode dan mencari strategi lain yang tidak selalu berupa kekerasan jika situasi berubah. Terorisme sebagai metode tindakan adalah fenomena politik yang ada dalam batas-batas yang mungkin meliputi satu negara atau ruang geopolitik internasional. Terorisme mungkin merupakan kerja kelompok atau gerakan tetapi juga kerja pemerintah.

Kedua, terorisme mungkin merupakan logika tindakan—bukan lagi cara utama yang dipakai aktor politik tetapi merupakan kombinasi pemikiran dan tindakan politik dan ideologis, sebuah fenomena di mana “clerisy” memiliki peran aksi teroris konkret. Dalam kasus ini, kekerasan adalah tujuan dan cara, dan pelaku tampaknya terperangkan dalam rantai reaksi yang tak berakhir kecuali dihentikan melalui represi, penahanan atau kematian. Pelaku ini lahir di dalam wilayah geografis politik tertentu, tetapi dia meninggalkannya untuk mengikuti proses “inversi” yang melibatkan ideologi dan hubungannya dengan pengalaman dari mereka yang dia klaim sebagai bagian darinya. Ideologi teroris tidak selamanya melanjutkan ideologi sebelumnya, tetapi mereka bisa mengubahnya bahkan menggantinya.

Adapun tentang sebab-sebab munculnya terorisme, para ahli dan peneliti berbeda pendapat. Menurut tesis belakangan yang diinspirasi oleh fungsionalisme, terorisme muncul ketika ada krisis, terutama krisis politik. Beberapa penulis mengemukakan penjelasan tentang kemunculan proses teroristik melalui krisis negara yang terpecah, seperti Libanon, Palestina dan lainnya. Yang lain mengemukakan argumen berdasarkan observasi bahwa sistem politik tersumbat. Penjelasan-penjelasan ini lebih diminati secara serius ketimbang penjelasan yang menyatakan bahwa terorisme berasal dari manipulasi yang dilakukan oleh kekuatan dari luar. Penjelasan-penjelasan tersebut bisa menjelaskan kondisi yang mendorong kemunculan logika tindakan teroristik, tetapi tidak membahas salah satu aspek utamanya, yakni persoalan pengelolaan makna realitas sosial atau komunitas yang dilakukan oleh aktor politik atau intelektual.

Meskipun begitu, secara umum, jika kita cermati dari berbagai sumber dan komentar serta penelitian para ahli, kita bisa memetakan setidaknya ada lima teori populer yang menganalisis tentang sebab pemicu munculnya terorisme, sebagai berikut.

1). Teori Pertama : Terorisme Lahir dari Ideologi dan Fanatisme Agama yang Eksklusif.

Istvan Meszaros (1989) mengatakan bahwa suatu hal yang jelas di dalam masyarakat kita adalah bahwa semua hal telah ‘tercelup ideologi’ baik kita sadari atau tidak. Ideologi adalah serangkaian preferensi yang dimiliki bersama oleh komunitas politik. Ideologi secara umum mengandung serangkaian pemikiran, keyakinan dan tindakan yang dimiliki secara bersama oleh suatu komunitas. Ideologi biasanya diawali dengan pandangan dunia (world view), yakni bagaimana seseorang atau komunitas tersebut menggambarkan dunia dalam benak mereka. Tentu saja, gambaran dunia itu di susun oleh elite intelektualnya yang kemudian di transfer kepada para anggotanya. Karena itu, ideologi bersifat socially shared yang terbentuk melalui proses sosial yang penyebarannya melalui bahasa lisan maupun tulisan, yang dengannya orang memberi makna pada realitas sosial tertentu. Lantas, Ideologi apa yag dikembangkan oleh kelompok teroris ini?

Laurence Pope, seorang Pejabat Koordinator untuk Perlawanan terhadap Terorisme, mengatakan, bahwa dulu, Nasionalisme sekular adalah ideologi yang disukai di dunia Arab—dan tentunya juga wilayah lainnya. Dan ideologi itulah yang dipakai teroris sebagai kedok tindakan mereka. Sekarang, ideologi Islam yang digunakan sebagai kedok oleh kaum ekstrimis. Artinya, Teroris masa kini pada dasarnya diilhami oleh ideologi agama (Islamisme), bukan ideologi Nasionalisme.

Misalnya, seorang ulama atau pemimpin organisasi pergerakan di Indonesia menyebut bahwa Indonesia adalah negara kafir (thaghut) karena tidak menerapkan hukum Islam, maka anggotanya pun akan beranggapan sama. Hal ini terus menerus ditekankan ke dalam benak mereka oleh elit intelektualnya, dan disuguhkan fakta-fakta “kekafiran” bangsa Indonesia. Dari sini berkembang, bahwa para pendukung demokrasi Indonesia akan dikategorikan pula sebagai orang murtad atau kafir karena mendukung negara kafir. Karena itu muncullah eksklusifisme keberagamaan yang fanatis, di mana mereka menganggap hanya kelompokya saja yang murni Islam, sedangkan selain mereka adalah kafir. Inilah ideologi takfirisme. Tidak sampai disitu saja, karena ada asumsi bahwa orang kafir harus dibunuh, maka muncullah tindakan kekerasan. Di titik inilah takfirisme menjadi terorisme.

Pada era modern, perhatian terhadap hubungan antara fanatisme dan kekerasan atas nama agama terus berlanjut. Hal ini dibahas, misalnya oleh Adib Ishaq (w.1885), seorang sastrawan Kristen asal Libanon yang berdomisili di Mesir, dalam makalahnya at-Ta’ashshub wa at-Tashahul (Fanatisme dan Toleransi) yang ditulisnya pada 1874. Adib Ishaq mendefenisikan fanatisme sebagai kekolotan seseorang yang merasa benar sendiri. Fanatisme, menurutnya, adalah gejala psikologis yang muncul dari perasaan ingin mempertahankan status quo dan keyakinan buta. Fanatisme disebabkan oleh kebodohan atau pun kepentingan pragmatis si fanatik itu sendiri. Akan tetapi, menurut Adib Ishaq, fanatisme yang paling buruk adalah fanatisme agama yang dipicu oleh hegemoni politik yang despotik, yakni fanatisme yang bermetamorfosis menjadi radikalisme agama (Masduqi, hal. 166).

Muhammad Arkoun dalam bukunya al-Fikr al-Islami : Qiraah Ilmiyah (1994: 5-7) melihat antara keterkaitan antara terorisme dan fanatisme. Arkoun menyebutkan bahwa fanatisme merupakan sebuah penyakit kekauan mental (al-sharamah al-aqliyah) beragama yang disebabkan oleh doktrin agama yang dogmatis. Pemeluk agama yang fanatik cenderung mudah menegasikan kelompok lain yang berbeda pandangan dan menilainya kafir. Pemeluk agama eksklusif ini tidak bisa menerima pemikiran kelompok lain dengan melekatkan tuduhan sesat dan kafir. Nalar dogmatis eksklusif yang berdiri di atas paradigma dualistik iman versus kafir ini akan memicu sikap intoleran dan tindakan kekerasan atas nama agama. Nalar ini terbentuk secara hegemonik dalam semua tradisi agama. Nalar dogmatis eksklusif senantiasa meyakini dan memonopoli kebenaran tunggal yang tak dapat terbagi-bagi. Kebenaran hanya satu, sakral, statis dan terjaga sampai hari kiamat. Kebenaran yang tunggal harus dilindungi oleh pemegang otoritas resmi walaupun harus dengan cara mengorbankan kelompok lain yang dinilai menyimpang dari konsensus (ijma’). Demi tujuan melindungi kesakralan iman dan simbol agama, diskiriminasi dan kekerasan sah untuk dilakukan. Dari sinilah, kesakralan agama dan keimanan akan meminta korban. Maka, kekerasan atas nama agama pun sulit dihindarkan.

Tidak hanya dalam Islam, terorisme yang berkedok agama juga terjadi dalam berbagai kebudayaan agama lainnya. Terorisme juga bukanlah fenomena kontemporer, melainkan telah ada sejak berabad-abad silam. Di kalangan Yahudi pada era Romawi, misalnya, tumbuh kelompok radikal bernama Sicarii yang membunuh para pejabat di sebuah wilayah yang disebut Judea. Pada masa sekarang zionisme juga menjadi ideologi yang tak kalah sadisnya dengan Sicarii. Dalam sejarah Kristen pun dikenal Tentara Salib (Crusader) yang membantai warga Yahudi dan Muslim di Palestina demi membangun sebuah kota Kristen. Mereka juga melakukan pembaptisan paksa. Di India, dikenal kelompok radikal bernama Thuggee yang menghalalkan darah orang-orang tak bersalah guna dijadikan persembahan kepada para dewa. Sementara itu dalam Islam, sejarah mencatat Khawarij pada era awal dan Hasyasyiyin pada era pertengahan sebagai representasi kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Selanjutnya di era kontemporer mucullah Al-Qaeda dan kelompok-kelompok teroris lainnya yang dijuluki neo-khawarij karena sama-sama menempuh jalur kekerasan dalam penyelesaian masalah (Masduqi, hal. 165-167). Jadi terorisme mengancam semua agama. (hd/liputaislam.com)


Mari share berita terpercaya, bukan hoax
sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS