Latar Belakang Dokrtin Mazhab Takfiryah (5)

0
364 views

Ibnu Taimiyah & Ibnu al Qayyim Bapak Mazhab Takfîriyah?

ilustrasi-_110421060538-736Kendati Ibnu Taimiyah telah bertaubat dari sikap arogan dan gegabah dalam mengafikan sesama Muslim hanya karena berbeda aliran seperti dilaporkan adz Dzahabi, akan tetapi doktrin Takfîr yang ia konsepkan telah mengalir ke seluruh pembulu darah umat yang terkagum akan keilmuan dan konsep Islamnya Ibnu Taimiyah. Khusunya dalam uraiannya tentang pemetaan Tauhid menjadi Tauhid Rubûbiyah danTauhid Ulûhiyah, di mana ia meremehkan bobot dan nilai sayap pertama dan memberikan penekanan berlebihan pada sayap tauhid kedua. Kendati pembagian itu tidak pernah dikenal di masa Nabi saw., para sahabat dan tabi’în. Ia adalah pembagian bid’ah yang tidak dikonsepkan dalam Al Qur’an maupun Sunnah. Tauhid adalah satu. Inilah yang mendorong para pengagum Ibnu Taimiyah dari kalangan Wahhabiyah untuk mengatakan bahwa para rasul diutus untuk menandaskan Tauhid Ulûhiyah sebab Tauhid Rubûbiyahtelah diyakini kaum kafir!

 

Sebab dalam anggapan konsep Ibnu Taimiyah di atas bahwa bertabarruk dengan para nabi atau para wali adalah menodai kemurnian Tauhid dalam Ulûhiyah dengan kesyirikan… palakunya adalah sedang menjalankan praktik syirik…. Dan demikian dengan praktik-praktik lain yang telah dijalankan turun-temurun berdasarkan arahan para ulama dari berbagai mazhab dan didasarkan atas dalil-dalil yang ada dan diyakini keshahihannya. Semua itu dinilainya telah menodai kemurnian Tauhid Rubûbiyah.

Padahal, semestinya, mereka itu hanya boleh disalahkan saja! Itupun kalau kita terima argumentasi ala Ibnu Tamiyah dan Wahhâbiyah tentangnya!

Tetapi, demikian ketergelinciran seorang alim akan membawa dampak bahaya yang berekepanjangan jika tidak cepat-cepat diluruskan!

 

Ibnu Qayyim Pelanjut Manhaj Takfîri

Sebagai murid kesayangan, pengagum dan menyebar ide-ide Ibnu Taimiyah, Ibnu al Qayyim al Jawziyah tidak dapat melepaskan diri dan pikirannya dari jeratan jaring doktrin Takfîr sesama Muslim. Banyak catatan dan pernyataan yang tegas-tegas menyebut kelompok lain yang berbeda pendapat dengannya divonisnya kafir!

Di bawah ini akan kami sebutkan satu di antara sekian banyak pernyataan dan vonis kafir/musyrik yang dilemparkan Ibnu al Qayyim kepada kelompok Islam lain.

Dalam Nûniyah-nya, Ibnu al Qayyim menvonis musyrik kelompok Mu’aththilah (yang dalam pandangan Wahhabiyah mencakup kelompok Asy’ariyah/Ahlusunnah/NU). Ia menulis pasal dengan judul: Pasal: Tentang keterangan bahwa al Mu’aththil adalah Musyrik!”

Pensyarahnya, Syeikh Dr. Muhammad Khalîl Harâs menegaskan bahwa yang beliau maksud dengan al Mu’aththil adalah:

1)     Para Filsuf.

2)     Mu’tazilah.

3)     Asy’ariyah.

4)     Al Qarâmithah, dan

5)     Kaum Shufi.[1]

Di sini antara al Qarâmithah dan asy Asy’ariyah dan Mu’tazilah dicampur aduk tanpa dipilah.

Ibnu al Qayyim dalam bait-bait qashidah-nya mengatakan:

Akan tetapi penganut faham Mu’aththilah lebih jahat dari

kaum musyrik berdasarkan dalil aqli dan naqli…

Orang Mua’ththil sangat menentang Tuhan atau

menentang ke Maha Sempurnaan-Nya…

Kaum Musyrikûn lebih ringan kekafirannya

keduanya adalah pengikut setan…[2]

Abu Salafy berkata: Adakah pengafiran terhadap Jumhûr kaum Muslimin yang lebih terang-terangan dari pernyataan di atas?! Sebab pada kenyataannya kaum Hanbaliyah (teologis) adalah minoritas, paling tidak di masa Ibnu al Qayyim, dan sebelum atau setalahnya. Mayoritas umat Islam terdiri dari pengikut asy Asy’ariyah, Syi’ah atau Mu’tazilah. Dan mereka inilah kelompok-kelompok yang mena’wilkan sifat yang oleh Ibnu al Qayyim (dan kaum Wahhabiyah sekarang) dijuluki dengan Mu’aththilah!

Inilah Bapak Mazhab Takfîri yang menjadi panutan dan rujukan utama para penganut Sekte Wahhabiyah sekarang ini. Mereka tidak pernah terbuka untuk meralat kekakuan sikap dan kesempitan metodologi para pendahulu mereka, dan bahkan tak henti-hentinya mereka mengusung ide-ide takfîr mereka!

Semoga kita semua diselamatkan dari kesesatan, amîm. 


 

[1] Syarah Nûniyah Ibn al Qayyim,1/27.
[2] Syarah Nûniyah Ibn al Qayyim,2/315.
sumber : http://abusalafy.wordpress.com/

NO COMMENTS