Yazid JawasAda sebuah kisah menarik yang sayang jika kita lewatkan, kisah ini tertulis dalam buku “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi” karya Ustadz Muhammad Idrus Ramli. Tepatnya pada bab Bid’ah Hasanah, Mengangkat sebuah kisah mengenai Ustadz Ali Rahmat seorang Alumni Pondok Pesantren Assunniyah Kencong, Jember. (Ahlussunnah Wal jama’ah) dengan Ustadz Yazid Jawas (Ustadz Kebanggaan Wahabi Indonesia), yang menarik dari kisah ini adalah ternyata seorang Yazid Jawaz tidak siap untuk berdialog dengan Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah Indonesia. Yang pasti bukan karena Kitab kitabnya sedang dipinjam oleh temannya atau laptop yang berisikan filenya itu rusak sehingga Ustadz Yazid ini kesulitan untuk mencari dalil bantahan kepada Aswaja, tapi dikarenakan Ustadz kebanggaan wahabi indonesia ini memang tidak mampu mempertanggung jawabkan kalam yang sering ia ucapkan.

Perlu diketahui kemarin saya memposting mengenai Dialog Terbuka Antara KH Muhammad Idrus Ramli asy-Syafi’i Dengan Ustadz Adzro’i Abdusysyukur as-Salafi yang pada akhirnya Ustadz Adzro’i Al Wahhabi ini mengeluarkan jurus langkah kaki seribu alias kabur melarikan diri secepat kilat.

Bisa dilihat videonya di sini :

Dialog Terbuka Antara KH Muhammad Idrus Ramli asy-Syafi’i Dengan Ustadz Adzro’i Abdusysyukur as-Salafi

Jika Ustadz Adzro’i Al Wahhabi itu sempat hadir pada dialog, walaupun akhirnya kabur juga sih, tapi berbeda halnya dengan Ustadz Jazid Jawas Al Wahhabi ini. Belum hadir, baru juga di ajak atau diundang, malah sudah pucat dan galau. Entah karena Takut atau Ustadz Yazid Jawas ini sedang mengamalkan pribahasa “Lempar batu sembunyi tangan” sehingga dia “Tidak Siap” untuk berdialog.

Suara lantangnya seorang Yazid Jawas Al Wahhabi ini yang biasanya dikenal sibuk membid’ahkan, menyesatkan, dan mengkafirkan umat islam diluar golongan Wahhabi itu ketika diajak berdialog seketika langsung panas dingin dan dengan pengecutnya berkata “Saya tidak siap”. Langsung saja saya kutipkan kisah ini dan silahkan dilihat fakta dilapangannya bahwa memang Wahhabi ini adalah Tong kosong nyaring bunyinya.

Di Islamic Center Jakarta Utara

Ada kisah menarik berkaitan dengan bid’ah hasanah yang perlu diceritakan di sini. Kisah ini pengalaman pribadi Ali Rahmat, laki-laki gemuk yang sekarang tinggal di Jakarta Pusat. Beliau pernah kuliah di Syria setelah tamat dari Pondok Pesantren Assunniyah Kencong, Jember. Ali Rahmat bercerita, “Pada pertengahan 2009, kaum Wahhabi mengadakan pengajian di Islamic Center Jakarta Utara. Tampil sebagai pembicara, Yazid Jawas dan Abdul Hakim Abdat, dua tokoh Wahhabi di Indonesia.

Pada waktu itu, saya sengaja hadir bersama beberapa teman alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, antara lain Ustadz Abdussalam, Ustadz Abdul Hamid Umar dan Ustadz Mishbahul Munir. Ternyata, sejak awal acara, dua tokoh Wahhabi itu sangat agresif menyampaikan ajarannya tentang bid’ah. Setelah saya amati, Ustadz Yazid Jawas banyak berbicara tentang bid’ah. Menurut Yazid Jawas, bid’ah hasanah itu tidak ada. Semua bid’ah pasti sesat dan masuk neraka. Menurut Yazid Jawas, apapun yang tidak pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, harus ditinggalkan, karena termasuk bid’ah dan akan masuk neraka.

Di tengah-tengah presentasi tersebut saya bertanya kepada Yazid Jawas. “Anda sangat ekstrem dalam membicarakan bid’ah. Menurut Anda, apa saja yang belum pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu pasti bid’ah dan akan masuk neraka. Sekarang saya bertanya, Sayidina Umar bin al- Khaththab memulai tradisi shalat tarawih 20 raka’at dengan berjamaah, Sayidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali, sahabat-sahabat yang lain juga banyak yang membuat susunan-susunan dzikir yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sekarang saya bertanya, beranikah Anda mengatakan bahwa Sayidina Umar, Sayidina Utsman dan sahabat lainnya termasuk ahli bid’ah dan akan masuk neraka?” Mendengar pertanyaan saya, Yazid Jawas hanya terdiam seribu bahasa, tidak bisa memberikan jawaban. Setelah acara dialog selesai, saya menghampiri Yazid Jawas, dan saya katakan kepadanya, “Bagaimana kalau Anda kami ajak dialog dan debat secara terbuka dengan ulama kami. Apakah Anda siap?” “Saya tidak siap.” Demikian jawab Yazid Jawas seperti diceritakan oleh Ali Rahmat kepada saya.

Sumber : Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi karya Ustadz Muhammad Idrus Ramli

Segera miliki Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi karya Ustadz Muhammad Idrus Ramli ini, insyaallah sangat bermanfaat untuk menahan dari serangan serangan ajaran bid’ah wahhabi ini.

Bagi yang ingin mendownload buku ini silahkan klik link ini :

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi

Semoga bermanfaat.

2 COMMENTS

  1. debat dengan kaum yang suka beribadah dikuburan….buang waktu dan energi. untuk yang sederhana saja mereka gak mau melakukan (contoh:berjenggot) katanya “nanti dikira wahhabi!” PADAHAL ROSUL DIA DAN ROSUL SEMUA UMAT MEMERINTAHKAN BERJENGGOT!!! coba lihat kyai dan santri mereka…sepertinya alergi untuk memanjangkan jenggot…na’udzubillahi min dzalika!

Comments are closed.