KISAH TRAGIS: Ustadz Firanda Jadi Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri

6
13,325 views

firanda musyrik
Hati-hati menimba ilmu dari Ulama Najd

SAMBUNGAN KISAH NYATA: Ustadz Firanda Menjadi Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri

( BAGIAN TERAKHIR: Efek  Menuntut Ilmu kepada Ulama Najd )

Dalam postingan ini yang merupakan sambungan dari postingan terdahulu di sini, semakin memperjelas siapa sebenarnya ustadz Firanda. Sungguh payah pemahamannya tentang ajaran Islam, payah dalam arti yang sebenarnya. Pesan kami, hati-hatilah mengikuti pemahamannya, jangan sampai anda pun ikut-ikutan terjerat dalam pemahaman yang batil yang disebarkannya di muka bumi ini.

Tulisan yang diblock quote adalah dari Ustadz Firanda, sedangkan yang tanpa block quote adalah komentar atau jawaban H. Ahmad Syahid. Selamat mennyimak semoga bermanfaat bagi kita semua untuk memperoleh pemahaman yang benar tentang dienul Islam yang sesuai Al Qur’an dan Hadits menurut penjelasan yang diajarkan para Ulama  Ahlussunnah Wal Jamaah.

Sambungan dari Postingan: “Ustadz Firanda Bisa Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri

Ustadz Firanda melanjutkan :

Lantas bagaimana ustadz abu Salafy menyatakan bahwasanya jika seseorang berdoa kepada selain Allah, kepada Nabi atau kepada wali maka itu bukanlah kesyirikan selama tidak disertai keyakinan bahwasanya wali atau nabi tersebut ikut mencipta dan mengatur alam semesta serta memberi rizki??!!

Perkataan seseorang “Wahai Rasulullah, sembuhkanlah aku!!!” ini bukanlah kesyirikan??, perkataan seseorang, “Wahai Abdul Qodir Jailani, tolonglah aku…!!”, ini juga bukan kesyirikan??!!, iya bukan kesyirikan, selama tidak meyakini Nabi dan Abdul Qodir Jailani ikut mencipta dan mengatur alam semesta..!!!!, demikianlah keyakinan Abu Salafy.

Dan saya harap para pembaca memperhatikan ayat-ayat dan hadits di atas yang bersifat umum tentang doa. Allah dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak pernah mengecualikan bahwasanya jika berdoa kepada makhluk dengan keyakinan bahwasanya makhluk tersebut (baik malaikat atau nabi atau wali) tidak ikut mencipta, mengatur, dan memberi rizki secara independent maka bukan kesyirikan.

Lebih aneh lagi Abu Salafy tidak menganggap istighotsah sebagai ibadah. Abu Salafy berkata ((Sebab inti masalahnya sebenarnya terletak pada pemahaman menyimpang Ibnu Taimyah dan para mukallidnya seperti Ibnu Abdil Wahhâb dan kaum Wahhâbi mukallidnya dalam mendefinisikan makna ibadah…di mana mereka memasukkan meminta syafa’at, beristighatsah, bertawassul dll. misalnya sebagai bentuk kemusyrikan… sementara para mufassir klasik yang selama ini dirujuk kaum Wahhâbiyyûn dan Salafiyyûn sama sekali tidak memasukkannya dalam daftar kemusyrikan!)) (lihat http://abusalafy.wordpress.com/2011/01/08/benarkan-kaum-musyik-arab-beriman-kepada-tauhid-rububiyyah-allah-bantahan-untuk-ustad-firanda-i/).

Jawaban Ahmad Syahid:

Di point ini saya tidak berkomentar banyak, saya serahkan kepada pembaca Budiman untuk menilai siapakah yang benar dan siapakah yang salah. Siapakah yang lebih berhak menjadi Ustadz…? Apakah Abu salafy yang kokoh argumentasinya atau Firanda yang telah menjerat dirinya sendiri dengan argumentasinya dalam kubangan kemusyrikan?


Ustadz firanda melanjutkan :

Sungguh kedustaan yang dinyatakan oleh Abu Salafy, justru para ahli tafsir telah menjelaskan hal tersebut merupakan kesyirikan. Kita malah balik bertanya ulama ahli tafsir mana yang menyatakan bahwa beristigotsah dan berdoa kepada selain Allah –selama tidak syirik dalam rububiyah- bukanlah kesyirikan??!!

Karenanya jika kita bertanya kepada orang-orang yang beristigotsah kepada para wali dengan berdoa kepada wali tatkala dalam keadaan genting, “Apakah jika kalian beristigotsah dan berdoa kepada Allah tatkala dalam keadaan genting maka bukankah hal itu merupakan ibadah?”, tentunya mereka akan menjawab : iya. Tidak ada seorang muslimpun yang mengingkari hal ini bahwa seseorang yang dalam keadaan terdesak lantas berdoa kepada Allah maka berarti ia beribadah kepada Allah !!! Ini semakin menegaskan bahwasanya berdoa dan beristigotsah merupakan ibadah. Lantas bagaimana Abu Salafy tidak menganggap istighotsah sebagai ibadah??!!

Jawab:

Justru kita yang bertanya kepada ustadz Firanda, Ulama Tafsir manakah yang menyatakan bahwa beristighostah dan berdoa kepada selain Allah Adalah kesyirikan? Saya mohon ustadz Firanda menyampaikannya di sini satu saja ( jika Istighotsah dan tawassul menurut ahli tafsir adalah syirik ) jika memang ada. Jika tidak ada, sungguh ustadz Firanda telah berdusta atas nama Ulama Tafsir, untuk mendukung kekeliruannya yang fatal hingga dirinya pun menjadi musyrik ( karena pemahamannya sendiri ).

Ustadz firanda melanjutkan :

Tentang majaz ‘aqliy

Untuk semakin memperkuat igauannya maka ustadz Abu Salafy berdalil dengan majaz aqli, ia berkata ((misalnya ketika ia menyeru, ‘Ya Rasulullah sembuhkan aku’ sebenarnya ia sedang meminta agar Rasulullha saw. sudi menjadi perantara kesembuhan dengan memohonkannya dari Allah SWT. kendati ia meyakini bahwa kesembuhan itu dari Allah, akan tetapi karena ia dengan perantaraan do’a dan syafa’at Rasulullah, maka ia menisbatkannya kepada sebab terdekat. Penyusunan kalimat dengan bentuk seperti itu banyak kita jumpai dalam Al Qur’an, Sunnah dan pembicaraan orang-orang Arab. Mereka menamainya dengan Majâzz ‘Aqli, yaitu “menyandarkan sebuah pekerjaan tertentu kepada selain pelakunya, baik karena ia sebagai penyebab atau selainnya, dikarenakan adanya qirînah/alasan yang membenarkan”.))

Maka sanggahan terhadap perkataannya ini dari beberapa sisi, diantaranya :

Pertama : Pendalilan dengan majaz ‘aqli untuk membenarkan kesyirikan atau mentakwil kesyirikan tidak pernah disebutkan oleh seorang ulama pun dari kalangan mutaqoddimin sepanjang pengetahuan saya. Semua ulama menghukumi syiriknya seseorang dengan dzohir lafal kesyirikan yang terucap. Pentakwilan dengan majaz ‘aqli ini adalah bid’ah yang dicetuskan oleh Ali bin Abdil Kaafi As-Subki (wafat 746 H) dalam kitabnya Syifaa As-Siqoom fi ziyaaroh khoir Al-Anaam (hal 174), kemudian ditaqlid buta oleh Ahmad bin Zaini Dahlaan (wafat 1304 H) dalam kitabnya “Ad-Duror As-Saniyah fi Ar-Rod ‘alaa Al-Wahaabiyah” dan Muhammad Alawi Al-Maaliki dalam kitabnya “Mafaahiim yajibu an tushohhah”. Dan sekarang diwarisi oleh muqollid mereka Abu Salafy.

Jawab :

Tentang majaz ‘aqli , majaz ‘aqli bukanlah dalil bukan pula hujjah , majaz ‘aqli digunakan untuk menjelaskan sebuah perkara atau persoalan kepada orang-orang ngeyel seperti ustadz firanda ini. Dia mengeneralisir jika semua do’a adalah Ibadah. Dia tidak mau menjelaskan kata Do’a dalam al-qur`an mempunyai banyak arti, rupanya dia sengaja sembunyikan jika al-Qur`an membawa 6 atau 7 maksud dan arti dalam satu kata ” Do’a”. Karena kengeyelan dan penyembunyian fakta dalam Al-qur`an inilah, akhirnya dia pun terjerat dalam perangkap yang dia buat sendiri. Secara tidak sadar dia telah menjadikan dirinya Musyrik karena tentunya dia juga TAAT, TUNDUK dan MERENDAH dihadapan Makhluq yaitu kedua orang tuanya.

Di point ini pun kelihatan sekali akhlak buruk Ustadz Firanda dalam menyebut dan menyikapi perbedaan pendapat dari Imam-imam besar. Imam As-Subki seorang Muhaddits, Sayyid Ahmad Zaini dahlan adalah mufti makkah pada zamannya dan Ulama besar di zamannya Sayyid Al-maliki .

Ustadz firanda melanjutkan :

Kedua : Hal ini melazimkan bahwa tidak seorang pun yang kafir dengan lisannya, karena setiap seseorang mengucapkan kesyirikan atau bahkan kekufuran maka harus dibawakan kepada makna yang benar dengan qorinah (indikasi) keislaman pengucapnya.

Yang lebih parah lagi Abu Salafy tidak hanya menerapkan majaz ‘aqli pada perkataan syirik seperti doa “Yaa Rasuulallah sembuhkanlah aku”, bahkan ia juga menerapkan majaz ‘aqliy pada perbuatan syirik, seperti menyembelih kepada wali.

Jika perkaranya demikian maka percuma bab-bab tentang kemurtadan yang ditulis oleh para ulama, tidak ada faedahnya, karena jika ada seseorang yang mengucapkan kekufuran atau kesyirikan maka harus di takwil pada makna yang tidak syirik karena pelakunya ber KTP islam, padahal para ulama telah sepakat bahwasanya seseorang tidak boleh mengucapkan perkataan kufur kecuali jika dipaksa.

Jawab :

1. Bagi Ahlu Sunnah Wal-jama`ah (asy`ariyah/maturidiyah pemeluk madzhab 4 ) sangatlah sulit menghukumi sesorang dengan hukum Kafir. Apalagi jika perkataan kufur keluar dari lisannya seorang Muslim karena Qorinah yang kuat adalah keislamannya. Ada tatacara dan proses yang panjang untuk menghukumi sesorang dengan Hukum Kafir, sebab jika tidak terbukti maka hukum kafir itu akan kembali dan mengenai yang menghukumnya.  Saya harap Ustadz Firanda tidak gampangan dalam menghukumi seseorang dengan kata Kafir .

2. Begitu juga dengan menyembelih, saya harap ustadz Firanda tidak serampangan dengan menghukumi palakunya dengan hukum syirik. Sebab al-Qur`an pun pernah bercerita tentang Nabi Ibrohim yang menyembelih anak sapi untuk para tamunya. Apakah di mata ustadz Firanda, Nabi Ibrohim pun telah Musyrik karena menyembelih untuk tamunya? Jika ya, maka keterlaluan sekali ustadz Firanda ini. Sebab dalam kisah itu Allah pun tidak menghukumi syirik kepada Nabi Ibrohim. Begitu juga Rosulallah SAW tidak mengatakan bahwa perbuatan Nabi Ibrohim adalah perbuatan Syirik.

3. Mungkin bab-bab fiqh tentang kemurtadan yang ditulis oleh para Ulama Islam adalah percuma dan tidak ada Faidahnya bagi ustadz firanda? Karena ustadz Firanda tidak bisa melampiaskan Hasyratnya untuk mengkafirkan dan memusyrikkkan orang lain. Karena memang bab-bab tentang Riddah dan takfir ditulis oleh para ulama bukan untuk mengkafirkan dan memusyrikkan orang lain. Dan sangat berbahaya jika digunakan oleh orang-orang semisal ustadz Firanda yang kacamatanya kotor dan pisau analisanya tumpul dalam memahami Qur`an, Hadist dan perkataan para ulama. Terbukti jika dirinya pun terjerat oleh perangkap kesyirikan yang dibuatnya sendiri.

Ustadz firanda melanjutkan :

Ketiga : Hal ini melazimkan bahwasanya kaum musyrikin yang menyembah berhala orang sholeh atau menyembah malaikat juga tidak bisa dihukumi sebagai kaum musyrikin. Karena mereka mengakui dalam banyak ayat bahwasanya Allahlah satu-satunya pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta. Pengakuan mereka terhadap rububiyah Allah ini merupakan qorinah bahwasanya permintaan mereka kepada berhala orang sholeh hanyalah majaz ‘aqliy.

Jawab :

Perkataan ustadz Firanda ini berawal dari pemahamannya yang salah terhadap kata kunci ” penyebab kemusyrikan kafir Quresy ”. Dia menetapkan jika yang menyebabkan kafir Quresy Musyrik adalah karena mereka mengambil perantara dalam berdo’a. Padahal yang benar adalah: karena Kafir Quresy menyembah selain Allah yaitu laata Uzza dan manath serta sesembahan lainnya. Karena mereka menyembah selain Allah inilah, Kafir Quresy menjadi Musyrik. Dan rupanya Ustadz Firanda pun tidak faham apa itu majaz ‘aqly sehingga keliru dalam menerapkannya.

Ustadz firanda melanjutkan :

Keempat : Dalih majaz ‘aqliy ini melazimkan bolehnya para penyembah kubur untuk menyerahkan sebagian ibadah kepada para wali dengan alasan mereka hanya menjadikan para wali penghuni kuburan tersebut sebagai sebab, dan yang mengabulkan hanyalah Allah.

Jawab :

Rupanya ustadz Firanda belum faham jika sumber hukum dalam Islam adalah Qur`an, hadist ijma’ dan Qiyas. Abu salafi, Imam As-subki , Mufti makkah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan Sayyid Al Maliki serta ulama-ulama besar lainnya tidak pernah menjadikan Majaz ‘aqly sebagai dalil. Majaz ‘aqli hanya dipakai untuk menjelaskan kepada orang – orang ngeyel seperti ustadz Firanda ini agar sadar bahwa dirinya telah keliru. Kalau ngeyel terus akhirnya ustadz firanda pun tidak selamat dari perangkap yang dibuatnya sendiri, karena dia telah TAAT , TUNDUK dan MERENDAH-kan diri di hadapan kedua orang tuanya.

Ustadz firanda melanjutkan :

Kelima : Hal ini melazimkan tidak boleh ada pengingkaran sama sekali terhadap kesyirikan yang terjadi ditengah kaum muslimin yang memiliki KTP muslim, karena KTP nya merupakan qorinah bahwasanya perkataan dan perbuatan syiriknya adalah bukan kesyirikan.

Jawab :

Pengingkaran terhadap kemungkaran haruslah tetap ditegakkan di mana pun itu terjadi. Seperti pengingkaran dan menunjukkan kekeliruan sekaligus meluruskan pemahaman keliru Ustadz Firanda agar sadar dan tidak terus menerus dalam kemungkaran. Sebab faham keliru ustadz Firanda ini bila dibiarkan akan menyebabkan kehancuran besar bagi aqidah Ummat Islam, termasuk Ustadz Franda dan orang tuanya. Karena saya yakin orang tua Ustadz Firanda adalah orang sholeh yang TAAT, TUNDUK dan MERENDAH di hadapan kedua orang nenek dan kakek ustadz Firanda.

Ustadz firanda melanjutkan :

Keenam: Bahkan berdasarkan pemahaman Abu Salafy memang tidak ada kesyirikan sama sekali di umat ini, karena tidak ada diantara mereka yang meyakini bahwa ada dzat lain yang ikut mencipta, mengatur alam semesta, dan memberi rizki secara independent.

Jawab :

Selama Ummat Islam tidak ada yang meyakini bahwa ada dzat lain yang ikut mencipta, mengatur alam semesta, dan memberi rizki secara independent, selama itu pulalah tidak ada kemusyrikan. Lalu kenapa sih ustadz Firanda begitu menggebu-gebu agar ada ummat Islam menjadi Musyrik? Ya akhi, gunakanlah ilmumu untuk membawa Ummat menuju Ridlo Allah, janganlah pergunakan ilmumu untuk mengkafirkan dan menginginkan kemusyrikan terjadi dalam ummat Islam.

Ustadz firanda melanjutkan :

Ketujuh : Majaaz ‘aqliy secara umum adalah menyandarkan fi’il (perbuatan) bukan kepada pelakunya yang hakiki akan tetapi kepada salah satu dari dua perkara:

– Penyandaran fi’il kepada waktu atau tempat terjadinya fi’il. Penyandaran perbuatan kepada waktu seperti misalnya perkataan “Musim semi telah menumbuhkan tanaman” (maksudnya : Allah menumbuhkan tanaman di waktu musim semi). Penyandaran perbuatan kepada tempat misalnya perkataan “Jalan kota Jakarta ramai” (maksudnya : “Orang-orang ramai di jalan kota Jakarta”, karena keramaian dilakukan oleh orang-orang para pengguna jalan dan bukan dilakukan oleh jalan)

– Penyadaran fi’il (perbuatan) kepada sebab terjadinya fi’il. Contohnya perkataan “Gubernur membangun gedung yang tinggi” (maksudnya : Gubernur sebab dibangunnya gedung yang tinggi yaitu dengan memerintahkan para pekerja” (lihat Al-Balaagoh Al-Waadhihah karya Ali Al-Jaarim dan Mushthofa Amiin, hal 115-117)

Maksud dari ustadz abu salafy dengan pendalilan majaz ‘aqliy di sini adalah menyandarkan fi’il kepada sebab terjadinya fi’il, bukan kepada waktu atau tempat terjadinya fi’il. Karenanya ustadz Abu Salafy menjelaskan bahwasanya perkataan seseorang “Wahai Rasululullah sembuhkanlah aku” atau “Wahai wali fulan selamatkanlah aku, angkatlah musibahku” maksudnya adalah, “Yaa Allah sembuhkanlah aku, yaa Allah angkatlah musibahku”. Sebagaimana taktala kita berkata “Musim semi menumbuhkan tanaman” maksudnya “Allah menumbuhkan tanaman tatkala musim semi”

Oleh karenanya agar bisa tepat penerapan majaz aqliy di sini maka seorang yang beristighotsah kepada wali tatkala dalam kondisi genting maka dia harus meyakini bahwa wali tersebut merupakan sebab yang pasti untuk datangnya pertolongan Allah, maka ia harus memiliki tiga keyakinan:

– Wali yang sudah mati ini bisa mendengar seruannya tatkala ia dalam keadaan genting dimanapun ia berada

– Meyakini bahwa sang wali yang sudah mati ini mengetahui kondisi musibah yang sedang ia alami, karena jika sang wali tidak pasti tahu maka berarti sang wali bukanlah sebab.

– Meyakini bahwasanya wali ini pasti memberi syafaat baginya di sisi Allah. Karena kalau tidak pasti maka berarti wali ini bukanlah sebab

Dan ketiga keyakinan ini 1)bahwa wali mendengar secara mutlaq, dan 2)sang wali memiliki ilmu yang mutlaq sehingga mengetahui musibah yang sedang dialaminya, dan 3)syafaat mutlaq (bahwasanya sang wali pasti memberi syafaat kepadanya) tidak diragukan lagi merupakan kesyirikan.

Jawab :

Lagi-lagi ustadz Firanda keliru dan salah faham, karena 3 syarat yang disebutkan oleh ustad Firanda adalah murni Aqidah Ustadz firanda kenapa dinisbatkan kepada Abu Salafy? Kenapa kacamata milik ustadz Firanda dipakaikan kepada Abu salafy…? Gak cocok dong kacamata kotor di pakaikan ke orang lain…, entar orang lainnya marah gemana? Lagian kalo Abu Salafy enggak min dipakein kaca mata ustadz Firanda yang min bisa pusing tuh Abu Salafy.

Ustadz firanda melanjutkan ;

Kedelapan : Hukum asal dalam memahami sebuah perkataan adalah dibawa ke makna hakiki bukan ke makna majaz. Oleh karenanya para ulama balaghoh juga tidak membolehkan majaz ‘aqli secara mutlaq digunakan, oleh karenanya mereka hanya menyebutkan sedikit contoh berupa syair-syair atau perkataan-perkataan yang beredar di masyarakat.

Jika kita mendengar sebuah perkataan “Musim semi menumbuhkan tanaman” maka –secara akal- kita akan paham bahwa maksud dari pengucap kata ini adalah “Allah menumbuhkan tanaman tatkala musim semi”. Maka saya ingin bertanya secara jujur kepada abu salafy apakah tatkala seseorang berkata “Yaa Husain angkatlah musibah kami, wahai Husain sembuhkanlah aku, wahai Rasulullah sembuhkanlah aku” maksudnya adalah “Wahai Allah sembuhkanlah aku”??!!!, apakah Abu salafy memahami demikian??!!. Jangan-jangan yang mengucapkan “Abdul Qodir Jailani selamatkanlah aku” ia sendiri tidak paham apa itu majaz ”aqliy??!!.

Jawab :

Sekali lagi diingatkan jika majaz ‘aqli bukanlah Dalil.  Majaz  ‘aqli hanya digunakan untuk memberi penjelasan khususnya bagi orang-orang ngeyel yang mereasa dirinya faham padahal enggak faham. Merasa dirinya benar padahal enggak benar ya kayak ustadz firanda ini. Dia aja kejerat sendiri oleh pemahaman dan kaidah yang dia buat sendiri bahwa do’a` adalah hanya berarti Ibadah dan Ibadah adalah ketaatan , ketundukan dan kerendahan.  Sementara kata ” Do’a`” tidak hanya bermaknai Ibadah, doa` juga berarti : meminta, memanggil, dst….

Lalu ustadz Firanda mengenelarisir jika doa` semuanya bermakna Ibadah. Inilah pangkal kekeliruan fatal Ustadz Firanda, karena ketika dia meminta kepada orang tua atau Istri dan anaknya berarti dia telah berdoa` (meminta) , dan menurut dia semua doa` adalah Ibadah berarti ustadz Firanda sedang memalingkan doa` (Ibadah ) kepada selain Allah. Karena ustadz Firanda memalingkan Ibadah (doa“) kepada selain Allah yaitu orang tua anak dan Istrinya maka Ustadz firanda telah menjadi Musyrik. Makanya ustadz , Formulasikan ( definisikan ) dengan baik apa itu Ibadah, dan sampaikan kepada Ummat jika tidak semua do’a bermakna Ibadah. Sampaikanlah sesuai Qur’an dan Sunnah apa adanya, jangan ditutup-tutupi hanya karena ingin mengkafirkan dan menghukumi Musyrik kepada Ummat Islam .

Ustadz firanda melanjutkan :

Kesembilan : Apakah orang yang dalam keadaan genting kemudian mengucapkan “Wahai Abdul Qodir Jailani selamatkanlah aku” tatkala itu ketundukannya dan rasa pengharapannya sedang ia tujukan kemana??, kepada Allah semata??, ataukah juga kepada Abdul Qoodir jailaani??, bukankah inilah hakekat kesyirikan???

Bukankah Allah-lah yang menghilangkan kesulitan??

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (QS An-Naml : 62)

Jawab :

Semua Ummat Islam berkeyakinan jika pada hakekatnya hanya Allah lah yang menghilangkan kesusahan dan kesulitan sekecil apapun kesulitan itu ( apalagi yang besar). Semua Ummat Islam berkeyakinan pada hakekatnya hanya Allah yang menyembuhkan penyakit, dokter hanyalah sebab dan obat pun hanya sebatas sebab tidak lebih. Begitu juga dengan para Nabi dan para Wali yang di-istighostahi ( dimintai tolong ) hanyalah sebab tidak lebih, karena pada hakekatnya hanya Allah yang menhilangkan kesusahan dan kesulitan.

Adapun ayat 62 dari surat an-Naml ini, merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya di mana kaum Musyrikun telah menyembah selain Allah. Di sinilah Allah mengingatkan kepada mereka agar tidak menyembah bersama Allah sesembahan yang lainnya. Dan pada ayat – ayat selanjutnya orang-orang kafir itu mengingkari hari kebangkitan (yaumul ba’st) yang merupakan kekhususan ketuhanan Allah. Ayat ini membantah hipotesa ustadz Firanda cs, bahwa kaum Musyrikun itu bertauhid Rububiyah, ternyata ayat ini justru membantah kesimpulan ustadz Firanda diatas.

Ustadz firanda melanjutkan : .

Kesepuluh : Taruhlah bahwasanya maksud seseorang tatkala berucap “Wahai Abdul Qodir Jailaani, tolonglah aku” maksudnya adalah berdoa kepada Abdul Qodir jailani agar memberi syafaat baginya di sisi Allah, agar Allah menolongnya. Bukankah inilah hakekat kesyirikan kaum musyrikin Arab?? (sebagaimana telah saya jelaskan di http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab).

Jawab :

Akibat dari kekliruan awal dalam mendefinisikan kata ” Ibadah ”, juga tindakannya menyembunyikan makna do’a` yang sebenarnya dan ditambah kekeliruan dalam mengidentifikasi penyebab kemusyrikan Kafir Quresy, akhirnya kesimpulan ustadz Firanda lagi-lagi salah dan keliru.
Karena hakekat kemusyrikan kafir Quresy adalah karena menyembah selain Allah, sementara Kaum muslimin yang bertawassul tidak ada yang menyembah sayidina Abdul Qodir dan wali-wali lainnya. Kaum muslimin hanya menjadikan mereka ( para wali) sebagai perantara dan sebab terkabulnya doa. Sebagaimana orang sakit yang datang ke rumah sakit dan meminta kepada dokter untuk mengobati , rumah sakit , dokter dan obat hanyalah perantara dan sebab sembuhnya penyakit , tidak lebih dari itu.

Jika mengambil perantara dan sebab, adalah penyebab kemusyrikan kafir Quresy , maka yakinlah tidak ada kaum muslim di dunia ini, semuanya adalah kaum Musyrik (termasuk ustadz firanda ). Karena semua orang pernah sakit dan kebiasaan orang sakit akan pergi mencari wasilah ( perantara ) dan mencari sebab dengan mendatangi dokter , rumah sakit dan minum obat. Hanya orang – orang sadis dan tidak mengerti agama Islam, jika mengambil perantara dan mencari penyebab dikatakan sebagai Musyrik.

Ustadz firanda melanjutkan :

Kesebelas : Bukankah Rasulullah juga melarang lafal-lafal yang mengandung kesyirikan meskipun pengucapnya tidak berkeyakinan kesyirikan??

Renungkanlah hadits-hadits berikut ini

أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَتَقُولُونَ وَالْكَعْبَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَيَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شِئْتَ

“Ada seorang yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya kalian berbuat kesyirikan, kalian berkata : “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”, dan kalian berkata : “Demi Ka’bah”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka jika mereka hendak bersumpah hendaknya mereka berkata “Demi Robnya ka’bah”, dan mereka berkata : “Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu” (HR An-Nasaai no 3782)

Dalam hadits ini orang yahudi saja mengerti bahwasanya bersumpah atas nama selain Allah adalah kesyirikan dan mengucapkan “Atas kehendakmu dan kehendak Allah” adalah kesyirikan. Dan hal ini diiqror (diakui) oleh Nabi dan Nabi tidak membiarkan para sahabat untuk tetap mengucapkan perkataan-perkataan tersebut karena majaz ‘aqliy, tentunya para sahabat tidak meyakini ada pencipta selain Allah.

Kesyirikan lafal-lafal tersebut diperkuat dan dipertegas oleh Nabi.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا شَاءَ اللهُ، وَشِئْتَ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَجَعَلْتَنِي وَاللهَ عَدْلًا بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ ”

Dari Ibnu Abbaas radhiallahu ‘anhumaa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah engkau menjadikan aku tandingan bagi Allah”, akan tetapi “Atas kehendak Allah saja” (HR Ahmad 3/339 no 1839, Ibnu Maajah no 2117)

Nabi juga bersabda :

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka telah berbuat kesyirikan” (HR Ahmad 9/275 no 5375 dan Abu Dawud no 3253).

Jawab :

Dalam dua hadits di atas (seorang yahudi, dan seseorang dalam riwayat Ibnu Abbas ) jelas sekali jika Nabi SAW  tidak menghukumi sahabat yang bersumpah dengan selain Allah sebagai Musyrik. Dan sesorang dalam riwayat Ibnu Abbas pun tidak dihukumi dengan Syirik.  Nabi hanya melarang penggunaan kata seperti itu, sementara ustadz Firanda dengan mudahnya menghukumi syirik. Siapakah yang lebih memahami Tauhid dan Syirik, apakah ustadz Firanda lebih  paham dibanding Rasulullah Saw?

Adapun hadits yang ketiga adalah larangan sumpah dengan selain Allah tidak ada kaitannya dengan Tawassul dan Istighotsah. Bagi yang ingin tahu masalah sumpah dengan nama selain nama Allah silahkan merujuk kepada kitab fiqh 4 madzhab,  karena masalah sumpah adalah masalah fiqh, bukan masalah aqidah. Begitulah Ustadz firanda salah menempatkannya ke persoalan aqidah.

Ustadz firanda melanjutkan :

Kedua belas : Tidak diragukan lagi bahwasanya para sahabat dan juga para tabi’in banyak mengalami kondisi-kondisi yang genting, akan tetapi tidak seorangpun dari mereka yang kemudian beristigotsah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jawab:

Untuk mencapai tujuannya ustadz Firanda tidak segan – segan berbohong dan menyembunyikan fakta. Rupanya ustadz Firanda sudah tidak punya malu. Hadist a’ma, Hadist Ustman bin Hunaif , Hadist Bilal ibn harist al-muzani dan hadist-hadist lainnya, hanya dianggap sampah sejarah. Semua Ulama Madzhab 4 melakukan Tawassul dan Istighotsah sejak zaman Sahabat hingga abad 7 hijriyah tidak ada yang mengingkarinya, baru pada awal abad 8 hijriyah muncul syeikh Ibnu taimiyah yang mengharamkan tawassul dan istighotsah dengan yang telah meninggal. Muncullah istilah Istighotsah dan Tawassul syar’i dan Bid’i yang tidak pernah diajarkan oleh Rosulallah SAW.

Lalu munculah 3 syarat tawassul yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulallah SAW dan para sahabatnya. Tiga syarat bathil 1. yang ditawassuli harus masih hidup , 2. yang ditawassuli Hadir / ada dihadapan yang ber tawassul 3. yang ditawassuli mampu memenuhi permohonan yang bertawassul. Ke-3 syarat bathil inilah justru yang akan membawa kepada kemusyrikan, penjelasannya membutuhkan artikel tersendiri.

Ustadz firanda melanjutkan :

Peringatan :

Telah jelas Abu Salafy menyatakan bahwasanya barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah, meminta kepada wali yang sudah mati tidak akan terjerumus dalam kesyirikan selama tidak meyakini bahwa wali tersebut tidak ikut mencipta, mengatur alam semesta, dan ikut memberi rizki.

Abu salafy berkata ((Syirik adalah sudah jelas, ia menyekutukan Allah SWT. dalam:

A) Dzat, dengan meyakini ada tuhan slain Allah SWT.

B) Khaliqiya, dengan meyakini bahwa ada pencipta dan ada pelaku yang berbuat secara independen di alam wujud ini selain Allah SWT.

C) Rububiyah, dengan mayakini bahwa ada kekuatan selain Allah SWT yang mengatur alam semesta ini secara independen. Adapun keterlibatan selain Allah, seperti para malaikat, misalnya yang mengaturan alam adalah dibawah kendali Allah dan atas perintah dan restu-Nya….

F) Ibadah dan penyembahan, dengan menyembah dan bersujud kepada arca dan sesembahan lain selain Allah SWT, meminta darinya sesuatu dengan kayakinan bahwa ia mampu mendatangkannya secara independen dan dengan tanpa bantuan dan izin Allah SWT.

Batasan-batasan syirik, khususnya syirik dalaam ibadah dan penyembahan adalah sudah jelas dalam Al Qur’an dan Sunnah. Dari ayat-ayat Al Qur’an yang mengisahkan kaum Musyrikin dapat dimengerti bahwa kendati kaum Musyrikin itu meyakini bahwa Allah lah yang mencipta langit dan bumi, pemberi rizki dan pengatur alam, akan tetapi tidak ada petunjuk bahwa mereka tidak meyakini bahwa sesembahan mereka itu; baik dari kalangan Malaikat maupun Jin memiliki pengaruh di dalam pengaturan alam semesta ini! Dengan pengaruh di luar izin dan kontrol Allah SWT. Mereka meyakini bahwa sesembahan mereka mampu menyembuhkan orang sakit, menolong dari musuh, menyingkap bencana dan kesusahan dll tanpa izin dan restu Allah!)) (http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/31/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-23/))))

Coba para pembaca memperhatikan kembali perkataan Abu Salafy di atas, ia sangat menekankan kalimat “Independen”, artinya yang namanya kesyirikan adalah jika seorang yang berdoa kepada selain Allah tersebut meyakini bahwa dzat yang ditujukan kepadanya doa tersebut berhak mengatur alam semesta secara independen dan tanpa idzin Allah. Sekarang yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika seorang yang berdoa kepada Abdul Qodir Jailani meyakini bahwa Abdul Qodir Jailani juga ikut mengatur alam semesta namun dengan izin Allah, apakah ini bukan kesyirikan??!!. Dzohir dari perkataan Abu Salafy di atas ini bukanlah kesyirikan. Karena aqidah seperti ini menimpa sebagian kaum sufiyah, yang meyakini bahwasanya para wali ikut mengatur alam semesta dengan izin Allah.

Jawab:

Telah jelas jika ustadz Firanda telah keliru dalam mendefinisikan kata ” Ibadah ” , keliru dalam mengartikan ” Do’a` “, dan keliru dalam mengidentifikasi penyebab kemusyrikan Kafir Quresy. Sehingga akhirnya menyebabkan dirinyapun terjerat dalam perangkap yang telah dibuatnya sendiri.

Jika Ibadah didefinisikan sebagai ketaatan, ketundukan dan kerendahan tidak akan ada seorang muslim pun di muka bumi ini (termasuk ustadz firanda) yang tidak musyrik, semuanya menjadi musyrik.

Jika Do’a hanya diartikan sebagai ibadah, tidak ada seorang arab pun yang muslim yang tidak menjadi musyrik ( termasuk guru-guru ustadz Firanda di madinah). Ingatlah ustadz,  jika orang arab mengatakan: “Abuka yad`uuka artinya bapakmu memanggilmu. Yad`uu berasal dari kata yang sama dengan kata do’a. Tapi kenapa begitu jelas Ustadz Firanda hanya mengartikan do’a dengan Ibadah, berarti menurut kacamata ustadz Firanda sang Bapa telah musyrik karena telah berdoa` kepada anaknya.

Dan Jika penyebab kemusyrikan Kafir Quresy adalah karena semata-mata mengambil perantara dan sebab, maka tidak akan ada orang yang bertauhid ( termsuk ustadz Firanda dan guru-gurunya). Siapakah yang tidak pernah mengambil perantara dan sebab, di dunia ini wahai ustadz Firanda…?

Firanda melanjutkan :
Padahal inilah hakekat kesyirikan dalam rububiyyah, bahkan lebih parah dari kesyirikan kaum muysrikin Arab. Kalau kaum muysrikin Arab hanya menjadikan sesembahan mereka (baik orang sholeh maupun para malaikat) hanya sebagai washitoh/perantara dan pemberi syafaat dalam memenuhi kebutuhan mereka dan mengabulkan doa mereka,

Jawab :

Sadarlah wahai ustadz Firanda, itu adalah identifikasi yang salah tentang penyebab kemusyrikan kafir Quresy.

Firanda melanjutkan :
maka keyakinan bahwa para wali telah mendapatkan izin dari Allah untuk mengatur alam semesta lebih parah. Karena posisi para wali tatkala itu bukan lagi sebagai perantara,

Jawab :

Jika Allah berkehendak tidak ada yang mustahiil. Bukankah Allah telah memberi malaikat untuk mengatur Hujan, mengatur rizqi dan mengatur selainnya? Tentu semua itu atas Idzin dari Allah atas Qodrat dan Irodah Allah. Para Nabi dan juga Wali tentu lebih mulia dari malaikat,  jika Allah memberi tidak ada yang mustahil, bukankah demikian ustadz Firanda?

Firanda melanjutkan :
akan tetapi berhak untuk mencipta dan mengatur alam semesta atas kehendak mereka karena telah diberi hak otonomi oleh Allah. Inilah kesyirikan yang nyata.
Yang sangat disayang sebagian orang yang menjadikan rujukan Abu Salafy ternyata juga mendukung pemikiran seperti ini.

Jawab :

Bukankah orang biasa pun bahkan orang kafir pun diberikan Hak oleh Allah untuk mencipta? Tidak pernahkah ustadz Firanda mendengar ada pencipta lagu, pencipta music, pencipta shoftware dan pencipta-pencipta lainnya? Apakah jika seorang muslim mencipta lagu menjadi Musyrik? Apakah jika seorang Muslim mencipta alat tempur menjadi Musyrik? Apakah jika seorang muslim mencipta alat yang belum pernah dicipta sebelumnya menjadi Musyrik? Tentu semuanya itu hanya bisa terjadi atas idzin, qudrat dan iradah Allah SWT semata. Tanpa Idzin dari Allah, tanpa qudrat dan iradah Allah ustadz Firanda pun tidak akan mampu membantah tulisan ini. Tanpa idzin dari Allah, tanpa Qudrot dan Irodat yang Allah beri mustahil hal itu bisa terjadi.

Ustadz firanda melanjutkan :
Lihatlah perkataan Muhammad Alwi Al-Maliki –salah seorang yang membenarkan kesyirikan dengan berdalih majaz ‘aqliy-, ia berkata di kitabnya mafaahiim yajibu an tushohhah :

فَالْمُتَصَرِّفُ فِي الْكَوْنِ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلاَ يَمْلِكُ أَحَدٌ شَيْئاً إِلاَّ إِذَا مَلَّكَهُ اللهُ ذَلِكَ وَأَذِنَ لَهُ فِي التَّصَرُّفِ فِيْهِ

“Maka yang mengatur di alam semeseta adalah Allah subhaanahu wa ta’aala, dan tidak seorangpun memiliki sesuatupun kecuali jika Allah menjadikannya memilikinya dan mengizinkannya untuk mengaturnya”

Ia juga berkata tentang kondisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafatnya Nabi :

فَإِنَّهُ حَيِّيُ الدَّارَيْنِ دَائِمُ الْعِنَايَةِ بِأُمَّتِهِ، مُتَصَرِّفٌ بِإِذْنِ اللهِ فِي شُؤُوْنِهَا خَبِيْرٌ بِأَحْوَالِهَا

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia dan akhirat, senantiasa memperhatikan umatnya, mengatur urusan umatnya dengan izin Allah dan mengetahui keadaan umatnya”

Jawab:

Kenapa ustadz Firanda heran dengan pernyataan seperti ini? Atau ustadz Firanda pura-pura heran? Coba lihat sohih Bukhori hadist yang diriwayatkan sayidina Anas Bin Malik ra berkata : “Lewat di hadapan mereka ( Nabi Saw dan para sahabat ) jenazah , lalu sahabat memuji jenazah yang lewat, lalu Rosul SAW berkata : “Telah wajib baginya…” , kemudian lewat lagi jenazah lainnya, lalu para sahabat tidak memujinya dengan kebaikan, maka Nabi pun kembali berkata: “Telah wajib baginya…”, maka berkatalah Sayiduna Umar ra: “Telah wajib apa baginya ya Rosulallah…….?” Nabi SAW menjawab: “Yang ini kalian telah memujinya dengan baik maka wajib baginya mendapatkan surga, dan yang ini kalian tidak memujinya dengan kebaikan maka telah wajib baginya neraka, kalian adalah saksi Allah dibumi.”

Lihatlah, bukankah dalam hadits tersebut surga dan neraka Nabi yang tentukan? Padahal hakekatnya Surga dan Neraka adalah Milik Allah? Hak prerogatif Allah untuk menentukan siapa masuk surga dan siapa masuk neraka sama sekali bukan milik dan hak Rasulullah, tapi karena Allah sudah memberikan idzin kepada Rasulullah sesuai qudrat dan iradah Allah maka tidak ada yang mustahil.
Kemudian ada Hadits ‘ardul a’mal bahwa amal perbuatan Ummatnya disodorkan kepada Nabi SAW hingga akhir zaman jika amal baik Nabi senang dan memuji Allah, jika amal jelek Nabi mamintakan ampun untuk umatnya. Begitu juga dengan Hadits dalam shahih bukhori dari sayidina Umar ra , berkata : bersabda Rosulallah SAW, “Siapa pun dari Ummat Islam yang disaksikan 4 orang saksi (atas jenazahnya) dengan kesaksian yang baik, akan Allah masukkan dalam Surga.” Kami (para Sahabat)berkata: 3 saksi saja ya Rosulallah. Nabi bersabda “ya 3″ ,  kami berkata lagi, 2 saja ya Rosul, Nabi bersabda : ya 2 saksi , dan kami ( para Sahabat) tidak meminta 1 (saksi). Dan masih banyak hadits-hadits lainnya, di mana dhohirnya sesuai dengan perkataan Sayyid al-maliki.

Ustadz firanda melanjutkan :
Seorang tokoh sufi besar yang bernama At-Tijaani memperkuat keyakinan ini. Berkata penulis kitab Jawaahirul Ma’aani fi Faydi Sayyidi Abil ‘Abaas At-Tiijaani (Ali Al-Faasi) :

“Adapun perkataan penanya : Apa makna perkataan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaani radhiallahu ‘anhu : “Dan perintahku dengan perintah Allah, jika aku berkata kun (jadi) makan (yakun) terjadilah” …dan juga perkataan sebagian mereka : “Wahai angin tenanglah terhadap mereka dengan izinku” dan perkataan-perkataan para pembesar yang lain radhiallahu ‘anhum yang semisal ini, maka berkata (At-Tijaani) radhiallahu ‘anhu : “Maknanya adalah Allah memberikan kepada mereka Khilaafah Al-’Udzma (kerajaan besar) dan Allah menjadikan mereka khalifah atas kerajaan Allah dengan penyerahan kekuasaan secara umum, agar mereka bisa melakukan di kerajaan Allah apa saja yang mereka kehendaki. Dan Allah memberikan mereka kuasa kalimat “kun”, kapan saja mereka berkata kepada sesuatu “kun” (jadilah) maka terjadilah tatkala itu” (Jawaahirul Ma’aani wa Buluug Al-Amaani 2/62)

Hal ini juga dikatakan oleh tojoh sufi zaman kita yang bernama Habib Ali Al-Jufri, ia berkata bahwasanya wali bisa menciptakan bayi di rahim seorang wanita tanpa seorang ayah dengan izin Allah (silahkan lihat http://www.youtube.com/watch?v=kDPMBJ7kvfI)

Jika ternyata keyakinan bahwasanya wali ikut mengatur alam semesta dan mengatur manusia ternyata diyakini oleh pembesar-pembesar sufi tentunya hal ini disebarkan juga di masyarakat, jika perkaranya demikian maka sangatlah mungkin jika orang-orang yang tatkala terkena musibah atau dalam kondisi genting kemudian berkata, “Wahai Rasulullah selamatkanlah aku”, atau “Wahai Abdul Qodir Jailaani sembuhkanlah aku” mereka mengucapkan ungkapan-ungkapan istigotsah ini dengan berkeyakinan bahwasanya Rasulullah dan Abdul Qodir Jailaani bisa langsung menolong mereka dengan idzin Allah. Sehingga tidak perlu adanya majaz ‘aqli..!!!

Jawab :

Yap, begitulah Sunnatullah. Itulah yang Allah kehendaki, sudah Allah taqdirkan dan Allah tetapkan, kenapa ustadz firanda terlihat kesal? Dan ujung-ujungnya Cuma begini? Gak ada kesimpulan yang jelas dari ustadz firanda, Al-hamdulillah.

( Cape ngomentarin ujungnya Cuma begini? )

Pembaca yang budiman, demikianlah perjalanan bersama Ustadz Firanda dan Ustadz Abu Salafy semoga ada manfaat dan ada faidahnya ….amien…..

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku lebih dahulu wafat daripada kalian, dan aku menjadi saksi atas kalian, dan aku demi Allah, sungguh aku melihat telagaku sekarang, dan aku diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi, demi Allah, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan berbuat syirik sepeninggalku, namun yang aku khawatirkan atas kalian adalah kalian berlomba-lomba mendapatkannya ( harta dan kekayaan ) ” (HR Bukhari 6102)

Kesimpulan :

1). Vonis syirk terhadap pelaku Tawassul dan Istighitsah ternyata Muncul dari:

1. Kekeliruan dalam meng-identifikasi ” penyebab kemusyrikan ” kafir Quresy.

2. Kekliruan dalam mendefinisikan kata ” Ibadah ”.

3. Kekeliruan dalam memaknai kata Do’a. Terbukti dengan kekeliruan ini ustadz Firanda pun menjadi Musyrik karenanya. Vonis yang keluar dari kekeliruan ini akan memunculkan mafsadah / kerusakan besar bagi ajaran Islam di muka bumi.

2). Tawassul dan istighitsah adalah masyru` baik dengan yang masih hidup maupun dengan yang sudah wafat, hukumnya jaiz alias boleh. Dan ini sudah dilakukan sejak ratusan abad yang lalu oleh seluruh Ummat Islam pemeluk 4 madzhab.

3). Hendaknya kaum Wahabi segera membenahi kekeliruan mereka dalam meng-identifikasi kata ” Ibadah ”, dan membenahi identifikasi penyebab kemusyrikan kafir quresy. Kekeliruan ini telah banyak menimbulkan vonis syirik yang salah kaprah serta terlalu banyak korban dari kekeliruan ini.

Jawaban dan kesimpulan di atas disampaikan oleh: H. Ahmad Syahid,

Indonesia, 18 juli 2012.

6 COMMENTS

  1. Memng sosok ustaz firandah.itu DUNGU,dan kembali ke Al Qur’an dan Sunnah Rosul, sebelum sakaratul Maut tiba,dan ingatlah surat Makkiyah
    Al-Lahab,!jadikan pedoman Wahai Ustaz,untuk apa anda obral bahasa terlalu tinggi sementara andapun gagap dalam arti,kesombongan yg bercokol dlm diri anda(syetan berperta pora dengan pensiun dini)karena anda orang ber ilmu maka syetan ber suka cita karena nantinya ada teman yg menjadi tatakan api.Kembali kejalan lurus selurusnya,Ok…bro

  2. Juatriachdils, kita itu terlalu rendah untuk menilai seseorang. kita it kecil di hadapan Allah SWT. mengatakan DUNGU kepada ust. firanda? bisa jadi sebaliknya anda. ust firanda memegang teguh dari al-qur’an dan al-hadits.

  3. Berdoalah dan mintalah hanya kepada TUHANMU,, tpi jk tanpa SHALAWAT NABI SAW, mk doamu tetap terhalang.

  4. Firanda aku tantang untuk buka rekening tabunganmu dr mana sj,,, smg hartamu yg sebagian besar haram membakarmu di neraka.

  5. Padahal kalian orang orang nu yang banyak melakukan ibadah yang tidak dicontohkan oleh nabi muhammad saw. Suka memodifikasi ibadah seenaknya tanpa dasar dari ak quran dan sunnah… pemimpin kalian suka berbicara kotor di majelis ilmu…. sy dl prnah menjadi simpatisan nu tp tetapi Allah swt membuka jalan kebenaran untukku …. kalian ahlul bid’ah yang banyak menyelisihi alquran dan as sunnah….. semoga warga nu sadar dengan keburukan jalan kalian

  6. Bahwasanya manusia terbagi menjadi 2,yg zahir dan yg bathin.yg nampak tubuh kita dan tdk nampak roh.tubuh pasti mati dan hancur,sedangkan roh kekal selamanya.jg siapa yg bil manusia sdh mati ya sdh.para wali2 Allah SWTtdk mati,beliau selauj berada berdampingan dngan penciptanya.para aliran2 yg lain mengatakan kalau manusia yg sdh mati ya mati.tdk sampai doa kt kpd mereka yg sdh mati,keliru brow,kalau begitu jasad yg sdh mati dibuang qja ke bqk sampah.kasian yg belum paham agma takutnya di doktrin sm bubuhan mereka.mereka yg baru aja belajar baru beberapa hari,minggu,bulan ,tahun sdh menganggap hebat diri mereka,sedangkan yg orang sdh boleh dikatakan belajar dari kecil sampak puluhan tahun biasa aj,nda terlauu berlebihan.ini baru belajar tahunan aja sdh menganggap hebat.menganggap diri mereka kalifah. Nda gampang? Jd lah kalifah di dlm keluargamu dulu baru ke orang lain.dan anehnya lg baru belajar blh di katakan atau tahunan tp ko jidat mereka sdh hitam?,sedangkan ulama2 yg sdh puluhan tahun nda kelihatan nda kaya mereka.

Comments are closed.