Kemunafikan Salafy Dalam Semangat Membela Sahabat Nabi saw

0
648 views

hasan-farhan-al-malikiSUMBER: http://almaliky.org/download.php?action=view&id=22

Tulisan dibawah ini adalah intisari dari pembahasan Syekh Hasan bin Farhan al Maliky yang mengungkap sikap salafy wahabi yang berstandard ganda dalam membela sahabat Nabi saw… Sahabat-sahabat utama seperti ahli badar, sahabat Assabiquna Awwalun (yang pertama-tama memeluk Islam) dll banyak yang mereka tuduh macam-macam bahkan munafik, sementara sahabat bermasalah yang masuk  Islam secara terpaksa di akhir kenabian dan bersikap munafik  malah dibelah mati-matian… pembahasan lengkapnya bisa anda download disini atau baca dan download disini: .  ( صحابة بدريون ولكنهم منافقون…. هكذا يقول السلفيون )

Klik Disinihttps://abusalafy.files.wordpress.com/2014/07/sahabat-ahli-badar-tapi-munafik-kata-salafiyun.pdf

.

Sahabat Ahli Badar…. Akan Tetapi Mereka Munafik Dimata Salafiyun

Oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

.

hasan_FarhanTampak bagiku bahwa Ahlu Sunnah (yang saya maksud disini bukan Ahlu Sunnah Nabi Muhammad saw, tapi Ahlu Sunnah kemazhaban yang ekstrim/berlebihan dan lugu, yang mayoritas sekarang berubah menjadi Salafy yang menyimpang dari Ahlul bait Nabi saw. berkat saluran-saluran TV dan uang salafy).

Sepertinya mereka tidak serius dalam upaya mengenal keutamaan dan sejarah hidup para sahabat dan dalam membela mereka dan memperkenalkan mereka. Semangat mereka hanya berdendang di seputar sahabat tertentu yang jumlahnya tidak melebihi bilangan jari dua tangan.

Memori Sunni khususnya Salafi jika kamu buka dan ditakdirkan kita dapat melihat apa yang tersimpan dalam memori akal mereka pasti kita tidak akan menemukan kecuali jumlah yang sangat sedikit dari sahabat Nabi saw -walaupun tentu sebagian mereka memiliki keutamaan-, yaitu: Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Mu’awiyah, Amr bin al Ash, Abu Hurairah dan Khalid bin al Walid. Mereka inilah yang diberi perhatian berlebihan oleh Salafy, dan mendapatkan tempat istimewa dalam karya-karya tulis dan pembelaan mereka!

Kemudian setelah sahabat tersebut diatas, adalah sahabat kelas dua (dalam kacamata mereka tentunya) seperti Abu Ubaidah, Ibnu Umar, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqash, walaupun sejarah hidup mereka tidak diketahui kecuali secuil saja. Bahkan sebagian dari mereka itu tidak dikenal kecuali namanya belaka. Adapun mayoritas sahabat Nabi saw. yang terdahulu memeluk Islam, peserta perang Badar maka nama-mana mereka pun tidak banyak dikenal.

Mayoritas Ahlu Sunnah (yaitu yang mengaku-ngaku secara palsu sebagai Salafy) maka mereka itu menuduh banyak sahabat besar dan agung di sisi Ahlul bait dan MEMVONIS MEREKA KEKAL DI DALAM API NERAKA, seperti Abu Thalib. Mereka menuduhnya Musyrik dan tidak mengakui beliau sebagai sahabat, padahal masa da’wah kenabian di Mekkah seluruhnya yang berperan besar adalah Abu Thalib, tidak terkecuali sahabat yang berhijrah ke negeri Habasyah (Etiopia), Abu Thalib menyurati an- Najjasyi Raja Etiopia memintanya melindungi kaum Muslimin yang berhijrah ke negerinya.

Abu Thalib lah yang memberi suaka Abu Salamah al Makhzumi dan keluarganya di Lembah Bani Hasyim (ketika kaum Quraisy memboikot Nabi saw. dan Bani Hasyim). Abu Thalib mendeklarasikan pernyataannya yang sangat tetkenal: “Aku akan bela anak saudariku (Abu Salamah) seperti aku membela anak saudaraku (Nabi Muhammad Saw).” -dan Ummu Salamah adalah dari Bani Hasyim-. Kata-kata itu beliau ucapkan di hadapan para pembesar suku bani Makhzum yang dikenal berpengaruh dan pemberani!!

Sedikit sekali dari mereka yang mengakui bahwa kedua ayah-bunda Baginda Nabi Muhammad Saw bakal selamat dari api neraka Allah dan mengakui bahwa mereka berdua wafat atas dasar Hanifiyah (agama Ibrahim).

Adapun mayoritas Salafi yang secara spesial mereka keliling menjelajahi penjuru dunia untuk menyampaikan sebuah pesan yang intinya: KEDUA AYAH BUNDA NABI BERADA DI NERAKA, DAN NABI TIDAK DIBOLEHKAN MEMINTAKAN MAGHFIRAH UNTUK KEDUANYA.

Dan bahwa Nabi Saw bersabda kepada seorang Arab Baduwi: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” Padahal Allah Swt berfirman: “Dan Kami tidak menyiksa sehingga Kami mengutus seorang Rasul.” . Sampai-sampai seorang Da’i kontemporer kondang Syeikh Muhammad Al Ghazzali mengeluhkan sikap mereka itu. Beliau mengeluhkan sikap para da’i baru Salafi (Wahhabi) bahwa da’wah mereka itu hanya terbatas pada menyebar-luaskan berita bahwa ayah bunda Nabi itu di neraka!

Mereka menutup mata dari pengaruh politik bani Umayyah dalam menanamkan akidah seperti ini, sehingga bapak Muawiyah yang lebih mulia dari ayah Nabi saw dan ayah Ali ra.. Dan bahwa ibu Mu’awiyah si pengunyah jantung manusia itu lebih afdhal dari Aminah binti Wahab Bunda Nabi saw. Bani Umayyah telah berhasil cukup jauh dalam menanamkan keyakinan ini dalam pikiran umat!

Adapun kebanyakan sahabat Badriyyun (yang ikut serta perang Badar bersama Nabi saw.) dan yang ikut membai’at Nabi saw dalam bai’at Ridhwan, bahkan mayoritas sahabat Sabiqun (yang pertama-tama memeluk Islam), mereka telah ditelantarkan dan dihapus dari memori ingatan Sunni Mazhabi, lalu di mana klaim mereka sebagai pembela para sahabat?

Mengapa hanya ngotot membela dan membersihkan nama-nama orang-orang yang zalim dari kalangan Thulaqa’ (penduduk Mekkah yang dibebaskan Nabi saw setelah mereka ditawan pada penaklukan kota Mekkah) dan menuduh kaum shaleh dari peserta perang Badar?!

Di mana para sahabat yang bergabung di rumah/Darul Arqam, sahabat yang berhijrah ke Habasyah, peserta perang Badar dan baia’at Ridhwan di manakah mereka dari ingatan umum Salafy?

Di mana pembelaan mereka terhadap sahabat besar PESERTA PERANG BADAR yang dituduh MUNAFIK??

Lalu bagaimana sikap kita ketika mengetahui ternyata bahwa para sahabat gelombang pertama dan Ahli Badar dan peserta bai’at Ridhwan dituduh oleh Ahlu Sunnah sendiri (Ahlu Sunnah Kemazhaban, jangan lupa!!) dengan beragam tuduhan sesekali dituduh MUNAFIK… Dicela… Dianggap tidak diketahui keadilannya… Dan dalam banyak kali dituduh sebagai orang yang tidak dikenal…

.

Berikut Beberapa Contoh Kezaliman “Salafy Palsu” Terhadap Sahabat Ahli Badar

(1) Mu’tab ibn Qusyair al Anshari.

Beliau adalah Ahli Badar seperti telah disepakati. Sahabat mulia ini dalam kesepakatan pandangan Salafy adalah MUNAFIK. (dan saya punya sebuah kajian tentangnya). Andai saja beliau tergolong kaum Thulaqa’ yang getol memerangi Nabi saw kemudian setelah itu memeluk Islam formal dan bersikap munafik pasti tidak seorang Salafy pun menuduhnya sebagai munafik!

Sikap ini ada kaitannya dengan keterpengaruhan pola pandang dan latar belakang pemikiran dan ideologi dengan politik,
Kenyataan ini tidak mereka fahami selama berabad-abad ini.

(2). Madlaj bin Amr as Sulami.

Beliau salah seorang ahli Badar, dan berjuang bersama Ali menumpas pemberontakan dalam perang Shiffin. Beliau wafat jauh setelah peristiwa itu yaitu tahun 50 H.

Kendati demikian, Abu Hatim berkata tentangnya:

“Ia seorang Arab Baduwi yang tidak dikenal.”

Mereka bersepakat menggolongkannya dalam daftar orang-orang dha’if (dalam periwayatan hadis), seperti Abu Hatim dan putranya Ibnu Abi Hatim hingga masa adz Dzahabi… Semua menggolongkannya dha’if hingga Ibnu Hajar yang hidup di abad 9 H meralat sikap mereka dalam kitab Lisan al Mizan!!

(3). Rabi’ah bin Mas’ud al Qari’ –

seorang Ahli Baca al Qur’an-.

Abu Hatim berkata tentangnya: “Seorang Arab Baduwi yang majhul/tidak dikenal.”!!

Ibnu Jauzi dan Adz Dzahabi menyebutkannya dalam daftar orang-orang dha’if.

Bukhari tidak menyebutnya sama sekali dalam kitab Tarikh-nyaPadahal beliau adalah sabahat Badri (ikut serta membela Nabi saw. dalam perang Badar) memeluk Islam sebelum Nabi Saw menjadikan rumah Arqam sebagai pusat da’wah!

Beliau ikut berjuang pada perang Badar dan peperangan lainnya bermasa Nabi saw. Beliau wafat tahun 30 H.

(4) Khulaid(ah) bin Qais al Anshari.

Seorang Sahabat Badri. Dalam kitab al Jarh wa at Ta’dil,3/400 Ibnu Abi Hatimberkata: Khulaid(ah) bin Qais bin Utsman dari bani Nu’man bin Sinan al Anshari. Beliau ikut serta dalam perang Badar.

Aku mendengar ayahku berkata demikian dan aku juga mendengarnya berkata: “Dia adalah majhul/tidak dikenal.”!!

Dan dari bukti mereka meremehkan dan mengabaikan sahabat agung ini adalah bahwa nama beliau mereka perselisihkan. Khaldah … Khallad… Khaliid… Khulaidah… Khalidah… Padahal beliau gigih berjuang di perang Badar.

(5) Hamzah bin al Jumair

Ada yang mengatakan Kharijah bin Jumair dari bani Ubaid bin ‘Adiy al Anshari.Seorang sahabat Badri. Aku mendengar ayahku berkata demikian. Dan ia juga berkata: “Ia majhul.”

Saya (Hasan bin Farhan al Maliky) berkataJadi Abu Hatim mengetahui bahwa beliau adalah sabahat Badri, tetapi kendati demikian ia mengatakan tidak mengetahui keadilannya!!

(6). Abu Sufyan bin al Harits bin Qais (saudaranya Nabtal) al Ausi.

Seorang sahabat Badri. Namun mereka menuduhnya sebagai MUNAFIK!

Ini beberapa contoh dari kalangan sahabat Badriyyun (yang ikut serta berperang di perang Badar)… Sebagin dari mereka dituduh munafik! Sebagian lainnya divonis dha’if dan yang lainnya lagi dianggap mahjul!!

Jadi para sahabat yang terzalimi ini adalah terzalimi dalam jeruji besi konsep Salafy dan Ahli Hadis.

.

Selanjutnya silahkan baca dalam risalah kecil Syekh Hasan bin Farhan Al Maliky dalam soal ini disini Pdf:

صحابة بدريون ولكنهم منافقون…. هكذا يقول السلفيون

Klik Disisni: https://abusalafy.files.wordpress.com/2014/07/sahabat-ahli-badar-tapi-munafik-kata-salafiyun.pdf

 

sumber : http://abusalafy.wordpress.com/

NO COMMENTS