Kedubes AS di Turki Pusat Komando ISIS?

0
574 views

kedubes-as-di-turkiLiputanIslam.com — Sebuah pengakuan mengejutkan muncul dari seorang yang mengaku sebagai “orang dekat” Sa’ad Hariri, mantan perdana menteri Lebanon dan salah satu tokoh politik terpenting kelompok Sunni di negara itu.

Pengakuan itu dipublikasikan oleh pengamat politik Christof Lehman dalam artikel berjudul “U.S. Embassy in Ankara Headquarter for ISIS War on Iraq – Hariri Insider”, di situs nsnbc.com, 22 Juni lalu, ketika kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) melancarkan offensif besar-besaran di Irak utara.

Dalam pengakuan yang terungkap pada artikel tersebut dipaparkan bahwa ISIS dirancang dan dikendalikan oleh AS dan sekutu-sekutunya di kantor kedubes AS di Turki. Adapun tujuan pembentukannya adalah untuk memecah-belah Irak menjadi beberapa negara yang lebih lemah, memperluas konflik Suriah dan menghentikan pengaruh Iran di kawasan.

Pembentukan ISIS itu dilakukan bulan November 2013, di sela-sela acara Atlantic Council’s Energy Summit di  Istanbul, Turki. Adapun pusat pengendalian kelompok itu ditetapkan di kedubes AS di Ankara, Turki dengan komandan tertingginya adalah dubes AS, Riccardione.

“Sumber terpercaya yang dekat dengan mantan perdana menteri Lebanon Saad Hariri mengatakan dalam kondisi anonim bahwa lampu hijau dari pengerahan ISIS atau ISIL dalam perang di Irak dilakukan di belakang pintu tertutup, di sela-sela acara Atlantic Council’s Energy Summit di Istanbul, Turki, 22-23 November 2013,” tulis Lehman dalam artikel tersebut.

Atlantic Council adalah salah satu lembaga kajian paling berpengaruh terkait dengan kebijakan politik internasional AS dan NATO.

Dalam pertemuan itu Presiden Atlantic Council Frederick Kempe menekankan pentingnya pembahasan energi di tengah situasi politik di Timur Tengah dan mengatakan:

“Kami melihat periode saat ini sebagai titik balik seperti 1918 dan 1945. Turki dalam segala hal adalah negara sentral, sebagai pencipta stabilitas regional. Semakin banyak Amerika Serikat dan Turki dapat bekerja bersama-sama, semakin efektif mereka meraih tujuan.”

KTT itu antara lain, dihadiri oleh Presiden Turki Abdullah Gül, Menteri Energi AS Ernst Monitz, Presiden Atlantic Council Frederick Kempe, mantan Menteri Luar Negeri AS Madeleine Albright, dan mantan Penasihat Keamanan Nasional AS Brent Scowcroft.

Patut dicatat bahwa Scowcroft memiliki hubungan lama dengan Henry Kissinger dan Menteri Sumber Daya Alam wilayah otonomi Kurdi di Irak Utara.

“Memiliki Baghdad yang lebih kooperatif tentang ladang minyak Suriah di Deir Ez-Zor pada awal 2013 dan sekitar otonomi Kurdi di Utara, mereka mungkin tidak akan berbalik melawan al-Maliki, atau ia mungkin akan diberi lebih banyak waktu untuk berkuasa,” kata orang dalam Hariri tersebut.

Pada bulan April 2013 Uni Eropa mencabut larangan atas impor minyak Suriah dari wilayah yang dikuasai pemberontak untuk membiayai oposisi. Sementara pada Maret 2013, Menlu AS John Kerry menuntut Irak untuk “menghentikan senjata yang mengalir ke Suriah”, sementara AS mengalirkan senjata untuk kelompok ISIS melalui Arab Saudi kemudian ke Irak dan Yordania.

Pada tanggal 22 April 2013, 27 dari 28 menteri luar negara Uni Eropa sepakat untuk mencabut larangan atas impor minyak Suriah dari wilayah oposisi yang digunakan untuk membiayai “oposisi”.

“ISIS seharusnya mengontrol wilayah sekitar Deir Ez-Zor. Sedangkan (Menteri Energi Turki Taner) Yildiz dan Menteri Energi Otonomi Kurdi Ashti Hawrami adalah untuk memastikan minyak dapat mengalir melalui jalur pipa minyak Kirkuk – Ceyhan.  … Ankara menempatkan al-Maliki di bawah banyak tekanan tentang otonomi Kurdi dan minyak, terlalu banyak tekanan, terlalu dini,” kata sumber itu.

Dia menambahkan bahwa tekanan yang terlalu keras itu ternyata berubah menjadi bumerang.

Laporan sebelumnya menegaskan bahwa Baghdad mulai mencegat senjata dan gerilyawan di sepanjang perbatasan dengan Saudi, memotong jalur pasokan penting bagi kelompok ISIS di sekitar Deir Ez-Zor, dan bahwa Al-Maliki mulai mengeluhkan tentang upaya Saudi dan Qatar untuk menumbangkan Irak sejak akhir 2012.

“Namun perubahan terbesar terjadi Mei-Juni 2013 setelah al-Maliki memerintahkan militer untuk bergerak ke al-Anbar,” tambahnya.

Sebuah artikel sebelumnya di nsnbc menjelaskan bagaimana blokade Baghdad menyebabkan masalah di Yordania, karena banyak angkutan senjata, pejuang dan amunisi harus dialihkan melalui Yordania.

Sumber tersebut menambahkan bahwa ladang minyak seharusnya sudah berada di bawah kendali ISIS pada Agustus 2013, namun rencana itu gagal karena dua alasan. Pertama Inggris menarik dukungannya terhadap pemboman Suriah, yang pada gilirannya memungkinkan tentara Suriah untuk mengusir ISIS dan Jabhat al-nusrah dari Deir Ez-Zor.

“Situasi ini menjadi bencana karena pada bulan Juni Hariri, Yidiz, Hawrami, Scowcroft, dan semua orang sudah siap untuk berbicara tentang bagaimana untuk berbagi minyak antara AS, Turki, dan Uni Eropa,” tambah sumber Hariri sembari menambahkan bahwa AS telah “menodongkan pistol” ke kepala al-Maliki ketika ia diundang ke Gedung Putih.

Kedua pemimpin, Otonomi Kurdi Irak Masoud Barzani dan PM Irak Nouri al-Maliki diundang ke Washington pada awal November 2013.

“Lingkaran tertentu di Washington menempatkan banyak tekanan pada Obama untuk “menodongkan pistol” ke kepala al-Maliki,” kata sumber Hariri.

Pada saat yang sama, ia menambahkan bahwa “waktu sudah hampir habis dan Obama ragu-ragu”.

“Barzani kehilangan cengkeramannya di Utara (Kurdi Irak); pemilihan (bulan September 2013) adalah kemunduran. Semua rencana penyebaran minyak Irak melalui Turki dan meminggirkan Baghdad ditetapkan antara Kirkuk dan Ankara pada awal November …”

“Siapa sebenarnya menekan Obama? Saya tidak tahu siapa yang menyampaikan pesan ke Obama. Saya menduga Kerry yang melakukannya. Ini yang lebih penting darimana pesan itu datang: Kissinger, Scowcroft, Nuland dan klan Keagan, Stavridis, Petreaus, Riccardione, dan kerumunan neo-con di Dewan Atlantik. … Sejauh yang saya tahu seseorang mengatakan kepada Obama bahwa ia harus menekan al-Maliki untuk menyetujui rencana Otonomi Kurdi pada bulan November. Siapa sebenarnya memberi saran pada Obama tidak sepenting fakta bahwa orang-orang itu mengisyaratkan bahwa mereka mereka akan melanjutkan rencananya, dengan atau tanpa dia Obama.”

Ditanya apakah ia tahu rincian, bagaimana lampu hijau terakhir untuk kampanye ISIS diberikan, ia berkata:

“Di balik pintu tertutup, dengan adanya Scowcroft, Hariri, dan beberapa orang lain, saya ingin tetap Anda tahu bahwa (Dubes AS di Turki) Riccardione ditugasi operasi itu .”

Memperhatikan bahwa seorang anggota terkemuka keluarga kerajaan Arab Saudi, Pangeran Abdul Rachman al-Faisal dinobatkan sebagai salah satu yang menjadi “komandan” dari brigade ISIS, sumber itu mengangguk, dan menambahkan bahwa:

“Pangeran bertanggung jawab untuk membiayai operasi dan untuk menjadi bagian dari struktur komando, tetapi bahwa markas operasi adalah Kedutaan Besar AS di Ankara Turki. Sejauh yang saya tahu, tidak ada yang bergerak tanpa persetujuan Dubes Riccardione,” tambahnya.(ca)


Mari share berita terpercaya, bukan hoax
sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS