Kapan Muncul Nama Mazhab Kita; Ahlusunnah wal Jam’ah? Dan Sejauh Mana Legalitasnya?

0
475 views

hasan-farhan-al-malikiSumber: http://almaliky.org/news.php?action=view&id=877

oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliky

Semua sepakat bahwa nama ini tidak pernah ada di masa hidup Nabi saw.

Semua sekapat bahwa nama ini tidak ada di masa empat Khulafa’ Rasyidin, bahkan tidak juga di masa dinasti Bani Umayyah dengan lengkap (Ahlusunnah wal Jama’ah). Nama ini baru muncul di masa dinasti Bani Abbas.

Semua sepakat bahwa tidak ada satu pun ayat Al Qur’an, satu hadis pun dan satu atsar pun dari seorang sahabat yang menyebut nama ini. Ia adalah nama yang dirakit di masa kekuasaan al Mutawakkil untuk menghadapi kelompok Mu’tazilah dan Syi’ah[1]

Ya.. Telah digunakan redaksi As Sunnah sendirian tanpa digandeng dengan Al Jama’ah, dan juga Al Jama’ah sendirian tanpa digandengan dengan as Sunnah. Tetapi menggabungkan antara dua redaksi ini baru ada di masa al Mutawakkil al Abbasi (yang sangat dikenal kebenciannya kepada Ahlulbait Nabi saw.). Di sana harus dibedakan antara adanya nash-nash tentang sebuah perkara dan dibolehkannya menamakan dengannya sebagai simbol. Nash-nash tidak hanya datang memerintahkan mengamalkan Sunnah saja, tetapi ia juga datang untuk menekankan kejujuran, keadilan, tauhid dan kecintaan kepada Ahlulbait Nabi… dll.

Maksud saya… Sebagaimana telah datang nash (hendaknya kalian berpagang dengan Sunnahku) ia juga telah datang mengatakan (hendaknya kalian berlaku jujur). Perintahkan Ilhai atau Nabawi tidak berarti membolehkan kita membuat-buat nama selain yang ditetapkan Allah (al Muslimun).

Tetapi di sini tersisa beberapa pertanyaan:

Bagiamana setan bisa memilih untuk umat ini simbol/slogan dan nama-nama yang di bawahnya, karenanya dan demi membelanya umat saling berbunuh-bunuhan?

Bagaimana setan mampu meremehkan nama yang ditetapkan Allah?

Apakah awal kemunculan slogan (Ahlus Sunnah) pada hakikatnya adalah untuk berpegang teguh dengan Sunnah atau maksudnya adalah melaksanakan tradisi/kebiasaan/sunnah pelaknatan Imam Ali di atas mimbar-mimbar? Tentang ini masih perlu harus dikaji! Dan di dalamnya banyak kenyataan yang mengagetkan lagi menyedihkan!

Demikian juga dengan (Al Jama’ah) …

Apakah ia muncul sebagai slogan/simbol yang menunjuk kepada Jama’ah kaum Mukminin (jalan kamu Mukminin) atau ia muncul sebagai simbol yang menunjuk kepada Jama’ahnya Mu’awiyah (Tahun Jama’ah)…

 Masih butuh dikaji lebih lanjut!

Demikian juga… Apakah Mu’awiyah -sebelum Tahun Jama’ah dan sebelum menetapkan tradisi pelaknatan Imam Ali- sudah mencetuskan sebuah simbol/slogan tertentu atau tidak? misalnya slogan at Tha’ah (Ketaatan) … Ini juga perlu diteliti dan dijelaskan panjang lebar!

Khulashah:

Telah terungkap bahwa “at Tha’ah, As Sunnah dan Al Jama’ah” walaupun makna-makna Syar’i dari slogan-slogan tersebut sangat dituntut untuk diterima dan diamalkan- hanya saja pemanfaatannya sepanjang sejarah di bawah kendali para durjana murka dan kaum Zalim. Pemanfaatan politis oleh Bani Umayyah terhadap tiga slogan ini secara terpisah telah memasukkan pada esensinya banyak akidah mereka, kezaliman, makar jahat, dusta, perampasan hak orang lain dan kesemena-menaan mereka… dst

.

Mu’awiyah Menggunakan Tiga Slogan Indah Untuk Tiga Tindakan Jahat

 Ketaatan = Ketaatan kepadanya untuk menentang Abu Darr.

As Sunnah = Sunnah pelaknatannya atas Imama Ali.

Al Jama’ah = Jama’ah/kelompoknya saja.

Dan penyimpangan pemanfaatn ini tidak diluruskan melainkan jauh setalahnya…

Maksud saya meluruskan pengertian ketaatan menjadi hanya ketaatan kepada penguasa yang adil dan bukan pada perkara maksiat…

As Sunnah: menjadi Sunnah Muhammad, bukan sunnah pelaknatan atas Ali…

Al Jama’ah: adalah Jama’ah Ahlil Haq/pemegang kebenaran -walaupun jumlah mereka sedikit-.

Pelurusan ini datang belakangan!

Karena itu di tubuh Ahlu Sunnah sendiri banyak terjadi kekacauan…

Mereka telah memperbaiki dan meluruskan pengertian slogan-slogan itu pada level pemikiran,tetapi pada kedalaman praktiknya masih sedikit tersisa. Misalnya, mereka tidak menerima Sunnah Nabi yang mengecam Mu’awiyah…

Ini apa artinya?

Artinya, bahwa Sunnah dalam pengetrapan praktiknya dalam sejarah Umawi telah berperan besar dalam taklid, akal-akal, jiwa-jiwa dan Gen, sehingga mereka tidak bisa membayangkan ada Sunnah yang datang mengecam Mu’awiyah. Pengaruh praktik Umawi lebih kuat dari pengaruh pelurusan pada level konsep. Andai mereka berkata: kami tidak ada urusan dengan penamaan yang dibuat Mu’awiyah dan al Mutawakkil niscaya Allah akan mengeluarkan mereka dari kebingungan ini.

Allah tidak akan memberimu hidayah untuk sebuah esensi sedangkan kamu masih menolak penamaan yang Ia tetapkan…

Allah Sebaik-baik Dzat yang “bermakar”…

Kamu tidak akan bisa menipu-Nya… Kembalilah kamu dalam keadaan hina, tunduk dan pasrah kepada Allah pasti Ia akan membimbingmu!

Tanpa itu kamu tetap dalam kerepotan dan kesusahan.

________________

[1]Al Mutawakkil yang nama lengkapnya Ja’far Abu al Fadhl bin al Mu’tashim ibin Harun ar Rasyîd, ia dibaiat sebagai Khalifah setelah al Wâstiq pada bulan Dzul Hijjah tahun 232H.

Seperti juga para pendahulunya, al Mutawakkil dikenal gemar menenggak khamer/arak dan gila wanita dan penyembah syahwat. Al Mas’udi berkata: “Ia (al Mutawakkil) memiliki empat ribu selir yang kesemuanya pernah ia gauli. Ia mati meninggalkan empat juta dinar (uang emas) dan tujuh juta dirham (uang perak).”(Muruj adz-Dzahab:4122. dan as-Suyuthi juga mengutip pernyatan itu dalam Tarikh al-Khulafa’:323.)

Dan bagi Anda yang ingin tahu berita malam-malam pesta arak al-Mutawakkil saya persilahkan merujuk setiap buku sejarah tentang masa kekhilafahan al Mutawakkil, seperti Tarikh ath Thabari, al Kamil; Ibnu al-Atsir dll.

Al Mutawakkil Seorang Nashibi!

Seperti dikatakan Syeikh Hasan bin Farhan Al Maliky bahwa al Mutawakkil adalah seorang Nashibi (pembenci Ahlulbait Nabi saw.) dan ini adalah bukti kemunafikan. Al Mutawakkil dikenal sangat membenci Imam Ali dan keturunan Nabi saw. As Suyuthi menceritakan sebuah kisah perlakuannya terhadap Ibnu SikkîtAs Suyuthi berkata:

“Dan pada tahun 244H al Mutawakkil membunuh Ya’qub ibn Sikkît; seorang Imam (pakar) dalam disiplin bahasa Arab, ia diminta untuk menjadi guru privat putra-putra al Mutawakkil. Lalu pada suatu hari al Mutawakkil memandang kedua putranya; al Mu’taz dan al Muayyad dan bertanya kepada Ibnu Sikkît: “Mana yang lebih kamu cintai, kedua putraku ini atau Hasan dan Husain (cucu Nabi Saw.)? Ibnu Sikît menjawab: “Qunbur (budak Imam Ali) jauh lebih baik dari kedua putramu ini.” Mendengar jawaban itu, al Mutawakkil memerintah para algojonya berkebangsaan Turki untuk menginjak-nginjak Ibnu Sikkît sampai mati. Dan dalam riwarat lain: “Ia memerintah mereka menarik lidah Ibnu Sikkît hingga mati… .” (Tarikh al Khulafâ’:322.)

Tidak cukup demikian, untuk melampiaskan rasa benci, kedengkian dan permusuhan kepada keluraga suci Nabi saw, ia memerintahkan agar makam (kuburan) Imam Husain as. dihancurkan. Ibnu al Atsir melaporkan dengan judul sebagai berikut:

Berita tentang apa yang di lakukan al-Mutawakkl terhadap Masyhad (makam) al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib as.

Dan pada tahun ini (236H) al Mutawakkil memerintahkan agar kuburan al-Husain ibn Ali as. dihancurkan dan juga rumah-rumah serta bangunan di sekitarnya, kemudian diperintahkan agar ditaburkan benih-benih tanaman dan digenangi air tepat pada kuburan itu. Dan ia melarang manusia untuk menziarahinya. Dan diumumkan barang siapa ditemukan berada di dekat makam dalam jangka waktu tiga hari ke depan maka ia akan dipenjara dalam sel bawah tanah. Dengan pengumuman itu maka manusia lari meninggalkan berziarah ke kuburan al Husain, lalu rusak dan ditanami. Dan al Muawakkil sangat membenci Ali ibn Ali Thalib as. dan Ahlulbait Nabi saw. Ia selalu memberi sanksi atas siapa saja yang ia ketahui mencintai Ali dan keturunannya dengan merampas hartanya dan membunuhnya. Di antara teman-teman mabok-mabokannya seorang waria bernama Ubadah, waria itu mengikatkan bantal pada perutnya di balik baju yang ia kenakan lalu ia membuka kopiyah yang ia pakai, (dan ia seorang berkepala botak), ia menari-nari di hadapan al Mutawakkil sementara para penyanyi mendendangkan lagu-lagu:

Telah datang si botak nan gendut, ia adalah Khalifah kaum Muslim.

Ia bermaksud mengejek Ima Ali as. sementara itu al Mutawakkil mabok dan tertawa terbahak-bahak. Dan pada suatu hari ketika adegan serupa hendak diulangi, al Muntashir, putra al Mutawakkil yang ketika itu hadir, mengisyaratkan kepada Ubadah agar ia tidak melakukannya, ia pun diam karena takut kepada al Muntashir. Maka al Mutawakkil berkata: “Mengapa kamu?!” Ubadah berdiri dan memberitahukan kepadanya. Al Muntashir berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya yang ditirukan oleh ‘anjing ini’ (ubadah maksudnya) dan menjadi bahan tertawa orang-orang adalah anak paman Anda dan tokoh keluarga Anda, dan dengannya kemuliaan Anda. Maka makanlah dagingmu sendirian dan jangan sertakan anjing ini dan yang serupa dengannya memakan bersamamu.” Al Mutawakkil bangun dan berkata kepada para penyanyi: Ayo nyanyikan bersama:

Cemburu seorang pemuda terhadap anak pamannya….

Kepala si pemuda itu berada di perbudakan ibunya

Dan kebiadaban al Mutawakkil ini yang menjadikan al Muntashir –putranya- menganggap halal membunuh al Mutawakkil.

Dikatakan bahwa al Mutawakkil membenci para pendahulunya; al Ma’mun, al Mu’tashim dan al Wâtsiq dikerenakan kecintaan mereka kepada Ali dan keluarganya.Teman-teman berminum dan sahabat gaulnya adalah orang-orang yang dikenal dengan kenashibian (memusuhi dan membenci keluarga Nabi saw.) dan membenci Ali, di antara mereka adalah Ali ibn Jahm -penyair dari negeri Syam dari suku Bani Syamah bin Lu’ai, Amr ibn Farkh ar Rakhji, Abu as Simth dari keturunan Marwan bin Abi Hafsh, mantan budak Bani Umayyah, Abdullah bin Muhammad bin Daud al Hasyimi yang dikenal dengan nama Ibnu Atrajah. Mereka menakut-nakuti al Mutawakkil akan bahaya kaum Alawiyyin (keturunan Ali as.) dan memberikan saran agar menjauhkan, menelantarkan dan menyakiti mereka, kemudian mereka menghiaskan padanya untuk melecehkan para leluhur Alawiyyin yang diyakini manusia akan ketinggian kedudukan mereka dalam agama. Mereka terus menerus mempengaruhinya sehingga muncul darinya kejahatan yang muncul, dan kejelekan itu menutupi semua kebaikanya, padahal dia adalah paling baiknya orang dalam prilakunya, ia melarang manusia meyakini bahwa Al quran itu makhluk dan lain sebagianya dari kebaikan-kebaikannya. (Tarikh al Kamil:6/108-109.)

Inilah sekilas tentang sejarah hidup Khalifah al Mutawakkil, yang sangat dibanggakan Ekstrimis Salafi Wahhâbi sebagai Khalifah Adil dan ‘Pembela Sunnah!.

Dan jika Anda bertanya kepada para Fuqaha’ dan ulama tentang al Mutawakkil, maka mereka akan mengkhabarkan kepada Anda bahwa ia adalah Khalifah yang Adil, penuh perhatian kepada para ulama, menyanjung tinggi kedudukan ‘Sunnah’, penyambung lidah Rasulullah saw.

Perhatikan apa yang dikatakan as Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa’-nya:

“Al-Mutawakkil ‘Ala Allah; Ja’far Abul Fadhl ibn al-Mu’tashim ibn ar Rasyid, … ia dibaiat pada bulan Dzul Hijjah tahun 232H, setelah al-Watsiq, lalu ia langsung menampakkan kecenderungannya kepada sunnah dan membela pendukungnya (sunnah), menghentikan siksaan (atas yang meyakini Alqur’an itu qadim), untuk itu ia menuliskan sepucuk surat ke seluruh penjuru negeri, tepatnya pada tahun 234H. Ia mendatangkan para ahli hadis ke kota Samurra’, memberi mereka santunan yang berlimpah serta memuliakan mereka, ia memerintah mereka agar menympaikan hadis-hadis tentang sifat dan ru’yah (bahwa Allah dapat di lihat pada hari kiamat). Maka Abu Bakar ibn Abi Syaibah duduk mengajar di masjid ar-Rashafah yang di hadiri oleh sekitar tiga puluh ribu orang, begitu juga saudaranya Utsman ia mengajar di masjid jami’ al-Manshur yang juga di hadiri oleh tiga puluh ribu orang. Do’apun dipanjatkan untuk kejayaan al-Mutawakkil, orang-orang berlebihan dalam memuji dan mengagungkannya, sampai-sampai ada yang mengatakan: para Khalifah itu ada tiga; Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dalam menumpas kaum Murtad, Umar ibn Abdul Aziz dalam mengembalikan kezaliman (harta yang dirampas penguasa dan orang-orang jahat) dan al-Mutawakkil dalam menghidupkan sunnah dan memadamkan al-Tajahhum (berkeyakinan seperti al-Jahm).” (Tarikh al-Khulafa’:320)

Abu Salafy berkata:

Tidak diragukan bahwa yang dimaksud dengan sunnah di sini ialah hadis-hadis yang menjadi bahan dasar kelompok Jabriyah yang mengatakan bahwa manusia tidak lain kecuali seperti robot yang berjalan tanpa memiliki ikhtiyar, bahwa Allah dapat dilihat dengan mata kepala kelak di hari kiamat, Allah itu memiliki anggota badan seperti layaknya makhluk, Ia memiliki mata, tangan, kaki, telinga, hidung, betis, rambut dan lain sebagainya. Maha suci Allah dari apa yang dikatakan orang-orang yang zalim.

Sedangkan yang dimaksud dengan tajahhum tidak lain adalah pandangan-pandangan kaum Mu’tazilah yang lebih mengedepankan akal sehat ketimbang hadis-hadis palsu yang menyesatkan umat. Di sini kami tidak bermaksud membela kaum Mu’tazilah dalam semua pandangan mereka, akan tetapi andai pandangan-pandangan cemerlang mereka tidak diberantas dengan kekuatan tangan besi penguasa tiran ketika itu dan ditakdirkan terus berkembang generesi demi generasi niscaya kita; kaum Muslim tidak akan mengalami keterpurukan pemikiran seperti sekarang. Demikian dikatakan seorang pemikir Muslim asal Mesir Ahmad Amin ketika ia menjelaskan pandangan Mu’tazilah tentang kebebasan hamba. (Perhatikan ketarangan beliau dalam: Dhuha al-Islam,3/112.)

Dan dalam kesempatan lain ia kembali menegaskan: “Jujur saja bahwa kerugian yang diderita kaum Muslimin dengan disingkirkannya kaum Mu’tazilah adalah kerugian yang sangat besar yang tidak tertutupi.”

Semua kezaliman, kebejatan dan kesesatan al-Mutawakkil itu bukanlah hal yang harus dikecam… Ia pasti terampuni dalam pandangan kaum Fuqaha hanya dengan satu alasan, yaitu karena ia membela mati-matian dengan segenap kekuasaan yang ia miliki demi membela “Mazhab Kaum Salaf”, biang Fatalisme, kaum yang mayakini Tuhan berjasad dan memiliki sifat-sifat material.

Para Fuqaha itu membuat-buat cerita bahwa seorang dari mereka yang benama Amr ibn al Juhani pernah bermimpi beberapa bulan setelah kematian al Mutawakkil, ia bertanya: ‘Apa perlakuan Allah terhadap Anda?’ Al Mutawakkil menjawab, ‘Allah mengampuniku dengan sedikit sunnah yang aku hidupkan.’ Saya bertanya lagi: ‘Apa yang Tuan lakulan di sana?’ Ia menjawab: ‘Saya menanti putraku Muhammad saya akan seret ia ke pengadilan Allah dan saya adukan dia.’” (Tarikh al-Kulafa’:328.)

Muhammad putra al Mutawakkil inilah yang membunuh ayahnya setelah melihat ayahnya menghina-hina Imam Ali dan keluraga Nabi saw.

Dan dalam sejarah disebutkan bahwa al Mutawakkil mati terbunuh bersama penasehatnya yang bernama al Fath ibn Khaqân, ketika sedang berpesta mabuk-mabukan di istana. Ia terbunuh dalam keadaan mabuk tak tersadarkan diri. Para penari dan penyanyi lari berhamburan ketika itu kecuali Ibn Khaqân yang setia dan akhirnya ia mati bersama tuannya. (abusalafy)

 

Sumber : Abu Salafy

NO COMMENTS