Kajian Kritis terhadap Pemikiran Wahabi (Bagian Pertama)

0
934 views

babi2Sekte Wahabi dengan dukungan finansial dan politik rezim Arab Saudi telah lama berusaha untuk memperluas penyebaran pemikiran-pemikiran mereka. Akan tetapi, landasan ideologi kelompok menyimpang itu sepenuhnya lemah dan primitif. Para ulama mereka juga menginterpretasikan ayat-ayat al-Quran dan hadis dengan dangkal dan tanpa kompromi. Ajaran-ajaran simbolis sekte Wahabi menjadi hambatan utama bagi persatuan umat Islam, sebab kelompok ini mengkafirkan mazhab-mazhab lain dalam Islam dan meradikalisasi ajaran-ajaran Islam. Sebenarnya, akar seluruh tindakan-tindakan anti-kemanusiaan yang diadopsi oleh Wahabi bersumber dari distorsi akidah dan pemikiran mereka.

Rasulullah Saw telah berusaha maksimal untuk membimbing umat manusia dan juga memprediksi berbagai peristiwa yang akan menimpa umatnya. Beliau selalu berbicara tentang urgensi memegang teguh prinsip-prinsip agama dan mengingatkan umatnya agar tidak terjebak dalam perbuatan bidah. Semua wasiat itu bertujuan agar umat Islam tidak terpecah belah dan tidak mengikuti ajaran nenek moyang mereka tanpa argumentasi yang kuat. Al-Quran dalam surat Ali Imran ayat 105 memperingatkan umat Islam dan mengatakan, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.”

Allah Swt telah menetapkan aturan dan parameter agar umat Islam dengan persatuan dapat mencapai hidayah dan kesempurnaan. Tuhan mengharamkan segala bentuk penindasan dan perampasan hak-hak orang lain. Rasul Saw pada saat menunaikan ibadah haji terkahirnya bersabda, “Tataplah dengan benar, (dan pahamilah hakikat dan ajaran Islam) dan janganlah kalian menjadi kafir setelahku, dimana kalian saling memenggal.” Namun, sayangnya sabda Rasul Saw tersebut kini telah nyata dan sebuah kelompok fanatis (Wahabi) memperlakukan umat Islam seperti orang-orang kafir dan dengan gampang membantai para pengikut Syiah dan Sunni.

Seorang ulama besar dan marji Syiah Iran, Ayatullah Jakfar Subhani selama bertahun-tahun aktif meneliti pemikiran dan akidah kelompok Wahabi dan menulis banyak buku dan artikel seputar pemikiran Wahabi. Ayatullah Subhani belum lama ini mengajukan beberapa pertanyaan mendasar kepada kelompok Wahabi-Salafi tentang akidah dan pandangan mereka terhadap Islam. Akan tetapi, para pemimpin Wahabi yang mengaku sebagai pengikut Islam murni, tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebab akidah mereka dibangun di atas pondasi yang rapuh dan tidak pantas untuk dibela.

Pertanyaan dan kritik pertama Ayatullah Subhani kepada sekte Wahabi-Salafi berkenaan dengan keyakinan-keyakinan dangkal mereka. Wahabi berkata, “Kita harus mengikuti para sahabat dan tabi’in, karena pemahaman mereka merupakan parameter bagi kebenaran dan kebatilan.” Kemudian dengan bersandar pada sebuah hadis Nabi Saw, mereka menganggap tiga abad pertama Hijriyah sebagai era sahabat dan tabi’in dan menjadikan perbuatan Muslim  di tiga abad tersebut sebagai parameter kebenaran dan kebatilan.

Wahabi menjadikan hadis tersebut sebagai pegangan untuk membuktikan ucapannya yang mengatakan bahwa, “Sebaik-baiknya masyarakat adalah mereka yang hidup pada zamanku, kemudian masyarakat yang datang setelah mereka, dan kemudian masyarakat yang hidup setelah kelompok kedua.” Wahabi dengan keliru menganggap tiga periode itu sama dengan tiga abad, dimana pandangan ini penuh dengan ketidakjelasan.

Peneliti dan pakar sejarah kontemporer, Ayatullah Subhani mengatakan, “Bagaimana mungkin kita menganggap seratus tahun pertama yaitu abad pertama Hijriyah sebagai abad yang paling mulia, padahal semua bid’ah justru muncul pada seratus tahun pertama atau tidak lama setelah masa itu. Seperti diketahui bahwa kelompok-kelompok Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah dan mayoritas sekte sesat lainnya muncul pada akhir abad pertama dan permulaan abad kedua Hijriyah.”

Al-Quran sebagai kitab pedoman hidup umat manusia, merupakan argumen terbaik untuk menilai masalah tersebut. Dalam kitab suci itu, kata ‘qarn’ (abad) diulang sebanyak tujuh kali, tapi tidak satupun berbicara tentang seratus tahun. Dalam kamus Lisan al-Arab, kata ‘qarn’ didefinisikan sebagai sebuah keturunan yang datang setelah keturunan yang lain dan maksud Rasul Saw dari hadis tersebut adalah masyarakat dari sebuah generasi dan bukan masyarakat dari sebuah abad.

Salah satu kritik lain terhadap kelompok Wahabi-Salafi adalah bagaimana kita akan menjadikan ucapan dan perbuatan para sahabat dan tabi’in sebagai patokan bagi kebenaran dan kebatilan, padahal ucapan dan perbuatan mereka saling berbeda dan kadang saling bertentangan. Sebagai contoh, Perjanjian Hudaibiyah dengan kafir Quraisy telah memantik perbedaan tajam di antara para sahabat dan umat Islam. Sebagian menyebut perjanjian itu sebagai sebuah kehinaan dan mereka berkata kepada sesama, “Untuk apa kita terhina dalam agama kita?” Namun kelompok yang lain tunduk pada apa yang diputuskan oleh Rasul Saw. (Sirah Ibnu Hisyam, juz 3, hal 346)

Lalu, apakah kita bisa menjadikan perbuatan para sahabat yang memprotes keputusan Nabi Saw sebagai parameter tindak tanduk kita? Jika kita katakan bahwa pemahaman dan penafsiran “Salaf” sahabat dan tabi’in sebagai tolok ukur untuk memahami al-Quran dan hadis, lalu pemahaman dan penafsiran mana yang kita maksud? Dan juga setelah landasan-landasan kepemimpinan umat menguat, perbedaan pandangan di tengah para sahabat Nabi Saw semakin meluas dan 37 kelompok mulai muncul pada abad-abad pertama Hijriyah. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana kita bisa mengabaikan semua perselisihan itu dan mengangap beberapa orang sebagai Salaf Saleh dan jauh dari perselisihan, lalu menjadikan mereka sebagai patokan bagi kebenaran dan kebatilan?!

Pertanyaan ketiga Ayatullah Subhani kepada kelompok Salafi berkaitan dengan Ahlul Bait Nabi as. Beliau percaya bahwa jika pemahaman dan penafsiran para sahabat dan tabi’in benar-benar sebagai parameter, lalu kenapa pemahaman dan penafsiran Ahlul Bait Nabi as dan ucapan-ucapan mereka yang penuh hikmah tidak bisa menjadi ukuran bagi kebenaran dan kebatilan? Ahlul Bait Nabi as dan keturunan mereka yang suci adalah Salaf Saleh terbaik, dimana orang lain merujuk kepada mereka untuk memahami masalah-masalah agama. Rasul Saw juga menempatkan Ahlul Baitnya sebagai sahabat dan sejajar dengan al-Quran. Beliau bersabda, “Dan aku tinggalkan di tengah kalian dua pusaka yang sangat berharga (Ats-Tsaqalain), al-Quran dan Ahlul Baitku. Jika kalian mengikuti mereka, maka kalian sama sekali tidak akan tersesat.”

Ayatullah Subhani lebih lanjut mengatakan, “Mengapa kelompok Wahabi mengabaikan semua hadis Nabi Saw tentang putrinya Fatimah az-Zahra sebagai pemimpin perempuan dunia. Dan kenapa kelompok Wahabi tidak mengindahkan dan tidak merujuk kepada riwayat-riwayat yang memposisikan anak keturunan Nabi Saw sebagai bahtera Nabi Nuh as.”

Kritik lainnya yang dialamatkan kepada kelompok Wahabi adalah mengapa mereka lebih sering mengutip perkataan Muhammad ibn Abdul Wahab dan Ibnu Taimiyah, ketimbang merujuk dan menjelaskan riwayat-riwayat Nabi Saw? Seakan-akan panutan dan imam mereka bukan Rasulullah Saw, tapi Ibnu Taimiyah dan Muhammad ibn Abdul Wahab. Mereka terkadang menganggap kedudukan para sahabat lebih tinggi dari Rasul Saw dan bersikap lebih fanatis terhadap mereka. Padahal, umat Islam berdasarkan aya-ayat al-Quran, menganggap Rasul Saw sebagai manusia termulia dan utama. Mereka percaya bahwa apa saja yang berhubungan dengan agama dan syariat harus diadopsi dari al-Quran dan pribadi Rasul Saw.

Dengan memperhatikan ulasan tersebut, bagaimana kita akan menjadikan ‘pemahaman sahabat’ sebagai argumen? Dalam pandangan Salafi, salah satu hujjah Tuhan adalah pemahaman dan ijtihad para sahabat. Salah seorang tokoh Wahabi, Muhammad as-Syaukani mengakui fakta tersebut dan berkata, “Perkara yang benar adalah perkataan sahabat bukan argumen. Tuhan hanya mengutus seorang Rasul untuk umat ini. Para sahabat dan orang-orang yang datang setelah mereka semua berkewajiban untuk mengikuti al-Quran dan Sunnah.” (Bahs ma’a Ahli as-Sunnah wa al-Salafiyah, hal 235) (IRIB Indonesia)

sumber: http://indonesian.irib.ir/

NO COMMENTS