Jenderal Al Sisi Bersumpah Membersihkan Terorisme dari Mesir

Dari luar Mesir seakan kita disuguhi tontonan horor oleh Ikhwanul Muslimin bersama terorisme-nya melawan Jenderal Al Sisi. Sementara dalam merespon kebrutalan teroris di Mesir, Jenderal Al Sisibersumpah akan membersihkan terorisme dari MesirPanglima militer Mesir yang memimpin penggulingan presiden Mohammed Mursi itu telah berjanji pada hari Kamis 26 Desember 2013 untuk memerangi terorisme dan menstabilkan negara yang sangat terpolarisasi kekuatiran dan ketakutan yang ditebar teroris.

jenderal al sisi

Seorang pendukung panglima militer Mesir dan menteri pertahanan Jenderal Abdel Fattah al Sisi memegang poster dengan gambar al Sisi selama protes untuk mendukung konstitusi baru di Tahrir Square di Kairo 20 Desember 2013.
Foto, REUTERS / Mohamed Abd El Ghany

“Jangan khawatir atau takut, tentara akan berkorban untuk Mesir. Kami akan menghilangkan terorisme”, kata Jenderal Al Sisi pada upacara militer, dalam komentar pertamanya setelah Mesirdiguncang dua serangan bom pekan ini.

“Jangan biarkan tindakan-tindakan teroris untuk mempengaruhi Anda. Jika Anda menginginkan kebebasan dan stabilitas, yang tidak diraih dengan mudah, maka Anda harus percaya Tuhan dan tentara Anda dan polisi,” kata Jenderal Al Sisi, yang juga menteri pertahanan Mesir, dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh militer Mesir.

Jenderal Al Sisi, yang popularitasnya melambung sejak ia menggulingkan Mursi, mengatakan pasukan pertahanan memiliki kemampuan untuk membuat Mesir stabil, aman dan progresif.”

Pada hari Selasa, sebuah bom mobil bunuh diri besar-besaran di kota Delta Nil Mansoura menewaskan 15 orang dan melukai puluhan orang, dan sebuah bom meledak di dekat sebuah bus di Kairo pada Kamis, melukai lima orang.

Pernyataan Jenderal Al Sisi datang sehari setelah otoritas militer menetapkan lebel kepada Ikhwanul Muslimin pendukung Mursi sebagai kelompok teroris.

Pemboman di Mansoura itu diklaim oleh kelompok yang terinspirasi Al Qaeda dan dikutuk olehIkhwanul Muslimin, tetapi pihak berwenang menyalahkan gerakan Ikhwanul Muslimin sebagai yang  melaksanakan pemboman.

Ledakan itu menghancurkan jendela-jendela bus merah dan hitam saat melintas di dekat perempatan jalan yang ramai di lingkungan utara ibukota Nasr City.

Polisi menjinakkan sebuah bom kedua di tempat kejadian dan menutup tempat itu sementara anjing pelacak mencari perangkat bom yang lebih eksplosif, kata koresponden.

Pada hari Kamis, jaksa Mesir memerintahkan setidaknya 18 anggota Ikhwanul Muslimin, termasuk mantan anggota parlemen, untuk ditahan atas tuduhan menjadi anggota kelompok teroris, media pemerintah melaporkan.

Polisi juga menangkap 16 tersangka anggota Ikhwanul Muslimin karena membagikan selebaran untuk mendukung kelompoknya dan “menghasut untuk aksi kekerasan,” kata kantor berita resmi Mena.

Penunjukan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris berarti siapa pun yang bergabung dengan aksi unjuk rasa mendukung mereka bisa dipenjara selama lima tahun, sementara mereka yang memiliki literatur atau mendukung mereka secara lisan atau tertulis, bisa dipenjara hingga lima tahun,” kata pernyataan kementerian.

Setelah ledakan hari Kamis di Nasr City, Jenderal Polisi Mohamed Gamal menunjukkan kepada wartawan sebuah bom pipa yang dijinakkan, katanya bom telah ditempatkan di di dekat Papan iklan dan direncanakan untuk meledak ketika polisi tiba di tempat kejadian.

“Hal itu diatur untuk meledak yang dikendalikan dari jarak jauh,” kata juru bicara kementerian dalam negeri Hany Abdel Latif, menambahkan bom itu “dimaksudkan untuk meneror orang-orang sebelum pelaksanaan referendum.”

Seorang saksi menjelaskan keadaan panik setelah serangan itu. “Saya 100 meter ketika saya mendengar ledakan. Aku datang berlari untuk membantu yang terluka,” kata Mahmud Abd Al Al, seorang pekerja konstruksi.

“Mereka berlumuran darah. Seorang pria kehilangan kaki,” katanya.

Puluhan pria dan wanita yang marah meneriakkan slogan-slogan menentang Ikhwanul Musliminketika polisi mencoba untuk menjauhkan mereka dari lokasi ledakan, sementara ahli forensik mencari bukti petunjuk dalam bus. “Orang-orang Ikhwanul Muslimin adalah anjing,” teriak Fadiya 40 tahun ketika polisi mendorongnya perlahan menjauh dari tempat kejadian.

“Negara saya sedang berdarah. Semua orang takut sekarang di Mesir, bahkan polisi juga takut,” katanya saat mengambil gambar beberapa bus yang ditargetkan dengan ponsel mereka. Warga Kairomengungkapkan kekhawatirannya pada hari Kamis itu.  ( Islam Institute – KAIRO : Agence France – Presse, the Gulf Today )

 

sumber : http://www.islam-institute.com/

NO COMMENTS