Israel dan Turki Bahu Membahu Bela Teroris di Suriah

0
1,021 views
Islam Times- Keberanian pilot Suriah yang ditembak jatuh (dari belakang) dalam wilayah Suriah oleh pesawat tempur Turki banyak mengungkapkan semangat angkatan bersenjata Suriah. Selain pula mengungkap segala sesuatu tentang manipulasi hukum internasional oleh kekuatan [para monaki] Teluk dan NATO yang dibolehkan untuk membunuh dalam jumlah tak terbilang berdasarkan permainan geopolitik dan agama mereka.
Turki dan Israel (http://gerarddirect.com)

Turki dan Israel (http://gerarddirect.com)

Angkatan bersenjata Suriah dan berbagai pasukan perlawanan yang loyal pada pemerintah Suriah jelas-jelas menimbulkan kerugian besar pada berbagai kekuatan teroris, sektarian, dan tentara bayaran. Faktor ini sama jelasnya dengan kerjasama diam-diam yang melibatkan beberapa negara dalam melancarkan operasi rahasia untuk mendestabilisasi Suriah.

Karena itu, lanjut keduanya, kaum teroris, sektarian, dan tentara bayaran yang mengalami kemunduran baru-baru ini, menyaksikan pelanggaran kedaulatan Suriah oleh “Israel” dan Turki dalam upaya menopang campur tangan mereka. “Sementara itu, Arab Saudi, Qatar, dan negara-negara Teluk lainnya terlibat dalam mensponsori berbagai kelompok teroris yang melawan rakyat Suriah,” tulis Makhmudov dan Watanabe.

Tidak mengherankan jika kemajuan pemerintah Suriah baru-baru ini dibayar “Israel” dan Turki dengan mengebom daerah perbatasan. Kenyataan ini menegaskan bahwa “Israel” dan Turki saling bahu membahu melindungi kaum teroris, operasi rahasia, tentara bayaran, dan kaum sektarian di sepanjang wilayah perbatasan. Tentu saja, mantra hukum internasional oleh Amerika dan Uni Eropa atas Krimea dibayar dengan keheningan mematikan saat “Israel” dan Turki melanggar kedaulatan Suriah.

Lee Jay Walker dari Modern Tokyo Times mengatakan, “Memang, sementara kekuatan [monarki] Teluk dan NATO telah merencanakan kematian Suriah yang merdeka sejak krisis dimulai, hal luar biasa adalah keberanian angkatan bersenjata Suriah dalam menghadapi intrik begitu banyak negara. Kenyataan ini menjadi alasan tentang mengapa begitu banyak orang tewas yang lebih dikarenakan kekuatan [monarki] Teluk dan NATO menolak menerima kekalahan.

“Karena itu,” lanjutnya, “media [monarki] Teluk dan Barat memainkan perannya dalam menghasut kebencian terhadap rakyat Suriah. Pada saat yang sama, sumberdaya yang luas dihabiskan pelbagai kekuatan [monarki] Teluk dan NATO untuk menyebarkan Salafisme radikal dan menciptakan pasukan tikus teroris baru. Namun, pemerintah Presiden Bashar al-Assad dan angkatan bersenjata Suriah menolak membiarkan Suriah diambil alih pelbagai kekuatan luar, kendati dikepung banyak pihak yang memeranginya.”

Dalam beberapa bulan terakhir, air pasang jelas-jelas berubah di beberapa bagian Suriah bagi angkatan bersenjata Suriah dan berbagai unit pertahanan diri. Unit bela diri ini terdiri dari pelbagai mosaik Suriah, misalnya banyak Muslim Sunni yang setia di Aleppo menolak untuk menyerah pada retorika sektarian Qatar, Arab Saudi, Turki, serta boneka setia al-Qaeda dan Salafi mereka. Iniiah kegigihan yang menolak untuk mati meskipun semua perlawanan terus membuat marah kekuatan [para monarki] Teluk utama dan NATO.

Keberanian pilot Suriah yang ditembak jatuh (dari belakang) dalam wilayah Suriah oleh pesawat tempur Turki banyak mengungkapkan semangat angkatan bersenjata Suriah. Selain pula mengungkap segala sesuatu tentang manipulasi hukum internasional oleh kekuatan [para monaki] Teluk dan NATO yang dibolehkan untuk membunuh dalam jumlah tak terbilang berdasarkan permainan geopolitik dan agama mereka.

Ini terutama berlaku untuk Afghanistan, Irak, Kosovo, Libya, dan Suriah di masa–seiring intrik-intrik lain yang tak terhitung jumlahnya selama beberapa dekade pertumpahan darah (di Vietnam, El Salvador, Indonesia, Guatemala, Nikaragua, dan seterusnya) baru-baru ini.

Oleh karena itu, ditembak jatuhnya jet tempur Suriah oleh Turki bukanlah kebetulan, sebagaimana pelanggaran terbaru “Israel” terhadap dari Suriah. Dalam kedua kondisi itu, serangan ditujukan “Israel” untuk melindungi para teroris dan tentara bayaran karena kemajuan (kemenangan) terbaru yang diraih angkatan bersenjata Suriah. Demikian pula, serangan Turki yang terjadi saat kaum sektarian dan teroris lain melancarkan serangan, didasarkan pada pemanfaatan wilayah perbatasan.

Kaum Kristen Armenia dan Alawi sepanjang infiltrasi teroris terbaru, lagi-lagi menghadapi kemurkaan takfiri fanatik karena kerjasama diam-diamnya dengan kekuatan [para monarki] Teluk utama dan NATO. Pada saat yang sama, Perdana Menteri Erdogan, yang baru-baru ini disorot atas penghinaannya terhadap Muslim Syiah, sekarang sedang memuaskan nafsu bagi nasionalisme Turki dengan secara lahiriah mencoba memanfaatkan situasi untuk meraih keuntungan politik.

Sama ironisnya, sementara “Israel” dan Turki secara lahiriah menghadapi masalah besar, jelas bahwa putaran lengan AS tidak perlu didorong keras agar kedua negara itu bekerja sama secara erat. Turki dan “Israel” adalah para pelaku utama kejahatan, dengan “Israel” memainkan perannya untuk meredakan [ketegangan pura-pura] antara Washington dan Riyadh.

Lee Jay Walker kemudia mengatakan, “Realitas sederhananya adalah, semua komunitas beragama berada di daerah yang dikuasai pemerintah di Suriah. Sebaliknya, daerah [para monarki] Teluk dan NATO dikuasai oleh pelbagai kawanan sektarian, teroris, dan tentara bayaran, yang mengakibatkan seluruh umat minoritas berada dalam ketakutan, termasuk kaum Muslim Sunni yang setia pada pemerintah Suriah.”

“Realitas brutal ini,” lanjutnya, “bermakna bahwa kaum Kristen di Suriah kini senasib dengan saudara seagama mereka di Irak dan Kosovo yang sedang dibersihkan di bawah pengawasan kekuatan NATO dan [para monarki] Teluk. Sementara itu, angkatan bersenjata Suriah dan berbagai kekuatan pertahanan-diri nasional berjuang di samping mosaik (rakyat) dalam upaya melestarikan kekayaan Suriah.”

Gambar terkini di wilayah takfiri Wahhabi menunjukkan seorang pria disalib setelah kepalanya ditembak–contoh kebiadaban Taliban di Afghanistan. Inilah tahun barbar “nol peradaban” yang sedang didukung kekuatan [para monarki] Teluk dan NATO yang bernafsu mendestabilisasi Suriah.

Pada tahun yang sama, kaum sektarian [yang senyatanya] nol-Islam, yang disponsori [para monarki] Teluk dan negara-negara Barat pada 1980-an dan awal 1990-an, bersama Pakistan, memerangi rakyat Afghanistan.

Sama seperti 8000 hingga 10 ribu jihadis internasional yang berjuang di samping kekuatan NATO dan [para monarki] Teluk di Bosnia, kondisi itu juga direplikasi di Libya. Karena itu, krisis di Suriah didasarkan pada campur tangan piha asing, di mana [para monarki] Teluk petrodolar serta keinginan Washington, London, dan Paris, menyuruh “Israel” dan Turki untuk mendukung para takfiri sadis untuk menggoyahkan benteng kemerdekaan terakhir di seluruh Timur Tengah. (IT/MTT/rj)

sumber : http://www.islamtimes.org/

NO COMMENTS