Israel dan Agenda “Hancurkan Lebanon”

0
873 views

LebanonKonstelasi politik Lebanon sangatlah menarik untuk diamati. Di samping menjadi barrier (halangan) bagi politik ekspansi Israel terhadap negara-negara Arab dengan konsekwensi adanya campur tangan Israel yang kuat, Lebanon terpecah dalam dua kutub politik yang ekstrem. Satu kutub dimaksud adalah kubu pemerintah yang pro Amerika-Arab Saudi-Israel, dan kutub lainnya kubu oposisi anti Israel-Amerika-Arab Saudi. Kalau kubu pertama mendapat dukungan kuat Amerika dan Arab Saudi serta dukungan diam-diam dari Israel, kubu kedua mendapat dukungan Iran dan Syria serta menjalin hubungan erat dengan organisasi Hamas Palestina yang sangat anti-Israel. Itulah sebabnya setiap dinamika politik dalam negeri Lebanon sangat berpengaruh pada atau dipengaruhi oleh negara-negara pendukung tersebut.

Dan kini konstelasi politik Lebanon memasuki babak baru dengan digantinya Komisioner Pengadilan Internasional untuk kasus pembunuhan PM Rafiq Hariri tahun 2005, Detlev Mehlis, dengan komisioner baru dari Belgia, Serge Brammertz. Dengan pergantian itu berakhirlah era “Syria tertuduh” menjadi era “Hizbollah tertuduh”. Selain pergantian Mehlis yang gigih menuduh Syria sebagai dalang pembunuhan Hariri, berakhirnya era “Syria tertuduh” ditandai juga dengan pembebasan empat jendral Lebanon pro-Syria yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan Hariri. Sementara dimulainya era “Hizbollah tertuduh” ditandai dengan kampanye media massa, di antaranya koran terbesar Jerman Der Spiegel, yang pada tgl 10 Juli lalu menuliskan laporan yang berisi tuduhan Hizbollah sebagai pelaku pembunuhan.

Tentu saja perubahan “arus” yang tiba-tiba itu menambah keyakinan sebagian besar rakyat Lebanon bahwa selama ini pengadilan internasional telah menjadi alat kepentingan politik Israel untuk melemahkan Hizbollah sebagai batu sandungan politik ekspansi Israel di Lebanon. Sebagaimana kita ketahui Hizbollah-lah yang telah berhasil mengusir Israel dari wilayah Lebanon Selatan yang didudukinya sejak Perang Lebanon I tahun 1981. Hizbollah pula yang telah menggagalkan upaya pendudukan Lebanon oleh Israel tahun 2006 lalu.

Simultan dengan laporan Der Spiegel dan media massa barat lain, para pejabat Israel tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendeskreditkan Hizbollah. Kepala Staff AD Israel Jendral Gabi Ashkenazi, misalnya menuduh Hizbollah merupakan “ancaman keamanan” bagi Lebanon.

Pelepasan empat jendral pro-Syria merupakan pukulan menyakitkan bagi pengadilan serta para pejabat yang gigih menuduh keempatnya sebagai agen Syria dalam konspirasi pembunuhan Hariri. Mereka dilepaskan setelah jaksa penuntut Daniel Fransen memerintahkan pembebasan mereka dengan alasan “tidak ada kesaksian yang konsisten” serta “bukti-bukti yang tidak mencukupi”. Keempatnya adalah mantan komandan pasukan pengawal presiden Mustapha Hamdan, mantan Direktur Badan Keamanan Umum Jamil al-Sayed, mantan komandan pasukan keamanan internal Lebanon Ali al-Hajj serta mantan direktur badan inteligen militer Raymond Azar.

Jendaral Jamil al-Sayed dalam kesaksiannya mengatakan dirinya sama sekali tidak tahu menahu mengenai rencana pembunuhan Hariri. Sebelum ditahan dirinya dibujuk untuk memberikan kesaksian yang didiktekan oleh penyidik. Dan setelah ditahan, ia dipaksa untuk memberikan kesaksian yang didiktekan tersebut. Selain itu ia dan ketiga jendral lainnya diperlakukan tidak sesuai ketentuan seperti dilarang bertemu dengan pengacaranya.

“Pembebasan itu menunjukkan betapa penyidikan kasus itu sangat berbau politik,” kata dosen Universitas Amerika di Lebanon Professor Amal Saad-Ghurayib kepada media massa baru-baru ini. “Ini juga menjadi aib bagi lembaga pengadilan Lebanon serta para politisi yang telah menuduh keempatnya,” tambahnya.

Namun kesalahan terbesar pengadilan adalah kealpaan mereka menyebutkan “faktor Israel”. Analisis paling sederhana pun bisa menunjukkan bahwa Israel-lah yang paling diuntungkan dengan pembunuhan Hariri. Paska pembunuhan Hariri yang disertai dengan tuduhan Syria sebagai dalangnya, terjadi aksi-aksi demonstrasi menentang kehadiran pasukan Syria yang berdasarkan mandat Liga Arab ditempatkan
di Lebanon untuk mencegah perang saudara. Dan setelah pasukan Syria meninggalkan Lebanon, negeri ini menjadi terlalu lemah menghadapi ancaman agresi Israel. Terbukti setahun kemudian, atau tahun 2006, Israel memanfaatkan kondisi ini dengan menyerang Lebanon. Beruntung Lebanon memiliki Hizbollah yang berhasil memukul mundur Israel.

Namun meski telah kalah, Israel dan sekutu utamanya Amerika dan sekutu rahasianya, Arab Saudi, terus berupaya melemahkan Hizbollah. Pertama Israel menggunakan isu senjata Hizbollah sebagai senjata dengan menumpang Resolution PBB nomor 1701. Resolusi tersebut memang memerintahkan pelucutan senjata milisi-milisi Lebanon namun dalam kondisi tidak ada lagi ancaman keamanan dari Isreal. Sementara Israel masih terus-menerus melakukan pelanggaran perbatasan, implementasi resolusi tersebut tentu saja menjadi tidak valid. Isu tersebut bahkan kemudian menjadi bola liar yang tidak terkendali setelah kubu pemerintah pimpinan PM Fuad Siniora menjalankan skenario Israel-Amerika-Saudi Arabia dengan memaksakan implementasi resolusi PBB pada tahun 2008. Pertama Siniora mengganti kepala keamanan bandara internasional Beirut, seorang jendral simpatisan Hizbollah dengan pejabat baru dari kubu pemerintah. Dan kedua, yang lebih fatal, adalah upaya Siniora mengambil alih paksa jaringan komunikasi milik Hizbollah yang telah menjadi sarana vital dalam mengalahkan Israel dalam perang tahun 2006. Selain itu kubu pendukung Siniora juga melakukan mobilisasi milisinya untuk menguasai wilayah-wilayah strategis. Akibatnya Hizbollah beraksi keras. Bersama faksi-faksi pendukungnya seperti milisi Partai Amal Shiah dan Partai Sosialis pendukung Syria mereka menyerang posisi-posisi pendukung Siniora, menguasai Beirut dan mengepung istana Siniora. Hanya karena kebaikan Hizbollah-lah maka Siniora tidak ditangkap dan diadili karena pengkhianatan.

Keterlibatan Israel dalam pembunuhan Hariri sebenarnya telah menjadi sebuah analisis rasional yang telah dipublikasikan. Pada tgl 24 Oktober 2006 misalnya, Wayne Madsen Report (WMR), sebuah lembaga kajian politik Amerika, mengumumkan: “Seorang pejabat teras DGSE (Direction Générale de la Sécurité Extérieure atau dinas inteligen Perancis) mengatakan kepada WMR dibunuh oleh pembunuhan yang diatur oleh dinas inteligen Israel, Mossad. Pengakuan tersebut menjadi sangat berarti karena pemerintah Perancis telah bergabung dengan Amerika menuduh Syria sebagai pelaku penyerangan. Menurut pejabat DGSE itu Israel dan Amerika berharap dengan pembunuhan itu terjadi aksi-aksi demokstrasi besar-besaran untuk menuntut pasukan Syria keluar dari Lebanon. Dengan mundurnya pasukan Syria, Lebanon menjadi lemah tanpa pelindung sehingga Israel dengan leluasa bisa menyerang dan menghancurkan Hizbollah dan infrastukturnya,” tulis WWR.

Selain pembunuha Hariri, WMR juga menuduh Israel berada di belakang pembunuhan politik beberapa politisi Lebanon penentang Israel seperti Elie Hobeika, George Hawi dll.

Lebih jauh pada tgl 28 Maret 2008, WMR melaporkan: “Sebuah penitia panel yang dipimpin mantan jaksa Kanada, Daniel Bellemare telah menyimpulkan bahwa pembunuhan Hariri dilakukan oleh sebuah “jaringan kriminal” dan bukan dilakukan oleh inteligen Syria, Lebanon ataupun Hizbollah. “Jaringan kriminal itu” terdiri dari para mantan intel Lebanon dan Syria yang bekerja untuk Israel dan staff senior National Security Council, Elliott Abrams, pelaku skandal Contra-Iran. Meski laporan itu tidak menyebutkan individu-individu anggota “jaringan kriminal” tersebut, WMR berhasil mengidentifikasinya, termasuk di antaranya para pedagang senjata gelap yang bekerja untuk Viktor Bout dari Rusia (seorang yahudi yang terlibat dalam jaringan mafia Rusia yang seperti umumnya menjalin kerjasama erat dengan Israel).

Tentu saja “jaringan kriminal” bentukan Israel-Amerika itu tidak akan bisa menjalankan aksinya tanpa dukungan kubu pemerintah. Terbukti saat Israel menyerang Lebanon menyusul penarikan pasukan Syria dan dihadapi sendirian oleh Hizbollah dan pendukungnya, militer Lebanon dan kubu pemerintah diam seribu bahasa menyaksikan serbuan Israel tersebut. Kubu pemerintah justru menuding Hizbollah dan pendukungnya sebagai “kelompok petualang” dan menuntut pelucutan senjata Hizbollah.

Karena alasan itu para patriotik nasionalis yang tergabung dalam kubu oposisi melihat dengan jelas bahwa pengadilan internasional kasus pembunuhan Hariri adalah alat Israel untuk mendapatkan apa yang gagal mereka peroleh di medan perang.

sumber : http://wahabilaknat.blogspot.com/

NO COMMENTS