ISIS di Indonesia: Kebohongan MMI dan Fitnah Terhadap Syiah

0
2,097 views

Tim LPPI Makassar

8852872_origAda manuver baru yang dilakukan oleh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang selama ini berada di baris depan mendukung ISIS dan kelompoknya. Ketika pemerintah Indonesia menyatakan dengan tegas pelarangan ideologi dan aktifitas ISIS/IS di Indonesia, MMI dan kawan-kawan juga menyatakan penolakan terhadap ISIS/IS. Ini tentu saja menjadi banting stir yang cukup mencengangkan bagi yang akrab dengan aktifitas MMI dan afiliasinya selama ini. Tim LPPI Makassar melakukan penelusuran berikut atas keanehan tersebut. [lppimakassar.net]

Tanggal 9 Agustus 2014, di markas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Pamulang Tangerang Selatan, salah satu kelompok takfiri pendukung kelompok teroris ISIS/IS di Indonesia ini menggelar konferensi pers. Acara itu dihadiri oleh pengurus inti MMI, termasuk Ketua Lajnah Tanfidziyah MM Ustadz Irfan S. Awwas serta tokoh takfiri Indonesia yang menjadi tokoh dan penasehat MMI, Abu Jibril. Mereka mengeluarkan rilis dengan judul “Pernyataan Majelis Mujahidin Daulah Al-Baghdadi (ISIS) Rekayasa Syi’ah Menggunakan Doktrin Khawarij”.

Inti yang MMI ingin sampaikan adalah penolakan mereka terhadap ISIS yang mereka sebut Daulah al-Baghdadi, bukan Daulah Islamiyyah. Seperti dikutip dari arrahmah, MMI menyatakan dengan tegas bahwa Daulah Khilafah Al Baghdadi sesat dan menyesatkan!

Picture

Yang menarik untuk dianalisa kemudian adalah pesan yang mereka sampaikan. Demikian pula bagaimana media arrahmah dot com yang selama ini menjadi corong MMI dan JAT bentukan Abu Bakar Ba’asyir dan sejenis MMI Perjuangan, berubah haluan dalam beberapa waktu terakhir. Ada beberapa kemungkinan yang kami hendak jelaskan dalam tulisan ini, dan semuanya adalah upaya pengelabuan MMI untuk tujuan tertentu.

Pertama, MMI mencoba mengelabui kaum muslimin dan masyarakat Indonesia bahwa MMI adalah kelompok steril yang sama sekali tidak berhubungan kelompok ISIS/IS baik dalam ideologi maupun metodologi jihad yang mereka terapkan.

Kedua, MMI juga mencoba mengelabui kaum muslimin secara khusus bahwa ISIS/IS adalah hasil rekayasa Syiah. Apa maksud dari tipuan ini, akan kami tunjukkan kebohongannya di dalam tulisan ini.

MMI Adalah Pendukung ISIS

Akhir Juli sampai awal Agustus 2014 adalah masa-masa sekarat bagi kelompok pendukung ISIS/IS di Indonesia. Setelah semakin jelasnya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh ISIS/IS di Irak, munculnya video rilis pendukung ISIS/IS yang juga adalah buronan teroris di Indonesia, serta munculnya deklarasi dukungan terhadap ISIS/IS di berbagai kota di Indonesia, presiden SBY meminta jajaran kabinet terkait untuk melakukan rapat terbatas menindaklanjuti masalah ini. Seperti yang dikutip dari situs Republika, dalam jumpa pers usai Sidang Kabinet Terbatas di Kantor Presiden, Senin 4 Agustus, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto menegaskan sikap pemerintah:

  1. ISIS bukan masalah agama. Ini adalah masalah ideologi yang kalau dikaitkan dengan negara Indonesia, maka ideologi ISIS/IS tidak sama, bertentangan dengan ideologi Pancasila, bertentangan dengan keberadaan negara kesatuan Republik Indonesia, dan bertentangan dengan prinsip kebhinekaan Indonesia.
  2. Setiap upaya pengembangbiakan paham ISIS/IS ini harus dicegah. Indonesia tidak boleh menjadi tempat persemaian paham ISIS/IS tersebut. Pemerintah dan negara menolak dan tidak mengizinkan paham ISIS/IS berkembang di Indonesia karena tidak sesuai dengan ideologi Pancasila dan kebhinekaan kita di bawah NKRI.
  3. Pemerintah akan mencegah berdirinya perwakilan formal dari ISIS/IS. Pemerintah meminta agar seluruh komponen masyarakat dapat mencegah penyebaran paham ISIS/IS di Indonesia.
  4. Presiden SBY sebagai pemerintah Indonesia menginstruksikan kepada Kementerian Kominfo untuk melakukan blokade atau blokir terhadap upaya-upaya penyebaran paham ISIS/IS melalui media sosial, atau yang lebih tajam yang selalu disiarkan melalui Youtube

(Sumber: dirangkum dari Pemerintah Resmi Larang ISIS Masuk Indonesia dan Pemerintah Tolak ISIS di situs Republika Online)

Selain itu, berbagai ormas Islam di Indonesia, termasuk partai politik seperti PKB ramai-ramai menyatakan penolakan terhadap ISIS/IS. NU, Muhammadiyyah, IJABI, ABI, Forum Ukhuwah Islam MUI, dan ormas Islam lainnya menyatakan sikap dengan tegas. Bahkan ormas yang dikenal keras dan polisi jalanan seperti FPI, atau Hizbut Tahrir yang memang perjuangannya adalah menegakkan khilafah, dengan tegas menolak khilafah bentukan ISIS/IS dengan sejumlah alasan.

Dengan kondisi ini, media dan kelompok pendukung ISIS/IS di Indonesia menjadi ketakutan. Itulah kemungkinan kuat yang mendasari mengapa media online arrahmah dot com kemudian “berubah haluan” dan MMI harus tiarap dengan melakukan konferensi pers menolak ISIS. Benarkah demikian? Mari kita lihat sepak terjang MMI dan arrahmah dot com dalam dukungannya terhadap ISIS.

Dikutip dari media utama pendukung IS di Indonesia, Shoutussalam, ISIS dibentuk oleh Abu Bakar al-Baghdadi tahun 2013. Sebelumnya, di masa pendudukan Amerika di Irak tahun 2006 sampai ditariknya pasukan Amerika dari Irak, terbentuk milisi bersenjata yang merongrong pemerintahan Irak paska tumbangnya Saddam. Pada tanggal 16 Oktober 2006, beberapa kelompok milisi membentuk ISI (Islamic State in Irak) yang sebelumnya masih berupa Majelis Syura Mujahidin Irak binaan dan afiliasi al-Qaedah. Dalam deklarasi ISI itu, Abu Umar al-Baghdadi dibaiat sebagai amir. Ketika amir milisi ini meninggal tahun 2010, ia digantikan oleh Abu Bakar al-Baghdadi. Dan di tahun 2011, ISI dibawah Abu Bakar ini membantu Jabhat al-Nusrah dalam pemberontakannya kepada pemerintah Suriah. Saat itulah hubungan ISI dan Jabhat al-Nusrah dimulai menurut keterangan Shoutussalam. Dan akhirnya, di tahun 2013, Abu Bakar menyatakan dibubarkannya ISI dan diubah menjadi ISIS untuk menegaskan bahwa wilayah kekuasaannya sudah mencakup Syam. Saat itulah kemudian ISIS berbeda haluan dengan al-Qaedah dan mulai berperang dengan kelompok-kelompok pemberontak di Suriah, termasuk Jabhat al-Nusrah sendiri.

Lalu dimana posisi MMI? Seperti yang bisa kita telusuri di media utama MMI di arrahmah dot com, atau yang sejenis seperti voa-islam dot com, MMI beserta kelompok seperjuangannya berada di depan dalam dukungan terhadap ISIS/IS. Kita bisa menelusuri bagaimana dukungan kelompok-kelompok ini terhadap ISIS yang mereka sebut “berjihad” di Suriah dan Irak. Mereka menggunakan jargon dan identitas yang sama untuk menyerang kelompok muslim lain di Indonesia. Dan seperti yang disebutkan di atas dan informasi berikut, fakta menunjukkan bahwa identitas ISIS yang digunakan MMI dan kelompoknya di Indonesia adalah paska deklarasi ISIS tahun 2013. Hal ini untuk menegaskan bahwa MMI sudah mendukung ISIS sejak dideklarasikan oleh Abu Bakar. Berikut beberapa contoh.

Pada saat perayaan Idul Ghadir yang diadakan oleh IJABI tanggal 26 Oktober 2013 di gedung Smesco Jakarta, Abu Jibril dan sekitar 50-an orang dari berbagai kelompok melakukan demo menuntut pembubaran acara tersebut. Pada saat itu, atribut ISIS sangat jelas terlihat seperti di foto berikut ini. (Sumber: Vivanews foto). Foto ini memberikan fakta bahwa “awalnya” MMI itu mendukung dan memiliki ideologi yang sama dengan ISIS. Menarik untuk dicatat bahwa kejadian ini terjadi di akhir tahun 2013 lalu, saat pemberontakan ISIS di Suriah masih berlangsung.

Picture

Picture

Demo segelintir orang di acara Perayaan Idul Ghadir yang diadakan oleh IJABI 26 Oktober 2013 di Gedung Smesco Jakarta. Perhatikan atribut ISIS di acara orasi Abu Jibril tersebut.
Contoh yang lain adalah kiprah kelompok-kelompok ini dalam upaya mereka membubarkan peringatan Asyura yang diadakan oleh LKAB 14 Nopember 2013 lalu. Di acara tersebut, seluruh anasir yang bersekutu dengan MMI berusaha membubarkan acara. Nampak di antara mereka juga menggunakan jargon dan identitas ISIS. Foto-foto diambil dari situsMerdeka.com.

Picture

Picture

Demo MMI dan anasirnya di acara peringatan Asyura LKAB 14 Nopember 2013 di Balai Samudra Jakarta. Perhatikan bendera dan identitas ISIS di demo tersebut.

Selepas itu, di awal tahun 2014, media arrahmah mewakili MMI masih menyebarkan “berita gembira” mengenai kemenangan ISIS di Irak dan Suriah. Misalnya berita kemenangan ISIS di Irak Utara di pertengahan Februari 2014. Di berita itu arrahmah masih menyebut ISIS sebagai mujahidin. Sampai bulan Juni tahun ini, arrahmah masih menyampaikan berita “kemenangan mujahidin” di Irak yang notabene adalah kelompok di bawah ISIS. Tapi mengapa kemudian seolah-olah dukungan MMI dan medianya ke ISIS/IS melemah dan malah menolaknya?

Perlu diketahui bahwa kelahiran ISIS tahun 2013, apalagi IS di Ramadhan 1435H bulan lalu, sudah menimbulkan polemik. Menurut kiblat dot net, salah satu situs takfiri online dalam postingannya awal Nopember 2013, al-Qaedah menolak kelahiran ISIS sehingga Syaikh Aiman Adz-Dzawahiri pemimpin besar al-Qaedah memerintahkan Abu Bakar untuk membubarkannya dan kembali ke wilayah Irak saja. Menurut situs ini, al-Qaedah menginginkan Jabhat al-Nusrah menjadi payung afiliasi al-Qaedah di Suriah, sementara ISI di Irak saja. Bahkan sempat diberitakan bahwa al-Jaulani, pemimpin Jabhat al-Nusrah asal Mesir yang ditunjuk al-Qaedah di Suriah, menolak ISIS dan merencanakan membentuk pemerintahan sendiri. Lantas apa hubungannya dengannya MMI di Indonesia? Faktanya adalah, bahkan dalam kondisi sengketa antara ISIS dan Jabhat al-Nusrah di awal kelahirannya sampai awal tahun ini, MMI tetap mendukung ISIS. Perubahan memang terlihat dalam tindak tanduk MMI ketika ISIS dideklarasikan sebagai IS. Tapi apakah makna perubahan tersebut?

Berdasarkan fakta-fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa kendornya dukungan MMI kepada ISIS adalah setelah dideklarasikan menjadi IS di bulan Ramadhan yang lalu. Tapi apa yang mendasari perubahan sikap MMI padahal sebelumnya adalah pendukung kuat gerakan dan “jihad” ISIS tersebut? Sekali lagi fakta menunjukkan di atas bahwa pemerintah dan umat Islam Indonesia menolak IS dan akan  melakukan tindakan terhadap siapapun yang mendukungnya. Sangat berasalan untuk menyimpulkan bahwa “strategi” MMI menolak ISIS/IS adalah untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya di Indonesia. Jika setelah sikap pemerintah ini ditegaskan sementara MMI masih menunjukkan sikap yang sama, tidak menutup kemungkinan kelompok ini akan diberangus, apalagi oleh pemerintahan pengganti SBY nantinya yang jelas-jelas menyatakan perang terhadap kelompok yang menolak empat pilar kebangsaan. Karena itu MMI harus mengambil langkah penting untuk menyelamatkan organisasinya.

ISIS Bukan Pengikut Syiah

Di dalam konferensi pers MMI tersebut, MMI juga mencoba mengelabui kaum muslimin secara khusus bahwa ISIS/IS adalah hasil rekayasa Syiah. Tentu saja, itu kebohongan yang terang benderang dan bualan yang sangat tidak cerdas. Semua orang tahu bahwa ISIS/IS lahir dari al-Qaedah, dan seluruh sejarah ISIS/IS berhubungan dengan al-Qaedah. Apakah al-Qaedah adalah pengikut Syiah? Semua orang yang ditanya pasti akan menjawab BUKAN.

Media takfir corong IS di Indonesia shoutussalam dot com menegaskan bahwa musuh utama IS adalah pemerintahan Syiah. Shoutussalam memperjelas tujuan ISIS/IS dengan kalimat:

Pertama, termasuk musuh utama IS adalah rezim Syiah. Pihak Syiah sangat berkepentingan akan pelemahan IS karena IS telah mampu melakukan pencapaian besar dan banyak merugikan milisi Syiah. Elemen-elemen Syiah yang berada di jalur media sering meniupkan kebohongan bahwa IS juga membunuh orang Islam sendiri, padahal Syiah -baik di bawah rezim Nuri Al-Maliki di Irak maupun rezim Bashar Al-Assad di Suriah- bukanlah Islam. Selain juga adanya fitnah dari kalangan sekular yang tidak menginginkan berdirinya Negara Islam dan penerapan Syariat Islam.

Kedua, pernah terjadi sentimen antara IS(IS) dengan elemen Mujahid lainnya karena fitnah Syiah dan kalangan sekular ini menjadi kesempatan untuk disebarluaskan, guna menghancurkan reputasi IS(IS), padahal kenyataannya, mereka yang disebut-sebut saling bertikai seringkali melakukan operasi bersama untuk menghancurkan kekuatan Syiah di Suriah.

Silahkan telusuri media-media online pendukung ISIS/IS. Di media tersebut pembaca akan sangat mudah menemukan berita kegembiraan ISIS ketika mengalahkan tentara Irak yang mereka sebut tentara Syiah. Menurut penelusuran tim kami, berita “kemenangan” ISIS/IS dalam membantai dan membunuh muslim Syiah jika bukan berita bohong, pastilah berita yang dibesar-besarkan. Namun lepas dari benar atau salah berita-berita tersebut, setidaknya hal itu menunjukkan bahwa pekerjaan utama ISIS/IS adalah membunuh muslim Syiah (dan siapapun yang tidak mau mengikuti jalan pikiran mereka).

Lantas bagaimana mungkin ISIS/IS bisa disebut Syiah sementara tujuan mereka adalah menghancurkan Syiah? Bahkan situs ISIS/IS ini mengkritik kelompok Islam yang selama ini justru bersama ISIS/IS memerangi Syiah, tapi kemudian memojokkan mereka. Tak lupa juga ditegaskan bahwa sentimen terhadap IS adalah karena fitnah dan tipudaya Syiah untuk memecahbelah mujahidin dan IS.

Jika ternyata MMI menuduh ISIS/IS sebagai rekayasa Syiah, sementara IS sendiri menuduh kelompok yang menuduhnya Syiah dan Khawarij adalah Syiah, lalu yang manakah di antara mereka yang Syiah? Sangat lucu permainan saling tunjuk ini. Tentu saja, baik MMI dan ISIS/IS pasti mengaku sebagai ahlussunnah wal jamaah.

Dengan kesemrawutan klaim dan tuduhan media-media takfiri ini, mudah menemukan jawaban bahwa apa yang mereka katakan adalah fitnah. Dan fitnah MMI terhadap Syiah dalam hubungannya dengan ISIS/IS sangat mudah dipatahkan. Sekali lagi, apa maksud permainan MMI ini? Jawabannya sama dengan kesimpulan di atas: untuk menjaga kelangsungan hidup mereka yang terancam karena penolakan Indonesia terhadap ISIS/IS. MMI ingin cuci tangan dan basuh muka, seolah-olah mereka tak memiliki hubungan apa-apa dengan kelompok radikal dan lebih pantas disebut teroris itu. Tujuannya jelas, agar kelak jika pemerintah melakukan sapu bersih, mereka masih bisa selamat.

Pesan terakhir, masyarakat Indonesia harus bersatu padu untuk menangkal dan mematikan seluruh gerakan-gerakan sejenis ISIS/IS yang ingin merongrong NKRI dan Pancasila. Dan MMI serta jaringannya harus tetap diwaspadai.

Wallahu ‘alam.

Sumber :LPPI MAKASAR

NO COMMENTS