Imam Yang Membodohi Umat, Kenapa Dibiarkan?

0
638 views

Biasanya raja Saudi Arabia selalu menyebut dirinya sebagai Khadimul Haramain atau Pelayan Dua Haram (Mekah dan Madinah). Padahal kata orang-orang kritis, sebenarnya bukan Khadim (pelayan) tetapi Hadim (penghancur). Sebab yang dia hancurkan di dua kota suci itu jauh lebih serius daripada yang dia bangun. Yang mereka hancurkan, rumah kelahiran Nabi, kampung para leluhur Nabi yang dikenal dengan Syi’ib Abu Thalib; rumah-rumah para sahabat, “menara” azan Bilal; bukit Abu Qubais yang sangat bersejarah; masjid as-syajarah, tempat Bai’ah ar-Ridhwan dsb. Itu baru di Mekah. Belum yang di Madinah seperti rumah-rumah para sahabat Nabi, keluarga Nabi, kubah-kubah di Baqi’, kawasan gunung Uhud, dan ratusan kalau bukan ribuan situs-situs sejarah yang sangat berharga. Karena itu gelar Hadim jauh lebih layak daripada Khadim.

Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud ini sekarang minta gelar lebih suci. Yakni gelar Imam bagi dirinya. Tepat pada tgl 9 mei 2015 si raja meminta kepada Dewan Kerajaan Saudi agar memberinya gelar Imam. Dan dewan ini kemudian dengan mudahnya menyematkan nama kepada si raja Imam Salman bin Abdul Aziz al-Saud. Untuk lebih kelihatan suci maka komite para ulama kerajaan yang dipimpin oleh mufti Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Aali Syaikh, kemudian dengan resmi mengumumkan dan mentahbiskannya dengan panggilan Imam Salman bin Abdul Aziz al-Saud. Raja salman tentu punya ambisi besar. Ia berambisi untuk menjadi imam atau pemimpin seluruh kaum muslimin ahlu sunnah wal jamaah dunia. Dan karena itu dia paksakan dirinya menjadi Imam, walau persyaratan untuk menjadi Imam sama sekali tidak dia miliki.

 

Ini adalah contoh yang sangat gamblang betapa para ulama salafi dan wahabi adalah orang-orang yang menjadi mitra raja-raja dan tukang stempel ambisi keluarga kerajaan Saudi semata-mata.

Stempel yang diberikan oleh si mufti tentu tidaklah gratis. Ada take and givenya. Selalu saja ada jual-beli dan transaksi yang hebat antara keluarga kerajaan Saudi dengan keluarga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Raja Salman adalah keturunan raja Saud, dan sang mufti berasal dari keturunan keluarga Ali-Syaikh, yakni Syaikh Muhammad pendiri wahhabi. Take and givenya adalah kerajaan wajib mempromosikan ajaran wahabi sementara si mufti wajib melegalisir apapun yang dilakukan oleh keluarga kerajaan. Itulah deal utamanya. Bagi keluarga raja, right or wrong wahabi is my agama; dan bagi keluarga syaikh, right or wrong raja Saudi is my imam.

 

Langkah berikutnya bisa kita terka, kalau raja Salman sudah dianggap imam maka siapapun tidak boleh memprotes apapun yang dia lakukan. Walau itu adalah perang dan pembunuhan  terhadap kaum muslimin yang lain  seperti perang Saudi terhadap rakyat Yaman yang telah berlangsung hampir dua tahun dan yang telah menelan korban sipil lebih dari 5000 orang; teror dimana-mana lewat tangan-tangan yang ia ciptakan seperti al-Qaedah, ISIS dsb sampai perbuatan-perbuatan jahat dan pengkhianatan terhadap kaum muslimin terutama kepada bangsa Palestina.

Para ulama salafi ini bungkam seribu bahasa dari kebejatan dan kejahatan yang dilakukan oleh kerajaan Saudi. Contoh paling terakhir adalah pengakuan Saudi terhadap negara dan pemerintahan Israel yang telah merampas hak-hak bangsa Palestina, membunuh mereka bahkan yang ingin menghancurkan masjid al-Aqso yang merupakan kiblat pertama dalam Islam.

Para ulama salafi ini bungkam seribu bahasa menyaksikan Imamnya bermesra-mesraan  dengan para pembunuh kaum muslimin di palestina. Dalam perang gaza selama 50 hari saja Israel telah membunuh lebih dari 2200 warga palestina di mana sebagian besar korban adalah warga sipil termasuk 551 anak-anak dan 299 perempuan. Sementara  yang luka lebih dari 11.000 warga Palestina termasuk 3.540 perempuan dan 3.436 anak-anak.

Belum lagi kalau kita lihat penderitaan saudara-saudara kita Palestina yang rumah-rumah dan kebutuhan infrasturktur publiknya di hancurkan oleh Israel di mana lebih dari 2.000 rumah musnah dan paling sedikit 2.200 rumah rusak.

Sampai kapan kita pasif dan tidak kritis terhadap para ulama salafi yang tidak pernah peduli dengan keimanan kita?

No tags for this post.

NO COMMENTS