Hadiri “Nahdhatul Ulama Sufi Gathering”, Raja Abdullah II Serukan Perdamaian dan Toleransi

0
621 views

1393417973Satu Islam, Jakarta – Pertemuan akbar warga Nahdhatul Ulama seluruh Indonesia dari berbagai Pengurus Wilayah di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu 26 Februari 2014 yang diselenggarakan PBNU dalam acara “Nahdhatul Ulama Sufi Gathering” dihadiri Raja Jordania, Abdullah II bin al-Hussein al-Hashimiyah, sejumlah tokoh nasional dan Duta Besar negara sahabat.

Para tokoh nasional yang hadir dampak hadir, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua Mejelis Ulama Indonesia (MUI).

Para Duta Besar dari negara sahabat seperti Iran, Kazakhstan, Jerman, Uni Emirat Arab, Rusia, Portugal, Jordania, Afrika Selatan dan Kuwait hadir pada acara yang dipadati ribuan warga Nahdhiyin.

Tampak pula ketua Thoriqoh Muktabaroh Annahdhiyah PBNU Habib Lutfi bin Yahya beserta rombongan dari Pekalongan Jawa Tengah. Ketika dimintai keterangan terkait acara tersebut Habib Lutfi dengan diplomatis enggan memaparkan.

“Acaranya saja belum dimulai dan Raja Jordania juga belum datang, biasanya setelah makan-makan baru ada keterangan. Ujar Habib Lutfi didampingi ajudannya.

Abdullah II bin al-Hussein al-Hashimiyah dalam kesempatan ini, menyampaikan harapannya agar sesama umat Islam rukun dan mengakhiri konflik.

Raja Abdullah berpesan agar toleransi dijaga. Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku justru untuk saling mengenal. Dia juga menyesalkan konflik sectarian antara Sunni dan Syiah yang belum juga usai.

“Jangan kita saling mengkafirkan satu dengan yang lain. Islam harusnya mampu merangkul dan menyatukan yang terpecah belah, ” kata Abdullah.

Tertkait Konflik yang terjadi di Suriah Raja Jordania Abdullah II bin al-Hussein al-Hashimiyah meminta dukungan penyelesaian damai konflik Suriah yang sampai sekarang belum ditemukan titik terangnya. Selain konflik tersebut telah menyebabkan derita bagi rakyat Suriah, imbas dari konflik Suriah mengancam situs-situs tua Kristen dan Islam yang ada di Jordania mengingat negara yang dibanjiri 600 ribu pengungsi  asal Suriah tersebut berbatasan langsung dengan Suriah dan Israel.

Jordania menginisiasi upaya  perdamaian antara Islam dan Kristen dan ia berharap acara ini bisa melahirkan perdamaian antar umat Islam baik di Suriah atau di negara lain yang dilanda konflik sectarian.

“Butuh dukungan global untuk penyelesaian konflik ini,” katanya

Pada kesempatan tersebut, Raja Abdullah II juga mendukung inisiatif perdamaian dua negara antara Palestina dan Israel dengan menggunakan batas wilayah yang ditetapkan pada 1967 dan Yerussalem Timur sebagai ibukota Palestina. .

Berbicara dalam acara itu, Ketua Umum PBNU KH. Said Agil Siroj mengatakan, Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim menghormati kepercyaan apapun. Kiyai Said beralasan  Indonesia negara yang berdiri di atas keragaman dengan menjadikan Pancasila sebagai asasnya.

“Bahkan kami menghormati adanya aliran kepercayaan seperti Sunda Wiwitan dan Dharmogandhul,” kata Kiyai Said

KH.Said Aqil Siroj sangat mendukung upaya penyelesaian damai konflik Suriah dan Timur Tengah pada umumnya. Ia menegaskan, NU telah terlibat dalam sejumlah dialog Sunni-Syiah dan penyelesaian konflik yang terjadi di sejumlah negara Muslim. “NU mendorong penyelesaian konflik secara damai,” tegasnya.

Timur Tengah, katanya, bisa belajar dari Indonesia dalam penanganan konflik. Di Timur Tengah tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah seperti di Indonesia jika terjadi konflik.

“Jika ada konflik, bedil yang bicara,” tandasnya.

Menurut keterangan Suroso, salah satu panitia dari sekretariatan PBNU mengatakan sebelumnya 3 bulan yang lalu beberapa ulama dari negara-negara Islam yang dilanda konflik mendatangi PBNU. Ditemui KH. Said Agil Siroj ulama dari Afghanistan, Pakistan, Irak, Yaman dan Suriah menyampaikan harapannya, Indonesia yang bisa dijadikan model toleransi bisa menjadi mediator persilihan antar umat Islam.

“Islam model di Indonesia ini berbeda dengan yang ada di Timur Tengah sana, Islam ala Indonesia yang toleran diharapkan bisa diduplikasi di negara-negara yang dilanda konflik itu.” Kata Suroso kepada Satu Islam.

sumber : satuislam.org

NO COMMENTS