FOSWAN : Forum Warga NU Anti Salafi Palsu

0
427 views

Bangkit dan kemudian menjamurnya penyebaran paham Wahabi-Salafi di tengah masyarakat Indonesia, bermula sejak 1998. Tahun yang menjadi tonggak kelahiran era Reformasi, saat kran kebebasan dibuka lebar dan demokrasi kian diteguhkan sebagai sistem kehidupan bernegara dan berbangsa. Saat itu pemilu memungkinkan rakyat memilih presiden-wakil presiden dan wakil rakyat secara langsung. Dan pada saat yang sama kebebasan bersuara, berpendapat, membentuk perserikatan/perkumpulan diberikan peluang sangat terbuka. Saat masa euforia itu pula, beragam paham keislaman yang sekian lama termarjinalkan oleh pemerintahan Orde Baru, perlahan bangkit ke permukaan untuk kemudian memperkokoh posisinya di tengah umat. Salah satunya, tak lain adalah paham Wahabi-Salafi. Kelompok ini terbilang sangat gencar menyebarluaskan ajarannya di tengah-tengah paham Islam tradisional yang telah mengakar dengan kultur dan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Pada awalnya, penyebaran paham Wahabi-Salafi ini belum menimbulkan masalah serius di tengah umat. Namun belakangan mulai memantik keresahan dan perpecahan bahkan terkadang berujung bentrok horizontal tak hanya di tengah komunitas masyarakat tapi juga di lingkungan terkecil, keluarga.

Ustad Zainul Akifin, pemerhati gerakan Wahabi-Salafi yang juga ketua Forum Silaturrahim Warga Nahdhiyin (FOSWAN), saat ABI Press temui di rumahnya menyontohkan salah seorang anak (di seputar tempat tinggalnya di Bekasi) sebagai pengikut paham Wahabi-Salafi yang tiba-tiba bukan hanya tak lagi menaruh sikap hormat terhadap kedua orang tuanya, tapi bahkan sudah berani tak mengakui keduanya karena sudah dianggapnya sesat dan kafir.

Contoh lain, ada seorang suami yang setelah terpengaruh paham ini berniat menceraikan istrinya karena sang istri tak mau mengikuti ajaran Wahabi-Salafi. Belum lagi pernyataan heboh kelompok ini yang menyatakan bahwa seluruh pejabat pemerintahan di Indonesia ini sebagai antek kafir kapitalis, sementara rakyat yang mau menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menghormat bendera Merah Putih sebagai musyrik, dan lain-lain. Sungguh memprihatinkan!

Berangkat dari keprihatinan itu berkumpullah sejumlah ustad Ahlusunnah wal Jamaah di Bekasi pada tahun 2011. Mereka sepakat membentuk FOSWAN.

Ustad Zainul selaku ketua FOSWAN menyatakan, forum ini dibentuk karena Ahlusunnah Wal Jamaah yang ada di Indonesia kerap kali dituding sebagai pelaku kesesatan dan kemusyrikan. Bukan cuma itu,  Wahabi-Salafi pun telah berani mengkafirkan dan mencaci-maki para wali, ulama awal penyebar risalah Islam di Nusantara.

“Wah ini nggak main-main, ini. Ini ancaman bagi negeri kita, ini,” ujarnya dengan nada cemas.

Karena itu FOSWAN mengadakan tablig akbar keliling ke masjid-masjid untuk memberikan pencerahan kepada warga sekitar tentang bahaya kelompok Wahabi-Salafi. Meski pada awalnya sejumlah ulama menganggap sikap FOSWAN terlalu berlebihan, namun saat ini baru terasa betapa yang dilakukan FOSWAN sudah tepat.

Akhirnya lembaga ini pun menjadi tempat pengaduan apabila di setiap kantor, perumahan, dan masjid, timbul keresahan gara-gara ulah kaum Wahabi-Salafi yang seringkali melampaui batas kewajaran dalam membid’ah, mengkafirkan, dan mensesat-sesatkan amaliah kelompok Aswaja. Padahal dalam penelusuran FOSWAN, semua tuduhan itu tidaklah benar. Karena semua ajaran dan amaliah Aswaja di Indonesia tetap didasari dan berpedoman pada Al-Quran dan hadis Nabi.

Sebagai upaya tabayun, FOSWAN berupaya membuka pintu dialog dengan kaum Wahabi-Salafi. Di antaranya dengan cara mengirim surat ke sejumlah radio yang biasanya menyiarkan dakwah mereka. Namun surat balasan yang didapat sungguh mengejutkan.

“Mereka bilang, untuk apa harus berdialog dengan orang-orang yang notabene sudah jelas-jelas calon ahli neraka? Buang-buang energi, buang-buang waktu!” ujar Ustad Zainul mengutip poin surat balasan yang didapatnya dari kelompok itu. “Sungguh kesombongan mereka itu melebihi kesombongan Iblis laknatullah,” lanjutnya.

Selaku pejuang ‘Bid’ah Hasanah,’ FOSWAN bertekad mengembalikan pemahaman masyarakat luas pada arti bid’ah yang sesungguhnya. Yaitu pengertian bid’ah yang berasal dari kajian orang berilmu. Bukan makna bid’ah yang berasal dari kesimpulan serampangan kelompok yang jumud dan bodoh tapi merasa paling benar sendiri sebagaimana Wahabi-Salafi.

Atas permintaan banyak DKM, dalam tiga tahun perjuangannya sudah banyak situasi masjid dan kondisi jamaahnya yang kembali normal seperti semula. Padahal sebelumnya seringkali timbul suasana ‘panas’ dengan adanya aksi saling caci-maki dan saling usir seperti yang terjadi di Telaga Sakinah, Telaga Murni, salah satu wilayah yang merupakan sarang para Salafi-Wahabi sering bersitegang dan hampir berujung bentrok fisik antara pihak yang pro dengan mereka yang kontra.

Karena aktivitas di FOSWAN, sudah tak terhitung banyaknya teror yang datang kepada dirinya. Meski diakui Ustad Zainul, teror kini tak sebanyak dan sesering dulu lagi.

“Mungkin mereka sudah bosan, Mas. Padahal dulunya, tiap saya selesai mengadakan acara sudah bisa dipastikan akan datang SMS teror semalam suntuk. Sampai HP tak muat pesan lagi. Tapi memang tak pernah saya tanggapi, karena ulama kita melarang untuk menanggapi teror semacam itu. Yah, kita anggap saja mereka itu ibarat anak kecil yang baru belajar bicara.”

Saat ini Wahabi-Salafi dapat digolongkan menjadi tiga golongan. Pertama, kelompok Ideologis yang tak terlalu keras tapi terus menebarkan caci-maki berdasarkan ideologi takfirinya terhadap kelompok lain. Yang kedua adalah kelompok Politis yang biasanya melarang perayaan Maulid Nabi, tapi di saat Pilpres atau Pilkada, mereka akan menyumbangkan dana perayaan serupa sebagaimana Maulid Nabi yang biasa dilakukan kalangan Aswaja yang ada di Indonesia. Yang ketiga adalah Jihadis, yaitu kelompok Wahabi-Salafi ekstrim yang tak mengenal bahasa lain selain bahasa darah.

Kepada ABI Press lebih lanjut Ustad Zainul menjelaskan, bahwa Ahlusunnah wal Jamaah itu mengguatkan kultur bukan malah menghapus tradisi yang sudah ada. Misalnya dulu ada tradisi kumpul-kumpul saat ada orang meninggal dengan melakukan mabuk-mabukan atau judi. Setelah Islam datang maka tradisi itu dikuatkan oleh Islam dengan kumpul-kumpul membaca Al-Quran. Jadi yang dihapus itu perjudian dan mabuk-mabukannya, bukan ajang silaturrahmi dan empati sosialnya. Karena itu dia menghimbau kepada seluruh umat Islam Indonesia, agar selalu waspada terhadap bahaya Wahabi-Salafi yang suka menghasut dan mengadu domba.

“Kita harus peduli dan sama-sama mengawasi kelompok anti-ukhuwah ini. Sekali lagi ingin saya tekankan, mana mungkin ada agama yang lurus seperti Islam, yang ketika ajarannya diamalkan justru menimbulkan keresahan dan kekacauan, menyebabkan sakit hati, menaburkan benih permusuhan dan menyebabkan bentrok fisik di tengah masyarakat? Ketahuilah, jika ada kelompok tertentu yang mengatasnamakan pembawa ajaran suci Islam namun pada saat yang sama gemar menciderai dan bahkan gampang membunuh dengan alasan jihad, maka mereka itu adalah pembohong dan pendusta!”

Karena masalah keyakinan Allah yang tahu semuanya. Mengenai amalan, Nabi yang tahu semuanya. Maka menurut Ustad Zainul, tiap diri kita mesti berprinsip saling menghormati. “Jadi biarlah amalmu ya amalmu, amalku ya amalku.”

Terkait demo terhadap radio Hang FM Batam yang dilakukan masyarakat Muslim Ahlusunnah Wal Jamaah di sana karena radio Wahabi-Salafi itu terus menciderai kerukunan dan toleransi yang sudah tercipta kuat sebelumnya, Ustad Zainul menganggap protes masyarakat itu sebagai hal yang lumrah dan sudah semestinya. Dirinya mengaku paham bahwa tidak mungkin Muslim mayoritas Ahlusunnah Wal Jamaah tinggal diam bila mereka terus-menerus diusik dan dilukai perasaannya. Dia bahkan berkeyakinan bahwa protes yang sama pun akan terjadi di daerah lain, apabila Wahabi-Salafi tetap berbuat hal serupa. (Lutfi/Yudhi)

NO COMMENTS