Dialog Imajiner Mengenai Bid’ahnya Maulid Nabi Saw

0
356 views

INFOSALAFI.COM: Suatu hari, disebuah masjid kampung, dipingggiran kota, sehabis shalat Ashar berjama’ah, seorang anak muda, yang tampak begitu saleh dengan bekas sujud yang tampak jelas di dahinya dan penampilannya yang sedemikian islami dengan baju koko dan kopiah yang serba putih, mendekati imam masjid yang sudah sedemikian berumur. Keriput diwajah imam masjid itu sedemikian jelas disertai tubuh yang mulai membungkuk. Dia sedang membereskan sajadahnya, memasukkan mic kedalam kotaknya dan menutup lemari yang berisikan deretan kitab Al-Qur’an dan beberapa majalah bulanan Islam. Sementara jama’ah sudah meninggalkan masjid satu-satu dan menyisakan mereka berdua.

 

Singkat cerita terjadilah dialog sebagai berikut:

 

Anak Muda [AM]: Pak ustad, mau tanya. Boleh?

 

Imam Masjid [IM]: Silahkan nak..

 

Keduanya kemudian duduk bersilah di sisi mimbar masjid. Pak Imam menyandarkan tubuh tuanya di dinding.

 

AM: Begini pak, benar di masjid ini akan diadakan peringatan maulid Nabi?

 

IM: Benar. Memang kenapa, bukannya kamu juga penduduk kampung ini, dan sudah tahu bahwa peringatan maulid di kampung ini telah menjadi tradisi tahunan dan warga kampung menyambutnya dengan gembira?

 

AM: Iya pak. Tapi bukankah itu amalan bid’ah?

 

IM: Bid’ah? Maksudnya?

 

AM: Iya bid’ah. Tidak ada contohnya dalam Islam. Tidak pernah dianjurkan Nabi, dan juga tidak pernah diamalkan para sahabat.

 

IM: Apa semua yang tidak dianjurkan Nabi dan tidak diamalkan sahabat sudah berarti bid’ah?

 

AM: Iya. Mengadakan hal-hal yang baru yang tidak ada contohnya dari Nabi itu semuanya bid’ah, semua yang bid’ah itu sesat dan kesesatan itu di neraka.

 

IM: Kamu tahu dari mana semua itu nak?

 

AM: Dari pengajian di kampusku di kota. Saya diajari ustad alumni Arab Saudi.

 

IM: Terus, apakah mengenakan kopiah dan sarung itu juga bid’ah? mengenakan mic di masjid saat azan itu juga bid’ah karena tidak ada contohnya dari Nabi?

 

AM: Kalau itu termasuk bid’ah dari segi bahasa, dan tidak masalah.

 

IM: Jadi yang bermasalah, bid’ah dari segi mana?

 

AM: Bid’ah secara istilah. Yaitu melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dalam syariat. Menggunakan kopiah dan sarung itu, masalah duniawi, bahkan implementasi dari perintah untuk menutup aurat, jadi apa saja yang akan dikenakan itu diserahkan pada ummat.

 

IM: Bukankah, mengadakan maulid nabi juga dari perintah Nabi untuk mengagungkan, memuliakan dan selalu mengingatnya?

 

AM: Memang dalam agama kita, kita diperintahkan memuliakan Nabi, tapi ya tentu sesuai dengan tuntunan Nabi. Nabi misalnya telah menganjurkan untuk bershalawat dan mematuhi perintahnya. Sahabat-sahabat sedemikian besarnya cintanya pada Nabi, tapi tidak ada seorangpun dari mereka yang menganjurkan memperingati hari kelahiran Nabi apalagi melakukannya.

 

IM: Nabi juga tidak pernah meminta kita mendirikan pesantren, tapi mengapa dilakukan?

 

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Mendirikan pesantren bagian dari perintah Nabi untuk ummat ini menuntut ilmu dan belajar.

 

IM: Apa Nabi pernah memerintahkan mendirikan pesantren?

 

AM: Ya tidak pernah.

 

IM: Apa sahabat-sahabat melakukannya?

 

AM: Ya tidak. Tapi waktu itu memang tidak begitu penting mendirikan pesantren.

 

IM: Sekarang mengapa mendirikan pesantren? Apa karena dirasa penting, meskipun itu tidak pernah dilakukan Nabi dan sahabat-sahabatnya?

 

AM: Tapi pak. Mendirikan pesantren itu ada dasarnya. Pertama, adanya perintah untuk menuntut ilmu. Bentuk bagaimana menuntut ilmu itu diserahkan kepada ummat. Mau dipesantren, kajian di masjid, dengar ceramah, nonton program TV Islami, baca buku dan sebagainya, terserah.

 

Kedua, dimasa Nabipun dilakukan majelis-majelis ilmu, yang sesungguhnya itu adalah cikal bakal berdirinya pesantren. Hanya saja di masa Nabi masih dalam bentuk yang sangat sederhana.

 

IM: Bukankah memperingati maulid juga begitu?. Pertama, dasarnya adalah adanya perintah untuk mencintai dan mengagungkan Nabi. Bentuk amalannya diserahkan kepada ummat. Memperingati maulid Nabi adalah perwujudan dari kecintaan dan bentuk pengagungan pada Nabi. Sama halnya perintah mencintai dan menghormati orang tua. Nabi tidak memberi batasan dan pengkhususan mengenai bentuk amalannya. Ada yang mencintai orangtuanya dengan membiayai keduanya naik haji. Ada yang mencintai kedua orangtuanya dengan membangunkan rumah, membayarkan hutang-hutangnya atau dalam bentuk menjadi anak yang saleh dan berbakti. Ada pula yang sampai bertekad menjadi sarjana dengan niat, itu yang menjadi bentuk pengabdian dan kecintaannya pada orangtua. Jadi apa alasannya menghalangi mereka yang hendak mengekspresikan kecintaannya pada Nabi dengan memperingati hari kelahirannya dan bersuka cita didalamnya, sementara Nabi tidak pernah memberi batasan dan pengkhususan bagaimana amalan dari perintah mencintainya?.

 

Kedua, cikal bakalnya di masa Nabi sudah ada. Sahabat-sahabat sangat mengagungkan apa saja yang berkaitan dengan Nabi. Mereka berebutan untuk mengambil berkah dari sisa air wudhu Nabi. Mereka menyimpan rambut Nabi, mengambil keringat dan peluh Nabi. Mereka mendahulukan Nabi dari diri-diri mereka sendiri. Nah, dimasa kita yang tidak bisa bertemu Nabi, tentu tidak bisa mengagungkan Nabi sebagaimana yang dilakukan para sahabat. Kalau kita di Madinah, tentu kita akan setiap hari berziarah ke makam Nabi, dan mengambil berkah dengan menyentuh pusaranya. Sayang, kita menetap di tempat yang jauh dari itu. [Mata imam tua itu mulai berkaca-kaca]

 

Karenanya, cukuplah memperingati kelahiran Nabi dan memuliakan bulan kelahirannya, sebagai bentuk yang paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk meluapkan kecintaan dan kerinduan kepada baginda Nabi. Selain itu, tentu saja dalam keseharian adalah meneladani Nabi. [Tidak tahan, imam masjid itu untuk menyeka matanya yang sembab]

 

Kalau kita tidak bisa mengambil berkah dari fisik ataupun makam Nabi dan semua tempat bersejarah yang pernah dipijaknya, setidaknya kita mengambil berkah dari waktu-waktu mulia yang pernah dilalui Nabi. Bukankah kita sendiri tetap menganggap istimewa, hari saat kita dilahirkan, hari pertama masuk sekolah, hari saat diwisuda, hari pernikahan, hari lahirnya anak pertama dan sebagainya, dan ketika mengenang semua hari-hari menggembirakan itu kita lantas bersyukur dan bersuka cita atas rahmat Allah. Karena itu kita mengistimewakan hari lahirnya Nabi, saat beliau hijrah, saat isra mi’raj, dengan mengenang, memperingati dan membicarakannya, sebagai bentuk cinta kita pada beliau.

 

AM: Tapi pak, bagaimanapun itu sama saja menambah-nambahkan syariat dalam agama. Tidak ada contohnya, dan tidak pernah diamalkan. Kalau memang itu penting, pasti Nabi dan sahabatnya pasti yang lebih dulu melakukan dan menyemarakkannya.

 

IM: Lho, kalau pesantren itu penting. Pasti Nabi dan sahabatnya yang lebih dulu mendirikannya.

 

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Bukan ibadah.

 

IM: Bukan ibadah? Maksudnya?

 

AM: Ya, hanya wasilah untuk lebih mudah menuntut ilmu, dan lebih tersistematis dengan adanya kurikulum. Intinya itu adalah pengamalan dari perintah Nabi untuk menuntut ilmu.

 

IM: Lho, kalau begitu, maulid adalah juga wasilah untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi. Maulid, jalan untuk bisa mengumpulkan warga, sehingga mereka mau mendengarkan ceramah tentang Nabi, mereka jadi tahu akhlak dan keindahan perangai Nabi, mereka jadi tahu sunnah-sunnah Nabi apa saja. Dan dibuat tersistematis, agar ummat bisa lebih mudah untuk mengingatnya. Setiap Muharram yang diingat, peristiwa hijrahnya Nabi. Setiap Zulhijjah, yang diingat peristiwa haji terakhir Nabi dan lengkapnya syariat Islam. Setiap Rajab yang diingat adalah peristiwa isra mi’raj. Setiap Ramadhan, disaat Nabi menerima wahyu dan turunnya Al Qur’an pertama kali. Setiap Safar bulan wafatnya Nabi dan setiap Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Nabi. Dengan adanya tradisi memperingati semua hal yang penting dari peristiwa yang pernah dialami Nabi tersebut menjadi wasilah bagi para ulama, da’i dan muballigh untuk lebih mudah menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada ummat.

Bapak tanya. Pembacaan proklamasi itu kapan? Hari ibu kapan diperingati? Kalau hari Kartini kapan?

 

AM: Hari proklamasi 17 Agustus. Hari Ibu 22 Desember dan Hari Kartini 21 April.

 

IM: Kok kamu bisa ingat?

 

AM: Ya, karena diperingati tiap tahun.

 

IM: Kalau tidak diperingati secara nasional, bagaimana? Apa kamu masih bisa ingat?

 

AM: Ya bisa jadi saya lupa. Tapi apa pentingnya mengetahui itu pak?

 

IM: Ya, apa pentingnya bagimu kamu tahu kapan kamu lahir, tanggal, bulan dan tahunnya?.

 

AM: [Diam]

 

IM: Sejarah itu penting nak. Dan adanya peringatan-peringatan itu diadakan sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah. Bukankah dalam Al-Qur’an sendiri banyak perintah untuk mengingat peristiwa-peristiwa ummat-ummat terdahulu, yang dengan itu kita bisa banyak mengambil ibrah?

 

AM: Tapi bukankah tanggal kelahiran Nabi itu diperselisihkan ulama pak?

 

IM: Tapi tidak ada yang menyelisihi bahwa baginda Nabi lahir dibulan Rabiul Awwal, iya kan?. Karena itu, kita juga tidak pernah mempersoalkan kapan acara maulid Nabi diadakan. Apa tepat 12 Rabiul Awal, lebih cepat atau lebih lambat. Ditiap kampung, masjid, kantor dan sekolah, beda-beda hari dimana mereka mengadakan Maulid. Dan itu tidak mesti dipersoalkan. Dan kami juga tidak pernah menyebut mereka yang tidak mau ikut maulidan sebagai orang yang tidak mencintai Nabi. Maulidan itu tidak wajib. Kalau ada yang menyatakan, yang tidak ikut acara maulidan itu berdosa, itu yang bid’ah.

 

AM: Tidak ada amalan yang kalau itu dianggap baik dan dapat mendekatkan pada Allah kecuali pernah dianjurkan Nabi dan diamalkan para sahabat. Maulid tidak dianjurkan dan tidak diamalkan, artinya tidak dianggap baik oleh Nabi.

 

IM: Nak, ceramah taraweh itu pernah tidak dilakukan Nabi? Pernah diamalkan sahabat?

 

AM: Setahu saya tidak.

 

IM: Lantas mengapa umat Islam saat ini menggalakkannya?. Di masjid-mesjid dibuatkan jadwal ceramah taraweh, ditentukan penceramahnya, temanya apa dan seterusnya. Kalau itu baik, pasti Nabi dan para sahabat yang lebih dulu mengamalkannya.

 

AM: Ya itu hanya karena memanfaatkan momentum Ramadhan saja pak. Ruhiyah umat Islam lebih siap mendengarkan siraman rohani dibanding bulan lain.

 

IM: Lho kalau itu alasannya. Kami mengadakan maulid juga sekedar memanfaatkan momentum Rabiul Awal saja. Ruhiyah umat Islam dibulan ini lebih siap untuk mendengarkan ceramah-ceramah mengenai keagungan Nabi dan keteladanannya. Jadi kalau memanfaatkan momentum Ramadhan bukan bid’ah, sementara memanfaatkan momentum Rabiul Awal menjadi bid’ah, begitu?.

 

AM: Tidak begitu juga sih pak. Tapi pak, memperingati Maulid itu menambah-nambah hari raya dalam Islam, sementara hari raya dalam Islam itu hanya tiga. Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak perlu ditambah lagi. Menambahhya sama halnya meragukan kesempurnaan ajaran Islam yang telah dijamin kesempurnannya oleh Allah Swt. Atau menuduh Nabi tidak amanah dalam menyampaikan syariat ini.

 

IM: Yang bilang Maulid itu hari raya siapa?. Kami menyebutnya peringatan. Bukan perayaan. Karena bentuknya peringatan, ya bisa dilakukan kapan saja. Bahkan diluar Rabiul Awal pun sah-sah saja. Kalau perayaan, ya harus di hari Hnya. Kalaupun ada yang menyebutkan merayakan maulid Nabi, itu bukan maksudnya menjadikan hari maulid sebagai hari raya dan menyikapinya sebagaimana hari raya Jum’at, Idul Fitri atau Idul Adha. Ketiga hari raya itu memiliki rukun yang tidak bisa dibolak balik, ditambah ataupun dikurangi. Sementara Maulid, ya terserah pada penyelenggaranya. Ada yang melengkapinya dengan barazanji, ada pula yang tidak. Ada yang menyertainya dengan lomba-lomba ada pula sekedar mendengar ceramah, shalawatan dan makan bersama sudah cukup. Ada yang melakukannya dipagi hari. Ada sore hari, ada pula yang malam hari setelah shalat Isya. Kalau idul Fitri ya sudah ditentukan kapan dan batasannya.

 

AM: Tetap saja bid’ah pak. Bukankah bapak mengharapkan pahala dari mengadakan Maulid itu? Nah karena mengharap pahala, berarti itu dianggap ibadah. Sementara dalam ibadah Islam, tidak ada yang namanya maulidan. Kalau bapak ngotot menyebutnya bukan ibadah, berarti bapak harus menyebut itu perbuatan sia-sia karena tidak mengharap pahala.

 

IM: Apa mereka yang mendirikan pesantren itu tidak mengharap pahala? Apakah yang menyumbang untuk pembangunan pesantren tidak mengharap pahala? Sementara dalam hadits Nabi sama sekali tidak ada perintah untuk membangun pesantren, mendirikan ormas Islam, membuat yayasan-yayasan, membangun rumah sakit, puskesmas dan sekolah-sekolah?.

 

AM: [Diam]

 

IM: Apa yang lepas dari masalah ibadah nak? Mana yang kamu sebut tadi masalah duniawi?

 

AM: Mengenakan sarung dan kopiah. [Menjawab dengan nada lemah]

 

IM: Saya tanya, kalau itu hanya masalah duniawi. Mana yang lebih afdhal yang shalat dengan mengenakan sarung, kopiah dan baju koko, dengan yang shalat mengenakan kaos oblong, celana jeans dan topi koboy?

 

AM: Tentu yang pertama.

 

IM: Kok bisa? Bukankah itu hanya masalah duniawi? Berpakaian pun bisa menjadi ibadah, jika itu diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan menjalankan tuntunan Nabi untuk mengenakan pakaian yang layak dan bersih. Bukankah tidurpun termasuk ibadah?. Apa Nabi pernah mencontohkan tidur di kasur yang empuk dan mahal?.

Jadi sekarang saya bertanya lagi. Mana yang lebih afdhal yang bergembira di bulan Maulid dengan niat kegembiraannya itu karena tahu bahwa bulan itu adalah bulan lahirnya Nabi yang mulia, yang dijunjung dan diagungkan oleh semua umat Islam. Yang kegembiraannya itu diluapkan dengan berbondong-bondong ke masjid, mendengar ceramah, bersilaturahmi dan makan bersama, atau yang lebih sibuk dan ribut-ribut menyebut mereka yang memperingati maulid itu sebagai ahli bid’ah, sesat dan tempatnya kelak di neraka?.

 

Mana yang lebih meneladani Nabi, mereka yang menyerukan persatuan dan persaudaraan Islam dengan memanfaatkan momentum bulan kelahiran Nabi atau mereka yang ngotot dan memaksakan pendapat mereka sendiri, dan menyebut mereka yang menyelisihnya sebagai golongan sesat dan jahil?.

 

AM: Lebih afdhal yang pertama, pak. [Sedikit tersipu]

 

Tapi pak, bukankah memperingati maulid Nabi sama halnya tasyabbuh dengan budaya kuffar yang juga memperingati hari kelahiran orang-orang yang mereka agungkan? Sementara Nabi melarang kita meniru-niru adat-adat dan kebiasaan mereka.

 

IM: Apa dalam semua hal? Kaum jahiliah Arab dulu dikenal sangat menghormati dan mengagungkan tamu, mereka juga punya ikatan yang kuat dengan keluarga dan kabilah mereka. Apa itu jelek dan harus diselisihi karena bakal menyerupai kebiasaan mereka? Kegigihan orang-orang Barat dalam menuntut ilmu, dalam menemukan hal-hal yang canggih dan baru dalam bidang tekhnologi, apa itu harus diselisihi karena telah menjadi tradisi keilmuan mereka?

 

Mengagungkan Nabi-nabi Allah, memuliakan orang-orang yang saleh dan mengistimewakan mereka diatas yang lainnya bukanlah kebiasaan jelek yang harus dihindari. Selama bentuk pengagungan dan pemuliaan kita tidak sampai menyamakan derajat mereka dengan Tuhan atau menyematkan sifat Rububiyah kepada orang-orang saleh itu.

 

Perintah agama kita jelas. Menyuruh kita melakukan hal-hal yang bisa menjengkelkan orang-orang kafir dan menyenangkan hati orang-orang beriman. Keras pada orang kafir dan berlembah lembut pada orang beriman. Nah, apa iya, melarang-larang umat Islam memperingat kelahiran Nabi itu menjengkelkan orang-orang kafir?. Apa iya mengharamkan makanan maulid itu membuat geram mereka? Apa iya sengaja menyulut perselisihan di bulan kelahiran Nabi itu membuat muak orang-orang kafir?

 

Dalam keyakinan bapak, semakin semarak umat Islam memperingati kelahiran Nabinya, akan semakin menjengkelkan orang-orang kafir. Semakin ummat Islam mengagungkan Nabi di kantor-kantor, sekolah-sekolah, di jalan-jalan, di tanah lapang, dan memuliakan bulan kelahirannya akan semakin menggeramkan orang-orang kafir. Semakin anak-anak bergembira dan bersorak sorai, bershalawatan dan menyanyikan syair-syair rindu pada Nabi di bulan maulid, akan semakin membuat mereka putus asa untuk menjauhkan generasi muda Islam dengan Nabinya.

 

Menyemarakkan maulid itu menyenangkan orang-orang beriman. Hari dimana kita berbagi kebahagiaan, keceriaan, kebersamaan, dengan makan bersama, duduk bersama, mendengarkan ceramah bersama, shalawatan bersama, melihat keceriaan anak-anak yang riang gembira, dan saling mematri janji untuk selalu saling memuliakan dan menjaga ukhuwah. Bukan begitu?.

 

AM: Iya pak. [Pemuda itu menganggukkan kepalanya]

 

[Senyap sesaat, yang terdengar hanya suara gesekan tubuh imam masjid yang mengubah letak duduknya.]

 

AM: Tapi Pak. Yang patut disayangkan. Mereka yang getol memperingati maulid, justru hanya masuk masjid saat peringatan maulid, dan dihari selainnya tidak menampakkan lagi batang hidungnya di masjid. Bahkan pada saat shalat lima waktu sekalipun.

 

IM: Justru, dengan adanya peringatan maulid itu setidaknya mereka tercatat pernah ke masjid. Coba kalau tidak ada maulid. Mungkin seumur-umur mereka tidak pernah ke masjid padahal mereka mengaku muslim juga.

 

AM: [Mengangguk]

 

IM: Nak, yang dimaksud bid’ah itu adalah jika mengubah-ubah syariat yang telah ditetapkan secara pasti. Misalnya menambah rakaat shalat. Naik haji bukan diwaktu yang telah ditentukan. Mengurangi rukun puasa. Dan sebagainya.

 

Kita tidak mewajibkan maulid. Yang mau ikut silahkan, yang tidakpun tidak kita paksa. Apalagi sampai mencemoohnya tidak mencintai Nabi dan telah berdosa. Semua orang punya cara untuk meluapkan kecintaannya pada Nabi. Kita percaya, yang tidak memperingati maulid juga tetap tidak kurang cintanya pada Nabi. Hanya saja, kecintaan pada Nabi itu akan ternodai kalau sampai menyakiti hati sesama muslim dengan menggelari mereka yang memperingati maulid sebagai ahli bid’ah, sesat dan ahli neraka, padahal ini pun masih diperselisihkan para ulama.

 

Betapa keras usaha dan upaya Nabi untuk menjaga agar umat Islam bersatu. Janganlah dirusak hanya karena berbeda dalam memahami anjuran Nabi. Bid’ahnya maulid masih diperselisihkan, tapi mencela, melecehkan dan merendahkan sesama muslim tidak diperdebatkan keharamannya. Orang Islam itu, kesibukannya melakukan amalan-amalan yang akan memasukkannya ke surga, bukan sibuk membuktikan orang lain pasti ke neraka.

 

AM: Iya pak. Terimakasih.

 

IM: Sama-sama.

 

Imam Masjid itu kemudian berdiri. Menyalakan tape masjid, yang seketika itu juga memperdengarkan alunan Qari yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an.  Pak tua itu, keluar masjid, masuk WC dan memperbaharui wudhunya. Tidak lama lagi, matahari akan tenggelam, dan waktu maghrib akan masuk.

 

[oleh: Ismail Amin, https://www.facebook.com/notes/ismail-amin/dialog-imajiner-mengenai-bidahnya-maulid-nabi-saw]

 

sumber : http://www.infosalafi.com/

NO COMMENTS