Colek Media Massa Indonesia, ISIS Milik Siapa

0
670 views

asa.115Sekali lagi kita perlu tegaskan fakta ini: media arus utama seperti orang-orang kegemukan yang tak lagi lincah membaca dan mencatat peristiwa. Akibatnya, mereka jadi seperti yang mereka kutuk: media ekstremis.

Mencermati pemberitaan media mainstream akhir-akhir ini, khususnya terkait sepak-terjang gerombolan bersenjata ISIS di Suriah dan Irak yang dilabeli sebagai “jihadis Sunni” dan penyematan sebutan lain yang mengesankan seolah kelompok teroris ini sebagai “wakil resmi” atau representasi kelompok Sunni. Mari kita perhatikan kebijakan redaksi, pilihan diksi, sudut pandang, dan alur berita yang diambil oleh Kompas, Metro TV, TVOne di satu sisi dan apa yang disebut sebagai media ekstremis takfiri seperti arrahmah, kiblat, voa-islam, dan sebagainya. Tentu kita akan terkejut-kejut melihat kenyataan bahwa media Katolik Kompas yang selama bertahun-tahun dimaki, dicaci dan distigmatisasi oleh kaum ekstremis kini bisa punya kesamaan kebijakan redaksi dan perspektif dalam berita.

Tapi itulah kenyataannya: semuanya punya bos dan sumber dana yang sama. Kalau untuk media ekstremis seperti arrahmah, voa-islam dan lain-lain kita bisa memahami dan memaklumi keterbatasan SDM dan dana mereka, tapi jelas kita tak bisa memahami hal yang sama pada Kompas Cs.

Tanggal 6 sampai 14 Juni kemarin kebetulan sejumlah anggota redaksi BP berada di Irak. Kesaksian kami adalah sebagai berikut:

1. Tak ada satu pun wartawan media arus utama Barat apalagi Indonesia yang ada di lapangan.
2. Tak ada apa yang benar-benar dapat dianggap sebagai konflik sektarian sebagaimana yang terjadi di Eropa awal abad silam. Kelompok orang Sunni dan sekelompok orang Syiah memang berkonflik tapi motif mereka adalah politik. Karenanya, dalam tiap kelompok ada yang berbeda mazhab dan aliran. Awak Kompas, Media Indonesia, MetroTV dan TVOne memang tak tahu apa yang terjadi di Irak dan Suriah, karena mereka memang tak ada di sana dan tak mau atau tak berani ke sana. Tapi sayangnya mereka bisa mentah-mentah mengambil satu versi, yang ironisnya dalam hal ini yang diambil itu adalah versi kelompok ekstremis takfiri yang kebetulan menjadi versi resmi media Barat.
3. Dan ini yang terpenting: peristiwa dan fakta tidak berubah hanya karena ada yang berdusta atau memutar-balikkannya. Konflik di Timur Tengah, seperti juga konflik lain yang jauh lebih besar, yakni Perang Dunia Kedua, yang menelan tidak kurang dari 50 juta jiwa dan jumlah terbesarnya di Eropa dari rumpun ras yang berdekatan, bermula dan berkisar tentang politik dan ekonomi. Simbol-simbol, slogan-slogan dan stigma-stigma sektarian hanya bumbu yang dipakai untuk melezatkan narasi.

Tapi, media yang bertanggungjawab dan kredibel tentu paham bahwa penekanan pada aspek konflik sektarian Sunni-Syiah akan berdampak pada bahaya lebih besar di Indonesia. Di Indonesia ada minoritas Syiah yang akan segera menjadi sasaran kekerasan akibat pemberitaan yang keliru di atas.

Atau jangan-jangan memang ada agenda pembantaian atas komunitas Syiah di Indonesia atas perintah kekuatan yang lebih besar, yang sama sekali tak peduli dengan kepentingan nasional kita?[tvshia/beritaprotes.com]

 

sumber : http://tvshia.com/

NO COMMENTS