Bahaya Kepulangan Jihadis Indonesia dari Irak Rendah?

0
728 views
Islam Times- “Serangan-serangan militan di Irak tidak akan memiliki pengaruh pada kelompok fundamentalis Islam di Indonesia,” kata Hikmahanto Juwana, pakar hubungan internasional di Universitas Indonesia, kepada Jakarta Globe pada hari Kamis (12/6).
ISIS Indonesia

ISIS Indonesia

Kemungkinan, aktivitas kekerasan jihadis ekstrimis Indonesia di Irak tidak akan memiliki dampak yang signifikan terhadap Indonesia atau melukai kepentingan keamanan negara, kata seorang analis di tengah perebutan kota-kota kunci di negara Timur Tengah (Suriah, Irak, dan Libanon) yang sedang dirundung kekerasan.

“Serangan-serangan militan di Irak tidak akan memiliki pengaruh pada kelompok fundamentalis Islam di Indonesia,” kata Hikmahanto Juwana, pakar hubungan internasional di Universitas Indonesia, kepada Jakarta Globe pada hari Kamis (12/6).

“Meskipun kami adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, hanya ada sedikit kemungkinan bahwa kegiatan [militan] di Irak akan menyebar ke sini,” tambahnya.

“Tapi, bukan berarti kita lantas berpuas diri. Pemerintah perlu terus mencermati perang di Irak dan Suriah untuk mencegah dampak yang tidak diinginkan di sini yang dapat membahayakan kepentingan Indonesia.”

Kelompok-kelompok “Islam” (versi Wahhabi) militan, terutama Negara Islam Irak dan Levant (ISIS), telah memberontak terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pemerintah Irak selama bertahun-tahun. Pemberontak teroris Irak meraih keuntungan teritorial yang signifikan minggu ini dan bergerak menuju Baghdad pada hari Kamis (12/6).

Pada akhir Januari, sejumlah warga Indonesia bergabung dengan ribuan pejuang asing yang menyeberang ke Suriah untuk membantu kelompok-kelompok ekstremis, yang selama bertahun-tahun telah berupaya menciptakan sebuah negara “Islam” (versi brutal dan picik Wahhabi), New York Times melaporkan. Sidney Jones, direktur Lembaga Analisis Kebijakan Konflik yang berbasis di Jakarta, seperti dikutip, mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri Indonesia, berdasarkan informasi pemerintah Suriah, memperkirakan setidaknya 50 warga Indonesia telah melakukan perjalanan ke Suriah melalui Turki untuk mengangkat mengangkat senjata bersama teroris Wahhabi ISIS sejak 2012.

Hikmahanto mengatakan, masalah warga Indonesia mendukung ekstrimis Wahhabi dalam perang sipil Suriah berada di luar kendali pemerintah. “Kami tak tahu apa jenis keterlibatan mereka dalam perang itu, apa tujuan mereka bergabung dengan gerakan tersebut … Ini adalah kehendak bebas mereka dan pemerintah Indonesia tidak dapat melarang warga negaranya pergi ke sana,” kata Hikmahanto.

Fachry Ali, peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menggemakan sentimen yang sama, seraya mengatakan, tidak ada hubungan antara kawanan Wahhabi yang dikenal ekstrimis di Irak dengan kelompok-kelompok Islam di Indonesia.

Rizal Sukma, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies serta penasihat kebijakan luar negeri untuk calon presiden Joko Widodo, mengatakan, bahaya militan Indonesia yang pulang dan mengangkat senjata di sini bersifat rendah, mengingat konstitusi sekuler di negara ini.

“Indonesia bukan negara Islam. Ini adalah [negara] demokrasi yang kebetulan berpenduduk mayoritas Muslim,” katanya, Rabu (11/6). “Kebijakan luar negeri Indonesia tidak akan pernah didasarkan pada solidaritas agama.” (IT/JG/rj)

sumber : http://www.islamtimes.org/

NO COMMENTS