“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang.” –Khaled Hosseini dalam The Kite Runner

Amir Agha, anak dari Ali, adalah seorang Syiah yang terlahir menjadi khadimat Baba Rahim Khan dan Hassan, tuannya yang seorang Sunni. Di Afghanistan, tiga puluh lebih tahun lalu, Amir dan Hassan bersahabat, sebagaimana Ali dan Rahim Khan, ayah-ayah mereka. Khaled Hosseini menulis sebuah cerita persahabatan yang sangat indah, dengan konflik-konflik yang begitu subtil. Ia seakan ingin berkata bahwa anak-anak hanya selalu mengenal cinta, dan kadang-kadang, ada sebuah pilihan sulit serupa nafsu tipis yang terpaksa meretakkannya. Afghanistan dan Negeri para Mullah tiga puluh tahun lalu yang sempat memotret Amir dan Hassan, barangkali sulit kita jumpai hari ini. Tidak ada bocah pengejar layang-layang, tidak ada sejarah jujur keluguan hati anak-anak itu.

Anak-anak tidak pernah belajar membunuh, orang-orang dewasa yang mengajarkan mereka: kepada kebaikan ataukah kebencian.

Anak seorang politikus Jakarta berbinar-binar matanya ketika menikmati bakso bakar, es-es murahan dengan kadar gula dan pewarna tinggi, dan semacamnya. Ia sedang bersama kawan-kawannya saat berkumpul dalam sebuah acara komunitas di lingkar luar stadion Manahan.

Ia lalu bercerita dengan pipi penuh campuran cakwe, cilok, cireng dan entah apa lagi. Katanya, jadi anak orang kaya dan utamanya yang elitis itu sama sekali tidak enak. Ibunya sibuk arisan dan menghadiri acara-acara khas sosialita lainnya. Setiap hari ia berangkat sekolah diantar oleh sopir.

“Bahkan, sejak SD hingga SMP, gue nggak pernah jajan di kantin. Bekal makanan di rumah sudah disiapkan dengan sangat rapi oleh pembantu. Mama sudah berpesan kepada sekolah buat ngawasin gerak-gerik gue.”

Fabiayyi ‘alaa I rabbikuma tukadziban? Baginya, cilok yang terbuat dari tepung kanji minim gizi itu ternyata adalah sebuah kemewahan.

Kisah perkenalan anak politikus dengan kudapan jalanan itu mengingatkan saya pada sebuah cerita lain. Semasa SD, saya sempat terperanjat mendapati teman saya tidak bisa merapal bacaan sholat sama sekali ketika ujian praktik agama sebagai syarat kelulusan. Saya berpikir: Bagaimana bisa? Belum lagi ketika tes Baca Tulis Al Qur’an (BTA), tulisannya besar-besar dan buruk. Ia menulis dengan pensil, hingga karena berkali-kali dihapus dengan karet penghapus, kertasnya jadi lecek dan menghitam. Saat itu, tangan saya telah terbiasa menulis arab pegon sebagai metode pembacaan kitab di pesantren. Saya menulis dengan pulpen, dan jarang sekali membuat kesalahan. Sebab kita tahu bahwa sejak dulu di Indonesia, agama boleh dibicarakan setara dengan siapa pacar terbaru seorang selebriti, misalnya, saya pun kala itu membatin: kasihan sekali hidup teman saya ini.

Hingga, saya memutuskan untuk merutuki diri sendiri sebab telah mengasihani dua orang teman yang terlambat, baik mengenal cilok maupun mengenal ibadah itu. Mereka tidak pernah bersalah sebab terlambat mengenal, dan kadangkala memang ada waktu yang tepat untuk mengenal, paham dan merasai dengan dalam.

Seorang anak kecil berlari-lari dari kerumunan muslimah bercadar dalam sebuah seminar. Seminar itu sedianya bertajuk seminar ke-Islaman, walaupun seringkali terdengar seruan permusuhan pada agama lain oleh si khatib di muka panngung. Di kaos yang dikenakan anak kecil yang belum lagi dapat menyebut namanya sendiri dengan jelas itu tertulis,”We are the enemy of unbelievers.” Ya, kita tengah berhadapan dengan seorang balita yang tanpa sadar dikorbankan untuk menjadi martir bagi kisah-kisah kekerasan di masa depan.

Ideologi dapat ditemukan lewat proses pencarian, namun ideologi yang buru-buru diindoktrinasi sejak kecil, pada akhirnya akan membentuk karakter dan identitas yang bisa jadi lebih mengerikan dari yang dapat kita sangka-sangka. Betapa ngeri membayangkan balita pemakai kaos dengan sablon pernyataan permusuhan itu mendapati identitasnya sebagai pewaris ideologi orang tuanya. Ia tidak pernah berkesempatan menghayati diri sendiri dan pada suatu masa dewasanya telah berubah menjadi relawan pembawa bom atau senapan laras panjang sebab keyakinannya semakin penuh bahwa apa yang berbeda dari dirinya merupakan musuh, untuk kemudian mesti dihilangkan.

Ideologi zaman pra-kenabian yang suka peperangan tersebut lebih mudah tersemai lewat keseragaman. Warna mencolok dari ideologi kekerasan adalah anti keberagaman. Kerumunan yang seragam tidak terbiasa membuat warna lain hingga gagap terhadap perbedaan dan kesulitan untuk bertoleransi.

Masjid-masjid seharusnya mulai membuka diri untuk semua jenis manusia. Mimbar-mimbar pengajian di masjid kampus harus belajar menerapkan disiplin akademik, memperjumpakan gagasan dengan sama adilnya.

Nabiku dipuji sebagai matahari. Nabiku dipuji sebagai rembulan. Nabiku dipuji sebagai cahaya di atas cahaya. Nabiku disimbolkan sebagai penerang yang menaungi alam raya. Simbol kebesaran demikian luhur itu tidak layak bersanding dengan bisnis menyaru agama seperti perumahan Islami, Daycare Islami atau tetek bengek Islami lainnya yang menolak hidup bersama-sama.

No tags for this post.

NO COMMENTS