Jakarta, NU Online
Pakar intelijen H As’ad Said Ali mengatakan, dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seseorang dapat dikatakan radikal atau tidak ukurannya adalah Pancasila.

“Radikal ukurannya adalah Pancasila. Melawan Pancasila merupakan tindakan radikal, karena Pancasila merupakan dasar Negara dan cita-cita luhur bangsa Indonesia,” kata As’ad Said Ali, Ahad (12/6), di Jakarta.

Wakil ketua umum PBNU periode 2010-2015 ini, Jumat (10/5), menjadi narasumber pada sesi dialog bertajuk “Antisipasi Paham Radikal di Kalangan Pemuda” pada Sanlat Ramadhan Kepemimpinan Pemuda se-Jabodetabek di Wisma Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPPON) Kemenpora, Cibubur, Jakarta.

Dialog tersebut dipandu oleh Ketua Yayasan At-Tawassuth sekaligus Ketua Panitia Sanlat Ramadhan Kepemimpinan Pemuda, Ahmad Fahir, dengan menghadirkan akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Agus Lelana sebagai pembahas.

Kegiatan Pesantren Kilat digagas oleh Yayasan At-Tawassuth, berkolaborasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, dan didukung oleh Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara sebagai media partner.

Menurut As’ad, ada tiga aliran yang mendorong seseorang melakukan aksi radikal. Pertama, aliran ekonomi neoliberal dan sekuler. Paham ini memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas, merobohkan hambatan untuk perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan keuntungan dari meningkatnya standar hidup masyarakat atau rakyat sebuah Negara.

Kedua, lanjut tokoh yang pernah mengemban amanah sebagai Wakil Kepala Badan Inrelijen Negara (BIN) 1999-2010 ini, paham kiri. Paham ini didasarkan pada ideologi komunis dan sosialisme yang totaliter.

Ketiga, radikalisme agama. Paham radikal berbasis agama bertujuan mengubah negara Pancasila menjadi negara agama, negara dengan konsep khilafah. “Di Timur Tengah mereka melawan Barat dengan terorimse, dengan mendefinisikan doktrin jihad secara ofensif,” kata penulis buku “Al-Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya” ini.

Lebih lanjut, As’ad mengutarakan, jihad dalam Islam adalah jihad defensif, yaitu peperangan yang dilakukan dengan tujuan bertahan dari serangan lawan.

Sementara itu, akademisi IPB, Agus Lelana mengungkapkan, Pancasila sebagai konsep bernegara yang sangat komprehensif. Pancasila merupakan jalan tengah yang mempertemukan antara yang nasionalis dan yang religius.

“Negara-negara lain justru sangat mengapresiasi Pancasila, karena dapat menjadi perekat kebangsaan kita,” ungkap Agus.

Oleh karena itu, Agus mengajak generasi muda bangsa sebagai pelanjut estafet nasional pada masa mendatang agar memperkuat jati diri sebagai bangsa Pancasilais.

“Pemuda adalah pewaris, pejuang, dan penentu masa depan bangsa. Pemuda harus dapat mempertahankan nilai-nilai luhur yang digali dari sejarah panjang perjalanan bangsa ini,” paparnya. (Red: Mahbib)

 

Sumber : NU ONLINE

No tags for this post.

1 COMMENT

  1. kalau bicara agama budha hindu dan konghucu , mereka adalah agama agama yang lahir dari kawasan asia , mereka tidak ada sejarah menghabisi muslim secara drastis, karena agama agama tersebut adalah merupakan hasil renungan orang yang ingin keselamatan dari dunia hingga akhirat, tetapi kalau bicara agama kristen , ini agama yang dipalsukan oleh kaum kapitalis eropa waktu itu yang dijadikan alat untuk menjajah bangsa bangsa lain terutama muslim, sehingga mereka kaum kapitalis berevolusi menciptakan produk produk lainya seperti sekulerisme dan nasionalisme, yang mana di Indonesia dipaksa bekerja sama, persoalanya dan pertanyaanya , Bagaimana nasionalisme dan sekulerisme yang ada di Indonesia akan menghabisi Islam karena ada nilai nilai Islam yang bertentangan dengan paham mereka, itu pertama, yang kedua bagaimana jika pemimpin pemimpin nasionalis yang ada di Indonesia di dominasi oleh orang orang salibis dimana agama yang mereka anut sebenarnya bukan agama karena sudah dipalsukan, yang merupakan hasil konsensus kepentingan kepentingan kapitalisme dan penjajahan, inilah awal dan akhir kehancuran Islam yang bakal terjadi di Indonesia sperti andalusia ke dua terjadi di Indonesia, mungkin di tahun 2100 dimana Islam sudah musnah di Indonesia. Ingat cara cara mereka tidak sperti hindu budha atau konghucu, bahwa kristen adalah bukan agama tapi sebagai sistim keagaamaan hasil memalsukan agama nasrani yang sebenarnya, karena ajaran kristen yang sekarang tidak ada bedanya dengan ajaran sekulerisme yang menghasilkan nasionalisme.
    Pertanyaanya apakah Islam yang sudah bercampur dengan sekulerisme dan nasionalisme ini bisa mempertahankan Islam sampai akhir jaman?
    silahkan renungkan jangan sampai kejatuhan Islam Andalusia kedua terjadi lagi di Indonesia dimana semua umat islam disana dibabat habis dengan tipu daya april mop, jika orang orang salibis berkuasa di Indonesia lewat jalur demokrasi, ingatlah mereka memalsukan agama nasrani menjadi kristen berani tidak takut inilah yang dimaksud Sistim Dajjal, hal demikian tidak terjadi pada agama Islam yang tidak dipalsukan, juga agama budha hindu konghucu, walau agama agama tersebut menurut Islam salah tetapi keberadaan mereka tidak dipalsukan. ingat sejarah Indonesia yang tadinya mayoritas hindu mereka bisa menerima Islam di Indonesia shingga Islam berkembang di Indonesia. hal demikian berbeda dengan Islam yang masuk ke Andalusia spanyol lewat peperangan, jelas jika Indonesia dipegang oleh orang orang yang agamanya telah dipalsukan yaitu agama kristen maka akan hancur umat Islam di indonesia kedepanya. Memalsukan agamanya aja berani apalagi memalsukan demokrasi untuk menggoalkan orang salibis memimpin negara Indonesia itu bisa saja terjadi.
    inilah yang perlu direnungkan oleh ulama ulama Indonesia dipikir matang matang.
    wassalam

Comments are closed.