Antara Logika Setan Dan Logika Al Qur’an Tentang Tema Sahabat

0
355 views

Persembahan Buat Ektrimis Salafi Wahhabi Takfiri

 

Oleh Syekh Hasan bin Farhan Al Maliki

hasan-farhan-al-malikiAgar Jalan Para Penjahat Tidak Terbongkar. Karena Terbongkarnya Jalan Mereka adalah tujuan Al Qur’an, maka harus digagalkan!

Setan memang sangat lihai, ia membisikkan di telinga “KAUM DUNGU” dari kalangan penyembahThulaqâ’[1] bahwa Rasulullah-lah yang harus bertanggung jawab atas kezaliman kaum zalim. Karena mereka adalah kaum dungu maka setan dengan mudahnya menelan mereka..

Setan berkata kepada mereka:

Bukankah Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan yang terbaik?

  • Ya, benar

Bukankah Allah yang menciptakan kaum Thulaqâ’?

  • Ya, benar.

Kemudian setan berkata kepada mereka:

Bukankah para nabi itu pasti berhasil?

  • Ya. Pasti!

Jika demikian, umat-umat para rasul tidak mendustakan mereka!

Dengan logika seperti ini setan mampu menjadikan kaum dungu itu secara terselubung menyengaja mendustakan Allah dan para Rasul demi membela Allah dan para Rasul dari tuduhan GAGAL yang dikhayalkan mereka itu! Dengan logika seperti itu setan telah menyusun untuk kaum dungu sederetan akidah dengan begitu mudah…

Kegagalan dalam hemat kaum dungu adalah ketika kaum para nabi mengkufuri mereka. Jika Nabi Nuh yang tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun, lalu tidak beriman kepadanya kecuali segelintir orang dari kaumnya, itu artinya Nuh GAGAL! Bukan kaumnya yang gagal.

Jika Nabi Luth tidak mampu mencegah kaumnya dari kebajatan dan berbuat kekejian (homo) sehingga kemudian Allah membinasakan mereka. Hal ini menurut kaum dungu itu adalah kegagalan telak Nabi Luth!

Para nabi  itu gagal kecuali jika kita mampu menetapkan bahwa semua kaum para nabi itu telah meneriman dakwah mereka as. Saat itulah dikatakan mereka tidak gagal!

Agar kita mengukuhkan bahwa Nabi (Muhammad) saw. tidak gagal, kita harus mengatakan bahwa kaum beliau tidak kafir! Tidak memerangi beliau! Tidak bersikap munafik!

Mengapa demikian?

Karena menetapkan semua itu artinya menuduh Nabi saw. telah gagal!

Tetapi jika kita katakan kepada mereka (kaum dungu): “Allah telah menyebut bagaimana kaum para nabi telah mendustakan mereka, kecuali sedikit yang beriman.” Mereka akan mengatakan: “Kamu menuduh para nabi gagal ya?!”

Di mata mereka yang selalu harus dianggap gagal adalah para nabi!

Pada awalnya kamu mengira bahwa setan –melalui kekasih-kekasihnya: kaum dungu itu- sedang membela para nabi. Tetapi kemudian terbongkar bahwa ternyata setan hanya membela kaum zalim dan para penjahat!

Waspadalah terhadap tipu muslihat setan… setiap nabi adalah orang SUKSES di sisi Allah walaupun tidak seorang pun dari kaumnya yang beriman kepadanya. Tetapi setan dan kaum dungu mengatakan: “Tidak! Ini tidak benar. Tidak benar bahwa Nabi dianggap berhasil kecuali jika ia diikuti oleh kaumnya dan mereka semua membelanya!

Dua Ragam Logika!

Logika setan menipu, akan tetapi kaum dungu tidak menyadari. Setan ingin membela para kakasihnya yaitu para tiran, penjahat, pendusta dan penipu yang membeli nurani umat!

Setan meyakinkan mereka dengan mengatakan: Mereka itu adalah hasil didikan para nabi! Jika ada yang membantah, tetapi sebagian dari mereka telah menentang nash jelas Al Qur’an; mereka berlaku zalim, melaknat (kaum Mukminin), berbuat semena-mena dan kejam… setan segera datang berkata kepada mereka:

Apakah kamu menuduh Nabi gagal dalam mendidik mereka?

Apakah Nabi saw. GAGAL?

Andai kaum dungu itu hidup di masa Nabi Musa as. pastilah mereka mengingkari bahwa kaum beliau telah meyembah patung anak sapi!

Mereka akan berkata:

Apakah masuk akal bahwa Musa Kalîmullah gagal dalam mendidik mereka?

Ini kecaman dan tuduhan keji atas Musa…. Dan siapa yang berani mengatakannya maka ia harus segera dibunuh!!

Kesimpulanya menurut KAUM DUNGU itu:

  1. Allah dan rasul-Nya lah yang harus bertanggung jawab atas semua bentuk kazaliman.
  2. Kaum Thulaqâ’ itu adalah orang-orang baik dan suci dari segala bentuk kezalmian.
  3. Barangsiapa menuduh kaum zalim maka ia sebenarnya menuduh Allah dan rasul-Nya,

Kesimpulan dari semua kesimpulan yang diinginkan setan dari mereka adalah: AGAR JALAN KAUM JAHAT, SABÎLUL MUJRIMÎN tidak terbongkar dan menjadi gamblang. Karena terbongkarnya jalan mereka adalah tujuan ilahi yang ditegaskan Al Qur’an. Karenanya “TUJUAN TUHAN” harus digagalkan!

Semua kicauan ini disebabkan oleh kicauan seorang dungu yang membela mati-matian kaum Thulaqâ’, karena –katanya- menuduh mereka artinya menuduh Nabi telah gagal!

Semoga Allah membunuh kejahilan dan sikap memaksa dalam membela kaum durjana murka!

Ketika Anda membaca kicauan kaum dungu dari kalangan “PENYEMBAH KAUMTHULAQÂ’” itu seakan Anda membayangkan bahwa Nabi saw. pemilik panti asuhan balita dan beliau bermain bersama mereka di Syi’ib (lembah) Abu Thalib.

Seakan kaum Thulaqâ’ (yang mereka bela itu) tidak pernah memerangi Nabi saw. selama kurun waktu dua puluh tahun!

Kaum dungu itu adalah virus mematikan!

Setan merayu dan membodohi mereka untuk mencintai kaum zalimin, kaum munafikin, dan para penjahat sampai-sampai mereka siap menuduh Nabi dengan tuduhan GAGAL jika memang terbutki kejahatan mereka!

Demikian Syeikh Hasan bin Farhan al Maliki. Itulah kenyataannya. Kita hanya pandai membela kaum zalim, seperti Abu Sufyan, Mu’awiyah, Yazid dkk. Adapun para sahabat mulia seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang membelanya… semua mereka tidak akan mendapat jatah pembelaan kaum Salafi; kaum dungu pembela kaum munafik!

Natikan tweet Syeikh Hasan bin Farhan al Maliki selanjutnya, insya Allah.

_______________

[1] Kaum Thulaqâ’ adalah musuh-musuh bebuyutan Nabi saw. –seperti Abu Sufyan, Hindun, Mu’awiyah, Suhail bin Amr, Ikrimah putra Abu jahal dkk. yang beliau tawan pada Fathu, penaklukan kota suci Makkan lalu beliau merdekakan.

 

 sumber : http://abusalafy.wordpress.com/

NO COMMENTS