Ancaman ISIS dan Genealogi Aksi Kekerasan Wahhabi

0
3,037 views

Beredarnya video ISIS Indonesia Ancam Polisi, TNI dan Densus 88, Banser diYoutube pada 24 Desember 2014 yang menampilkan sosok Abu Jandal, mendapat reaksi spontan pemerintah berupa penangkapan orang-orang yang diduga anggota ISIS termasuk sejumlah calon penumpang pesawat tujuan Suriah. Banser yang juga diancam langsung menurunkan Tim Densus 99/Asmaul Husna pimpinan Syukron Dossi, yang bergerak cepat melacak identitas Abu Jandal.  Dalam tempo singkat
Tim Densus 99 yang turun ke Malang dan Pasuruan berhasil mengungkap identitas pembuat video yang beridentitas Abu Jandal itu, ternyata bernama Salim Mubarok Attamimi. “Sesuai data paspor, Salim  kelahiran Pasuruan, 25 Agustus 1972. Rumah Salim Mubarok  di Kelurahan Karanganyar, RT 5 – RW 6, Kecamatan Panggung, Kota Pasuruan. Rumah itu warisan dari orangtua Salim, namun dia memilih pindah ke Malang bersama istri dan anaknya dengan menyewa sebuah rumah di daerah Kedungkandang,” ungkap  Ketua PW GP Ansor Jawa Timur Rudi Triwachid di Surabaya (27/12).
             Salim Mubarok berasal dari keturunan Arab Yaman Bani At Tamimi karena itu dia dikenal dengan nama lengkap “Salim Mubarok Attamimi”. Pada Mei 2014, Salim bersama istri dan lima anaknya, tiga anak kandung, dua anak angkat, berangkat ke Suriah. Tetapi sebelum memboyong istri dan lima anaknya ke Suriah, Salim telah bergabung dengan ISIS di Suriah dan beberapa kali kembali ke Pasuruan dan Malang. Sebelum ke Suriah dan bergabung bersama ISIS, Salim pernah berada di Yaman bergabung bersama AQAP, sebuah organisasi sayap Al-Qaeda di Yaman. Saat berada di Yaman itu, Salim diketahui beberapa kali masuk daerah perbatasan Turki – Suriah.
Reaksi cepat terhadap ancaman ISIS bukan berlebihan, sebab organisasi ISIS yang dibentuk golongan Salafi-Wahhabi itu tidak sekedar dikenal sebagai kelompok teroris yang lebih brutal, lebih buas, lebih biadab, dan lebih kejam dalam menjalankan aksinya  dibanding al-Qaeda, Jundullah, Taliban,  dan Boko Haram, melainkan sejarah Salafi-Wahhabi yang membentuk ISIS pun sejak awal selalu menunjukkan ciri-ciri dan tanda-tanda yang sama: kefanatikan membuta, kenaifan berpikir, kemunafikan, kekejaman, kebrutalan, kebuasan, dan kebiadaban khas badui padang pasir.
Sejak beredarnya video  Islamic State of Iraq and Sham/Syria (ISIS) yang di-upload ISIS Indonesia pasca Idul Fitrih 1435 H lalu, pergerakan ISIS di Indonesia telah  dipantau dan diikuti aparat keamanan mulai  jajaran kepolisian, Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT), BIN, di mana kepolisian telah mendeteksi para pelaku yang aktif menyebarkan paham itu. Menurut Djoko Suyanto, Menko Polhukam saat itu,  keberadaan ISIS di Indonesia  telah mendulang banyak respon dari kalangan tokoh agama moderat hingga organisasi Islam garis keras. “Bahkan banyak organisasi Islam baik garis keras dan moderat sebenarnya tidak setuju dengan keberadaan paham ini di Indonesia,” tegas Djoko Suyanto.
Melengkapi pernyataan Menko Polhukam djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Sutarman menyebut ada puluhan WNI yang sudah pergi ke Suriah ikut berperang dan diduga bergabung dengan ISIS. Bahkan, tiga di antaranya beberapa waktu lalu dikabarkan tewas di Suriah. Sutarman selanjutnya menyebut bahwa pihak kepolisian telah mengidentifikasi sosok pria (Abu Muhammad al-Indunesi-pen)  yang muncul dalam video ISIS di YouTube, di mana menurutnya pria tersebut merupakan salah satu buronan Polri dalam kaitan dengan  tindak terorisme dari  kelompok Santoso.
Sementara Kementerian Hukum dan HAM yang berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88 dalam kaitan memantau dan mendeteksi  penyebaran dukungan terhadap kelompok ISIS,  mendapati data bahwa dukungan terhadap ISIS tidak saja terjadi di masyarakat melainkan  juga terjadi di lembaga pemasyarakatan (Lapas), terutama  dengan terpantaunya kegiatan Abu Bakar Ba’asyir yang membaiat 23 napi di LP Pasir Putih Nusa Kambangan untuk kesetiaan mendukung ISIS.
Keterlibatan  warga Indonesia dalam aksi pergolakan (insurgencies) di luar negeri memang bukan hal baru karena sejak 1985-an sejumlah warga Indonesia sudah diketahui ikut terlibat dalam aksi bersenjata di Afghanistan dan konflik di Pakistan. Bahkan sejumlah warga Indonesia dilaporkan mengikuti latihan kemiliteran di Libya, di mana setelah kembali ke Indonesia sebagian di antara mereka terlibat aksi kekerasan dan teror yang marak terutama  semenjak ‘implementasi’ teori Clash of Civilization-nya Samuel Huntingtondijalankan menjelang  Reformasi sampai dekade awal 2000-an dalam bentuk kerusuhan-kerusuhan berlatar agama, di mana menurut mendiang Gus Dur teori Huntington itu adalah rekayasa sosial dalam merekonstruksi tatanan dunia baru pasca runtuhnya komunisme 1990, yang bermakna perubahan tatatan dunia itu bersifat virtual alias rekayasa yang didanai the invisible hand kepanjangan kekuatan imperium global.
Tindakan pemerintah SBY melarang penyebar-luasan ISIS di Indonesia dapat dilihat sebagai langkah antisipatif untuk mencegah berbagai kemungkinan bagi dimanfaatkannya ISIS untuk kepentingan politis pihak-pihak tertentu, mengingat rentang waktu kemunculan ISIS tepat di tengah proses pergantian kepemimpinan nasional yang kurang berjalan mulus, apalagi menurut berbagai sumber terpercaya,  sekitar 30 – 50 orang  warga Indonesia sudah ikut terlibat  aksi kekerasan ISIS dalam perlawanan bersenjata melawan Presiden Bashar al-Assad di Suriah dan sebagian yang lain sudah berada di Irak mendukung kekuatan ISIS di sana. Itu artinya, tindakan antisipatif pemerintah SBY melarang penyebaran ISIS telah meminimalisasi bagi kemungkinan besar pecahnya konflik horisontal di Indonesia yang sebagian besar warganya menganut faham Ahlus Sunnah wal-Jama’ah yang secara diametral bertentangan dengan faham ‘ultra-fundamentalis’ Salafi-Wahhabi yang dianut ISIS.
*    *    *    *

Para Ahli bid’ah wal Musyrikiin

Sejarah mencatat, sejak AS menginvasi Irak dan kemudian meninggalkan begitu saja negara itu setelah tidak menemukan senjata kimia yang dituduhkan disembunyikan oleh Saddam Husein, sehingga Irak pun jatuh dalam perang saudara tahun 2006. Iran dan Arab Saudi ikut melibatkan diri dalam perang saudara di Irak melalui milisi-milisi yang didanai oleh kedua Negara tersebut. Salah satu milisi  teror yang disokong Saudi selain al-Qaeda dan Jundullah adalah Negara Islam Irak (Islamic State of Iraq -ISI).
Tahun 2010 Arab Spring pecah. Diktator Suriah Bashar Al Assad yang berasal dari kalangan Syiah menolak untuk meletakkan jabatannya. Perang saudara antar penganut Syiah – antara penentang dengan pengikut setia rezim Assad — pun pecah di Suriah. Milisi asing yang sebagian besar penganut faham Salafi-Wahhabi yang  didanai Saudi, Qatar, Uni Eropa, dan AS bermunculan di Suriah ikut melawan Bashar al-Assad, termasuk Islamic State of Iraq (ISI), yang belakangan ini menjadi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Meski gagal menggulingkan Bashar al-Assad yang didukung milisi Hezbollah, ISIS berhasil mengkonsolidasi berbagai kelompok radikal yang terlibat konflik satu sama lain dengan mengalihkan target: menguasai wilayah Suriah bagian timur dan Irak bagian barat yang tak bisa dikuasai secara efektif oleh pemerintah Damaskus dan Baghdad.
Keberhasilan ISIS mengkonsolidasi kekuatan di Suriah ternyata mengubah peperangan  di negeri itu ke suatu situasi yang tidak pernah diduga orang sebelumnya, di mana milisi ISIS dikenal sangat kejam, brutal dan buas dalam menjalankan aksinya sehingga ISIS sering  terlibat pertempuran dengan faksi-faksi lain di kalangan pemberontak Suriah. ISIS dengan sadis dan brutal menyerang dan membunuh anggota kelompok perlawanan lain yang dianggap tidak sejalan. Di wilayah yang sudah dikuasainya, ISIS memaklumkan wilayah itu  sebagai wilayah ‘khilafah  Islam’ yang menerapkan aturan sangat keras. Pembunuhan massal yang tergolong genocida dilakukan dengan brutal terhadap penduduk yang dinilai sebagai ‘pemuja setan’, musyrikin, ahli bid’ah, dan penentang khilafah Islam. Akibat kebrutalan dan kebuasan aksi-aksinya yang di luar batas kemanusiaan ISIS dituduh bertanggung jawab atas berbagai aksi pembantaian terhadap warga sipil dalam jumlah tak terhitung, termasuk aksi pemboman bunuh diri, penyanderaan wanita dan anak-anak untuk dijual sebagai budak, mengeksekusi secara massal para tawanan, dan melakukan ethnic cleansing,  baik  dengan berondongan senjata api maupun dengan memenggal dan memamerkan kepala para tawanan atau mengubur korban hidup-hidup.
Mendapati aksi brutal ISIS yang mengerikan itu,  Saudi Arabia, Qatar, Uni Eropa, dan AS menarik dukungannya, di mana AS dan Inggris malah bersikap seolah-olah memusuhi kelompok biadab itu. Akibat terputusnya dukungan dana dan senjata dari negara donatur,  gerakan  ISIS di Suriah dapat  ditindas oleh rezim Bashar al-Assad yang didukung kekuatan paramiliter Hezbollah. Terpukul di Suriah ISIS mengalihkan  aksi perlawanan di Irak dengan memperkuat basis militer untuk meneguhkan kekuasaan negara dalam bentuk khilafah yang diharapkan dapat menggantikan kekuasaan pemerintah Irak yang lemah dan kehilangan kepercayaan rakyat.
Pemerintah Irak sendiri memiliki sekitar 300.000 orang tentara yang dibentuk dengan dana  25 miliar dollar AS yang berasal dari uang pajak dan bantuan Negara donatur. Tetapi  tentara bentukan itu terbukti  tidak loyal kepada pemerintahnya, di mana sebagian di antara anggota militer itu mundur atau membubarkan kesatuannya. Akibatnya, sejumlah kota di Irak pun jatuh ke tangan ISIS yang mengumumkan bahwa siapa saja yang menentang ISIS akan dibunuh. ISIS pun membuktikan bahwa mereka serius dengan ancaman tersebut melalui pamer kebiadaban saat melakukan genocida terhadap pihak-pihak yang dianggap musuh mereka.

ISIS Menyembelih Korban Untuk Pamer Kebiadaban

Pada hari Kamis 24 Juni 2014, sewaktu ISIS berhasil merebut sebagian wilayah Irak, termasuk kota Mosul, kota terbesar kedua di negara itu,  dengan brutal ISIS  menguras ratusan  juta dollar AS dana dari bank-bank yang mereka kuasai. Menurut sumber Kurz Gesagt, pengurasan dana bank itu membuat ISIS menjadi kelompok teroris terkaya di dunia.
Sejak memaklumkan kemenangan merebut dan menguasai kota Mosul dan wilayah sekitar, ISIS seketika menjalankan aksi ganasnya menegakkan khilafah Islam, yaitu Negara Agama yang suci dan bersih dari praktek-praktek kemusyrikan dan bid’ah. Sejarah mencatat,  langkah awal yang dilakukan ISIS pada hari Kamis 24 Juni 2014 itu,  milisinya yang  bersenjata lengkap mengepung dan menutup Masjid Mosul yang di area sekitarnya terdapat makam Nabi Yunus. Setelah mengusir keluar jama’ah dari masjid, milisi  ISIS memasang bahan peledak. Lalu dalam tempo kurang dari satu jam, di hadapan jamaah,   masjid beserta makam Nabi Yunus diledakkan hingga rata dengan tanah. Sejak aksi brutal menandai kemenangannya, sedikitnya ada sekitar 30 bangunan suci, termasuk sejumlah masjid di dalam dan di pinggiran Kota Mosul telah dihancurkan milisi ISIS. Sumber AFP seorang pejabat lokal di Kota Mosul, Zuhair al-Chalabi,  menyatakan selain masjid dan makam Nabi Yunus, makam Nabi Daniel pun dihancurkan oleh aksi brutal milisi ISIS. Nabi Daniel, adalah nabi keturunan Nabi Daud yang ikut bersama Bani Israel dalam pembuangan di Babylonia pada saat Nebukhadnezar menghancurkan Kerajaan Yehuda. Berziarah ke makam seseorang, menurut faham ISIS adalah perbuatan musyrik sehingga kuburan-kuburan yang diziarahi oleh orang banyak harus dihancurkan, termasuk makam Nabi Muhammad Saw yang banyak diziarahi ‘kaum musyrikin’.
Seperti aksi-aksi sebelumnya yang brutal, sadis, buas, dan biadab, semenjak menguasai wilayah Sinjar di utara Irak yang disusul penguasaan wilayah Mosul, tidak kurang dari 500 orang dari  etnis minoritas Yazidi yang merupakan penduduk asli  Sinjar dibantai dengan cara biadab. Sebagian tewas setelah diberondong senapan. Sebagian terbunuh dengan cara disembelih. Yang lain dikubur hidup-hidup. Menteri Hak Asasi Manusia Irak Mohammed al-Sudani menyatakan  kepada Reuters hari Ahad  (10/8/2014) bahwa milisi ISIS telah membantai etnis Yazidi yang dituduh sebagai ‘pemuja setan’ dan mengubur mayat-mayat mereka  secara brutal, beberapa orang di antara korban dikubur hidup-hidup, termasuk perempuan dan anak-anak yang berteriak-teriak dan menggapai-gapaikan tangan dari dalam tanah. Tidak hanya itu, ungkap Mohammed al-Sudani, sekitar 300 perempuan diculik dan dijadikan budak. Selain membantai etnis Yazidi yang dianggap musyrikin pemuja setan dalam genocida, milisi ISIS juga melakukan operasi ethnic cleansing terhadap etnis Kurdi yang dibantai dalam jumlah ratusan. Bahkan Gunung Sinjar, tempat sekitar 20.000 orang etnis Kurdi dan Yazidi mengungsi, telah dikepung oleh milisi ISIS. Untuk alasan pertolongan darurat atas beribu-ribu etnis minoritas yang terancam maut itulah Inggris mengerahkan pasukan khusus SAS dalam operasi rahasia di kawasan Sinjar, di mana melalui tindakan ini Inggris ingin ‘cuci tangan’ atas milisi biadab yang dulu didukungnya.
*    *    *    *    *

Hukuman Untuk Ahli Bid’ah wal Musyrikiin

Mengamati, mencermati dan mengkaji gerakan teror yang dijalankan kelompok keagamaan yang digolongkan fundamentalis – yang mencita-citakan tegaknya sebuah kekuasaan agama di dunia  — dengan menjalankan aksi-aksi pembunuhan massal atas nama Tuhan sebagaimana dipraktekkan oleh ISIS, pada dasarnya kasus-kasus itu bukan hal baru yang dijalankan orang pada dekade kedua abad ke-21. Pasalnya, sejak memasuki paruh kedua abad ke-18, aksi barbar kelompok keagamaan yang dikenal dengan nama Golongan Wahhabi pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi  yang berasal dari Gurun Nejd telah mengguncang dunia Islam.  Sejarah mencatat,  semenjak kekuatan gabungan Muhammad bin Abdul Wahab dengan Muhammad Sa’ud memproklamasikan jihad terhadap siapa saja di antara manusia  yang berbeda pemahaman tauhid dengan mereka akan diambil  tindak kekerasan. Begitulah sejak tahun 1746 Masehi terjadi penggerebegan, razia, penyiksaan, penjarahan, bahkan pembunuhan terhadap kaum muslimin yang dinilai oleh golongan Wahhabi-Saud sebagai telah musyrik dan kafir.
Menurut catatan sejarah tahun 1761 kekuatan Wahabi-Sa’ud telah menguasai sebagian besar Jazirah Arab, termasuk Nejd, Arabiah tengah, ‘Asir, dan sebagian Yaman. Selama rentang masa itulah para sayyid dan syarif  yang  mengaku ahlul bait keturunan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az-Zahrah berduyun-duyun melakukan exodus meninggalkan Jazirah Arab, mengungsi dan tinggal di berbagai negeri seperti Persia, Afghan, India, dan bahkan Hindia Belanda, di mana sebagian di antara mereka menjadi pengikut setia Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830. Pendek kata, di bawah Muhammad Sa’ud, faham Wahabi mengalami kejayaan sampai bertahun-tahun setelah kematian Muhammad bin Abdul Wahhab tahun 1791.
Charles Allen dalam buku berjudul  God’s Terrorist, The Wahhabi Cult and The Hidden Roots of Modern Jihad  mencatat bahwa pada bulan Dzulqa’dah tahun 1216 Hijriyyah atau 1802 Masehi, Sa’ud ibnu Sa’ud putera sulung Muhammad Sa’ud membawa 12.000 orang pasukan menyerang Karbala. Dengan keganasan tak tergambarkan  mereka merusak dan menjarah makam Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib, membantai siapa pun penduduk yang berada di sekitar makam dan membasmi siapa pun yang berusaha melindungi  ‘para penyembah berhala’ itu. Tercatat sekitar 5000 orang penduduk Karbala tewas dibantai pada hari kelabu itu. Harta mereka dijarah sebagai pampasan. Sewaktu kabar ini sampai ke negeri-negeri muslim lain, Khalifah Turki, Mahmud II, dikecam banyak pihak karena gagal menjaga makam Imam Husein dan keselamatan penduduk Karbala dari keganasan kaum Wahabi.
Sejarawan Wahhabi Muhammad Muhsin al-Amin dalam buku yang berjudul Kasyf al-Irtiyah mengungkapkan bagaimana setelah melakukan pembantaian di Karbala atas orang-orang Syi’ah, ‘para pejuang’ bersenjata pengikut Imam Abdul Wahhab-Ibnu Saud bergerak menuju ke Thaif pada bulan Dzulqa’dah tahun 1217 Hijriyah atau 1803 Masehi. Saat itu Thaif di bawah kekuasaan gubernur Makkah as-Syarif  Ghalib, yang sudah menjalin kesepakatan dengan para pemuka Wahhabi-Saud. Namun saat memasuki Thaif, ‘para pejuang’  Wahhabi-Saud menggiring para ulama dan memaksa mereka  untuk bersumpah mengikuti akidah Wahhabi, jika ada yang  menolak langsung dibunuh. Selama di Thaif, ungkap Muhammad Muhsin al-Amin, para pejuang Wahabi-Saud membunuh ribuan penduduk, termasuk wanita dan anak-anak. Mufti Makkah saat itu, Sayyid Ahmad ibnu Zaini Dahlan dalam  kitab berjudul Umara ul-Baladil Haram melukiskan kebiadaban paling menjijikkan yang dilakukan kawanan badui Wahabi berakhlak rendah itu di Thaif, yaitu  menyembelih bayi-bayi yang masih di pangkuan ibunya dan membunuhi wanita-wanita yang hamil tanpa belas kasih sedikit pun.
Setelah merampas, menjarah,  merusak, menjagal orang-orang tak bersalah, dan melakukan kebiadaban yang tidak terbayangkan atas umat Islam, kawanan badui rendah Wahabi penghuni gurun Nejd itu bergerak menuju Makkah. Menurut sejarawan Asy-Syarif Abdullah ibnu Al-Alawi al-Husaini dalam kitab Sidqu al-Akhbari fi Khawariji al-Qarni ats-Tsani ‘Asyar, setelah menebar kebinasaan di Thaif pada bulan Dzulqa’dah tahun 1217 Hijriyyah (1803 Masehi),  pada bulan Dzulhijjah  tahun itu pula kawanan badui Wahabi asal Nejd itu memasuki Makkah al-Mukarramah. Selama bulan Dzulhijjah hingga Muharram tahun itu, kawanan badui Wahabi-Saud yang biadab  itu membunuh ribuan umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji, di mana Dr Muhammad ‘Awadh al-Khatib dalam buku Shafahat min Tarikh al-Jazirah al-Arabiyah al-Hadits mengungkapkan bagaimana lasykar Wahabi-Saud yang terdiri dari orang-orang badui Nejd itu membunuh Umat Islam yang menolak ajakan dakwah mereka. Tanpa kenal ampun, kawanan badui  Wahabi-Saud itu  mengumpulkan mereka yang berusaha lari ke satu tempat untuk kemudian secara bergilir dipenggal, dan sebagian lagi digiring ke lembah Wadi Aluj, yang jauh dari hunian dalam keadaan telanjang antara laki-laki dan wanita untuk dibunuh, dan pada akhir Muharram 1218 Hijriyah, kawanan badui Wahabi-Saud itu melakukan perusakan dan perampasan. Begitulah sejarah mencatat, Wahabi-Saud telah melarang umat Islam menziarahi makam Nabi Saw, sahabat-sahabat dan  orang-orang saleh, serta membunuh siapa pun orang asing yang mereka temui di luar rumah, sebagaimana dialami Syekh Abdul Hadi asal Jaha, Cilegon,  Banten, keluarga Syekh Nawawi bin Umar Al-Bantany yang disembelih kawanan baduiWahabi-Saud saat memangku cucunya di depan rumahnya di Makkah.
Charles Allen dalam God’s Terrorist, The Wahhabi Cult and The Hidden Roots of Modern Jihad menguraikan bagaimana pada tahun 1803-1804 Masehi golongan Wahabi menyerbu Makkah dan Madinah, membunuhi para syaikh dan penduduk yang tidak bersedia mengikuti ajaran Wahabi. Perhiasan dan perabot indah yang mahal yang disumbangkan oleh para raja dan pangeran dari seluruh dunia untuk memperindah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, makam Nabi Muhammad Saw, makam para wali dan makam orang-orang saleh di Makkah dan Madinah, dijarah dan dibagi-bagikan di antara kawanan Wahabi dan tokoh-tokohnya. Dunia Islam guncang ketika terdengar makam Nabi Saw dinodai dan dijarah, rute jama’ah haji ditutup, segala bentuk peribadatan yang tidak sesuai faham Wahabi dilarang.
Kebiadaban Wahabi-Saud terhadap penduduk sipil mulai terhadang ketika kekuatan militer Turki di bawah Jenderal Muhammad Ali Pasha mulai bergerak menghadapi kekuatan kaum badui biadab itu. Tusun Pasha, putera Muhammad Ali Pasha menyerbu kota Yanbu awal tahun 1811. Tanpa perlawanan badui-badui buas itu menyerah.  Jenderal Muhammad Ali Pasha dengan mudah menghancurkan pertahanan Wahabi-Saud di Al-Safra  dekat Madinah pada Oktober 1812. Akhir November 1812 Jenderal Muhammad Ali Pasha menduduki Madinah. Tanggal 7 Januari 1813, Tusun Pasha merebut Jeddah setelah menghancurkan kawanan Wahabi-Saud dalam pertempuran di kota tersebut. Awal Januari 1813 Tusun Pasha memaklumkan penguasaan atas Makkah setelah menghalau kekuatan Wahabi-Saud. Akhir 1817 Ibrahim Pasha menaklukkan sejumlah desa di Nejd, pangkalan kaum Wahabi-Saud. Pada pertengahan April 1818, Ibrahim Pasha berhasil merebut Riyadh. Dan pada 9 September 1818, dalam pertempuran di Diriyah kekuatan Wahabi-Saud dihancurkan pasukan Ibrahim Pasha. Cita-cita Wahabi-Saud menegakkan negara agama pun pupus.
*    *    *    *    *
Kekejaman, kebuasan, kebengisan, kebrutalan, dan keserakahan  badui-badui Nejd penganut faham Salafi-Wahabi yang dipamerkan di Karbala, Thaif, Makkah, dan Madinah yang menumpahkan darah umat Islam, ternyata diimpor ke Nusantara oleh tiga orang haji asal Tanah Minang:  Haji Miskin dari dusun Pandai Sikat, Haji Sumanik dari VIII Koto, dan Haji Piabang dari Tanah Datar. Dengan meyakini bahwa gerakan Wahabi adalah gerakan pemurnian Islam, ketiga orang haji itu sepulang dari ibadah haji melancarkan kritik dan kecaman terhadap praktek-praktek TBC (takhayul – bid’ah –Churafat), kemusyrikan dan kemaksiatan yang mereka yakini masih dijalankan oleh penduduk kampungnya.
Didukung Tuanku nan Rinceh dari Kamang, Tuanku Lubuk Aur dari Candung, Tuanku Berapi dari Bukit, Tuanku Ladang Lawas dari Banuhampu, Tuanku Padang Luar, Tuanku Galung dari Sungai Puar, Tuanku Biaro, Tuanku Kapau, dan  Tuanku Mensiangan, dimulailah tindakan terror di desa-desa di Tanah Minang di mana orang yang tidak menjalankan sholat harus dibunuh dan dirampas hartanya.  Muhammad Radjab dalam Perang Padri di Sumatera Barat 1803-1836 menggambarkan bagaimana kaum Wahabi yang menyebut diri Kaum Paderi itu  menaklukkan desa-desa dan melakukan kekerasan sampai pembunuhan untuk kemudian menetapkan hukum yang sangat keras. Gara-gara kedapatan mengunyah sirih, bibi dari Tuanku nan Rinceh dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal kepalanya di tanah lapang dan mayatnya dibuang ke hutan.
Mangaradja Onggang Parlindungan dalam buku Tuanku Rao – yang menggunakan dokumen dari catatan keluarga kakek buyutnya yang menjadi panglima Paderi – mengungkapkan kekejaman dan kebiadaban kaum Wahabi yang membunuh berpuluh ribu penduduk Sumatera Utara beragama Parmalim maupun yang muslim. Akibat terlalu banyak korban pembantaian yang tidak dikubur, pecah kolera di mana-mana sampai bagian terbesar pasukan Paderi di Tanah Karo tewas sendiri terserang kolera. Berbagai tindakan biadab yang menjijikkan – menjadikan leher isteri untuk menguji ketajaman pedang, mabuk di bulan Ramadhan, memperkosa anak kandung, pesta seks massal yang dilakukan para pemurni Islam itu – menimbulkan antipati penduduk Sumatera Utara dan sebagian Sumatera Barat  terhadap Kaum  Paderi. Itu sebabnya, sewaktu kekuatan tempur Kaum Paderi biadab dihancurkan oleh Overste Raaff dalam pertempuran di Fort Air Bangis dan sisa-sisa pasukan Paderi menjadi buronan, penduduk yang membantu Belanda melampiaskan amarahnya kepada Paderi yang tertawan dengan membantai mereka beramai-ramai.
Atas dasar pengulangan siklus sejarah berupa aksi biadab orang-orang berfaham Wahabi yang terobsesi menegakkan kekuasaan agama untuk membenarkan kebiadabannya, sewaktu Ibnu Saud memenangkan pertempuran dengan Kabilah Rasyidi  di Riyadh pada 13 Januari 1902 yang dilanjut keberhasilan menghancurkan kekuatan Kabilah Rasyidi di Dilam pada 27 Januari 1902, umat Islam di Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal-Jamaah merasa cemas menunggu perkembangan dari munculnya kembali kekuatan Wahabi-Saud. Kecemasan umat Islam Indonesia makin meningkat sewaktu mendapat kabar bahwa Ibnu Saud kembali meraih kemenangan atas kekuatan Kabilah Rasyidi dalam pertempuran di Bekeriyah pada 15 Juni 1904, di Shinanah pada 29 September 1904, di Raudhah Muhannah 12 April 1906, dan di Tafariyah pada 24 September 1907. Dengan dukungan Britania Raya melalui agen intelijen bernama Lawrence, Ibnu Saud berhasil meraih kemenangan setelah merebut Makkah pada 1924 dan kemudian merebut Jeddah pada 10 Februari 1925, yang menandai berakhirnya kekuasaan Kerajaan Hijaz.
Kemenangan-kemenangan Ibnu Saud yang didukung Inggris itu sangat mencemaskan umat Islam Indonesia dari  kalangan pesantren. Itu sebabnya,  saat tersiar kabar bahwa Ibnu Saud penguasa Jazirah Arab yang berfaham Wahabi akan melarang faham bermazhab dan menutup makam Nabi Muhammad Saw, kalangan ulama pesantren membentuk delegasi yang disebut Komite Hijaz yang mengemban tugas dari ‘Nahdlatoel Oelama’ untuk menyampaikan aspirasi umat Islam Indonesia yang menentang kebijakan penguasa Wahabi itu.
*    *    *    *
Sejarah awal Indonesia menjelang kemerdekaan ditandai oleh kemunculan Darul Islam (DI) yang mencita-citakan berdirinya Negara Indonesia berazas Islam. Gerakan ini  semula dipimpin seorang ulama termasyhur di  Tasikmalaya-Ciamis, KH Jusuf Tausiri dan kemudian mengalami perubahan setelah dimasuki politisi Islam bernama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.  DI yang semula bersifat lokal berubah menasional dengan  muncul  di berbagai tempat berbeda di Indonesia, seperti di Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Aceh dengan tokoh-tokoh pendukung Amir Fatah, Abdul Kahar Muzakkar, Bahar Mattaliu, Andi Selle, Daud Beureuh.
Segera setelah menggabungkan DI dengan Tentara Islam Indonesia (TII) yang disingkat DI/TII yang berseberangan dengan RI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945, terjadi perpecahan. Menurut Hiroko Horikoshi dalam tulisan di Journal Indonesia XX 1975 berjudul “The Dar-ul-Islam in West Java (1948-62)” mencatat bahwa KH Jusuf Tausiri menyatakan mundur dari DI sewaktu gerakan itu tahun 1949 menentang Republik hasil proklamasi. Di dalam buku berjudul  A traditional leader in a time of change: The kijaji and ulama in West Java Hiroko Horikoshi menggambarkan para ulama pendukung DI yang awal adalah kalangan tradisional, yang pandangan-pandangannya berbeda jauh dengan para politikus dan militer yang masuk DI belakangan yang sebagian berasal dari golongan Islam modern. Justru akibat menguatnya faham Islam modern di tubuh DI/TII, resistensi dari golongan ulama tradisional di pesantren-pesantren semakin menguat karena mereka mengidentikkan golongan Islam modern sebagai  gerakan yang sama dengan Wahabi. Begitulah, mayoritas umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlussunnah wal-Jama’ah yang ditandai pengaruh adat dan tradisi Nusantara dalam amaliah keagamaannya, menolak dan menentang gerakan DI/TII yang dalam gerakannya menjalankan kekerasan dengan membakar desa-desa, menyiksa dan menjarah penduduk, menculik dan membunuh orang-orang yang menentang, menyerang TNI dan polisi, dan berbagai tindak kekerasan lainnya

Anak-anak Non-Muslim Disembelih ISIS

Sejarah mencatat bagaimana di dalam kesatuan DI/TII pimpinan Abdul Kahar Muzakkar dibentuk kesatuan Momok Ansharullah, pasukan terror yang kejam dan brutal. Tapi kebijakan Abdul Kahar Muzakkar ini mendapat kritik keras dari Bahar Mattaliu yang berujung pada pecahnya perselisihan antara Kahar Muzakkar dengan Bahar Mattaliu. Usaha menegakkan NII yang ditopang kekuatan tokoh-tokoh berfaham Wahabi yang cenderung menggunakan aksi kekerasan,  ditentang keras oleh para ulama NU dan para tetua adat serta raja-raja Nusantara yang mendukung tindakan TNI untuk menumpas gerakan makar tersebut. Demikianlah,  gerakan makar DI/TII untuk menegakkan NII mulai surut dan kemudian porak-poranda sewaktu Bahar Mattaliu menyerah kepada pemerintah Indonesia, diikuti tewasnya Andi Selle dalam perburuan TNI, tertangkapnya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang diadili dan pada 12 September 1962 dijatuhi vonnis hukuman mati, dan tewasnya Abdul  Kahar Muzakkar yang  tertembak dalam penggerebekan 3 Agustus 1965.
Setelah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dieksekusi, sekitar tahun 1978-1979 Darul Islam pecah menjadi dua kubu. Pertama, kubu Jamaah Fillah yang diketuai Djadja Sujadi. Kedua, kubu Jamaah Sabilillah yang diketuai Ateng Djaelani Tirtapradja di mana Ateng Djaelani kemudian membunuh Djadja Sujadi, yang membuatnya dipenjara tahun 1980. Kelompok ini akhirnya tercerai-berai, salah seorang tokohnya adalah Abdullah Sungkar yang menguasai Jawa Tengah dan Jakarta. Ajeng Kurnia membawahi Bogor, Serang, Purwakarta, dan Subang. Tokoh tua DI, Gaos Taufik, membangun pengaruh di Sumatera Utara. Abdul Fatah Wiranagapati, tokoh DI senior yang pernah diberi pangkat Kolonel DI/TII oleh Kartosoewirjo, mendirikan pesantren di Garut. Abu Toto alias Abdussalam Panji Gumilang asal Gresik Jawa Timur mendirikan pesantren Azzaytun di Indramayu.
Nur Khaliq Ridwan dalam buku Regenerasi NII: Membedah Jaringan Islam Jihad di Indonesia mengungkapkan kemandulan faksi-faksi NII akibat terpecahnya kelompok ke dalam delapan faksi: (1) faksi pimpinan Ahmad Shobari yang disebut Negara Islam Indonesia Tejamaya; (2) NII Fillah di bawah Djadja Sujadi dan Kadar Solihat; (3) NII faksi Ajengan Masduki; (4) NII faksi Abdullah Sungkar; (5) NII faksi  Tahmid bin Kartosoewirjo; (6) NII faksi Abu Toto yang direstui Adah Djaelani; (7) NII faksi  Abu Bakar Ba’asyir; (8) NII faksi  Kang Djadja dan ring Banten, di mana pada perkembangannya muncul pula NII faksi Mahfud Shidiq, NII faksi Aceh, NII faksi Madura, NII faksi Sulsel, NII faksi KW7, NII faksi KW9, NII faksi Al-Chaidar.
M Busyro Muqoddas dalam disertasi berjudul Hegemoni Rezim Intelijen: Sisi Gelap Keadilan Kasus Komando Jihadmenyimpulkan bahwa berbagai aksi teror berlatar agama yang muncul selama Orde Baru – murni sebagai gerakan berlatar ideologis maupun rekayasa intelijen – pada dasarnya tidak lepas dari faksi-faksi NII yang sudah kehilangan orientasi dan mandul serta terlibat friksi perselisihan fraksi satu dengan faksi lain.
*    *    *    *    *
Sejak diterapkannya tatanan dunia baru pasca runtuhnya komunisme dengan lahirnya masyarakat global yang terbuka (a global open society) sebagaimana dikemukakan George Soros dalam On Soros; Staying ahead of the curve, pada satu sisi terjadi perubahan fundamental di mana masyarakat dunia akan terpilah menjadi tiga kelompok peradaban berlatar agama, yaitu peradaban Barat yang Kristen akan berhadapan dengan masyarakat Timur yang berlatar peradaban Islam dan Konghucu sebagaimana dikemukakan Samuel P Huntington dalam The Clash of Civilization and The Remaking of World Order. 

Anak-anak Dipenggal ISIS

Skenario global yang diluncurkan Huntington tahun 1996 ini terbaca oleh KH Abdurrahman Wahid dan tokoh-tokoh Katholik beserta tokoh-tokoh keturunan etnis Tionghoa, sehingga disepakati masing-masing kegiatan umat tidak diperkenankan menggunakan term-term Keislaman, Kekristenan dan Kekonghucuan. Bagi umat Katholik yang terpimpin secara struktural hingga ke tingkat Paus dan warga Nahdliyyin yang terpimpin secara struktural dalam kepemimpinan ulama, demikian juga dengan kepemimpinan Konghucu yang terkordinasi, komando untuk tidak mengeksplorasi simbol-simbol keagamaan dapat dijalankan secara terkordinasi. Masalah justru muncul ketika faksi-faksi Islam dari berbagai unsur masyarakat yang terpengaruh Darul Islam dan golongan berfaham Wahabi, yang tidak memiliki struktur komando terkordinasi. Sejarah mencatat, kerusuhan virtual sesuai skenario Huntington itu pecah di Situbondo 1996 disusul kerusuhan serupa di Tasikmalaya, Pasuruan, Banjarmasin, Makassar, Kupang, yang berpuncak pada kerusuhan 13-14 Mei 1998  di Jakarta yang mengakibatkan Presiden Soeharto mundur.
Tidak bisa diingkari, bahwa gerakan-gerakan Islam radikal sebagaimana dimaksud Huntington dalam teorinya, secara umum dalam fakta justru dijalankan oleh kelompok-kelompok muslim berfaham Wahabi seperti Al-Qaeda,  Boko Haram, Jamaah Islamiyyah, Jundullah, Taliban, dan belakangan ISIS. Itu berarti, dengan memahami genealogi gerakan radikal Islam secara historis khususnya di Indonesia, tidak terlalu sulit untuk mendeteksi munculnya gerakan-gerakan radikal bersifat ultra-fundamental yang suka menebar teror dan melakukan tindak kebrutalan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan agama itu. Di tengah perkembangan pesat teknologi informasi dewasa ini, masyarakat tanpa kesulitan dapat mengakses informasi-informasi penting terkait suatu gerakan ekstrim- radikal melalui media sosial seperti YouTube, Blog, Web, Twitter,

Facebook

. Itu artinya, merancang rekayasa politik dengan cara-cara kurang cerdas dan sembrono seperti yang dilakukan ISIS, dipastikan tidak saja akan menjadi bahan tertawaan para pengguna blog, web, twitter, facebook, android, dan SMS, melainkan akan membahayakan pula keamanan dan keselamatan kelompok-kelompok keagamaan berfaham Salafi-Wahhabi yang memiliki keterkaitan ideologi dengan ISIS.
Posted by Agus Sunyoto 

 

Sumber : Pesantren Budaya Blog

NO COMMENTS