Analis: Agenda Arab Saudi, Basmi Kaum Non-Wahhabi

1
1,602 views
Islam Times- Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian.
The real leader Wahhabi (http://www.syrianews.cc)

The real leader Wahhabi (http://www.syrianews.cc)

Jika Anda ingin mengunjungi sebuah negara pendukung hukum apartheid yang absolut, maka, selamat datang di Arab Saudi!

“Ya, di Arab Saudi, tak satupun dari kuil Buddha, gereja Kristen, candi Hindu, dan rumah ibadah non-Muslim lainnya ditoleransi,” ungkap jurnalis Modern Tokyo Times, Ramazan Khalidov dan Lee Jay Walker. Namun, lanjut keduanya, kendati mendukung nilai-nilai multi-budaya, AS Perancis, Inggris, dan negara Barat lainnya tidak keberatan berbisnis dengan negara yang melarang agama non-Muslim serta mendukung apartheid ala “Islam versi Wahhabi” dan pernikahan anak di bawah umur.

Tentu saja, Arab Saudi tidak sendirian dalam mendukung apartheid ala Wahhabi, namun yang membuatnya lebih buruk adalah, bangsa ini mengekspor terorisme, menjejalkan paham berbahaya Salafi-Wahhabi, dan mendanai lembaga pendidikan yang menghasut kebencian. Meski demikian, saat Barat berada dalam mode penghancuran-diri, [monarki] Teluk petrodolar ini dibolehkan untuk menyebarkan indoktrinasi dan kolom kelima di banyak masyarakat.

Karena itu, Arab Saudi mengucurkan dana besar-besaran untuk menyebarkan “Islam versi Wahhabi” dan membeli institusi Barat yang kuat dengan uang untuk membuat sejarah palsu. Kemunafikan terang-terangan ini terus dibiarkan karena… politisi internasional terlalu bungkam.

Pada abad ke-21, seperti di akhir abad ketujuh, kemurtadan di semenanjung Arab sama dengan kematian. Sementara itu, di negara-negara seperti Arab Saudi dan Somalia, jika laki-laki non-Muslim ingin menikahi seorang wanita Muslim berdasarkan ” cinta sejati”, maka itu dapat berujung penjara atau kematian.

Namun, [monarki] Teluk petrodolar memicu konservatisme radikal… revolusi kontra-Islam ini mengancam kekuatan progresif di Bangladesh, Mesir, Indonesia, Irak, Pakistan, Suriah, Turki, dan negara-negara lain–dan yang mengejutkan, kekuatan besar Barat acapkali berpihak pada agenda Arab Saudi dan [monarki] Teluk dalam, salah satunya, melawan pasukan sekuler di negara-negara seperti Suriah.

Arab Saudi dan [monarki] Teluk melalui kekuatan dana nyaris tak terbatas saat ini, berusaha membasmi entitas non-Muslim, bahkan internal Muslim sendiri, seperti Syiah, dalam jangka panjang… Secara eksternal, Arab Saudi dan negara-negara lain seperti Qatar dan Pakistan terang-teranga mengekspor teroris dan pasukan takfiri ke pelbagai negara yang berbeda. Dengan kata lain, Arab Saudi, Pakistan, dan Qatar, serta beberapa pihak lainnya, sangat berbahaya karena merusak banyak negara seraya menghancurkan adat-istiadat Islam di Libya, Indonesia, Suriah, dan Bangladesh.

Presiden Obama dan presiden AS lain sebelumnya telah menjual jiwa kolektifnya dengan menutup mata terhadap realitas brutal Arab Saudi… jelas bahwa Arab Saudi dan [monarki] Teluk petrodolar menyebarkan ideologi berbahaya secara jauh dan luas… yang mencemari demokrasi dan nilai-nilai multi-budaya di tanah air masing-masing.

Inilah saatnya memberi tekanan nyata pada Arab Saudi yang [secara arogan] mendukung apartheid dan mengekspor ekstrimis Salafi [Wahhabi]. Seiring dengan itu, sudah saatnya pula membedakan antara Islam pribumi Suriah dengan “Islam” versi takfiri–yang mulai subur di Indonesia–dan sebagainya.

Memang, pasukan takfiri Wahhabi yang berkembang biak di sejumlah monarki Teluk petrodolar berusaha menghancurkan seluruh kekuatan moderat di “dunia Muslim yang beragam”. Karena itu, takfiri radikal menghancurkan padepokan Sufi, masjid Syiah, kuil Ahmadiyah, membunuh ulama Muslim Sunni pribumi di Suriah, dan memendam kebencian terhadap kalangan Alawi–serta realitas brutal lainnya.

Jika Islam [yang berusaha dihancurkan kaum takfiri] ini sampai hilang, niscaya semua harapan ko-eksistensi akan hilang dan jurang lebih luas akan muncul di kancah internasional. Kenyataan ini harus dipahami dan kemudian segera ditangani.

Namun saat ini AS dan negara-negara Barat utama lainnya justru berpihak pada kekuatan [moarki] Teluk petrodolar. Sampai ini berakhir, tak akan ada yang berubah, yang karenanya suatu tatanan baru perlu dimunculkan untuk memutus matarantai [kebrutalan Arab Saudi]. Jika tidak, negara-negara demokratis akan menabur lebih banyak benih kebencian, destabilisasi, dan sektarianisme, sesuai keinginan Arab Saudi dan kekuatan [monarkis] Teluk lainnya. (IT/MTT/rj)

1 COMMENT

Comments are closed.