Aliran Wahabi dan wajah Islam moderat di Indonesia

0
106 views

Indonesia bersusah payah mengakomodasi kepentingan Islam moderat dan Islam berhaluan keras. Politik keseimbangan ini sekarang diuji kehadiran gerakan anti-toleran yang dilabeli aliran Wahabi.

Di ruangan kerjanya terpasang lukisan figur sentral sekaligus pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari. Kantornya terletak di Jalan Raya Darmo, salah-satu jalan utama di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Saat saya menemuinya akhir April lalu, ada beberapa orang bercengkerama di ruangannya. Walaupun sering diwarnai kelakar, berbagai topik “panas” menjadi menu utama pembicaraan.

“Kita dalam suasana battle (pertempuran) saat ini,” ungkap sang tuan rumah, Hakim Jayli kepada saya. Hakim adalah aktivis NU sekaligus pimpinan stasiun televisi TV9, milik NU.

Anggota Barisan Ansor serbaguna (Banser) NU dalam acara rapat akbar NU, 17 Juli 2011 di Jakarta. Belakangan, organisasi ini terlibat aksi penolakan terhadap organisasi Hizbut Tahrir Indonesia, HTI.

Pada hari-hari itu memang merebak peristiwa “panas” yaitu pencabutan atribut bendera atau spanduk milik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di sejumlah daerah oleh para aktivis Barisan Ansor Serbaguna (Banser) – organisasi kepemudaan NU.

Walaupun menolak aksi pencopotan itu, Hakim tak bisa menutupi sikapnya yang menolak keberadaan HTI. “Jelas-jelas mereka akan mendirikan negara Islam, dan mereka melakukannya secara terang-terangan,” katanya.

Perang di media sosial

Tetapi pertempuran yang dimaksud Hakim bukanlah semata soal atribut HTI itu tadi.

Kendati tidak menyebut nama organisasinya, dia menganggap kelompok-kelompok yang berlatar Salafi dan Wahabi terus melebarkan pengaruhnya ke berbagai lini, termasuk ke dunia penyiaran dan media sosial.

Istilah Salafi dan Wahabi adalah sebutan yang dialamatkan kepada kelompok atau perorangan yang menganjurkan “pemurnian” Islam kepada Al-Quran dan hadis – dan menolak tambahan-tambahan lain setelahnya.

Pembaca acara stasiun televisi TV9. Stasiun televisi milik NU ini, menurut pengelolanya, dilahirkan untuk ‘menyelamatkan” wajah Islam moderat di Indonesia.

Adapun aliran Wahabi dikaitkan dengan sosok Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792), seorang ulama dari Arab Saudi yang mendirikan sebuah sekte yang menyatakan bahwa mereka kembali kepada semangat sejati Nabi Muhammad.

Saat ini, orang-orang atau kelompok yang dilabeli Wahabi menganggap sebutan itu tidak tepat. Mereka sebaliknya menganggap pelabelan itu “merendahkan” ajaran pemurnian ala Abdul Wahab.

Lebih lanjut Hakim kemudian mencontohkan perang wacana di media sosial yang dilancarkan kelompok tersebut terhadap konsep Islam Nusantara yang dikampanyekan terus-menerus oleh ormas Islam terbesar di Indonesia itu.

Islam Nusantara, menurut penggagasnya, merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara yang disebut “dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras.”

Ide ini bergulir terus dan mendapatkan tempat di dalam wacana keislaman Indonesia.

Namun demikian, secara hampir bersamaan, lahir pula kritikan dan penolakan terhadap istilah Islam Nusantara – yang diwarnai perdebatan keras terutama melalui media sosial atau dalam diskusi terbuka.

Pembukaan Munas ulama NU di masjid Iqtiqlal, Minggu (14/06), kembali menyuarakan dukungan terhadap model Islam Nusantara. Tetapi yang menentangnya terus mempertanyakan istilah tersebut.

Dihadapkan situasi sepertinya inilah, Hakim menyebut kehadiran TV9 menjadi penting untuk ‘menyelamatkan” wajah Islam moderat.

“TV 9 menjadi lebih dari sekedar media, dia adalah bagian instrumen NU dalamcyber war yang lebih rumit,” akunya.

Sayangnya, menurut Hakim, pemerintah Indonesia terkesan membiarkan aktivitas politik yang dilakukan organisasi tersebut.

Hakim Jayli, Presiden direktur TV9 milik NU. “TV 9 menjadi lebih dari sekedar media, dia adalah bagian instrumen NU dalam cyber war yang lebih rumit,” akunya.

Dia mencontohkan sikap ambigu pemerintah yang di satu sisi meneriakkan ‘NKRI harga mati’, tapi di sisi lain seperti merestui keberadaan organisasi seperti HTI.

“Bahkan kadang-kadang negara merestui, sementara kita menghadapinya di bawah,” tambahnya dengan nada masygul.

Tetapi pihaknya tidak berarti kemudian berpangku tangan. Melawan, begitulah. “Karena ancaman ini sudah nyata. Kita dalam suasana perang…” Suara Hakim terdengar meninggi.

Dan suara Hakim itu seperti terus menggema ketika saya teringat kembali sejumlah konflik terbuka warga NU dengan pengusung aliran Wahabi di beberapa tempat di Indonesia dalam setahun belakangan.

Menolak ‘aliran Wahabi’ di Pamekasan

“Untuk tidak mendatangkan tokoh-tokoh Salafi Wahabi yang punya catatan hitam!”

Teriakan pemimpin unjuk rasa ini memecah keheningan kota Pamekasan, di Pulau Madura, Jawa Timur, 20 Maret 2015 lalu, sekaligus mengagetkan para pimpinan agama di kota itu.

Unjuk rasa “anti ulama yang dicap Wahabi” memecah keheningan kota Pamekasan, di pulau Madura, Jawa Timur, 20 Maret 2015 lalu, sekaligus mengagetkan para pimpinan agama di kota itu.

Melalui rekaman liputan sebuah stasiun televisi swasta, saya melihat suasana unjuk rasa serta tuntutan para pendemo. Disebutkan pengunjukrasa adalah santri berlatar NU dari berbagai pesantren di pinggiran kota Pamekasan.

“Catatan hitam itu apa? Mensyirikkan Maulud Nabi, mensyirikkan ziarah kubur, membidahkan tahlilan…” demikian ungkap perwakilan unjuk rasa dalam dialog usai unjuk rasa.

Syirik adalah istilah yang merujuk pada sikap atau aktivitas yang dianggap menyekutukan atau menyembah selain Tuhan.

Adapun bidah merujuk pada kegiatan yang tidak pernah diperintahkan Nabi Muhammad SAW terkait ibadah.

Tuntutan ini diarahkan kepada pimpinan Masjid Ridwan di Jalan Diponegoro, di tengah kota Pamekasan, yang saat itu mengundang seorang ulama yang dianggap para pendemo acap menjelekkan tradisi keagamaan mereka.

Kira-kira setahun setelah unjuk rasa ini, saya mendatangi kota kecil yang tenang Pamekasan di pulau Madura, kira-kira tiga jam perjalanan darat dari ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya, akhir April lalu.

Suasana menjelang sholat maghrib di depan masjid Asy-Shuhada, Pamekasan. Walaupun mayoritas penduduk Pamekasan adalah berlatar Nahdilyin, kepemimpinan politik di wilayah itu saat ini tidak dipegang oleh elit organisasi NU.

Di malam pertama, saya menemui sejumlah jurnalis di kota itu yang tanpa dinyana dihadiri pula seorang tokoh masyarakat dan aparat intelijen kepolisian setempat.

Diskusi lebih membahas konteks yang menjadi latar unjuk rasa tersebut serta alasan kenapa kasus itu lebih baik tidak diungkit lagi. Saya lebih banyak mendengar – dan terus mencatat.

Terungkap pula dalam pertemuan itu, walaupun mayoritas penduduk Pamekasan adalah berlatar Nahdiyin, kepemimpinan politik di wilayah itu – saat ini – tidak dipegang oleh elit organisasi NU.

Organisasi seperti Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad atau Sarikat Islam disebut berperan aktif dalam konstelasi politik di kota itu, selain NU sendiri.

‘Paham Radikal masuk ke desa-desa’

Suatu malam, saya dijemput seorang pria berkopiah hitam dan bersarung. Dengan berkendaraan roda empat, pria kelahiran 1986 ini menemui saya di hotel tempat saya tinggal.

Kami sebelumnya memang sudah berjanji untuk bertemu, setelah saya memperoleh informasi pria ini adalah sosok penting di balik demonstrasi seorang ulama yang dilabeli Wahabi.

Maltuful Anam, perawakannya agak gemukan, tembem. Kulitnya agak gelap. Dia mengenakan kemeja batik warna biru.

“Berangkat dari kegelisahan sahabat-sahabat dan teman-teman ketika melihat banyak paham-paham radikal Wahabi masuk desa-desa di Pamekasan, bukan hanya di kotanya,” Maltuful Anam menjelaskan alasan pendirian organisasi Gesper.

Membelah jalan-jalan sempit pinggiran kota itu, dan dihibur alunan musik qosidah, kami kemudian menuju pondok pesantren Panyepen di mana dia menjadi salah-satu seorang pengajarnya.

Seperti yang dirasakan Hakim Jayli dan warga NU lainnya, dan sebagian pejabat pemerintah Indonesia, alumni S2 Bahasa Arab di Universitas Islam negeri Sunan Ampel Surabaya ini pun meyakini adanya kebangkitan kelompok Islam radikal.

“Berangkat dari kegelisahan sahabat-sahabat dan teman-teman ketika melihat banyak paham-paham radikal Wahabi masuk desa-desa di Pamekasan, bukan hanya di kotanya,” Maltuf menjelaskan alasan kenapa dia mendirikan organisasi Gerakan santri pemuda rahmatan lil alamin alias Gesper.

Gesper, seperti diketahui, berada di balik aksi-aksi demonstrasi menolak apa yang mereka sebut sebagai aliran Wahabi atau Salafi di Pamekasan

Suasana di depan Pondok pesantren Kebun Baru di pinggiran Kota Pamekasan, Madura.

Maltuf – demikian panggilalan akrabnya – mengaku melahirkan Gesper karena dirinya “tidak bisa menggerakkan NU lantaran tidak berada dalam strukturnya”.

Mantan aktivis PMII ini kemudian membayangkan, jika benih-benih radikal itu dibiarkan tumbuh dan membesar, tragedi di Suriah bisa terjadi di Madura. “Kita tidak menginginkan itu,” katanya.

‘Surga sudah dikavling oleh mereka’

Dari kekhawatiran seperti itulah, Maltuf kemudian mengaku memperoleh kabar bahwa ada seorang ulama dari luar Madura akan berceramah di masjid Ridwan, Pamekasan.

Ulama tersebut, menurutnya, dalam berbagai ceramahnya sering menganggap tradisi yang selama ini dikerjakan warga NU kebanyakan sebagai bertentangan dengan ajaran Islam.

“Kita ziarah ke Wali Songo, kayaknya salah. Kita ziarah ke para kiayi, minta barokah kepada kiai, sepertinya salah. Dalam pandangan mereka dianggap bidah.Masak kita dijustifikasi sebagai penganut bidah yang nantinya akan masuk ke neraka,” ujarnya.

Dua warga Muslim tengah berdoa di sebuah kuburan seorang ulama di Surabaya, 17 Juni 2015.

Saat wawancara berlangsung, suara jangkrik dan suara-suara santri yang tengah istirahat di halaman depan pesantren menyusup ke dalam ruangan. Juga lamat-lamat terdengar suara orang membaca kitab suci, sementara malam terus merayap.

“Lalu, surga seolah-olah sudah dikavling oleh mereka. Kita ini enggak kebagian surga. Kayaknya tanah-tanah yang ada di surga sudah ada sertifikat mereka semua. Nah, itu yang bikin pusing kita.”

Maltuf kemudian tertawa ringan. Saya kemudian minta pamit.

Tanggapan pimpinan masjid Ridwan

Keesokan harinya, saya menemui pimpinan Masjid Ridwan, Hanif Thalib, di rumahnya yang terletak di jalan Diponegoro, tidak jauh dari toko emas miliknya, di pusat kota Pamekasan.

Terletak agak menjorok ke dalam, halaman rumah Hanif ditumbuhi beberapa pohon rindang. Sebuah mobil ambulans – dengan tulisan Yayasan Masjid Ridwan – diparkir di salah-satu sudutnya. “Ambulan ini gratis bagi warga Pamekasan yang membutuhkan,” ungkapnya.

Masjid Ridwan terletak di jalan Diponegoro, di pusat kota Pamekasan.

Hanif, kelahiran 1958, memelihara kumis dan brewok panjang – yang sebagian memutih. Dia terlihat ramah dan mempersilakan saya duduk sekaligus menawari saya kopi jahe panas.

Sebelum saya datang ke kotanya, dia mengaku sudah dihubungi sejumlah wartawan di Pamekasan bahwa saya akan mewawancarainya terkait unjuk rasa di dekat masjid miliknya.

Kepada wartawan itu, sarjana Fakultas Ekonomi sebuah perguruan tinggi negeri di Malang, Jatim ini mengaku enggan diwawancarai. “Saya tidak mau persoalan itu diungkit lagi.”

Tapi pagi itu Hanif tidak menolak untuk saya wawancarai. “Saya bukan ustad.” Saya memang sempat memanggilnya ‘ustad’ yang berarti guru agama diawal percakapan. Saya mengiyakan dan kami kemudian tertawa kecil.

Hanif Thalib, kelahiran 1958, adalah pimpinan masjid Ridwan di Pamekasan. “Saya akan terus berdakwah, tapi akan lebih hati-hati terutama ketika menyinggung khilafiyah,” katanya.

Berulang-ulang dia meminta agar saya menulis laporan ini dengan hati-hati, karena dia tidak ingin masalah ini muncul lagi ke permukaan.

Semuanya sudah diselesaikan dengan baik-baik dan melibatkan pula pemerintah kota Pamekasan, katanya.

Dia juga menggarisbawahi bahwa unjuk rasa itu muncul bukan karena keberadaan masjidnya. “Tapi ustad yang kami undang itu pernah ngomong soal Maulud (Nabi Muhammad SAW), itu sudah lama diunggah di Youtube,” ungkapnya.

Saat wawancara berlangsung, ada tiga atau empat anggota keluarga dekatnya duduk di dekat kami. Diantara mereka ada yang menginterupsi ketika saya bertanya soal gejala radikalisasi di kalangan anak muda. Mereka juga menyela dengan melontarkan persoalan politik di seputar pemilukada Jakarta dan pilpres 2014.

Suasana sholat Jumat di masjid Ridwan, Pamekasan, Jumat (29/04/2016) lalu. Seorang ulama yang diundang sebagai penceramah di masjid ini ditolak kehadirannya oleh para santri NU yang tergabung dalam kelompok Gesper pada Maret 2015 lalu.

Dengan tetap terlihat sopan, Hanif kemudian mempersilakan saya meneruskan wawancara. Dia mengaku tetap akan menggelar acara dakwah di masjidnya, misalnya mengundang pembicara dari luar Pamekasan, tetapi dia akan lebih hati-hati ketika menyangkut khilafiyah.

“Ya urusan orang tidak suka, kita masak tanya satu-satu, ‘kan ndak mungkin,” kata Hanif.

“Jadi kita (tetap) berdakwah apa yang menurut kita baik buat masyarakat, masalah akhlak, masalah kesyirikan…”

Namun demikian, sambungnya cepat-cepat, apabila materi dakwahnya menyinggung soal khilafiyah akan digelar tertutup atau untuk kalangan internal. “Misalnya digelar di dalam masjid Ridwan, itu ‘kan untuk internal,” jelasnya.

‘Alergi kata bidah dan syirik’

Polemik tentang cara merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah lama ditinggalkan oleh kaum Muslim di Indonesia, tetapi belakangan peringatan ini kembali dipersoalkan.

Penolakan terhadap cara memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad – lazim disebut Maulud Nabi – muncul marak di jejaring sosial sejak tiga atau dua tahun belakangan.

Acara peringatan Maulud Nabi di Monas, Jakarta, Januari 2013 lalu. Polemik tentang cara merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah lama ditinggalkan oleh kaum Muslim di Indonesia, tetapi belakangan peringatan ini kembali dipersoalkan.

Para penentangnya biasanya dikaitkan dengan kelompok yang terpengaruh Salafi-Wahabi radikal, sementara yang merayakannya adalah warga NU dan sebagian besar umat Islam lainnya.

Kalangan yang menolaknya menyebut tradisi Maulud Nabi sebagai bidah atau kegiatan yang tidak pernah diperintahkan Nabi Muhammad terkait ibadah.

Sebaliknya, pihak penyokongnya memiliki alasan bahwa peringatan ini didasari kemauan penganut Islam untuk terus mengingat ajaran Nabi Muhammad.

“Masyarakat Madura itu alergi dengan kalimat bidah, syirik. Makanya, kita walaupun menyampaikan materi bidah tapi dengan bahasa yang santun. Seilmiah mungkin,” kata Wakil pimpinan pengurus Muhammadiyah di Pamekasan, Iman Santoso.

Semula “serangan” kelompok penentang Maulud ini sepertinya dibiarkan, tetapi belakangan orang-orang yang dituduh bidah itu melawan balik, termasuk yang terjadi di Pamekasan, Madura.

Bagaimanapun, walaupun belum teruji benar, pimpinan berbagai ormas Islam di Pamekasan akhirnya sampai pada satu titik bahwa selalu ada batasan dalam setiap berdakwah.

“Mari kita menghormati pemahaman masing-masing. Kalau kita dituntut untuk paham dengan cara mereka, maka mereka pun harus paham dengan cara kita, ” kata Ketua Muhammadiyah Pamekasan Daeng Ali Taufiq.

“Masyarakat Madura itu alergi dengan kalimat bidah, syirik. Makanya, kita walaupun menyampaikan materi bidah tapi dengan bahasa yang santun. Seilmiah mungkin,” kata Wakil pimpinan pengurus Muhammadiyah di Pamekasan, Iman Santoso.

Pimpinan Muhammadiyah Pamekasan, Daeng Ali Taufiq, juga mengamini. “Mari kita menghormati pemahaman masing-masing. Kalau kita dituntut untuk paham dengan cara mereka, maka mereka pun harus paham dengan cara kita, ” kata Taufiq.

Salah seorang pimpinan organisasi Al-Irsyad di Pamekasan, Abubakar Basyarahil, mengatakan sangat lumrah dalam proses pemahaman keagamaan muncul tafsir yang berbeda.

Salah seorang pimpinan organisasi Al-Irsyad di Pamekasan, Abubakar Basyarahil, mengatakan sangat lumrah dalam proses pemahaman keagamaan muncul tafsir yang berbeda.

“Dan kadang-kadang kalau perbedaan-perbedaan itu tidak dikelola, itu bisa berkembang ke pola pertentangan,” kata Abubakar yang juga staf pengajar di Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Madura.

Menyadari adanya perbedaan itulah, menurutnya, semua pihak semestinya menyadari “untuk berusaha saling memahami satu sama lain.”

Wakil ketua Nahdlatul Ulama Pamekasan, Misbach Munir mengatakan pihaknya lebih memilih dakwah dengan cara halus ketika dihadapkan persoalan tradisi lama di masyarakat.

Di tempat terpisah, wakil ketua Nahdlatul Ulama Pamekasan, Misbach Munir mengatakan pihaknya lebih memilih dakwah dengan cara halus ketika dihadapkan persoalan tradisi lama di masyarakat.

“Para ulama tidak mengubah, tapi meluruskan saja dengan cara sehalus mungkin, sehingga perubahan terjadi secara alami,” kata Misbach yang juga pimpinan pondok pesantren Kebun Baru di pinggiran kota Pamekasan.

“Makanya NU itu fleksibel terhadap budaya,” kata pria kelahiran 1973 dan lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini.

Ziarah kubur dan Islam moderat

Ketika tuduhan syirik atau bidah terus digemakan dari sejumlah masjid di Pamekasan, saya mendatangi sebuah situs bersejarah di kota itu, yaitu kuburan yang diyakini sebagai raja Islam pertama di Pamekasan, Pangeran Ronggo Sukowati.

Letaknya relatif tidak jauh dari pusat kota. Ketika saya datangi pada sebuah pagi, komplek kuburannya terlihat sunyi. Selain makam sang raja, terdapat pula kuburanorang-orang yang dianggap sebagai keluarganya.

“Kalau bapak datang tadi malam (Kamis malam), banyak yang datang berziarah,” kata Mariyadi, sang juru kunci.

“Kalau bapak datang tadi malam (Kamis malam), banyak yang datang berziarah,” kata Mariyadi, sang juru kunci.

Menurutnya, di hari-hari tertentu, tidak ada yang bisa membendung kehadiran para peziarah, walaupun sebagian praktiknya dicap menyalahi ajaran Islam.

Pria 45 tahun ini mengaku para peziarah yang datang ke makam dilatari motif yang bermacam-macam. “Ada yang lari dari permasalahan ngumpet di sini, rugi dagang tembakau lari kesini, ya macam-macam,” ungkapnya.

Sebagai juru kunci, dia mengaku tak bisa menolak situasi seperti itu. “Itu ‘kan hak orang masing-masing.”

Menurut Maryadi, di hari-hari tertentu, tidak ada yang bisa membendung kehadiran para peziarah, walaupun sebagian praktiknya dicap menyalahi ajaran Islam.

“Lagipula, syirik itu tidak hanya bisa terjadi di makam. Syirik itu menyekutukan Allah ‘kan. Setiap kita Allahu Akbar (saat shalat), kita ingat sandal, sudah syirik,” kata Mariyadi datar.

Sebelum ke Madura, saya menemui pengamat masalah keislaman sekaligus penulis buku Jaringan ulama Timur tengah dan kepulauan Nusantara abad 17 dan 18 (2013), Azyumardi Azra, tentang kasus di Pamekasan — yang juga sering di temui di beberapa wilayah lain di Indonesia.

“Islam Indonesia itu senang mengamalkan Islam yang banyak tambah-tambahannya yang disebut bidah oleh orang Wahabi,” kata Azyumardi, guru besar Universitas Islam negeri Syarif Hidataullah, Jakarta.

Tambahan itu seperti tahlilan, ziarah kubur, tahlilan atau acara tujuh bulanan kehamilan, ungkapnya.

“Saya menyebut Islam Indonesia yang inklusif, moderat, wasatiyah, yang berada di tengah-tengah, terlalu besar untuk bisa dikalahkan,” kata Azyumardi Azra.

“Meskipun ada lembaga-lembaga atau orang-orang berusaha mengembangkan paham Wahabi, saya kira itu tidak menarik, dan bahkan ditolak oleh kaum Muslim secara terbuka atau diam ya,” kata Azra.

Itulah sebabnya, penulis buku Islam Nusantara (2002) dan Islam Substantif (2000) ini meyakini Islam moderat Indonesia terlalu besar untuk gagal walaupun saat ini ada gejala radikalisasi.

“Saya menyebut Islam Indonesia yang inklusif, moderat, wasatiyah, yang berada di tengah-tengah, terlalu besar untuk bisa dikalahkan. Bagaimana mungkin ada kelompok radikal bisa mengubah NU, Muhammadiyah, itu tidak mungkin. Itu bisa dibilang kemustahilan,” kata Azyumardi Azra.

 

Sumber : BBC

NO COMMENTS