Al Asy’ariyah dan Bukti-bukti Sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah

0
2,232 views

AL ASY’ARIYAH Sebagai Mazhab Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Al Imam Al Asy’ari dan Al Asya’iroh (para ulama yang mengikuti metode pemikiran Imam Al Asy’ari dalam masalah aqidah/teologi) adalah manhaj dan pemikiran yang dianut oleh umatIslam yang berhaluan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, khususnya yang berafiliasi dalam wadah Jam’iyyahNahdlatul Ulama, di mana dalam bidang aqidah/teologi, Ahlun Nahdloh (para Nahdliyyin) mengikuti pemikiran dua Ulama besar ahlus sunnah wal jama’ah, yakni Al Imam Abul Hasan Al Asy’ariy (w.330 H) dan Al Imam Abu Manshur Al Maturidi (w. 333 H)

Namun demikian, Banyak kaum muslimin tidak mengenal madzhab Al-Asya’iroh (kelompok ulama penganut madzhab Imam Asy’ari) dan tidak mengetahui siapakah mereka, dan metode mereka dalam bidang aqidah. Bahkan sebagian kalangan, malah menilai mereka sesat atau telah keluar dariIslam dan menyimpang dalam memahami sifat-sifat Allah.

Ketidak-tahuan terhadap madzhab Al-Asya’iroh ini adalah faktor retaknya kesatuan kelompok ahlussunnah dan terpecah-pecahnya persatuan mereka, sehingga sebagian kalangan yang bodoh memasukkan Al-Asya’iroh dalam daftar kelompok sesat. Saya tidak habis pikir, mengapa kelompok yang beriman dan kelompok sesat disatukan? Dan mengapa ahlussunnah dan  kelompok ekstrim mu’tazilah (Jahmiyyah) disamakan?

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ {} مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir). Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan ? (QS. Al Qolam : 35-36)

  1. Pandangan Para Ulama Tentang Madzhab Al Asy’ari Dan Al Maturidi

إِذَا أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ فَالْمُرَادُ بِهِ اْلأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ (إتحاف سادات المتقين)

Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya’iroh (para pengikut faham Abul Hasan Al Asy’aridan Maturidiyah (para pengikut faham Abu ManshurAlMaturidi) (Ithafu Sadaatil Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6. dengan penghantar bukuRisalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah hal 170)

وَأَمَّا حُكْمُهُ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَهُوَ الْوُجُوْبُ فَمُجْمَعٌ عَلَيْهِ فِي جَمِيْعِ الْمِلَلِ وَوَاضِعُهُ أَبُو الْحَسَنِ اَلْأَشْعَرِيُّ وَإِلَيْهِ تُنْسَبُ أَهْلُ السُّنَّةِ حَتَّى لُقِبُوا بِالْأَشَاعِرَةِ

Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan AlAsy’ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya’iroh (pengikut faham Abul HasanAlAsy’ari). (AlFawakih AdDuwani, Ahmad An Nafrowi AlMaliki, juz 1,hal. 191)

كَذَلِكَ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَإِمَامِهِمْ أَبِي الْحَسَنِ اَلْأَشْعَرِيّ وَأَبِي مَنْصُوْرٍ اَلْمَاتُرِيْدِيّ

Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan Al Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi.  (Al Fawakih AdDuwani, juz 1 hal. 317)

وَأَهْلُ الْحَقِّ عِبَارَةٌ عَنْ أَهْلِالسُّنَّةِ أَشَاعِرَةٍ وَمَاتُرِيدِيَّةٍ ، أَوْ الْمُرَادُ بِهِمْ مَنْ كَانَ عَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَشْمَلُ مَنْ كَانَ قَبْلَ ظُهُورِ الشَّيْخَيْنِ أَعْنِي أَبَا الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيَّ وَأَبَا مَنْصُورٍ الْمَاتُرِيدِيَّ

Dan AhlulHaqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya’iroh dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan AlAsy’ari dan Abu Manshur AlMaturidi (Hasyiyah Al-’Adwi, Ali AshSho’idi Al-’Adwi, juz 1, hal. 316)

وَالْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ فُرُوعِ الدِّينِ وَالْأَشْعَرِيَّةُ أَنْصَارُ أُصُولِ الدِّينِ .

Para Ulama adalah pembela ilmu-ilmu agama,sedang Al Asy’ariyyah adalah pembela dasar-dasar agama (Ushulud Diin) “ (Majmu’ Al Fataawa Ibnu Taimiyah, vol. 4, hlm. 16)

Dalam pandangannya tersebut secara tidak langsung Ibnu Taimiyah masih mengakui Asy’ariyyah termasuk bagian dari Ahlussunnah Wal-Jama’ah terutama pada pendapat-pendapat yang ia anggap sejalan dengan prinsip al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ ulama salaf.

  1. Para Ulama Asya’iroh (Madzhab Al Asy’ari)

Banyak kaum muslimin tidak mengenal Al Asya’iroh (kelompok ulama penganut madzhab Imam Asy’ari) dan tidak mengetahui siapakah mereka, dan metode mereka dalam bidang aqidah.Sebagian kalangan, tanpa apriori, malah menilai mereka sesat atau telah keluar dari Islam dan menyimpang dalam memahami sifat-sifat Allah.

Jelaslah anggapan sesat kepada Al Asy’ariyah adalah ngawur tanpa bukti. Justru bukti-bukti menunjukkan bahwa para ulama besar adalah para pengikut Al Asya’iroh (penganut madzhab Al-Asy’ari) terdiri dari kelompok para imam ahli hadits, ahli fiqih dan ahli tafsir seperti :

  1. Dari Kalangan Mufassirin (ahli tafsir)

 

  1. Al Imam Abu Laits Nashr bin Muhammad As Samarqondi (w. 393. H), pengarang Tafsir Bahrul ‘Ulum
  2. Al Imam Al Hafizh Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi As Syafi’iy, (w. 516. H) pengarang tafsir Ma’alimut Tanzil
  3. Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Maliki Al Qurthubi (w. 671. H), pengarang Tafsir Al Jaami’ li Ahkaamil Qur’an.
  4. Al Imam Nashiruddin Abu Sa’ad Abdulloh bin Umar As Syairozi Al Baidlowi As Syafi’iy (w. 685. H), pengarang Anwarut Tanzil wa Asroorut Ta’wil (Tafsir Al Baidlowi)
  5. Al Imam Al Hafidh Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir As Syafi’iy, (w. 774. H) pengarang Tafsir Al Qur’anul ‘Adhim, tafsir terbaik dalam metodologi Ma’tsuroh.
  6. Al Hafizh Jalaluddin As Suyuthi, pengarang Tafsir Al Jalalain, Ad Durrul Mantsur fit Tafsiril Ma’tsur
  7. Al Imam Ahmad bin Muhammad As Showi Al Maliki (w. 1241. H) pengarang Hasyiyah ‘ala Tafsiril Jalalain
  8. As Syaikh Muhammad Ali As Shobuni, pengarang Shofwatut Tafaasir
  9. Al Imam Muhammad At Thohir bin ‘Asyur At Tunisi Al Maliki (w. 1393. H) pengarang At Tahrir Wat Tanwiir
  10. Dll

 

  1. Dari Kalangan Muhadditsin (ahli hadits)

 

  1. Al Hafizh Abu Sulaiman Al Khotthobi As Syafi’iy, pengarang Ma’aalimus Sunan (Syarah Sunan Abi Dawud)
  2. Al Hafizh Ibnu Abdil Barr Al Quthubi Al Maliki, pengarang Al Istidzkar (Syarah Al Muwattho’)
  3. Al Hafizh Al Qodhi ‘Iyadlh Al Maliki, pengarang Ikmaalul Mu’allim Bi Fawaidi Muslim
  4. Al Hafizh Abu Zakariya Syarof Ibn Yahya An Nawawi As Syafi’iy, pengarang Syarah Muslim
  5. Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqolani As Syafi’iy, pengarang Fathul Bari (Syarah Shohih Bukhori)
  6. Al Hafizh Badruddin Mahmud Ibn Ahmad Al ‘Ain Al Hanafi, pengarang ‘Umdatul Qoori  (Syarah Shohih Bukhori)
  7. Al Hafizh Syihabuddin Ahmad Ibn Muhammad Al Qostholani As Syafi’iy, pengarang Irsyadus Sari(Syarah Shohih Bukhori)
  8. Al Hafizh Muhammad Abdur Rouf Ibn Tajul Arifin Al Munawi As Syafi’iy, pengarang Faidhul Qodir(Syarah Al Jami’us Soghir)
  9. Dll

 

  1. Dari Kalangan Ushuliyyin (para ulama ushul fiqh)

 

  1. Imamul Haromain Abul Ma’ali, pengarang Al Waroqot
  2. As Syaikh Abu Ishaq As Syirozi, pengarang Al Lumaa’ Fi Ushulil Fiqh
  3. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Al Ghozali, pengarang Al Mankhul Min Ta’liiqotil Ushul, Syifaul ‘Aliil, dan lain-lain
  4. Al Imam Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali As Subki, pengarang Jam’ul Jawaami’
  5. Al Imam Badruddin Abu Abdillah Muhammad Ibn Bahadir As Syafi’iy, pengarang Tasyniful Masaami’ Syarah Jam’il Jawaami’
  6. Al Imam Fakhruddin Ar Rozi, pengarang Al Mahshul Fil ‘Ilmil Ushul.
  7. Syaikh Wahbah Az Zuhaili, pengarang Ushulil Fiqhil Islami

 

Sebagian kecil bukti-bukti para ulama yang sudah disebutkan di atas adalah ulama-ulama Al Asya’iroh yaitu para pengikut aqidah Al Asy’ariyah. Sungguh akan membutuhkan banyak halaman jika kita tulis semua daftar para Ulama besar dari kalangan Al Asya’iroh, lantas kebaikan apa yang bisa kita peroleh jika kita menuding para ulama besar dan generasi salaf sholih telah menyimpang dan sesat? Bagaimana Allah akan membukakan mata hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka bila kita meyakini mereka telah menyimpang dan tersesat dari jalan Islam?

Saya ingin bertanya, “Adakah dari para ulama sekarang dari kalangan doktor dan orang-orang jenius, yang telah mengabdi kepada hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam  sebagaimana dua imam besar ; Ibnu Hajar Al ‘Asqqolani dan Al Imam An Nawawi, –semoga Allah melimpahkan rahmat dan keridloan kepada beliau berdua– Lalu mengapa mereka menuduh sesat terhadap mereka berdua dan ulama Al Asya’iroh yang lain, padahal mereka membutuhkan ilmu-ilmunya? Mengapa mereka mengambil ilmu dari ulama Al Asya’iroh jika mereka memang sesat? Padahal Al Imam Ibnu Sirin rohimahulloh pernah berkata : Ilmu hadits ini adalah agama maka perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian.

Apakah tidak cukup bagi orang yang tidak sependapat dengan para imam di atas, untuk mengatakan,“Mereka –rohimahumulloh- telah berijtihad dan mereka salah dalam menafsirkan sifat-sifat Alloh, Maka yang lebih baik adalah tidak mengikuti metode mereka.”

Manaka Al Imam An Nawawi, Al ‘Asqolani, Al Qurthubi, Al Fakhrur Rozi, Al Haitami dan Zakaria Al Anshori dan ulama besar lain tidak dikategorikan sebagai ahlussunnah wal jama’ah, lalu siapakah mereka yang termasuk ahlussunnah wal jama’ah?

Oleh: Ustadz Abu Hilya

 

sumber : http://www.islam-institute.com/

NO COMMENTS