Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Bagian Akhir

0
350 views

Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah aqidah yang dianut oleh mayoritas kaum muslimin yang ada di permukaan bumi.  Berikut ini adalah penjelasan ringkas bagian-bagian persoalan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang wajib diketahui, dipahami dan dijadikan pedoman agar tidak tersesat. Pada postingan sebelumnya sudah dijelaskan secara singkat persoalan-persoalan Aqidah Ahlus Sunnah Wal jamaah dari nomor 1  s/d  no. 25, dan berikut adalah bagian selanjutnya sampai akhir….

ahlus sunnah wal jamaah

26. Apakah hukum nadzar ?

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jama’ah : Dibolehkan bernadzar dalam ketaatan kepada Allah, dan nadzar wajib
dipenuhi (dilaksanakan). Adapun nadzar dalam hal yang diharamkan maka
hukumnya tidak boleh dan tidak wajib dipenuhi. Allah berfirman:
( (يوفون بالنذر) (سورة الإنسان : 7
Maknanya: “Mereka (senantiasa) memenuhi nadzar” (Q.S. al Insan: 7)
Dalam hadits juga disebutkan:
“من نذر أن يطيع الله فليطعه ومن نذر أن يعصيه فلا يعصه” (رواه البخاري)

Maknanya: “Barang siapa yang bernadzar untuk mentaati Allah maka haruslah ia taat
kepada-Nya, dan barang siapa bernadzar untuk bermaksiat kepada-Nya maka janganlah
ia bermaksiat kepada-Nya” (H.R. al Bukhari)

27. Sebutkan dalil bahwa suara perempuan itu bukan aurat !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jama’ah : Allah ta’ala berfirman:

Maknanya: “Dan katakanlah (wahai para istri Nabi) perkataan yang baik”
(Q.S. alAhzab: 22)
Al Ahnaf ibn Qais berkata: “Aku telah mendengar hadits dari mulut Abu Bakr, Umar,
Utsman dan Ali. Dan aku tidak pernah mendengar hadits sebagaimana aku
mendengarnya dari mulut ‘Aisyah” (H.R. al Hakim dalam kitab al Mustadrak)

28. Jelaskan mengenai sifat kalam Allah !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Allah mempunyai sifat kalam yang tidak serupa dengan kalam kita. Sifat
kalam-Nya bukan berupa huruf, suara dan bahasa.
Allah ta’ala berfirman:
( (وكلم الله موسى تكليما) (سورة النساء : 164
Maknanya: “Dan Allah telah benar-benar memperdengarkan kalam-Nya kepada Musa”
(Q.S. an-Nisa: 164)
Imam Abu Hanifah dalam kitab al Fiqh al Absath mengatakan:
“ويتكلم لا ككلامنا ، ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا ءالة ولا حروف”.
Maknanya: “Allah mempunyai sifat kalam yang tidak menyerupai pembicaraan kita,
kita berbicara menggunakan organ-organ pembicaraan dan huruf, sedangkan kalam
Allah tidaklah dengan organ-organ pembicaraan dan huruf”.

29. Apa makna firman Allah : (الرحمن على العرش استوى) ؟

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Imam Malik berkata:
“استوى كما وصف نفسه ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع”
Maknanya: “Istawa sebagaimana Ia mensifati Dzat-Nya, tidak dikatakan (mengenai
istawa) bagaimana, dan sifat-sifat makhluk mustahil bagi-Nya”.
Al Kayf adalah sifat makhluk. Di antara sifat makhluk adalah duduk,
bersemayam dan menempati suatu tempat dan arah. Imam al Qusyairi berkata:
“Istawa berarti hafizha, qahara dan abqa; memelihara, menundukkan dan menguasai,
serta menetapkan”.
Tidak boleh diyakini bahwa Allah duduk atau bersemayam di atas ‘arsy, karena
keyakinan seperti ini adalah aqidah orang-orang yahudi. Dan aqidah ini
merupakan pendustaan terhadap firman Allah:
( (فلا تضربوا لله الأمثال) (سورة النحل : 74
Maknanya: “Maka janganlah kalian mengadakan serupa-serupa bagi Allah” (Q.S. an-
Nahl: 74)
Allah ta’ala berfirman:
( (وبرزوا لله الواحد القهار) (سورة إبراهيم : 48
Maknanya: “Dan mereka berkumpul untuk dihisab oleh Allah yang Maha Esa lagi
Maha menundukkan dan menguasai” (Q.S. Ibrahim: 4
Imam Ali ibn Abi Thalib -radhiyallahu ‘anhu- berkata:
“إن الله خلق العرش إظهارا لقدرته ولم يتخذه مكانا لذاته” (رواه أبو منصور البغدادي)
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, bukan
untuk dijadikan tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al
Baghdadi)

30. Terangkan mengenai Qadar (takdir) !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini; kebaikan, keburukan, ketaatan,
kemaksiatan, keimanan, kekufuran terjadi dengan takdir Allah, masyi-ah
(kehendak)-Nya dan diketahui oleh-Nya. Kebaikan, keimanan dan ketaatan
terjadi atas ketentuan Allah dan hal itu dicintai serta diridlai-Nya. Sedangkan
keburukan, kemaksiatan dan kekufuran juga terjadi dengan ketentuan Allah,
namun tidak dicintai dan tidak diridlai-Nya. Dan tidak boleh dikatakan takdir
Allah (sifat maha menentukan) yang merupakan sifat-Nya adalah buruk.
Allah ta’ala berfirman:
( (إنا كل شىء خلقناه بقدر) (سورة القمر : 49
Maknanya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran
(ketentuan)” (Q.S. al Qamar: 49)
Dalam hadits disebutkan:
“كل شىء بقدر حتى العجز والكيس” (رواه مسلم)
Maknanya: “Segala sesuatu terjadi dengan pengaturan (ketetapan Allah) sampai
tumpulnya otak dan kecerdasan” (H.R. Muslim)

31. Sebutkan dalil diharamkannya seorang laki-laki berjabat tangan dengan
perempuan yang bukan mahramnya !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“لأن يطعن أحدكم بحديدة في رأسه خير له من أن يمس امرأة لا تحل له” (رواه الدارقطني)
Maknanya: “Jika salah seorang di antara kalian ditusuk kepalanya dengan sebuah besi,
itu lebih ringan baginya dari pada disiksa karena menyentuh seorang perempuan yang
tidak halal baginya” (H.R. ad-Daraquthni)
Dalam hadits lain beliau juga bersabda:
“وزنى اليد البطش” (رواه البخاري)
Maknanya: “Dan zina tangan adalah menyentuh” (H.R. al Bukhari)

32. Jelaskan tentang menbaca al Qur’an untuk mayit !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah: Membaca al Qur’an untuk mayit muslim hukumnya boleh. Allahta’ala
berfirman:
( (وافعلوا الخير) (سورة الحج : 77
Maknanya: “Dan lakukanlah kebaikan” (Q.S. al Hajj: 77)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“اقرءوا على موتاكم يس” (رواه ابن حبان وصححه)
Maknanya: “Bacalah untuk mayit-mayit kalian surat Yasin” (H.R. Ibnu Hibban dan
dishahihkannya)
Ahlussunnah sepakat dibolehkannya membaca al Qur’an untuk mayit
dan bahwa bacaan itu bermanfaat bagi si mayit. al Imam asy-Syafi’i berkata:
“Adalah kebaikan apabila dibacakan di atas kuburan mayit muslim beberapa
ayat al Qur’an dan lebih baik jika dibacakan al Qur’an seluruhnya” (dituturkan
oleh Imam an-Nawawi dalam Riyadlus-shalihin)

33. Sebutkan dalil bahwa shadaqah bisa memberikan manfaat terhadap mayit !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية وعلم ينتفع به وولد صالح يدعو له” (رواه
ابن حبان)
Maknanya: ”Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amal perbuatannya (yang
dapat terus mengalirkan pahala untuknya), kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang
bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya” (H.R. Ibnu Hibban)
Ketiga hal tersebut adalah di antara amal yang bisa dirasakan manfaatnya
oleh mayit muslim karena dialah penyebab terjadinya. Begitu juga firman Allah:

( (وأن ليس للإنسان إلا ما سعى) (سورة النجم : 39
Yakni perbuatan baik yang ia lakukan sendiri, hal itu bermanfaat baginya. Dan
perbuatan baik yang dilakukan orang lain untuknya yang bukan perbuatannya
sendiri, hal ini juga bermanfaat baginya karena fadll (karunia dan kemurahan)
Allah ta’ala kepadanya. Sebagai misal adalah shalat jenazah, ia bukan amal
perbuatan yang dilakukan mayit, tapi mayit merasakan manfa’at dari shalat
tersebut. Dan juga seperti doa Rasulullah untuk orang lain. Doa itu bukan
perbuatan orang yang didoakan, namun doa tersebut bisa dirasakan
manfaatnya, seperti doa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam untuk Ibnu
‘Abbas:
“اللهم علمه الحكمة وتأويل الكتاب” (رواه البخاري)
Maknanya: “Ya Allah ajarilah ia hikmah dan (kemampuan untuk) mentakwil al
Qur’an” (H.R. Bukhari)

34. Sebutkan dalil dibolehkannya qiyam Ramadlan lebih dari 11 raka’at !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Allah ta’ala berfirman:
( (وافعلوا الخير لعلكم تفلحون) (سورة الحج : 77
Maknanya: “Dan lakukan kebaikan supaya kalian beruntung” (Q.S. al Hajj: 77)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“صلاة الليل مثنى مثنى ” (رواه البخاري)
Maknanya: “Shalat malam itu dilakukan dua raka’at dua raka’at” (H.R. Bukhari)
Beliau juga bersabda:
“الصلاة خير موضوع فمن شاء استقل ومن شاء استكثر” (رواه مسلم)
Maknanya: “Shalat adalah (termasuk) amal yang terbaik, maka barangsiapa
berkehendak, ia (boleh) menyedikitkan bilangan raka’atnya dan barangsiapa berkehendak,
ia (boleh) memperbanyak (bilangan raka’atnya) –yang dimaksud dalam hal ini adalah
shalat sunnah (nawafil) -” (H.R. Muslim)

35. Apa dalil dibolehkannya menggunakan rebana?
Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Abu Dawud meriwayatkan bahwa ada seorang perempuan yang berkata
kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam (maknanya): “Sungguh aku telah
bernadzar untuk memukul rebana di depan engkau, jika Allah
mengembalikanmu dalam keadaan selamat”. Beliau menjawab: ”Jika engkau
telah bernadzar, maka penuhilah (laksanakan) nadzarmu !”.

36. Siapakah nabi dan rasul pertama?
Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Nabi dan rasul yang pertama adalah Adam ‘alayhissalam. Allah ta’ala
berfirman:
( (إن الله اصطفى آدم ) (سورة آل عمران : 33
Maknanya: “Sesungguhnya Allah ta’ala memilih Adam dan Nuh (sebagai nabi)…”
(Q.S. Ali Imran: 33)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda yang maknanya: “Adam dan nabi nabi
yang lain di bawah benderaku pada hari kiamat” (H.R. at- Tirmidzi)

37. Sebutkan sifat-sifat yang pasti (wajib) berlaku bagi para nabi dan sifat sifat
yang mustahil ada pada mereka !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Para nabi wajib (pasti) bersifat jujur, amanah (dapat dipercaya), sangat
cerdas, menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela, pemberani dan
fashih dalam berbicara. Mustahil bagi mereka berdusta, khiyanah (tidak dapat
dipercaya), berbuat tercela, zina dan dosa-dosa besar lainnya serta kekufuran,
baik sebelum diangkat menjadi nabi maupun setelahnya. Allah ta’ala berfirman:
( (وكلا فضلنا على العالمين) (سورة الأنعام : 86
Maknanya: “Dan masing-masing nabi itu kami lebihkan derajat mereka di atas umat
seluruhnya” (Q.S. al An’am: 86)
Dalam hadits disebutkan :
“ما بعث الله نبيا إلا حسن الوجه حسن الصوت” (رواه الترمذي)
Maknanya: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali bagus rupanya dan indah
suaranya” (H.R. at-Tirmidzi)

38. Apakah makna firman Allah : (لم يلد ولم يولد) (سورة الإخلاص : 3

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jama’ah : Bahwa Allah tidak berasal dari sesuatu (tidak diperanakkan) dan tidak terlepas dari-Nya sesuatu (tidak beranak). Allah tidak menempati sesuatu, tidak
terlepas dari-Nya sesuatu dan tidak ditempati oleh sesuatu. Al Imam Ja’far ash-
Shadiq berkata: “Barang siapa beranggapan bahwa Allah di dalam sesuatu, dari sesuatu
atau di atas sesuatu, sungguh ia telah musyrik”. (diriwayatkan oleh Abu al Qasim al
Qusyairi dalam ar-Risalah al Qusyairiyyah)

39. Sebutkan dalil dibolehkannya membaca shalawat atas nabi Muhammad
shallallahu ‘alayhi wasallam setelah adzan !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam setelah adzan adalah
boleh. Tidak perlu didengarkan pendapat orang yang mengharamkannya. Allah
ta’ala berfirman :
(إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما) (سورة
( الأحزاب : 56
Maknanya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi,
hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam
kepadanya” (Q.S. al Ahzab: 56)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“إذا سمعتم المؤذن فقولوا كما يقول ثم صلوا علي” (رواه مسلم)
Maknanya: “Apabila kalian mendengar muadzdzin (orang yang mengumandangkan
adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya kemudian bacalah shalawat
untukku” (H.R. Muslim)
Beliau juga bersabda:
“من ذكرني فليصل علي” (رواه الحافظ السخاوي)
Maknanya: “Barang siapa menyebutku maka hendaklah bershalawat untukku” (H.R. al
Hafizh as-Sakhawi)

40. Apakah pengertian riddah dan sebutkan macam-macamnya !

 Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Riddah adalah memutus keislaman (orangnya disebut murtad) dengan
kekufuran. Riddah terbagi tiga:
1. Riddah Qauliyyah (perkataan) seperti mencaci maki Allah, para nabi atau
Islam, walaupun dalam keadaan marah.
2. Riddah Fi’liyyah (perbuatan) seperti melempar mushhaf (al Qur’an) ke
tempat-tempat kotor dan juga seperti menginjak mushhaf.
3. Riddah Qalbiyyah (hati) seperti meyakini bahwa Allah adalah benda atau
roh, meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy atau menempati langit
atau meyakini bahwa Dzat Allah berada di semua tempat atau di suatu
arah.
Allah ta’ala berfirman:
( (ولقد قالوا كلمة الكفر وكفروا بعد إسلامهم) (سورة التوبة : 74
Maknanya: “Dan mereka telah benar-benar mengatakan perkataan kufur, mereka telah
kafir setelah keislaman mereka” (Q.S. at-Taubah: 74)
Ia juga berfirman:
( (لا تسجدوا للشمس ولا للقمر) (سورة فصلت : 37
Maknanya: “Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan rembulan” (Q.S.
Fushshilat: 37)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يهوي ا في النار أبعد مما بين المشرق والمغرب” (رواه البخاري
ومسلم)
Maknanya: “Sesungguhnya seorang hamba jika mengucapkan perkataan (yang
melecehkan atau menghina Allah atau syari’at-Nya) yang tidak dianggapnya bahaya,
(padahal perkataan tersebut) bisa menjerumuskannya ke (dasar) neraka (yang
kedalamannya) lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat” (H.R. al Bukhari dan
Muslim)

41. Sebutkan dalil dibolehkannya peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alayhi
wasallam !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah Allah ta’ala berfirman:
( (وافعلوا الخير لعلكم تفلحون) (سورة الحج : 77
Maknanya: “Dan lakukanlah kebaikan supaya kalian beruntung” (Q.S. al Hajj : 77)
Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها” (رواه مسلم)
Maknanya: “Barang siapa memulai (merintis) dalam Islam perbuatan yang baik maka
(akan) memperoleh pahalanya” (H.R. Muslim)

42. Apakah yang dimaksud sabda Nabi :
“إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله ” ؟
Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Bahwa yang lebih baik untuk dimohon dan dimintai pertolongan adalah
Allah. Hadits ini tidak bermakna: “Jangan memohon dan jangan meminta
pertolongan kepada selain Allah”. Hadits di atas serupa dengan hadits riwayat
Ibnu Hibban:
“لا تصاحب إلا مؤمنا ولا يأكل طعامك إلا تقي” (رواه ابن حبان)
Yang bermakna: “Yang paling layak untuk diberi makanan adalah orang
bertaqwa dan yang layak dijadikan kawan adalah seorang mukmin”. Hadits
tersebut tidak berarti haram memberi makan kepada selain orang mukmin dan
haram menjadikannya sebagai teman. Allah ta’ala memuji kaum muslimin di
dalam al Qur’an dengan firman-Nya:

( (ويطعمون الطعام على حبه مسكينا ويتيما وأسيرا) (سورة الإنسان : 8
Maknanya: “Dan mereka memberikan makanan karena Allah kepada orang miskin, anak
yatim dan orang kafir yang ditawan” (Q.S. al Insan: 8)
Dalam shahih al Bukhari dan shahih Muslim diceritakan mengenai tiga orang
yang meminta kepada Allah dengan wasilah amal shalih mereka, sehingga Allah
memudahkan kesulitan mereka.

43. Sebutkan dalil dibolehkannya ziarah ke makam Rasulullah bagi laki-laki
dan perempuan !

Jawab Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Disunnahkan berziarah ke makam Nabi dengan Ijma’ (kesepakatan para
ulama) sebagaimana dikutip oleh al Qadhi ‘Iyadh, an-Nawawi.
Allah ta’ala berfirman:

Maknanya: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menzhalimi diri mereka (berbuat
maksiat kepada Allah), kemudian datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah,
dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah
maha penerima taubat lagi maha penyayang” (Q.S. an-Nisa’ : 64)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“من زار قبري وجبت له شفاعتي” (رواه الدارقطني وقواه الحافظ السبكي)
Maknanya: “Barang siapa berziarah ke makamku, maka pasti ia akan memperoleh
syafa’atku” (H.R. ad-Daraquthni dan dinilai kuat oleh al Hafizh as-Subki)
Sedangkan hadits:
“لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد …”.
Maksudnya adalah barangsiapa berkeinginan melakukan perjalanan untuk
tujuan shalat di suatu masjid, hendaklah ia pergi ketiga masjid (masjid al Haram,
masjid an-Nabawi dan masjid al Aqsha), karena shalat di tiga masjid tersebut
pahalanya dilipatgandakan. Anjuran tersebut diartikan sebagai sunnah
hukumnya, bukan wajib. Jadi hadits tersebut khusus menerangkan tentang
melakukan perjalanan untuk tujuan shalat. Di dalamnya tidak ada keterangan
bahwa tidak boleh berziarah ke makam Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam.

44. Sebutkan dalil dibolehkannya tabarruk (mengambil berkah atau mencari
tambahan kebaikan) !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Bertabarruk dengan Nabi dan semua peninggalannya (atsar) adalah
boleh. Allah ta’ala berfirman mengenai ucapan nabi Yusuf ‘alayhissalam :

( (اذهبوا بقميصي هذا فألقوه على وجه أبي يأت بصيرا) (سورة يوسف : 93
Maknanya: “Pergilah kamu dengan membawa gamisku ini, lalu letakkanlah kewajah
ayahku nanti ia akan melihat kembali” (Q.S. Yusuf: 93)
Dalam hadits disebutkan: “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam
membagi-bagikan rambutnya kepada orang-orang supaya mereka bertabarruk
dengannya” (H.R. al Bukhari dan Muslim)

45. Apakah dalil dibolehkannya memakai hirz1 yang didalamnya hanya
tertulis al Qur’an dan semacamnya, dan tidak ada sama sekali di dalamnya
lafazh-lafazh tidak jelas yang diharamkan ?

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Allah ta’ala berfirman:
( (وننزل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين) (سورة الإسراء : 82
Maknanya: “Dan kami turunkan dari al Qur’an sesuatu yang di dalamnya terdapat
obat kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Q.S. al Isra’: 82)
Dalam hadits disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Amr berkata: “Kami dulu
mengajarkan ayat-ayat al Qur’an kepada anak-anak kami, dan kepada anak yang belum
baligh kami menulisnya di atas kertas lalu menggantungkannya di atas dadanya” (H.R.
at-Tirmidzi)

46. Terangkan mengenai menyebut nama Allah (dzikrullah) ketika mengiringi
jenazah !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Menyebut nama Allah (dzikrullah) ketika mengiringi jenazah hukumnya
boleh tanpa ada khilaf (perbedaan pendapat). Allah berfirman:
( (يا أيها الذين ءامنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا) (سورة الأحزاب : 41
Maknanya: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (menyebut nama Allah)
dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya” (Q.S. al Ahzab: 41)
Allah ta’ala juga berfirman:

Maknanya: “(Yaitu) … orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadaan berbaring” (Q.S. Ali Imran: 191)[
Dalam hadits diterangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam
berdzikir (menyebut nama Allah) dalam setiap situasi dan kondisi (H.R. Muslim)
1 Hirz adalah kertas yang berisikan tulisan ayat-ayat al Qur’an atau dzikir kemudian
dibungkus rapat dan dikalungkan di leher.

47. Jelaskan tentang takwil !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah: Takwil adalah memahami nash (al Qur’an dan Hadits) bukan secara
zhahirnya. Takwil diperbolehkan terhadap ayat-ayat dan hadits yang zhahirnya
mengundang pembaca untuk memahami makna yang rusak dan tidak benar
(padahal sesungguhnya makna ayat atau hadits tersebut tidak demikian), bahwa
Allah memiliki tangan (yang merupakan anggota badan), muka (yang
merupakan anggota badan) atau Ia duduk di atas ‘Arsy, menempati suatu arah
atau disifati dengan salah satu sifat makhluk. Allah berfirman:
( (وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون في العلم) (سورة ءال عمران : 7
Maknanya: “Tidak ada yang mengetahui takwilnya (ayat-ayat mutasyabihat) kecuali
Allah dan orang-orang mendalam ilmunya” (Q.S. Ali Imran: 7)
Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi berdoa untuk Ibn Abbas: “Ya Allah
ajarilah ia hikmah dan (kemampuan untuk) mentakwil al Qur’an” (H.R. al Bukhari,
Ibnu Majah dan al Hafizh Ibn al Jawzi)

48. Sebutkan dalil yang menerangkan bahwa iman adalah syarat diterimanya
amal shalih !

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Allah berfirman:
(ومن يعمل من الصالحات من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون نقيرا)
( (سورة النساء : 124
Maknanya: “Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan sedang ia orang beriman (artinya ini adalah syarat), maka mereka itu akan
masuk surga dan mereka tidak dianiaya sama sekali” (Q.S. an-Nisa: 124)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
“أفضل الأعمال إيمان بالله ورسوله” (رواه البخاري)
Maknanya: “Perbuatan yang paling utama (secara mutlak) adalah beriman kepada
Allah dan rasul-Nya” (H.R. al Bukhari)

49. Apakah makna firman Allah :
(كل شىء هالك إلا وجهه) ؟

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jama’ah : al Imam al Bukhari berkata: ( إلا وجهه ) “kecuali sulthan (tasharruf –
kekuasaan-) Allah”. Al Imam Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “…Kecuali amal
shaleh yang dilakukan hanya untuk mengharap ridla Allah”.

50. Apakah makna firman Allah :
؟ ( (ءأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض) (سورة الملك : 16

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jama’ah : Pakar tafsir, al Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya dan Abu Hayyan al
Andalusi dalam tafsir al Bahr al Muhith mengatakan: “Yang dimaksud من في السماء
dalam ayat tersebut adalah malaikat”. Ayat tersebut tidak bermakna bahwa
Allah bertempat di langit.

51. Apakah makna firman Allah ta’ala :
( (والسماء بنيناها بأيد وإنا لموسعون) (سورة الذاريات : 47

Jawaban Ahlus Sunnah Wal Jamaah : Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud بأيد adalah “dengan
kekuasaan”, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah)
kita, karena Allah maha suci darinya.

Al Imam asy-Syafi’i berkata:
“لا يجوز على الله التغير في ذاته ولا التبدل في صفاته”.
(ذكره الحافظ الزبيدي في كتاب إتحاف السادة المتقين)
“Mustahil berlaku perubahan pada Dzat Allah dan Mustahil berlaku pergantian pada
sifat-sifat-Nya” (Disebutkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam kitab Ithaf as-Saadah al
Muttaqin)
Diriwayatkan dengan sanad yang kuat bahwa Imam Malik berkata
tentang istiwa’ Allah:
” استوى كما وصف نفسه ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع “.
“Allah istawa sebagaimana Ia mensifat Dzat-Nya, tidak dikatakan Kayfa (bagaimana
istawa-Nya) dan Kayfa ( bagaimana; sifat-sifat benda) itu mustahil bagi Allah”.
Al Imam Abu Hanifah dalam sebagian risalahnya tentang ilmu kalam
mengatakan:
” أنى يشبه الخالق مخلوقه “
“Mustahil Allah menyerupai makhluk-Nya”.
Maknanya tidak sah secara akal dan naql bahwa pencipta menyerupai ciptaan-
Nya.
Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Dzu an-Nun al Mishri (W. 245
H) salah seorang murid terkemuka al Imam Malik mengatakan:
“مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك”

 

sumber : http://www.islam-institute.com/

NO COMMENTS