Firanda Menghujat Ulama dan Habaib – Lagu Lama Kaum Wahhabi

1
7,154 views

sang-habib

Tanggapan atas buku Dr Firanda “Ketika Sang Habib Dikritik” (KSHD)

Istilah kritik yang digunakan dalam judul buku ini terasa menjadi bias. Buku ini tak lagi bernuansa kritik, tapi berubah sebagai hujatan. Hujatan Dr Firanda kepada ulama dan habaib adalah ciri Khas dan lagu lama kaum Wahabi.

Ada semacam fenomena timbulnya semangat keislaman yang menggelora dari generasi muda masa kini. Majelis-majelis agama marak di sana-sini, diskusi-diskusi keagamaan menjadi pemandangan sehari-hari, bahkan masuk hingga memenuhi dunia maya. Tentunya ini adalah perkembangan keagamaan yang menggembirakan, di tengah bobroknya iman dan moral generasi muda di tempat lainnya.

Sayangnya, tak jarang semangat dalam memunculkan Islam dalam diri sebagian mereka tak diimbangi dengan pemahaman yang utuh dalam ilmu agama atau setidaknya kedewasaan dalam berinteraksi sesama insan seagama. Akibatnya, karakter yang cepat melekat dari cara beragama mereka adalah mudah sekali melontarkan tuduhan-tuduh­an keras pada kelompok lain yang berbeda pemahamannya dengan pemikiran mereka. Dan ini sebenarnya ”lagu lama” kaum Wahabi, sebagaimana tersirat dalam buku Ketika Sang Habib Dikritik (KSHD), yang baru terbit sekitar tiga bulan ini.

Memang, tak ada yang salah dalam semangat mengkritik. Tak boleh pula ada pihak yang merasa tak boleh dikritik, siapa pun dia. Ulama, habaib, kiai, atau siapa pun. Mereka semua manusia biasa, yang tidak suci dari dosa. Mereka boleh dikritik oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, termasuk oleh Firanda, sang penulis KSHD.

Buku KSHD merupakan kompilasi dari tulisan berisi sanggahan Firanda selama beberapa waktu terhadap kajian-kajian yang disampaikan Habib Munzir Almusawa, terutama terhadap yang disampaikan Habib Munzir pada bukunya Kenalilah Aqidahmu. Entah kenapa, sejak lama penulis KSHD sangat fokus menyoroti hampir setiap materi yang disampaikan Habib Munzir bin Fuad Almusawa.

Dari awal hingga akhir tulisan, KSHD memang tidak secara terang-terangan menyebut nama Habib Munzir sebagai tokoh ”sang habib” yang dikritiknya. Tapi, sebelum menjadi sebuah buku, materi-materi tulisan itu telah lama dipublikasikan pada blog pribadinya dan nama Habib Munzir tertera di sana. Entah pula karena alasan apa penulisan di buku dan publikasi di internet dibedakan oleh penulisnya. Yang satu nama Habib Munzir tak disebut, yang satunya lagi disebut.

Awalnya, karena melihat judulnya, banyak orang menyangka bahwa isi buku KSHD adalah semacam kritikan terhadap komunitas habaib secara umum atau pribadi Habib Munzir secara khusus. Nyatanya tidaklah demikian. Sebagian besar isinya lebih sebagai kritikan terhadap paham para ulama dan habaib, dan hujatan atas beberapa tokoh ulama dan habaib kecintaan umat.

Isi buku KSHD tak ubahnya buku-buku Wahabi lainnya yang menentang berbagai keyakinan yang dianut mayoritas umat Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Isu-isu yang diangkat pun tak jauh-jauh dari masalah kuburan, tawasul, istighatsah, dan isu-isu lama lainnya.

Berdusta atas Nama Imam Syafi’i?

Seiring dengan tuduhan kepada Habib Munzir bahwa ia berdusta atas nama Imam Syafi’i saat ia berdalil perihal bangunan masjid di atas makam, banyak tulisan lainnya yang kemudian beredar. Isinya menyanggah tuduhan atas Habib Munzir, yaitu bahwa Habib Munzir bukanlah seorang yang berdusta atas nama Imam Syafi’i. Tampaknya tuduhan terhadap Habib Munzir muncul karena ada misinterpretasi terhadap tulisan Habib Munzir dalam Kenalilah Aqidahmu.

Selain meneliti teks-teks kitab yang dibawakan, masalah ini sesungguhnya juga bisa dicermati secara historis. Masjid Nabawi, yang nota bene di dalamnya terdapat makam Rasulullah SAW dan kedua sahabat utamanya, Abubakar RA dan Umar RA, sejak dulu terus diperluas dan diperluas. Bila saja perluasannya itu menyebabkan hal yang dibenci dan dilaknat Nabi SAW, karena menjadikan kubur beliau SAW menjadi berada di tengah-tengah masjid, pastilah ribuan ulama dari masa ke masa akan menyerukan agar perluasan tidak perlu mencakup rumah Aisyah RA (makam Rasul SAW).

Perluasan Masjid Nabawi pertama kali terjadi di zaman Khalifah Al-Walid bin Abdulmalik, sedangkan Al-Walid dibai’at menjadi khalifah pada 4 Syawwal tahun 86 H/11 Oktober 705 M, dan wafat pada 96 H/715 M.

Di manakah Imam Bukhari (194-256 H/810-870 M), Imam Muslim (206-261 H/822-875 M), Imam Syafi’i (150-204 H/767-820 M), Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H/781-856 M), Imam Malik (93-179 H/712-796 M), dan ratusan imam lainnya? Apakah mereka bersepakat untuk diam membiarkan “hal yang dibenci dan dilaknat Rasul SAW” terjadi di makam Rasululullah SAW?

Justru inilah jawabannya, mereka diam karena hal ini diperbolehkan, bahwa orang yang kelak akan bersujud menghadap makam Rasulullah SAW itu tak satu pun berniat menyembah Nabi SAW, atau menyembah Sayyidina Abubakar RA atau Sayyidina Umar bin Khaththab RA. Mereka terbatasi dengan tembok, maka hukum makruhnya sirna dengan adanya tembok pemisah.

Simak juga jawaban Ustadz Idrus Ramli mengenai penyelewengan firanda al wahhabi mengenai kalam Imam Syafi’i, klik link dibawah ini :

Tentang Jenggot – Perbedaan Antara Madzhab Syafi’i Syafi’iyyah Dengan Madzhab Syafi’i Versi Wahabi

Ikhtilaf tentang Istighatsah

Istighatsah bermakna meminta pertolongan ketika dalam keadaan sukar dan sulit. Sejak lama, tema istighatsah, yaitu saat permintaan pertolongan itu disampaikan oleh sesama makhluk, menjadi salah satu isu khilafiyah yang hangat. Sejak awal kelahirannya, kaum Wahabi berada pada garis terdepan dalam menyuarakan “kesyirikan” orang-orang yang beristighatsah.

Kaum Wahabi berpandangan bahwa istighatsah dengan Nabi SAW (seperti mengatakan “Ya Muhammad”), atau orang shalih yang sudah wafat, termasuk perbuatan syirik. Sementara kaum muslimin sejak generasi sahabat, tabi’in, dan generasi sesudahnya, membolehkan istighatsah dengan Nabi SAW atau orang shalih yang sudah wafat.

Di antara dalil yang menganjurkan dan membolehkan istighatsah adalah hadits mauquf dari Ibnu Umar RA yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad.

Kalangan ulama Wahabi menolak keshahihan hadits tersebut. Uniknya, Syaikh Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dua tokoh ulama tempo dulu yang sering digadang-gadang oleh kaum Wahabi dan kerap menjadi rujukan mereka, justru tak berpandangan seperti mereka. Ibnu Taimiyah, sebagaimana tertera dalam Al-Kalim ath-Thayyib (173), dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil ash-Shayyib (302), menganggap istighatsah “Ya Muhammad” sebagai ucapan yang baik (kalimah thayyibah). Keduanya bahkan menganjurkan agar ucapan istighatsah “Ya Muhammad” tersebut diamalkan oleh orang yang kakinya terkena mati rasa.

Pada karyanya yang lain, Ibnu Taimiyah juga mengutip pendapat para ulama Ahlusunah seperti Ibnu Abi Ad-Dunya, Al-Baihaqi, Ath-Thabarani, dan sebagainya, yang membolehkan beristighatsah sesuai dengan landasan hadits-hadits yang ada. Hal itu sebagaimana ditulis Ibnu Taimiyah dalam kitabnya At-Tawassul wa al-Wasilah halaman 144-145.

Firanda menyebutkan dalam KSHD (halaman 183) bahwa redaksi kalimat pada hadits tersebut sesungguhnya tidak mengatakan “Ya Muhammad”, melainkan “Muhammad” saja. Kemudian disebutkan, tentunya berbeda antara istighatsah dan sekedar menyebut nama. Istighatsah adalah seruan yang disertai dengan thalabul ghauts (permohonan pertolongan). Dalam atsar Ibnu Abbas ini sangat jelas, lelaki tersebut sama sekali tidak sedang meminta pertolongan kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan lelaki itu tidak menyeru Nabi dan berkata “Wahai Muhammad” atau “Ya Muhammad”, akan tetapi ia hanya menyebut nama “Muhammad” tanpa disertai seruan “wahai” atau “ya”. Kalaupun lelaki tersebut mengatakan “Wahai Muhammad”, ini pun bukan istighatsah, karena tidak disertai dengan permohonan pertolongan. Demikian sebagaimana tertulis dalam KSHD.

Apa yang diungkap Firanda dalam bukunya itu sesungguhnya merupakan barang usang. Sebuah perdebatan, antara Syaikh Salim Alwan Al-Hasani dan Syaikh Abdurrahman Muhammad Sa’id Dimasyqiyat, yang videonya tersebar luas di dunia maya, membuktikan dengan kebenaran yang tak terbantahkan bahwa pada kenyataannya redaksi kalimat pada hadits tersebut memuat kata “Ya” atau “Wahai”.

Simak videonya disini : Debat Aswaja vs Wahabi di Universitas Melbourne

Syaikh Salim telah mengumpulkan sejumlah bukti otentik dari sekian banyak manuskrip kitab yang menyebutkan hadits tersebut. Selama ini memang ada kabar yang menyebutkan bahwa di antara yang dilakukan kaum Wahabi untuk mengubah keyakinan umat Islam adalah dengan mengubah beberapa teks “bermasalah” dari ucapan atau tulisan para ulama klasik pada kitab-kitab yang mereka cetak. Semoga penulis KSHD tidak termasuk orang yang sedemikian.

Dalam perdebatan itu, Syaikh Salim bahkan memperlihatkan naskah kitab Al-Kalim ath-Thayyib, karya Ibnu Taimiyah, yang menyebutkan hadits Ibn Umar di bawah judul “Bab yang diucapkan seseorang ketika kakinya mati rasa”. Naskah ini dicetak oleh kaum Wahabi dan dikoreksi oleh Nashiruddin Al-Albani, salah satu tokoh pemimpin mereka, yang menganggap bahwa perbuatan Ibn Umar itu syirik dan menentang tauhid.

Artikel dari firanda al wahhabi dan kawan kawan nya mengenai istighatsah sudah dijawab oleh Ustadz Idrus Ramli secara jelas dan tuntas, seperti yang sudah di saya muat diblog ini :

Ustadz Idrus Ramli Menjawab Firanda Mengenai “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ternyata Melarang Istighatsah”

Ustadz Idrus Ramli Menjawab Firanda Mengenai “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ternyata Melarang Istighatsah Bag III”

Hadits Istighatsah Yang Di Dha’ifkan Oleh Kaum Wahabi (Takhrij Hadits “Yaa Muhammad”)

Ustadz Idrus Ramli Menjawab Abul Jauzaa’ – Kami Penyembah Kuburan atau Wahabi Pengagum Abu Jahal dan Abu Lahab ?

Ustadz Idrus Ramli Menjawab Abul Jauzaa’ Mengenai Atsar Istighatsah Dari Kaum Salaf

Ustadz Idrus Ramli Menjawab Kebohongan Ilmiah Abul Jauzaa’ Al Wahhabi Tentang Atsar Ibnu Umar RA

Ustadz Idrus Ramli Menjawab Abul Jauzaa’ Al Wahhabi Yang Melemahkan Atsar Ibnu Umar

Penjelasan Ustadz Idrus Ramli Atas Keshahihan Atsar Ibnu Umar RA Mengenai Istighatsah

Habaib Wahabi?

Di antara isi bukunya, dan ini yang mungkin unik pada sebagian orang, Firanda mengutip pernyataan sejumlah tokoh yang adalah figur-figur habaib berpaham Wahabi, yang menasihati habaib lainnya, pada bab terakhir yang berjudul ”Nasihat Habib-habib Wahabi kepada Habib-Habib Sufi + Syi’ah”.

Firanda menuliskan, “Sungguh begitu bahagianya tatkala saya bertemu dengan cucu-cucu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di kota Nabi Shallallahu yang tegar dan menyerukan sunnah Nabi dan memerangi kesyirikan dan kebid’ahan. Begitu bahagianya saya tatkala sempat kuliah di Unversitas Islam Madinah program jenjang strata 1 selama empat tahun (tahun 2002-2006) di Fakultas Hadits yang pada waktu itu dekan kuliah hadits adalah Doktor Husain Syariif Al-’Abdali yang adalah ahlul bayt… yang menegakkan sunnah-sunnah leluhurnya dan memberantas bid’ah yang tidak pernah diserukan oleh leluhurnya. Alhamdulillah hingga saat artikel ini ditulis beliau masih menjabat dekan Fakultas Hadits.

Akan tetapi adalah perkara yang sangat menyedihkan tatkala saya mendapati sebagian ahlul bayt yang menjadi pendukung bid’ah… pendukung aqidah dan amalan yang tidak pernah diserukan oleh leluhur mereka, Habibuna Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bahkan betapa banyak orang Syi’ah Rafidah yang mengaku-aku sebagai cucu-cucu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bahkan mereka mengkafirkan ahlul bayt yang sangat dicintai oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu istri beliau, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anhaa. Demikian juga mereka mengkafirkan lelaki yang paling dicintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu. Wallahul Musta’aan…

Nama-nama yang disebutkan sebagai para habib yang menasihati itu boleh jadi para sayyid dari komunitas Alawiyyin. Namun apakah segelintir nama yang sama sekali tidak mewakili pemikiran dan keyakinan kaum Alawiyyin yang selama berabad-abad lamanya meneruskan jejak langkah dakwah dan keyakinan beragama leluhur mereka secara turun-temurun hingga datuk terbesar mereka, Rasulullah SAW, bisa disamakan dengan lautan kaum Alawiyyin lainnya yang masih istiqamah memegang erat keyakinan salaf Alawiyyin? Kaum Alawiyyin lebih tahu tentang rumah tangga mereka ketimbang orang di luar Alawiyyin.

Dari ratusan ribu atau mungkin jutaan warga Alawiyyin yang tersebar di dunia, hanya beberapa gelintir sayyid yang berkeyakinan berbeda, menjadi Wahabi atau menjadi Syi’i. Sekalipun ada beberapa interpretasi historis atas keyakinan beberapa tokoh Alawiyyin generasi awal, nyatanya sejarah tak mencatat ada semacam “revolusi keyakinan” dari satu individu anak terhadap satu individu ayah dalam sejarah panjang kaum sayyid Hadhramaut. Sanad keilmuan mereka bersambung seperti halnya nasab mereka, hingga Rasulullah SAW.

Dengan ilmu dan akhlaq yang dimiliki oleh mereka, yang kesemuanya itu tak lain buah dari ajaran aqidah yang lurus warisan Rasulullah SAW, nama mereka harum di berbagai belahan bumi. Justru adanya segelintir sayyid yang berbeda pemahaman dengan mayoritas Alawiyyin inilah yang seharusnya memahami jejak langkah aqidah para leluhurnya, yang telah menorehkan tinta emas sejarah dakwah Islam di setiap jengkal tanah yang mereka diami. Mereka itu harus diingatkan agar kembali kepada jalan datuk mereka, Rasulullah SAW, sebagaimana yang ditapaki salaf Alawiyyin selama berabad-abad.

KSHD, buku yang nyatanya berisi sanggahan atas paham mayoritas para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, juga menyebut nama sejumlah tokoh yang mendapat tempat istimewa di hati umat dengan sebutan-sebutan yang tak pantas dan jauh panggang dari api. Sebagai misal, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, yang ditulis sebagai pendukung kesyirikan, atau Habib Ali Al-Jufri, yang dikatakan memiliki kesalahan-kesalahan fatal dalam masalah aqidah.

Kepada Habib Munzir sendiri, seperti telah disinggung sebelumnya, berkali-kali dilayangkan kata-kata “berdusta atas nama Fulan dan Fulan….”. Hingga, pada akhirnya, istilah kritik yang digunakan dalam judul buku ini terasa menjadi bias. Buku ini tak lagi bernuansa kritik, tapi berubah sebagai hujatan. Hujatan Firanda kepada ulama dan habaib adalah lagu lama kaum Wahabi.

Wassalam

1 COMMENT

Comments are closed.