Dibiarkan Pemerintah, Pro ISIS Indonesia Makin Unjuk Gigi

0
1,286 views
Islam Times- “Mari kita berjuang di jalan Allah karena itu adalah tugas kita untuk melakukan jihad di jalan Allah … terutama di sini di Syam [wilayah Suriah] … dan karena, insya Allah, ke negara inilah keluarga kami akan berhijrah,” kata salah seorang dalam bahasa Indonesia yang dibumbui dengan frase bahasa Arab.
ISIS Indonesia

ISIS Indonesia

Sebuah video yang dipoting di laman Youtube memperlihatkan beberapa lelaki mengenakan balaklava (penutup wajah) sedang menggenggam senapan Kalashnikov seraya melihat ke arah kamera, di suatu tempat di Suriah. “Mereka adalah mahasiswa, pengusaha, mantan tentara, dan bahkan remaja,” ungkap jurnalis investigatif, Yenni Kwok dalam laporannya yang dimuat Time.

Mereka mendesak rekan-rekan senegaranya untuk bergabung dengan, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), kawanan “jihadis” sangat ekstrim binaan Arab Saudi cs. “Tapi, mereka bukan warga Suriah, Uzbek, atau Chechnya; mereka warga Indonesia,” tulis Kwok.

“Mari kita berjuang di jalan Allah karena itu adalah tugas kita untuk melakukan jihad di jalan Allah … terutama di sini di Syam [wilayah Suriah] … dan karena, insya Allah, ke negara inilah keluarga kami akan berhijrah,” kata salah seorang dalam bahasa Indonesia yang dibumbui dengan frase bahasa Arab. “Saudara-saudaraku di Indonesia, jangan takut karena ketakutan adalah godaan setan.”

“Jihadis lain, seorang mantan tentara Indonesia, menyerukan sesama aparat tentara dan polisi untuk bertobat dan meninggalkan pertahanan negara mereka dan ‘berhala’ ideologi negara, Pancasila,” imbuh Kwok.

Video itu muncul sesaat sebelum ISIS merebut kota-kota Irak, Mosul dan Tikrit, pada 10 dan 11 Juni lalu. “Ini mencerminkan berkembangnya daya tarik kawanan ekstremis Wahhabi itu terhadap para jihadis Indonesia paling militan (negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dan sudah lama berjuang mengatasi ancaman terorisme),” papar Kwok.

“Seperti di Suriah, gerakan jihadis Wahhabi juga terbelah di Indonesia,” kata Sidney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict yang berbasis di Jakarta kepada TIME. Beberapa jihadis Indonesia, termasuk banyak pemimpin senior Jemaah Islamiyah (JI, kelompok teroris di belakang pengeboman Bali tahun 2002 dan serangan teroris lainnya) setia pada aliansi di sekitar Front al-Nusra dan al-Qaeda, katanya, “sementara sebagian besar yang lebih militan, kelompok-kelompok non-JI, mendukung ISIS.”

Menurut sebuah laporan terbaru, konflik Suriah telah memikat sekitar 12 ribu jihadis asing, sebagian besar dari negara-negara tetangga di Timur Tengah, dan selebihnya berasal dari Eropa, Australia, Amerika Serikat, dan negara-negara Asia Tenggara.

Pada bulan Januari, badan anti-terorisme di Indonesia memperkirakan sekitar 50 warga Indonesia ikut berperang di Suriah, meskipun tidak diketahui, berapa banyak dari mereka yang bergabung dengan ISIS. Sementara itu, seorang pejabat keamanan Malaysia mengatakan, lebih dari 20 warga Malaysia diketahui telah memasuki Suriah untuk ikut memberontak melawan pemerintah Bashar al-Assad.

Pada hari Sabtu (14/6), media Malaysia melaporkan bahwa Ahmad Tarmimi Maliki, yang mengebom markas militer Irak, mendapat “kehormatan yang meragukan karena menjadi pelaku bom bunuh diri pertama Malaysia yang terkait dengan” ISIS. Beberapa bulan sebelumnya, pada bulan November 2013, muncul laporan bahwa Riza Fardi, yang sempat mengenyam pendidikan di pesantren terkenal Ngruki, Jawa Tengah (pesantren yang juga pernah dihuni para pelaku bom Bali) menjadi jihadis Indonesia pertama yang setor nyawa di Suriah.

Sementara ancaman teroris di Asia Tenggara telah menyusut, berkat pemenjaraan dan kematian tokoh-tokoh jihadis seniornya, perang sipil di Suriah, dan sekarang di Irak, telah memunculkan momok kepulangan kawanan jihadis yang memiliki pengetahuan tentang terorisme dan pandangan militan (tidak seperti kawanan pendahulunya yang kembali dari perang Afghanistan pada 1980-an). “Para pejuang yang pulang itu mengalami indoktrinasi yang lebih mendalam, lebih banyak kontak internasional, dan mungkin komitmen yang lebih mendalam terhadap jihad global,” kata Jones.

Menurut Kwok, perang Suriah tiga tahun telah memikat lebih banyak jihadis asing ketimbang perang Afghanistan. Salah satu alasan yang mungkin adalah nubuat yang populer di kalangan jihadis global, tentang pertempuran terakhir sebelum Hari Penghakiman. “Terdapat hadis, atau perkataan Nabi Muhammad, yang memprediksi perang apokaliptik, kebaikan versus kejahatan, dan menurut salah satu hadis, itu akan mulai di Suriah,” kata Solahudin, pakar terorisme yang berbasis di Jakarta.

Indonesia memiliki pendekatan yang berbeda terhadap jihadisme dibandingkan negara tetangganya. “Meskipun serangan teroris dapat dihukum mati, namun mengumpulkan uang atau bergabung dengan kelompok jihadis asing bukanlah perkara ilegal,” ungkap Kwok.

Sebaliknya, pada akhir April lalu, Malaysia menangkap 10 gerilyawan (delapan pria dan dua wanita) yang berencana bertolak ke Suriah untuk ikut ambil bagian dalam perang. Pada bulan Maret, Singapura mengatakan sedang menyelidiki kepergian warganya untuk bergabung dengan jihadis Suriah.

“Dikarenakan sikap yang lebih toleran di Indonesia, para pendukung ISIS di sana menjadi lebih terlihat dan secara terbuka meminta dana,” ujar Kwok. Mereka, lanjutnya, mengadakan aksi pengumpulan dana dan sumpah setia terhadap ISIS pada bulan Februari lalu di universitas negara Islam di pinggiran Jakarta dan menggelar unjuk rasa di kawasan pusat bisnis ibukota pada bulan Maret.

Minggu pagi kemarin (15 Juni 2014), saat salah satu jalan utama di Solo, Jawa Tengah, dijadikan zona bebas mobil mingguan untuk berjalan-jalan keluarga, tiba-tiba militan Jamaah Ansharut Tauhid, sempalan JI, mengarak lencana ISIS, mengibarkan bendera ISIS dan mendatangkan malapetaka pada pertunjukan musik.

“Mereka juga cukup aktif di Twitter, Facebook, dan YouTube,” imbuh Kwok. Iqbal Kholidi, yang melacak dan mengamati pendukung ISIS Indonesia di media sosial, memperliharkan foto mereka sedang berlatih dan mengusung bendera hitam di seluruh negeri (Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Poso, Sulawesi Tengah). Mereka menjadi lebih berani dalam beberapa bulan terakhir, kata Iqbal sebagaimana dikutip Time, yang mungkin “karena muncul kesan bahwa pemerintah hanya diam saja selama ini.” (IT/T/rj)

sumber : http://islamtimes.org/

NO COMMENTS