Di Mata Wahhabiyah: NU adalah Ahlusunnah Gadungan

1
913 views

download (2)

 

Dalam pemetaan mazhab-mazhab teologi Islam, khusunya dalam masalah pemahaman terhadap sifat-sifat Allah SWT. kita akan menemukan beberapa aliran yang saling berseberangan. Di antara aliran-aliran tersebut adalah:

 

A)    Musyabbihah, yaitu aliran yang meyakini bahwa Allah SWT. menyandang berbagai sifat yang juga disandang oleh makhuk-Nya, seperti keyakinan bahwa Allah berpostur seperti layaknya makhkuk; memiliki tangan, mata, betis, wajah seperti tangan, mata, betis, wajah makhluk-Nya, dll. Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya.

B)    Mu’aththilah, yaitu kelompok yang menafikan semua sifat dari Allah SWT. dengan anggapan bahwa menetapklan sifat bagi Dzat Allah menyalahi kemaha sucian-Nya. Semua ayat dan hadis yang menyebut sifat Allahpun mereka tolak.

C)   Mufawwidhahyaitu mengimani adanya sifat itu sebagaimana datang dalam Al Qur’an atau nash shahih, tetapi tidak melibatkan diri dalam usaha memahami atau menafsirkannya. Makna sesungguhnya dari sifat-sifat itu mereka serahkan kepada Allah SWT.

D)    Muawwilah, yiatu  kelompok yang melibatkan diri dalam mena’wilkan ayat-ayat atau nash shahih yang berbicara tentang sifat Allah SWT. yang secara lahir mengesankan adanya keserupaan dengan sifat makhluk-Nya. Mereka tidak menetapkan untuk Allah SWT. sifat-sifat makhluk-Nya tetapi tidak juga menolak berbagai sifat yang telah tetap bagi Dzat Allah SWT. Mereka meyakini bahwa Dzat Allah memiliki berbagai sifat indah dan asmâ’ yang mulia yang layak bagi kemaha agungan dan kemaha sucian-Nya. Sifat-sifat itu tidak menyerupai sifat makhluknya. Setiap ayat atau hadis yang mengesankan adanya keserupaan sifat Allah SWT. dengan sifat makhluk-Nya maka akan dita’wîl  agar sesuai dengan kemaha sucian Allah.

Kelompok terakhir ini sekarang lebih diwakli oleh kelompok teologi Ahlusunnah wal Jama’ah; Asy’ariyah (yang dipelopori oleh Abul Hasan al Asy’ari) dan Al Maturidiyah yang dipelopori oleh Al Maturidi), dan oleh mazhab teologi Mu’tazilah dan teologi Syi’ah.

Kelompok Musyabbihah selalu memamahi nash-nash dengan pemahaman leteralis, dangkal, jumud dan menolok memasukkan unsur majazi dalam memahami nash… karenanya mereka terjatuh dalam tasybîh, menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Sampai-sampai mereka menetapkan semua sifat yang disandang makhluk untuk Allah Sang Khaliq yang Maha Suci dan Maha Agung. Sebagian dari penganut paham ini menyederhanakan unsur tasybîhnya dengan mengatakan setelah menyebut sifat tertentu Allah, seperti Allah mempunyai dua mata, tetapi tidak seperti mata makhluk-Nya… Allah turun ke langit terdekat dengan dunia di sepertiga terakhir malam, tetapi tidak seperti turunnya makhluk-Nya … Allah mempunyai betis, tetapi tidak seperti betis makhluk-Nya… dan dmikian seterusnya.

Kelompok terakhir ini sekarang lebih diwakili oleh teologi Wahhabiyah yang diadopsinya dari Ibnu Taimiyah!

Artikel ini tidak bermaksud meneliti latar belakang dan argumen masing-masing aliran di atas, hanya saja ia ingin menginformasikan bahwa para tokoh Sekte Wahhabiyah yangMusyabbihah itu telah mengklaim bahwa mereka-lah yang mewakili paham Ahlusunnah wal Jama’ah, sementara aliran teologi Asy’ariyah yang Ahlusunnah justru dituduhnya sebagaiMu’aththilah yang merupakan anak dari faham Bid’ahnya Jahm ibn Shafwân!

Mulai dari pendiri sekte Wahhabiyah hingga para menerusnya, tak henti-hentinya mereka menuduh bahwa aliran teologi Asy’ariyah bukan dari Ahlusunnah…. Asy’ariyah adalah adalah Ahlusunnah Gadungan… Asy’ariyah adalah Mu’aththilah yang sesat. Dan seperti kita ketahui bersama, bahwa di tanah air tercinta kita, kelompok yang menganut aliran Asy’ariyah adalah NU. Jadi kini gelar Ahlusunnah telah dirampas dari NU untuk dijadikan hak paten Wahhabiyah/Salafiyah. NU adalah Ahlusunnah Gadungan…. NU adalah Mu’aththilah yang berseberangan dengan ajaran Nabi saw. dan para sahabat mulia –radhiyallah ‘anhum-.

Dalam kitab at Tauhid, pada bab tentang firman Allah:

حَتَّى إِذَا فُزِعَ عَنْ قُلُوبِهِم قالوا ماذا قال رَبُّكُمْ، قالوا الحَقَّ و هُو العليُّ الكبيرُ.

“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” mereka menjawab: (perkataan) yang benar”, dan Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Muhammad ibn Abdil Wahhâb, pendiri Sekte Wahhabiyah berkata, “Pada ayat di atas terdapat beberapa masalah…. Masalah kedua puluh: Adanya penetapan sifat, berbeda dengan (faham) Asy’ariyah yang Mu’arththilah itu! [1]

Jadi jelas dalam klaim pendiri sekte Wahhabiyah bahwa Asy’ariyah adalah kelompok Mu’aththilah!

Tokoh besar, penerus Da’wah Wahhabiyah, Ibnu Utsaimin (1421H) kembali mempertegas klaim Ibnu Abdil Wahhâb di atas. Ketika menysarahi kitab al Aqidak al Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah ia menegaskan bahwa Asy’ariyah bukan bagian dari Ahlusunnah. Mereka adalah Mu’aththilah!

Ibnu Utsaimin berkata, “Maka diketahui dari ucapan penulis bahwa tidaklah masuk dalam kelompok Ahlusunnah siapa yang menyalahi mereka dalam cara mereka. Maka Asy’ariyah dan al Maturidiyah, misalnya tidak bisa dikelompokkan dalam kelompok Ahlusunnah dalam hal ini, sebab mereka menyalahi agama Nabi saw. dan para sahabat dalam memberlakukan sifat Allah SWT. sesuai dengan hakikatnya. Maka dari itu salahkah orang yang mengatakan bahwa Ahlusunnah itu ada tiga: Salafiyûn, Asy’ariyûn dan al Maturidiyûn. Anggapan ini salah. Kami berkata, ‘Bagaimana mereka semua digolongkah Ahlusunnah padahal mereka saling bersesilih?! Tiada setelah haq kecuali kesesatran, dhalâl[2]

Dalam kesempatan lain ia menegaskan bahwa Asy’ariyah bukan Ahlusunnah, ia berkata, “Asyâ’irah dan al Maturidiyûn menetapkan sifat, tetapi mereka menyahali Ahlusunnah dalam banyak permasalahan sifat.”[3]

Jadi jelas Asy’ariyah bukan Ahlusunnah, mereka telah menyalahi ajaran Ahlusunnah dalam banyak permasalahan sifat!!

Dalam kesempatan ketiga ia mempertegas bahwa Asy’ariyah adalah kelompok ahli ta’thîlMu’aththliah!

Pada pembahasan keenam, Ibnu Utsaimin menegaskan, “Tolok ukur penetapan atau penafian asmâ’ dan sifat itu adalah nash/sam’u, akal-akal kita tidak mampu menetapkan atas Allah apapun. Jadi penentunya adalah sam’u, berbeda dengan Asy’ariyah, Mu’tazilah dan Jahmiyah dan selain mereka dari aliran-aliran ahli ta’thîl.[4]

Dalam kesempatan lain ia menguraikan ucapan Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa mazhabnya (yang ia aku sebagai representatif ajaran Salaf dan Ahlusunnah) sebagai mazhab yang moderat, wasath dalam masalah sifat Allah SWT. yang berdiri tegak di antara dua faham menyimpang yaitu Ahli Ta’thîl al Jahmiyah dan Ahli Tamstîl al Musyabbihah. Dalam kesempatan itu Ibnu Utsaimin mengatakan, “Ini adalah dua tepi yang ekstrim; Ahli Ta’thîl al Jahmiyah dan Ahli Tamstîl al Musyabbihah.

§   Jahmiyah yang mengingkari sifat-sifat Allah Azza wa Jalla….

§   Mu’tazilah mengingkari sifat-sifat Allah dan menetapkan asmâ’-Nya. 

§   Asy’ariyah menetapkan asmâ’-Nya dan tujuh sifat bagi-Nya.

Semua mereka ini tercakup dalam kelompok Ahli Ta’thîl, hanya saja sebagian dari mereka Mu’aththil total seperti kelompok Jahmiyah, sementara yang lainnya berfaham Mu’aththilah tetapi tidak total (relatif) seperti Mu’tazilah dan Asyâ’irah.[5]

Dan ajaran Asy’ariyah, seperti juga Mu’tazilah, kata Ibnu Utsaimin, Imam besar Wahhabiyah di masanya adalah  perusak agama. Mereka mentahrif/ membelokkan nash-nash suci kemudian menamakan pembelokan mereka itu dengan istilahta’wîl. Dan semua itu merupakan akibat dari virus bid’ah yang disebarkan musuh-musuh Islam, seperti bid’ahnya Jahm.[6]

Jadi dalam pandangan Ibnu Utsaimin, Asy’ariyah adalah ahli bid’ah dan sengaja memplesetkan nash Qur’ani dengan nama ta’wîl.[7] Andai bukan karena berkedok dengan kedok ta’wîl palsu itu pastilah mereka sudah layak disebut telah kafir, sebab mereka telah berbohong atas nama Allah.[8]

Kelompok Mu’aththilah Adalah Kafir!!

Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu Syeikh menegaskan bahwa kelompk Mu’aththilah adalah telah kafir, ia berkata:

وَ أُلئك المُعَطِّلَةُ كَفَرُوا بما في الكتابِ و السنَّةِ مِنْ ذلكَ، وَتناقَضُوا فبَطَل قولَ المعطِّلِيْنَ بالعقلِ و النقلِ، و للهِ الحمدُ وَ الْمِنَةُ، و إجماعِ أهلِ السنَّةِ مِنَ الصحابَةِ و التابعين و تابِعِيهِمْ و أئمَةِ المسلمينَ.

“Mereka kaum Mu’aththilah telah kafir dengan Al Qur’an dan Sunnah dalam ayat-ayat sifat, dan saling bertentangan, maka –dengan puji dan anugerah Allah- batilah ucapan kaum Mu’aththilah berdasarkan dalil akal dan naqli, dan ijmâ’ Ahlusunnah dari Sahabat, tabi’în, tabi’ut tabi’în dan para imam kaum Muslimin.”[9]

Setelah mengklaim bahwa hanya Wahhabiyah yang Muwahhid, dan selain mereka adalah Musyrik, kini mereka mengklaim hanya Wahhabiyah saja yang Ahlusunnah dan selain mereka adalah Ahli Bid’ah!!

Inilah hakikat Wahhabiyah!


 

[1] Fathu al Majîd Syarh Kitâb at Tauhid; Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âl Syeikh (W.1257H):204. Cet. Dâr al Kotob al Ilmiyah Beirut- Lebanon. Cet. Keempat tahun 1428H/2007M.
[2] Syarah al Aqidak al Wasithiyah:22. cet. Maktabah al Hikam al Ilmiyah.Beirut. Tahun.1424 H/2003M.
[3] Syarah al Aqidak al Wasithiyah:32..
[4] Syarah al Aqidak al Wasithiyah:37.
[5] Syarah al Aqidak al Wasithiyah:288.
[6] Syarah al Aqidak al Wasithiyah:11.
[7] Syarah al Aqidak al Wasithiyah:40.
[8] Syarah al Aqidak al Wasithiyah:37.
[9] Fathu al Majîd Syarh Kitab at Tauhid:402.

1 COMMENT

  1. Mereka menuduh dengan mulut-mulut kotor mereka tanpa di topang dengan ilmu, hanya penafsiran kaum hawa nafsu saja dan aqlaniyun yang menafsirkan seperti itu. Kami bantah point .b pada syubhat – 3 yang isinya Mujassimah: yaitu mereka yang mempunyai keyakinan bahwa Allah berjisim dst….
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki batasan (bentuk) dan tidak ada yang mengetahui bentuk-Nya kecuali Dia sendiri. Demikian pula tempat-Nya memiliki batasan (bentuk), yaitu bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘arsy (Singgasana Allah yang terletak di atas langit yang ketujuh) di atas seluruh lapisan langit. Maka keduanya ini (Allah dan tempat-Nya) memiliki bentuk dan batasan!”. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rhm didalam Muwafaqat Sharih Al-Ma’qul, j. 2, h. 29).
    Manhaj salaf Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah menetapkan ( ‘itsbat’ ) apa-apa yang Allah telah firmankan di dalam Al Qur’an dan apa-apa yang telah di sabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam di dalam hadits-hadits yang shahih tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah seperti istiwaa’ (bersemayam)nya Allah di atas ‘Arsy yang sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-nya, wajah-Nya, Tangan-Nya, mata-Nya, datang-Nya, turun-Nya, marah-Nya, cinta-Nya dan lain-lain banyak sekali di dalam Al Qur’an dan hadits-hadits shahih di Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaa’i, Ibnu Majah, Malik, Ahmad, Kitab Tauhid Ibnu Khuzaimah dan lain-lain. Mereka menetapkan tanpa :
    1. TA’THIL (menghilangkan),
    2. TA’WIL (mengganti arti ZHAHIR kepada arti yang lain),
    3. TAMTSIL (menyerupakan dengan makhluk)
    4. dan TAKYIF (bertanya bagaimana sifat Allah itu)
    Sebagaimana firman Allah :
    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ…
    Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.(Qs.Asy Syura:11) Bagian YANG PERTAMA dari ayat yang mulia ini ME-NAFI-KAN adanya penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Sedangkan penyerupaan bagian YANG KEDUA MENETAPKAN (ITSBAT) adanya sifat-sifat Allah.
    Keduanya wajib kita imani, yaitu tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan Allah tidak serupa dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya dan perbuatan-Nya.
    Dan kitapun menetapkan nama dan sifat-Nya APA ADANYA tanpa TA’WIL dan seterusnya seperti di atas.
    Dan tidaklah dikatakan meyerupakan Allah dengan makhluk-nya kalau kita MENETAPKAN BAHWA Allah bersemayam di atas ‘Arsy, mempunyai wajah, tangan, mata, datang dan turun yang sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya
    Dan tidaklah sama bersemayam-Nya, wajah-Nya, tangan-Nya, mata-Nya, datang-Nya, turun-Nya, ke langit dunia setiap sepertiga malam, yang akhir dan seterusnya dengan bersemayam, wajah, tangan makhluk-Nya.. Kecuali kalau kita mengatakan bahwa bersemayamnya Allah, wajah-Nya dan tangan-Nya sama atau serupa dengan bersemayamnya, wajah dan tangan makhluk-Nya.
    Kalau MENETAPKAN nama dan sifat Allah dituduh menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH bertanya kepada ahli bid’ah dari kaum Jahmiyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah, maturidiyyah, dan lain-lain :
    “ Bukankah anda telah menetapkan ada Dzat bagi Allah dan manusia juga mempunyai Dzat , SAMAKAH ATAU SERUPAKAH DZAT ALLAH DENGAN DZAT MANUSIA ?
    Untuk mempertegas lagi dari syubhat dan tuduhan mereka tentang wajah, tangan betis Allah yang mengatakan kita kaum salafiyyin adalah kaum yang menyerupai Allah dengan mahkluknya… fitnah dan dusta ini harus di perjelas agar ucapan-ucapn itu tidak mempunyai dasar dan bukti
    Prinsip kalangan salafiyyin dalam masalah nama-nama Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya adalah prinsip para pendahulu mereka dari kaum salaf umat ini, khususnya para shahabat yang mulia serta para tabiin yang terhormat, dengan kemudian prinsip ini menjadi pokok yang disepakati oleh kalangan Ahlussunnah wal Jamaah. Yaitu:
    a. Mereka menetapkan apa yang Allah Ta’ala tetapkan untuk dirinya dan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tanpa merubah (tahrif), menyerupakan (tamtsil) dan menggugurkan (ta’thil).
    b. Mereka menafikan apa yang Allah nafikan untuk diri-Nya dan apa yang dinafikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
    c. Terkait dengan sifat yang tidak dinyatakan penetapannya (itsbat) dan penafiannya (nafy), maka mereka tidak berkomentar sebelum diketahui makna yang dimaksud. Jika maknanya ternyata rusak, maka mereka nafikan lafaz dan maknanya, jika maknanya benar, maka tetapkan maknanya tapi bukan lafaznya.
    Ketiga:
    Kita akan praktekkan prinsip yang agung ini terkait dengan sifat-sifat yang anda sebutkan;
    1. Allah Ta’ala telah menetapkan sifat ‘Bersemayam (istiwa) di atas arasynya’ dalam banyak tempat dalam Al-Quran;
    Allah Ta’ala berfirman,
    الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى (سورة طه: 5)
    “(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

    ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى العَرْشِ (سورة الأعراف: 54 ، سورة يونس: 3 ، سورة الرعد: 2 ، سورة الفرقان: 59 ، سورة السجدة: 4 ، سورة الحديد: 4)
    “Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. ” (QS. Al-A’raf: 54), Yunus: 3, Ar-Ra’du: 2, Al-Furqan: 59 As-Sajdah: 4, Al-Hadid: 4)
    Istiwa (bersemayam) merupakan sifat fi’liyah (sifat perbuatan) bagi Allah Ta’ala. Ahlussunnah wal Jamaah menetapkannya sesuai dengan makna yang layak bagi-Nya, tanpa dirubah (tahrif) maknanya, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli ta’wil yang merubah maknanya menjadi ‘menguasai’ (istii’la)! Tidak juga diserupakan dengan bersemayamnya makhluk, karena sesungguhnya Allah tidak ada satupun yang menyerupai dzat-Nya dan tidak ada satupun yang menyerupai sifatnya.
    Ucapan Imam Malik bin Anas radhiallahu anhu dalam masalah sifat yang mulia ini akan tetap menjadi kaidah bagi Ahlussunnah wal Jamaah dalam seluruh bab sifat. Meskipun pertanyaannya khusus tentang sifat istiwa yang sedang kita bicarakan ini. Beliau pernah ditanya tentang bersemayamnya Allah, bagaimana hakikatnya. Maka beliau menjawab,
    ” الاستواء معلومٌ ، والكيف مجهولٌ ، والإيمان به واجبٌ ، والسؤال عنه بدعة .
    “Istiwa telah diketahui, caranya majhul (tidak diketahui), beriman dengannya adalah wajib, bertanya tentangnya adalah bid’ah”
    Riwayat Al-Laalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah (3/441), Baihaqi dalam Al-Asma wa Sifat (hal. 408) dishahihkan oleh Az-Zahabi, Syaikhul Islam dan Al-Hafiz Ibnu Hajar. Lihat Mukhtashar Al-Uluw (hal. 141), Majmu Fatawa (5/365), Fathul Bari (13/501). Ada beberapa redaksi yang berdekatan dengan makna yang sama.
    Istiwa (bersemayam) telah diketahui, maksudnya telah diketahui maknanya dalam bahasa Arab. Sedangkan tata caranya tidak diketahui. Beriman kepadanya wajib. Bertanya tentangnya, maksudnya tentang caranya, merupakan bid’ah.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Perkara istiwa di atas Arasy telah ditetapkan berdasarkan Al-Quran dan Sunah serta kesepakatan pendahulu (salaf) umat ini serta para tokoh ulamanya. Bahkan dia telah ditetapkan dalam seluruh kitab yang diturunkan dan oleh seluruh nabi yang diutus.” (Majmu Fatawa, 2/188)
    Ibnu Qayim rahimahullah berkata dalam rangka membantah orang yang hendak mengubah sifat istiwa atau hendak menggugurkannya, “Apa yang mereka nyatakan adalah batil dari empatpuluh dua sisi;
    Salah satunya, bahwa kata istiwa dalam bahasa Arab yang Allah jadikan sebagai bahasa untuk menurunkan firman-Nya dan menyampaikannya kepada kita, terdiri dari dua macam; Mutlak dan muqayyad (terikat). Yang dimaksud mutlak adalah yang mengantarkan pada sebuah makna tanpa bantuan huruf lain. Seperti firman Allah Ta’ala,
    وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى (سورة القصص: 14)
    “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya,” SQ. Al-Qasa: 14.
    Yang ini artinya; Sempurna. Maka dikatakan استوى النبات (tumbuhan itu sempurna) dan
    استوى الطعام makanan telah matang.
    Adapun yang bersifat muqayyad ada tiga macam;
    Pertama, terikat dengan “إلى” seperti firman-Nya:
    ثم استوى إلى السماء (سورة البقرة: 29)
    yang ini bermakna ‘tinggi’ dan ‘di atas’ berdasarkan ijmak kaum salaf.
    Kedua, terikat dengan katan “على” seperti firman-Nya لتستووا على ظهوره (سورة الزخرف: 13) inipun maknanya adalah tinggi, di atas dan tegak, berdasarkan kesepatakan ahli bahasa.
    Ketiga, disandingkan dengan huruf ‘و’ seperti ungkapan; استوى الماء الخشبة maksudnya adalah bahwa air sudah sejajar dengan kayu.
    Inilah makna yang masuk akal berdasarkan ucapan mereka (dalam bahasa Arab). Tidak ada sama sekali yang bermakna ‘استولى’ (menguasai). Tidak ada satupun dari ahli bahasa yang ucapannya dijadikan pedoman mengatakan demikian. Akan tetapi hal tersebut dikatakan oleh ahli tata bahasa (nahwu) di masa belakangan yang menempuh jalan kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah.
    (Mukhtashar Ash-Shawa’iq, hal. 371-372)
    2.Allah Ta’ala telah menetapkan bagi diri-Nya, sifat ‘الوجه’ (wajah), demikian pula Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menetapkannya demikian. Maka kaidah syariah disini berlaku; Yaitu kita menetapkan sifat Allah Ta’ala ini tanpa merubah maknanya bahwa dia merupakan ‘dzat’ dan juga tidak menyerupakannya, sehingga kita mengatakan bahwa wajahnya seperti wajah salah seorang dari makhluk-Nya, atau tidak boleh menggugurkannya sama sekali sebagai sifat. Dalil tentang sifat ini cukup kita ambil dari satu dari Al-Quran dan satu lagi dari Sunah.
    a. Firman Allah Ta’ala,
    وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (سورة الرحمن: 27)
    “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)
    Abu Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27). Dia telah mengabarkan bahwa diri-Nya memiliki wajah yang tidak akan binasa dan tidak akan hancur.” (Al-Ibanah, hal. 77)
    Beliau juga berkata, “Siapa yang bertanya kepada kami, ‘Apakah kalian berpendapat bahwa Allah Ta’ala memiliki wajah?” Maka dikatakan kepadanya, “Kami berkata demikian, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh ahli bid’ah. Dan hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Al-Ibanah, hal. 78-79)
    Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Semua yang berada di muka bumi, baik dari kalangan jin dan manusia, seluruhnya akan binasa, dan yang kekal tetaplah wajah tuhanmu wahai Muhammad (pemilik kebesaran dan kemuliaan). Kalimat ‘ذو الجلال والإكرام’ merupakan na’at (sifat) dari kata ‘الوجه’ karena itu dia dibaca marfu’ ‘ذو’ . Diriwayatkan bahwa dia dalam qiraat Abdullah dibaca ‘ذي الجلال والإكرام’ yaitu sebagai sifat bagi bagi ‘الرب’ (Jami’ul Bayan, 27/134)
    Apa yang dinisbatkan kepada Ibnu Masud radhiallahu anhu (dibaca ذي الجلال) tidaklah benar. Yang disepakati adalah bacaan marfu’.
    Syekh Abdul Fattah Al-Qadhi rahimahullah berkata, “Ibnu Amir membaca, ‘تبارك اسم ربك ذو الجلال والإكرام’ dengan ‘و’ sedangkan yang lainnya membaca ‘ذي الجلال’ dengan ‘ي’ sementara dalam tulisannya dengan ‘و’ . Adapan firman Allah Ta’ala, ‘ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام’ telah disepakati bacaannya dengan ‘و’ begitu penulisannya dengan ‘و’ daam semua mushaf Utsmani. (Al-Wafi Fi Syarh Syatibiyah, hal. 366)
    Ibnu Qoyim rahimahullah berkata, “Perhatikanlah, firman-Nya ‘ذو الجلال والإكرام’ saat menyebutkan ‘الوجه’, sementara dibaca jar dalam firman-Nya ‘تبارك اسم ربك ذي الجلال والإكرام’ (QS. Ar-Rahman: 78). Maka ‘ذو’ menunjukkan bahwa ‘wajah’ dikaitkan dengan keagungan dan kemuliaan, ketika tujuannya hendak mengabarkannya. Sedangkan ‘ذي’ yang disandingkan dengan ‘kemuliaan dan keagungan’ di akhir surat tujuannya adalah menunjukkan dzat yang disebut, bukan namanya. Maka hendaknya hal ini diperhatikan.” (Mukhtashar Ash-Shawa’iq, hal. 409)
    b. Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Bab firman Allah Ta’ala, ‘Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya.” (QS. Al-Qashash: 88)”
    Kemudian beliau meriwayatkan hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu, dia berkata, ‘Ketika turun ayat berikut ”
    قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ (سورة الأنعام: 65)
    “Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu.”
    Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku berlindung dengan wajah-Mu.” Lalu diturunkan lagi ayat kelanjutannya,
    أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ (سورة الأنعام: 65)
    “Atau dari bawah kakimu.” (QS. Al-An’am: 65)
    Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Aku berlindung dengan wajah-Mu.” Lalu diturunkan lagi ayat kelanjutannya,
    أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا (سورة الأنعام: 65)
    “atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan).”
    Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ini perkaranya mudah.”
    Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah berkata, “Kami dan seluruh ulama kami, baik dari Hijaz, Tihama, Yaman, Irak, Syam, Mesir, mazhab kami adalah bahwa kami menetapkan bagi Allah apa yang telah Dia tetapkan untuk diri-Nya. Kami tetapkan hal itu dengan lisan kami dan kami benarkan dalam hati kami, tanpa menyerupai wajah Pencipta kami dengan wajah seorang pun dari kalangan makhluk. Maha suci Tuhan kami dari keserupaan dengan makhluk-Nya. Maha suci Tuhan kami dari pendapat orang-orang yang tidak mempercayai adanya sifat Allah.” (Kitab Tauhid, 1/18)
    3- Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan sifat ‘الساق’ (betis). Maka kaidah syar’iah di sini adalah; Menetapkan sifat Allah tersebut tanpa merubah maknanya dengan makna ‘الشدة’ (bencana berat), tidak boleh menyerupakannya dengan makhluk, seperti kita serupakan dengan betis makhuk atau kita tiadakan sama sekali sifat tersebut.
    Di antara dalil tentang sifat ini adaah;
    Hadits Abu Said Al-Khudry, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,
    … فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ (رواه البخاري، رقم 7001 )
    “… Lalu Dia menyingkap betisnya, maka sujudlah seluruh orang beriman kepada-Nya…” (HR. Bukhari, no. 7001)
    Ibnu Qoyim rahimahullah berkata, “Yang menetapkan hal tersebut sebagai sifat seperti kedua tangan atau jari, mereka tidak mengambilnya dari zahir Al-Quran, akan tetapi mereka menetapkannya dari hadits Abi Said Al-Khudry yang diriwayatkan muttafaq alaih, yaitu hadits tentang syafaat yang panjang, di dalamnya terdapat sabda beliau, “… Lalu Dia menyingkap betisnya, maka sujudlah seluruh orang beriman kepada-Nya…” Siapa yang mengartikan ayat dengan hadits tersebut, mereka berkata bahwa firman Allah Ta’ala,
    يوم يكشف عن ساق ويدعون إلى السجود (سورة القلم: 42)
    “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; Maka mereka tidak kuasa.” (QS. Al-Qalam: 42)
    Sesuai dengan sabdanya, “… Lalu Dia menyingkap betisnya, maka sujudlah seluruh orang beriman kepada-Nya…” Bahwa kata ‘ساق’ dinyatakan dalam bentuk nakirah (tidak disandingkan dengan lafaz ‘Allah’) adalah untuk menunjukkan keagungan dan kebesaran. Seakan hendak dikatakan, ‘(Hari itu) itu disingkap betis yang agung, yang keagungannya tidak ada yang menandingi dan menyerupainya. Mereka berkata bahwa memaknai kalimat ini dengan arti ‘bencana berat’ tidak dibenarkan dari satu sisi; yaitu karena dalam ungkapan sehari-hari, ungkapan dengan makna seperti itu (bencana berat) dikatakan ‘كشفت الشدة عن القومط (Bencana telah hilang dari suatu kaum), bukan dengan kata ‘كُشف’ (disingkap), sebagaimana firman Allah Ta’ala,
    فلما كشفنا عنهم العذاب إذا هم ينكثون (سورة الزخرف: 50)
    “Maka tatkala Kami hilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya).” (QS. Az-Zukhruf: 50)
    ولو رحمناهم وكشفنا ما بهم من ضر (سورة المؤمنون: 75)
    “Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudharatan yang mereka alami.” (QS. Al-Mukminun: 75)
    Azab dan bencana adalah dihilangkan, bukan yang disingkap. Demikian pula disana terjadi kondisi yang berat dan terus terjadi kecuali setelah masuk surga. Sedangkan makna yang ini tidak diserukan sujud, akan tetapi mereka diserukan kepada yang lebih besar dari bencana tersebut.” (Ash-Shawaiq Al-Mursalah, 1/252-253)
    4. Lafaz ‘الجسد’ tidak ada penyebutannya bagi Allah Ta’ala, tidak dalam bentuk penetapan, tidak pula dalam bentuk peniadaan. Kaidah Ahlussunnah dalam masalah seperti ini; Tidak boleh disandingkan kepada Allah Ta’ala dan dinisbatkan kepadanya. Karena mensifati Allah dengan sesuatu tidak dibolehkan kecuali dengan dalil yang shahih berdasarkan Kitabullah dan sunah Nabinya shallallahu alaihi wa sallam. Demikian pula, tidak boleh dinafikan hanya karena tidak ada dalil yang menetapkannya. Akan tetapi hendaknya diperinci tentang hal tersebut; Jika maknanya batil dalam syariat, maka kita harus nafikan makna yang batil tersebut, juga dinafikan redaksinya yang bid’ah. Apabila maknanya benar, maka kita tetapkan makna yang benar dan hendaknya kita gunakan lafaz syar’i yang menunjukkan hal tersebut, kecuali jika ada tuntutan dalam penggunaan lafaz yang bid’ah dengan disertai maknanya yang benar.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Wajib diperhatikan dalam bab ini. Apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, maka kita tetapkan dan apa yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya, maka kami nafikan. Kalimat yang tertera dalam nash, itulah yang dijadikan pedoman, baik dalam penetapan dan penafian. Maka kita tetapkan lafaz dan makna yang telah ditetapkan oleh nash dan menafikan lafaz dan makna yang telah dinafikan oleh nash. Adapun lafaz yang dipertentangkan dari kalangan generasi belakangan, seperti lafaz ‘الجسم’ (tubuh), ‘الجوهر’ (inti), ‘المتحيز’ (tersimpan), ‘الهجة’ (arah) dan semacamnya, maka kita tidak meniadakannya atau menetapkannya secara mutlak sebelum mengetahui maksud yang berkata. Jika yang dia maksud dengan meniadakan atau menetapkan memiliki makna yang benar sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka dibenarkan makna yang dimaksud dalam lafaz tersebut, akan tetapi seharusnya diucapkan dengan lafaz yang terdapat dalam nash, tidak menggunakan lafaz-lafaz bid’ah tersebut dan yang bersifat umum, kecuali jika dibutuhkan dengan tetap menjelaskan korelasi yang menjelaskan tujuannya. Kebutuhan misalnya jika menyampaikan kepada orang yang tidak dapat menangkap tujuannya dengan sempurna kecuali disampaikan dengan lafaz tersebut. Adapun jika makna yang dimaksud adalah batil, maka hendaknya makan tersebut dinafikan. Jika terkumpul antara makna yang hak dan makna yang batil, maka yang hak ditetapkan dan yang batil ditiadakan.” (Minhajus-Sunah, 2/554-555) Beliau telah menjelaskan panjang lebar saat membicarakan lafaz ‘الجسم’. Hendaknya dibaca, karena masalah ini penting.
    Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Masalah ‘الجسمية’ (tubuh) tidak terdapat dalam Al-Quran maupun Sunah, baik dalam bentuk penetapan atau peniadaan. Akan tetapi, terkait dengan lafaz tersebut kita katakan bahwa kami tidak menafikan atau menetapkan. Tidak kita katakan, tubuh yang bukan tubuh. Akan tetapi, terkait maknanya, maka hendaknya kita rinci dan bertanya kepada yang berkata, ‘Apa yang engkau maksud dengan ‘الجسم’? Apakah yang engkau maksud adalah sesuatu yang berdiri sendiri dan memiliki sifat yang layak untuk-Nya, yang berbuat dengan kehendaknya, mennggenggam dan membuka? Jika itu yang engkau maksud, maka itu hak dan maknanya benar. Sebab Allah Ta’ala berdiri dengan sendirinya dan melakukan apa yang Dia kehendaki. Dia memiliki sifat yang layak dengan-Nya, dia mengambil, menggenggam dan membuka. Menggenggam seluruh langit dengan tangan-Nya dan menggerakkannya. Jika yang engkau maksudkan dengan ‘الجسم’ adalah sesuatu yang satu sama lain saling membutuhkan dan tidak dikatakan sempurna sebelum sempurnya anggota-anggotanya, maka hal itu tidak boleh bagi Allah, karena hal tersebut menunjukkan adanya kejadian dan ketersusunan. Ini perkara yang tidak boleh diyakini terhadap Allah Azza wa Jalla. (Syarh Al-Aqidah As-Safariniyah, hal. 18-19)
    Kini engkau telah mengetahi wahai penanya, bahwa kaum salafi adalah orang yang paling berbahagia dengan Al-Quran dan Sunah. Mereka tidak meyakini sesuatu tentang dzat Tuhannya kecuali jika mereka mendapatkan dalil dari kedua rujukan yang bersumber dari wahyu. Kaidah mereka terhadap seluruh perkara yang mereka tetapkan bagi Allah Ta’ala, baik berupa nama, sifat dan perbuatan-Nya, adalah firman Allah Ta’ala, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya.” (QS. Asy-Syura: 11).
    Bahkan mereka sepakat bahwa siapa yang menyerupai Allah Ta’ala dengan makhuknya, maka dia kafir. Hendaknya tidak menghiraukan orang yang terpedaya, hendaknya berpegang teguh dengan buhul yang kuat dari nash-nash wahyu, maka akidahmu akan selamat dan anda akan mulia berada dalam kelompok yang selamat.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata dalam penjelasan tentang akidah Ahlussunnah wal Jamaah, “Mereka tidak menafikan sifat yang telah Dia tetapkan untuk dirinya. Mereka tidak merubah ucapan dari tempatnya, mereka tidak mengingkari nama Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya, mereka tidak meneliti bagaima sifatnya, tidak mengumpamakan dengan sifat makhluknya. Karena Allah Ta’ala tidak ada yang menyamai-Nya, sebanding dengan-Nya dan menandingi-Nya. Dia tidak boleh diqiyaskan dengan makhluk-Nya. Karena Allah Ta’ala lebih mengetahui terhadap diri-Nya dan terhadap selain-Nya. Dia yang paling benar ucapannya dan paling bagus ucapannya. (periksa : kitab Majmu Fatawa, 3/130 – ibnu taimiyyah)

Comments are closed.