Bukti-bukti Kemunafikan Ibn Taymiyah

0
597 views

munafik

Di Mata Para Ulama Ahlussunnah

(Bagian I)

Ibn Taymiyah yang kita ketahui merupakan salah seorang tokoh yang dipuja-puja kaum Wahaby-Salafy ternyata di mata para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah seorang munafik dengan bukti-bukti sbb:

1. Al-Durar al-Kaamina fi A`yaan al-Mi’at al-Tsaamina, karya Ibn Hajar al-`Asqalani yang membongkar asal-usul, akidah dan pemikiran Ibn Taymiyah yang jauh menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Cet. Hydrrabad: Daa’irat Al-Ma`aarif al-`Utsmaaniyyah, 1384 H, Jil. 1, hlm. 153-155)

“Ulama-ulama lainnya bahkan menganggap dia (Ibn Taymiyah) adalah seorang munafik, karena dia telah mengatakan bahwa “Ali (bin Abi Thalib) telah diabaikan (madkhûlan) kemanapun dia pergi. Dia (Ali bin Abi Thalib) berkai-kali mencoba untuk memperoleh kekhalifahan namun tak pernah mendapatkannya.

Ibn Taymiyah bahkan dengan jelas telah mengatakan bahwa “Dia (Ali bin Abi Thalib) mencintai kedudukan (sangat menginginkan kekhalifahan), sebagaimana Utsman (bin Affan) mencintai uang.

Dia juga mengatakan bahwa, “Abu Bakar menyatakan keislamannya dengan kesadaran penuh karena dia (Abu Bakar) sudah tua (dewasa) sedangkan Ali (bin Abi Thalib) masih kecil (belum baligh) ketika menyatakan keislamannya, dan keislaman anak-anak belumlah memiliki arti sama sekali.

Ibn Taymiyah mengatakan : “Sebelum Allah Swt mengutus Muhammad sebagai Rasul tak seorang pun ada orang beriman di kalangan orang-orang Quraisy. Mereka semua menyembah berhala, termasuk anak-anak. Jika seseorang bisa menyimpulkan bahwa tidak sama kekufuran orang dewasa dengan kekufuran anak kecil maka tentu saja iman orang dewasa (Abu Bakar) berbeda dengan iman anak-anak (Ali bin Ab Thalib).”

Jika anda tidak percaya lihat dan baca kitabnya yang menjadi pegangan kaum Wahabi-Salafy : Minhaj al-Sunnah Jilid 8 halaman 285!

Laki-laki dungu ini juga mengatakan bahwa hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pntunya.” sebagai hadis palsu!

Padahal kitab-kitab hadis ahlus sunnah yang meriwayatakan hadis tersebut dengan komentar bahwa hadis tersebut adalah : shahih![1]

Ibn Taymiyah menambahkan bahwa Muadz bin Jabal lebih mengetahui halal dan haram ketimbang Ali bin Abi Thalib.

Ucapan-ucapan kebenciannya kepada Ali ini tertera di dalam kitabnya yang menjadi rujukan kaum Wahaby-Salafy : Minhaj al-Sunnah, Jil. 7, hlm. 513-515.

Padahal banyak ulama Ahlus Sunnah yang mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan : “Wahai manusia! Tanyakanlah apa pun kepadaku selama aku masih berada di antara kalian!” Sahabat Nabi, Said al-Musayyab mengeomentari kata-kata ini bahwa tak seorang sahabat pun yang berani membuat tantangan seperti ini kecuali Ali!” [2]

Pernah dua orang laki-laki datang kepada Khalifah Umar bin Khatab untuk bertanya tentang hukum istri yang berstatus hamba sahaya (amatun). Sang Khalifah tidak menjawab. Dia berdiri dari tempatnya dan mengajak kedua orang ini pergi bersamanya ke Masjid.

Dalam sebuah halaqah inilah, tampak seorang yang berkepala botak tengah mengajar di sana.

“Bagaimana pendapat anda tentang hukum mentalaq amatun?” tanya sang khalifah kepadanya. Sang, guru halaqah ini hanya memberi isyarat dengan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya saja.

“Diperlukan 2 kali bersuci untuk memelihara waktu ‘iddah-nya”, kata Umar menerjemahkan kepada 2 orang penanya yang ikut bersamanya.

“Subhanallah! Kami datang untuk bertanya kepadamu selaku Amirul Mukminin, namun anda mencari jawaban dari orang ini,” protes mereka.

“Tahukah anda siapa orang itu?” kata Umar mencoba menenangkan.

“Dia adalah Ali bin Abi Thalib. Aku pernah menyaksikan Rasulullah (Saw) berkata tentangnya:

“Sungguh, seandainya 7 lapis langit dan bumi diletakkan di satu sisi timbangan dan Ali di sisi yang lain, pasti Ali akan lebih berat dari langit dan bumi itu.” [2b]

Bukan hanya khalifah Umar. Sahabat-sahabat lainnya juga pernah memberikan kesaksian serupa. Ummul Mukminin A’isyah juga pernah berkata: “Ali adalah orang yang paling paham tentang sunnah Nabi.”. [2c]

Abdullah bin Abbas juga diriwayatkan berkata: “Dibandingkan ilmuku dan ilmu para sahabat yang lain dengan ilmu Ali bin Abi Thalib perbandingannya seperti setetes air dengan 7 samudra lepas.” [2d]

Abdullah bin Mas’ud juga diriwayatkan pernah berkata: “Ilmu hikmah terbagi ke dalam 10 bagian. Ali telah dianugerahi Allah 9 bagiannya, dan manusia lain 1 bagian saja. Dalam 1 bagian yang tersisa itu Ali adalah yang paling arif.” [2e]

Dari pernyataan-pernyataannya Ibn Taymiyah inilah – kata Ibn Hajaral-Asqalani – para ulama menyimpukkan bahwa dia (Ibn Taymiyah) adalah seorang munafik berdasarkan hadis Nabi Saw kepada Ali bin Abi Thalib : “Hanya orang munafik yang membencimu.”

Kita juga mengingat banyak sekali hadis-hadis Rasulullah Saw yang serupa seperti yang telah dikatakan oleh Ibn Hajar al-Asqalani ini, sebut saja :

* Salah satu hadis sahih dari Nabi Saw yang keshahihannya tak diragukan oleh para pakar hadis. Diriwayatkan oleh para sahabat seperti ‘Abdullah ibn ‘Abbas, ‘Imran ibn al-Husain, Ummul Mukminin Ummu Salamah ra dan lain-lain, serta Imam Ali bin Abi Thalib as sendiri mengatakan :

Demi Dia yang membelah benih dan menciptakan jiwa, sesungguhnya Rasulullah (Saw) memberikan kepada saya suatu janji bahwa tak seorang pun selain mukmin akan mencintai saya, dan tak seorang pun selain orang munafik akan membenci saya. [3]

** Karena itulah para sahabat Nabi biasa menguji keimanan atau kemunafikan kaum Muslim melalui kecintaan dan kebencian mereka kepada Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Dzarr al-Ghifari, Abu Said al-Khudri, ‘Abdulldh ibn Masud dan Jabir ibn ‘Abdullah, bahwa:

“Kami (para sahabat Nabi) biasa membedakan orang munafik dengan kebencian mereka kepada ‘Ali ibn Abi Thalib.” [4]

Karena banyak bukti kebencian Ibn Taymiyah terhadap Imam Ali bin Abi Thalib inilah  maka:

2. Ibn Hajar di dalam kitabnya Fatawa al Haditsah hlm. 86 mengatakan tentang Ibn Taymiyah:

“Ibn Taymiyah adalah orang yang semoga Allah menghinakannya, membiarkan dia dalam kesesatan, membutakan dan membisukannya!”

3. Muhammad Syaukani, di dalam kitabnya Al-Badr al-Tsalai, Jil. 1, hlm .67 menyatakan bahwa Ibn Makhluf telah memfatwakan bahwa jika tidak dihukum mati paling tidak Ibn Taymiyah mesti dipenjara seumur hidup!

Masih banyak fatwa-fatwa yang cukup tegas dari para ulama Ahlus Sunnah atas kemunafikan Ibn Taymiyah ini yang tidak seluruhnya saya ungkap di sini.

4. Ada 40 ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyatakan kekufuran Ibn Taymiyah yang antara lain adalah : Muhammad bin Ibrahim Shaafi, Muhammad bin Abu Bakr al-Maliki, Muhammad bin Abu Bakr Jarir Anshari al-Hanafi, Abdullah bin Umar Muqaddis al-Hanbali.

Pernyataan 40 ulama ini dinyatakan di Suriah bahwa jika seseorang menyebarkan paham Ibn Taymiyah ini maka dia harus dihukum mati. Pernyataan ini bisa anda baca di dalam kitab : Durar al-Kaminakarya Ibn Hajar al-Asqalani Jil. 1 hlm. 147.

5. Syekh Alauddin Bukhari al-Hanafi juga berfatwa : “Siapa pun yang menganggap Ibn Taymiyah sebagai Syaikhul Islam maka dia telah menjadi kafir!”

Lihat dan baca kitabnya yang termasyhur : Tadzkirah al-Huffazhhlm. 316, Cet. Damaskus.

6. Syekh Zainuddin bin Rajab al-Hanbali juga mencatat apa yang diungkapkan Syekh Alauddin di dalam kitab Anwar al-Bari Jil. 11 :192 [Multan].

Yang ingin saya garis bawahi tentang fatwa-fatwa ini adalah bahwabukan keinginan saya untuk mengkafirkan apalagi memvonis hukuman mati bagi orang ini – toh orang ini sudah sedang mempertanggungjawabkan amal buruknya di alam barzakh –, akan tetapi poin yang ingin saya sampaikan adalah agar khalayak bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini mengetahui siapa sebenarnya Ibn Taymiyah di dalam pandangan para ulama Ahlus Sunnah. Karena sudah sedemikian banyak buku-buku Ibn Taymiyah yang beredar di sini atas prakarsa Kerajaan Saudi Arabia yang kita tahu bersekte Wahaby. Inilah kepentingan saya menyampaikan semua bukti-bukti penyimpangan pemikiran Ibn Taymiyah yang dianggap sebagai Syekh al-Islam oleh pengikut sekte Wahaby. Pada bagian selanjutnya saya akan buktikan betapa masih banyak pemikiran lelaki ini yang jauh menyimpang dari ajaran-ajaran Islam yang dianut oleh kaum Muslim Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Insya Allah!

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

(Bersambung)

Catatan Kaki :

* kata madkhul juga bisa berarti : orang yang tidak waras pikirannya (gila). Lihat Kamus al-Munawir, hlm. 424, Cet. 1984.

[1] – Shahih al-Tirmidzi, Jil. 5, hlm. 201, 637;

– Al-Mustadrak al-Hakim, Jil. 3, hlm. 126-127,226, hadis ini diriwayatkan oleh dua sahabat terpercaya : Abdullah bin Abbas dan Jabir bin Abdullah al-Anshari yang keduanya mengatakan bahwa hadis ini shahih;

– Fadha’il al-Shahaba li Ahmad Ibn Hanbal, Jil. 2, hlm. 635, hadis no. 1081;

– Jami’ al-Shaghir li Jalaluddin al-Suyuthi, Jil. 1, hlm. 107,374; Suyuthi mengatakan bahwa hadis ini Hasan;

– Al-Isti’ab li Ibn Abd al-Barr, Jil. 3, hlm. 38; dan jil. 2, hlm. 461;

– Kanz al-Ummal li al-Hindi al-Muttaqi, Jil. 15, hlm. 13, hadis no. 348-379;

– Al-Sawa’iq al-Muhriqah li Ibn Hajar al-Haytsami, Bab 9, bagian ke:2, hlm. 189;

[2] Lihat : Fadha’il al-Shahabah li Ahmad Ibn Hanbal, Jil. 2, hlm. 647, hadis no. 1098;

– Al-Ishabah li Ibn Hajar al-Asqalani, Jil. 2, hlm. 509;

– Al-Sawa’iq al-Muhriqah li Ibn Hajar Haytsami, Bab. 9, bagian 3, hlm. 196;

– Al-Faqih wal Mutafaqih, li al-Khatib al-Baghdadi, Jil. 2, hlm. 167;

– Tarikh al-Khulafaa li Jalaluddin Suyuthi, hlm. 171.

[2b] Riwayat di atas dilaporkan oleh Daraquthm dan Ibnu Asakir, 2 hafiz hadits yang sangat ternama. Juga dilaporkan oleh Al-Kunji, Thabari, Saftiri dan banyak lagi yang lain. Sanad haditsnya sangat terpercaya. Tetapi kita tidak akan membahasnya di sini. Redaksinya juga sangat istimewa di mana khalifah Umar bin Khattab mengakui secara jujur akan tingkat keilmuan Ali bin Abi Thalib yang sedemikian tinggi dibandingkan sahabat-sahabat lainnya.

[2c] Ibn Hajar Haitsamy, Al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 76

[2d] Ahmad Zaini Dahlan dalam kitabnya Futhat al-Islamiyyah 11: 337

– Abu Nu’aym al-Isfahany, Hilyah al-Awliya’, hlm. 65

[2e] Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal Jil. 5 hlm 156.

[3] – Lihat Shahih Muslim, I :60; Di dalam kitabnya tersebut, Muslim memandang cinta kepada ‘Ali sebagai suatu unsur keimanan dan merupakan salah satu tandanya; dan kebencian kepada `Ali sebagai tanda menyembunyikan kebenaran.

– Al-Jami’ al-Shahih, 5 : 653, 643;

– Sunan Ibn Majah, 1 : 55;

– Sunan Al-Nasa’i, 8 : 115-117;

– Musnad Ahmad ibn Hanbal, Jil. 1 : 84, 95, 128; pada Jil 6 : 292;

– Abu Hatim, ‘Illal al-Hadits, 2 : 400;

– Ibn Atsir, Jami’ al-Ushûl, 9: 473;

– Majma’ Al-Zawa’id, 9: 133;

– Ibn al-Maghazili, Manaqib ‘Ali ibn Abi Thalib, h. 190-195;

– Al-Isti’ab, 3: 1100;

– Asad al-Ghabah, 4 : 26;

– al-Ishabah, 2 : 509;

– Tarikh Baghdad lil Khathib, 2: 255; dan Jil. 8: hlm. 417; Jil. 14 : hlm. 426;

– Tarikh Ibn Katsir, 7 : 354

[4] – Tirmidzi 5 : 635;

– Al-Mustadrak Al-Hakim 3: 129;

– Hilyah al-Aulia 6: 294;

– Majma’ al-Zawa’id, 9: 132-133;

– Jami’ al-Ushul, 9: 473;

– Al-Durr al-Mantsur li al-Suyuthi 6: 66-67;

– Tarikh al-Baghdad, 8: 153;

– Al-Riyadh al-Nadhirah 2: 2143-215;

– Al-lsti’ab, 3: 1110;

– Asad al-Ghilbah, 4: 29-30

NO COMMENTS