AS Akui Gagal Selamatkan Wartawan yang Dibunuh ISIS

0
428 views

James-FoleyWashington, LiputanIslam.com — AS mengakui telah berusaha untuk membebaskan James Foley, wartawan AS yang dibunuh oleh kelompok ISIS baru-baru ini. Namun upaya itu gagal karena ternyata Foley tidak berada di tempat yang sebelumnya diperkirakan menjadi tempat penahanannya.

“Sayangnya operasi itu mengalami kegagalan karena para tawanan tidak berada di tempat yang menjadi sasaran,” kata seorang pejabat dephan AS sebagaimana dikutip BBC News, Kamis (21/8).

Pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya itu menambahkan, operasi dilakukan secara terpadu, melibatkan unsur-unsur darat dan udara.

New York Times mengutip pejabat keamanan lainnya menyebutkan bahwa operasi penyelamatan berlangsung di sebuah komplek penyulingan minyak di utara Suriah.

Ini adalah yang pertama kalinya AS mengakui bahwa militernya beropeasi di Suriah sejak negara itu dilanda konflik bersenjata Maret 2011 lalu.

Sebagaimana diketahui, hari Selasa (19/8) kelompok ISIS mengunggah video yang memperlihatkan pemenggalan kepala James Foley. Dalam pernyataanya ISIS mengklaim aksi tersebut sebagai balasan atas keterlibatan Amerika dalam konflik di Irak. Mereka juga mengancam akan memenggal kepala wartawan AS lainnya.

Atas aksi biadab tersebut Presiden AS Barack Obama, hari Rabu (20/8), menyebutnya sebagai “aksi kekerasan yang mengguncangkan kesadaran seluruh masyarakat dunia”.

“Orang-orang seperti ISIS akhirnya pasti kalah, karena masa depan milik orang-orang yang membangun dan bukan mereka yang menghancurkan,” kata Obama seraya menjanjikan tindakan balasan AS yang keras.

Jaksa Agung AS mengatakan akan melakukan penyelidikan atas pembunuhan Foley. Sementara sumber-sumber kepolisian Inggris melaporkan kemungkinan pelaku pemenggalan kepada Foley berasal dari London.

Sementara itu, usai pengunggahan video pembunuhan Foley, AS semakin menggencarkan serangannya atas posisi-posisi ISIS di Irak meski ada ancaman ISIS untuk membunuh tawanan dari AS lainnya.

Hari Kamis (21/8) pesawat-pesawat tempur AL AS dan drone-drone dikerahkan untuk memberikan perlindungan udara terhadap gerakan maju pasukan Kurdi dan Irak di sekitar kota terbesar Irak yang sempat dikuasai ISIS, Mosul.

Sejak pengunggahan video tersebut, AS telah melancarkan 14 kali serangan udara di Irak.

Lembaga kajian Royal United Service Institute (Rusi) yang berbasis di London memperkirakan terdapat sekitar 3.000 warga negara-negara barat yang berperang di pihak ISIS dan kelompok-kelompok militan lainnya di Irak dan Suriah. Negera-negara itu di antaranya adalah Inggris, Belgia, Belanda, Jerman, Perancis, dan negara-negara Skandinavia. Di antara mereka terdapat 400 “mujahidin” asal Inggris.

Sedangkan Soufan Group, lembaga kajian AS memperkirakan 81 negara terlibat dalam konflik di Suriah dengan keberadaan anggota pemberontak yang di antaranya termasuk berasal dari Australia, AS, Kanada, Irlandia, dan Spanyol.(ca)


Mari share berita terpercaya, bukan hoax
sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS