Arab Saudi Biang Teroris?

0
1,023 views

Oleh: Ayudia az-Zahra, Blogger

daraa-prison-blurredMembaca tulisan Bapak Ikhwanul Kiram Mashuri  di rubrik Resonansi Republika, saya benar-benar mengerutkan dahi. Secara halus, si penulis berusaha mengaburkan fakta tentang keterlibatan Arab Saudi yang sampai hari ini masih mendukung terorisme baik itu di Irak, maupun Suriah. Tentu saja, saya tidak menampik sedikitpun– karena memang benar adanya bahwaArab Saudi pada awal Februari telah mengeluarkan dekrit khusus terkait terorisme seperti yang disampaikan Bapak Ikhwanul Kiram, bahkan kebijakan terakhir Arab Saudi kepada jihadis dari kelompok al-Nusra, al-Qaeda, Ikhwanul Muslimin, Hizbullah di Arab Saudi hingga Milisi Huthi di Yaman, semuanya dimasukkan kedalam daftar teroris, yang artinya, mereka wajib diperangi.

Saya merasa, tulisan Bapak Ikhwanul Kiram mengabaikan beberapa fakta penting. Beliau hanya menampilkan sudut pandang dari Arab Saudi dengan kebijakan-kebijakan ‘anti  terorisnya’, tanpa menyajikan sudut pandang dari negara-negara di kawasan yang merasa dirugikan oleh Saudi. Itu tidak adil, Pak. Sama halnya seperti sebuah kasus yang disidangkan ke pengadilan, si hakim memutuskan perkara hanya dengan mendengar penuturan dari pihak tersangka, sedangkan korbannya sama sekali tidak diberi ruang untuk bicara.

Karena itu, saya paparkan di sini beberapa hal yang patut diketahui oleh dunia terkait keterlibatan Arab Saudi dengan kelompok teroris.

Pertama, pernyataan dari Perdana Menteri  Irak Nouri al-Maliki yang saat dilakukan wawancara dengan televisi al-Iraqiya di bulan Februari,  dimana Maliki secara to the point mengatakan bahwa ada beberapa negara yang sama sekali tidak menginginkan adanya teroris ISIS di wilayah/negara mereka, namun mereka menghendaki ISIS  tetap bercokol di  Irak untuk membuat kacau balau pemerintahan dengan menebar konflik sekterian.

Maliki juga menyatakan, bahwa pihaknya mengetahui bahwa ISIS yang tengah ‘berjihad’ di Irak, memiliki hubungan yang sangat mesra dengan negara yang membiayai aksi mereka, dan Maliki menyatakan bahwa biangnya teroris adalah Arab Saudi, disamping Qatar dan Turki yang juga mengacaukan Suriah.

Dari pernyataan Maliki, apakah berbanding lurus dengan kebijakan Arab Saudi saat ini? Tentu saja iya. Arab Saudi tidak akan pernah menginginkan adanya jihadis-jihadis di kerajaan mereka, yang akan merongrong  pemerintahan dengan serangkaian teror terlepas dari apa motifnya. Bukan tanpa alasan jika kebijakan anti teroris ini diberlakukan, mengingat tanda-tanda meluasnya area jihad bagi para ‘pejuang khilafah’ sudah mulai tercium, apalagi beberapa waktu yang lalu muncul rekaman video yang diunggah oleh jihadis di Suriah yang berjanji, bahwa mereka akan memindahkan arena jihad ini ke Arab Saudi.

Satu hal yang harus dicatat, terorisme ini tidak mengenal agama. Tidak ada yang bisa menundukkan mereka, karena mereka hanya tunduk kepada nafsunya semata. Siapapun yang berbeda pemahaman dengan mereka akan dianggap sebagai musuh, yang harus ditumpas. Itulah makanya selalu berulang dan berulang, kekejaman demi kekejaman mereka  kepada lawannya dipertontonkan dan diunggah ke media sosial. Adakah negara waras yang bersedia ‘rumahnya’ dipenuhi oleh teroris seperti ini? Dengan melihat realita ini, wajarkah jika Arab Saudi akhirnya ikut-ikutan mengeluarkan kebijakan anti-terorisme?

Kedua, ada fakta lain yang juga luput dalam analisis beliau. Keterlibatan Arab Saudi dalam membiayai perang Suriah sama sekali tidak disinggung. Padahal di sini, Arab Saudi memerankan peran vital dengan memasok persenjataan, mengirim ribuan teroris, termasuk sepak terjang Bandar bin Sultan yang  berpetualang mengacak-acak  Suriah, misalnya dengan mensponsori serangan kimia di Ghouta pada tanggal 21 Agustus 2013, yang menelan ratusan korban jiwa termasuk anak-anak. Berhenti sampai di situ? Tidak. Arab Saudi  masih mengirim senjata untuk  para pemberontak dari kelompok moderat, dan kabar terakhir, Arab Saudi bertransaksi dengan Pakistan untuk mendapatkan senjata  seperti rudal jarak jauh yang akan diberikan kepada pemberontak, yang dikecam habis-habisan oleh Rusia.

Bahkan dalam KTT Liga Arab, Pangeran Salman bin Abdul Aziz secara terang-terangan menyatakan kekecewaan hatinya karena para pendukung pemberontak di Suriah  (negara Barat  dan Eropa) membatalkan aganda mereka untuk kembali mempersenjatai kelompok yang disebut “moderat.” Artinya, Arab Saudi masih berharap untuk terus menancapkan kukunya di Suriah dengan memberikan pasokan persenjataan, kendatipun sambil menelan pil pahit karena sekutu-sekutunya perlahan mundur dari memberikan pasokan senjata. Alasannya, karena mereka sangat khawatir jika pasokan senjata itu akan jatuh ke kelompok ekstremis seperti ISIS/ISIL yang tidak sanggup untuk mereka kendalikan.

Apakah jihadis dari Arab Saudi bergerak ke Suriah murni karena keinginan mereka sendiri? Bapak Ikram juga luput dari membeberkan sebuah peristiwa besar – bahwa Arab Saudi mengirimkan narapidana mati untuk bertempur di Suriah sebagaimana yang dilansir oleh media al-Khabar dibulan April 2013. Sebuah dokumen bocor, yang isinya adalah Arab Saudi memberikan amnesti atau pengampunan bagi terpidana mati dari beragam kasus yang terjadi , untuk mengikuti latihan militer dan bergabung dengan FSA di Suriah guna melawan Bashar al Assad.

Intinya sederhana saja, Arab Saudi bermuka dua. Di satu sisi memerangi terorisme karena menyangkut kepentingan keamanan di negaranya, namun disisi lain tetap mendanai terorisme di negara-negara lain yang dianggap akan membahayakan eksistensinya sebagai negara monarkhi dengan segenap skandalnya yang memalukan. Kita harus maklum, karena Arab Saudi  dipimpin oleh manusia, dan layaknya manusia biasa yang tidak maksum, bisa serakah dan juga kejam, sekaligus pengecut di sisi lainnya.

Demikian Pak Ikhwanul, maaf kalau boleh saran, jangan terlalu serius menina-bobokan Indonesia dengan cerita tentang keluhuran budi Arab Saudi. Terima kasih.

 

sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS